cheng-horz

Reviewing Books – July 2015

Waktunya nge-review.. Berikut sedikit review saya buat buku-buku yang sempat kebaca bulan Juli lalu, semoga bermanfaat.🙂

1. Laksamana Cheng-Ho, Panglima Islam Penakluk Dunia – Baha Zarkhoviche

Araska Publisher | 239 Halaman

Laksamana Cheng Cho, Panglima Islam Penakluk Dunia (image: http://office231290.togamas.co.id/)
Laksamana Cheng Cho, Panglima Islam Penakluk Dunia (image: http://office231290.togamas.co.id/)

Buku pertama yang saya baca Juli lalu ini bisa dibilang semacam buku biografi. Buku ini menceritakan perjalanan hidup seorang tokoh Islam berpengaruh dari negeri Tiongkok, yaitu Laksamana Cheng Ho. Selain menjabarkan berbagai segmen perjalanan Cheng-Ho dalam ekspedisi lautnya yang terbesar sepanjang sejarah, buku ini juga menjelaskan tentang sejarah masuknya Islam ke Negeri Tionghoa, hingga pengaruh sang tokoh dalam penyebaran Islam di Indonesia.

Di segmen awal, penulis menceritakan kondisi awal sebelum kedatangan Islam di nusantara yang merupakan wilayah kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang besar dan kuat di abad ke-4 dan -5 Masehi (Itu artinya sebelum Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT ke dunia, di abad ke-7 M). Selanjutnya, penulis menjelaskan bagaimana akhirnya Islam masuk dan kemudian berkembang di Nusantara. Terdapat beberapa teori mengenai hal tersebut, namun yang paling diyakini yaitu Islam dibawa oleh pedagang Arab yang menjalin kerjasama dengan kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-7 M. Perkembangan awal Islam mulai berlangsung pertama kali di Sumatera bagian utara, hingga akhirnya terbentuklah kerajaan Islam pertama yakni Samudera Pasai pada abad ke-13 M.

Islam disebarkan di tanah air dengan cara damai, melalui pendekatan-pendekatan seperti perdagangan, pernikahan, tasawuf (yang sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal), pendidikan (melalui pesantren), dan kesenian (arsitektur, tari, musik, ukir, sastra, dll). Pendekatan dengan metode demikian juga tak terlepas dari peranan pedangang Arab serta para wali songo. Watak orang Indonesia yang ramah meskipun banyak pendatang asing membuat agama Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat kala itu.

Di bagian berikutnya kemudian penulis menceritakan penyebaran Islam di Tiongkok, yang mulai masuk pada abad ke-7 M. Menurut catatan sejarah, Islam masuk ke Tiongkok tahun 616 M – 618 M melalui seorang utusan Khalifah Utsman bin Affan yang diketuai langsung oleh sahabat beranama Saad bin Abi Waqqash di Era Dinasti Tang (618-907 M) yang secara resmi menganut agama Budha. Kedatangan Saad bin Abi Waqqash di Tiongkok disambut terbuka oleh Kaisar Gouzong, raja Dinasti Tang. Untuk menghormati utusan dari kekhalifahan Islam, Kaisar memerintahkan untuk membuat masjid di Kota Canton, masjid pertama di tanah Tiongkok. Seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya para pedangang dari Timur Tengah, Islam mulai menyebar di sana melalui kontak budaya. Hingga lambat laun muncullah komunitas-komunitas muslim yang didominasi orang Arab dan Persia, terutama di kota pelabuhan di tenggara Cina yakni Guangzhou, Quanzhou, dan Hangzhou. Perkembangan Islam di Tiongkok berlangsung baik baik pada masa Dinasti sesudahnya, yakni Dinasti Song (960-1279 M), Dinasti Yuan (1271-1368), dan mencapai puncak kejayaan pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M).

Di Masa Dinasti Ming yang pernah disebut-sebut sebagai salah satu era terbesar dari pemerintahan dan stabilitas ekonomi yang teratur di dalam sejarah manusia, penduduk Muslim yang sebelumnya masih dianggap orang asing di tanah Tiongkok (orang Hui), mulai membaur dengan masyarakat asli Tiongkok (orang Han). Hal tersebut melahirkan akulturasi budaya Islam dan Tiongkok, hingga banyak pemeluk Islam yang menikahi istri dari penduduk Tiongkok. Otomatis, banyak orang Han yang masuk Islam, sebab dalam syariat Islam, pernikahan yang sah adalah pernikahan antara dua orang yang beragama Islam. Akulturasi budaya ini juga terjadi di berbagai bidang, seperti budaya berpakaian, kebiasaan makan, dan pendidikan, hingga pada waktu itu umat Islam sangat dihormati dan diberi kesempatan yang sama di dalam pemerintahan, bisnis dan ekonomi. Hingga pada masa pemerintahan salah satu Kaisar Dinasti Ming, yaitu kaisar Yung Lau (1405-1432 M), negarawan Muslim terkemuka, yakni Laksamana Cheng Ho diutus oleh pihak kerajaan untuk menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara Pasifik selatan, India, Arab dan Afrika timur.

Laksamana Cheng Ho disebut-sebut sebagai perwira militer muslim era dinasti Ming yang memiliki karir paling cemerlang di masanya. Ia dikenal dengan nama Zheng He, dan gelar terhormat yang diberikan Kaisar Yong Lau yaitu Sam Po Kong yang bermakna kecerdasan, kebijaksanaan serta gagah perkasa. Tiga sifat itulah yang menyusun kepribadian Cheng Ho. Ia terlahir di Kota Kunyang, Provinsi Yunnan, dengan nama Ma He, sekitar tahun 1371 M, anak kedua dari pasangan Ma Hanzi dan Wen ibunya, keluarga muslim Hui. Sejak lahir Cheng Ho sudah memeluk Islam. Namun saat umur 10 tahun, Cheng Ho sudah ditinggal mati oleh ayahnya yang gugur dalam peperangan melawan Tentara Mongol di Yunnan. Di usia segitu pula, ia ditangkap oleh tentara Ming, diinterogasi dan dijadikan tawanan perang, lalu dikebiri dan dijadikan pelayan (kasim) bagi Pangeran Yan yang usianya setahun lebih tua darinya. Sejak tahun 1380, pangeran Yan dipercaya untuk memerintah provinsi Beiping. Sebagai seorang kasim, Cheng Ho sering ikut ekspedisi militer yang dipimpin Pangeran Yan. Ia pun mendapat kepercayaan besar dari sang pangeran, dan diberi julukan “Sanbao” yang berarti “tiga kebajikan”. Akhirnya ia disekolahkan, padahal pada masa itu seorang kasim tidaklah mudah mendapat pendidikan.

Saat umur 20 tahun, karir militer Cheng Ho akhirnya menanjak, terutama setelah dipercaya oleh Pangeran Yan dalam pertempuran melawan orang-orang Mongol di sekitar Tembok Besar Tiongkok (1393-1397 M). Kesetiaan Cheng Ho pada tuannya itu mampu membangun hubungan personal yang sangat kuat dengan di antara keduanya, sehingga ia kemudian menjadi orang kepercayaan Pangeran Yan, sekaligus sahabat dekatnya.

Saat umur 34 tahun, pangeran Yan yang sekarang sudah menjadi Kaisar ketiga dinasti Ming, mengangkat Cheng Ho sebagai seorang Tai Jian atau Sida Agung di Rumah Tangga Istana. Ia kemudian diberi tugas dan beberapa misi ekspedisi pelayaran ke negeri-negeri luar Tiongkok sebagai duta resmi kerajaan. Ketika itulah, namanya mulai harum di seluruh dunia.

Laksamana Cheng Ho akhirnya menjadi perwira besar di masa Dinasti Ming. Ia berlayar menjelajahi lebih dari 30 negara, memimpin armada besar yang terdiri dari lebih dari 200 kapal beserta 300.000 orang di dalamnya. Selama berlayar, Cheng Ho membawa barang-barang perniagaan, seperti emas, karya seni bernilai tinggi, dan kain sutra. Barang tersebut nanti ditukarkan dengan obat-obatan, rempah-rempah, batu permata dan lain-lain.

Pelayaran pertama dimulai tanggal 11 Juli 1405. Cheng Ho bertolak dari pelabuhan di Kota Suzou, mengunjungi Brunei, Thailand, Asia Tenggara, India, Arab, sampai ke Afrika. Tujuan utamanya adalah untuk menjalin hubungan diplomatik antara kekaisaran Dinasti Ming dengan negara-negara yang dikunjunginya, sekaligus menumpas bajak laut dengan armada militer yang dimilikinya. Cheng Ho menghabiskan hidupnya dengan berlayar, tercatat tujuh kali ekspedisi pelayarannya ke berbagai belahan dunia (1405-1433 M).

Cheng Ho berlayar tidak hanya sebagai perwira besar Tiongkok, tapi juga sebagai seorang muslim yang berhati lembut, arif dan bijaksana. Pengaruhnya sampai ke Asia tenggara, termasuk nusantara. Sebelum ia berlayar, ia bersama rombongannya selalu menyempatkan diri untuk shalat di masjid tua di Kota Guanzhou, sehingga banyak awak kapalnya yang beragama Islam. Kepribadian Cheng Ho yang sopan, santun, arif dan bijaksana diterima dengan sangat baik di nusantara. Sikap demikianlah yang ditampilkan selama berdakwah di setiap tempat yang ia singgahi.

Catatan perjalanan Cheng Ho direkam baik oleh seorang pengiring setianya bernama Ma Huan. Tercatat, Cheng Ho lima kali mengunjungi nusantara dan sempat berlabuh di Sumatera dan Jawa. Lokasinya di Samudera pasai (Aceh), Palembang, Semarang, Cirebon dan Surabaya. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Bukti pengaruhnya dapat dilihat dari beberapa peninggalan sejarah, termasuk bangunan masjid bercorak Tionghoa yang banyak didirikan olehnya. Di Aceh misalnya, sampai sekarang masih terdapat Lonceng Cakra Donya yang merupakan hadiah untuk Raja Samudra Pasai, lalu masjid Cheng Ho di Surabaya, Kelententeng Sam Po Kong di Semarang, hingga peranannya dalam berdirinya kerajaan Demak dan dibangunnya Masjid Agung Demak yang bercorak Tionghoa.

Demikian sedikit ulasan tentang buku ini. Meskipun tidak menceritakan perjalanan hidup Cheng Ho secara mendetail sampai wafat, setidaknya buku ini dapat menambah wawasan, terutama mengenai pengaruh Laksamana Cheng Ho dalam penyebaran Islam di tanah air.🙂

2. Terapi Berpikir Positif – Dr. Ibrahim Elfiky

Penerbit Zaman | xiii + 347 Halaman

Terapi Berpikir Positif - Dr.Ibrahim Elfiky (image: www.tokopedia.com)
Terapi Berpikir Positif – Dr.Ibrahim Elfiky (image: http://www.tokopedia.com)

Buku kedua yang saya baca ini sebenarnya telah pernah saya baca separuhnya beberapa tahun yang lalu. Kebetulan buku ini pemberian teman-teman sekelompok belajar -sebut saja Mak Den- sebagai hadiah ulang tahun. Namun, baru sekarang buku ini sempat saya tamatkan. :)” Dan memang, buku ini luar biasa.

Buku karangan Dr.Ibrahim Elfiky, seorang maestro motivator muslim dunia ini, menuliskan tentang hal yang mungkin saja jarang diperhatikan oleh orang-orang dewasa ini. Mengenai cara berpikir. Dengan judulnya “Terapi Berpikir Positif”, penulis berusaha mengajak pembaca untuk mengubah mindset seseorang agar dapat membiarkan “mukjizat” dalam diri kita melesat, agar hidup lebih sukses dan lebih bahagia. Demikian kata-katanya. Agak sulit untuk menjelaskannya secara detail, sebab buku ini merupakan buku motivasi.

Di bagian awal, penulis memulai tulisannya dengan sepotong ayat al-Qur’an. “Wa fii anfusikum, afalaa tubshiruun?” Yang artinya, “Dan (juga) pada diri kalian. Apakah kalian tidak memerhatikan?” (Q.S.Adz-Dzariyat: 21)

Merenungi ayat ini memang sangat luar biasa. Kita diajak memperhatikan diri kita sendiri, demikian Allah berfirman. Penulis pun kemudian menjabarkan sebuah kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh setiap manusia. Yaitu, “Kekuatan Pikiran”. Pikiran adalah sesuatu anugerah yang Allah berikan pada manusia. Ia memiliki proses yang kuat, mampu membuat arsip memori dalam akal, lalu melahirkan mindset, memengaruhi intelektualitas, bahkan fisik, perasaan, sikap, hasil, citra diri dan harga diri. Pikiran juga akan mempengaruhi rasa percaya diri, kondisi jiwa, kesehatan. Ia mampu melampaui batas waktu, tidak mengenal jarak, tidak mengenal waktu, menambah dan mengurangi energi, melahirkan kebiasaan. Pikiran pun memengaruhi sistem akal bawah sadar, dan merupakan mata rantai dari persepsi. Ya, itulah kekuatan pikiran yang ada dalam diri manusia. Penjelasannya ada lengkap dalam buku ini. Suatu anugerah yang luar biasa.

Lalu, penulis kemudian menjabarkan, apa saja yang telah diperbuat manusia dengan anugerah luar biasa itu.

“Berpikir Negatif”. Itulah yang hampir semua orang di dunia ini lakukan. Penulis menjelaskan secara detail, penyebab dan dampak dari berpikir negatif ini terhadap kehidupan seseorang. Beberapa sebabnya antara lain: jauh dari Allah, program terdahulu (didikan sejak kecil), tujuan yang tidak jelas, rutinitas yang negatif, pengaruh internal dan eksternal, kehidupan masa lalu, konsentrasi yang negatif, mental yang lemah, persahabatan yang tidak baik, dan media informasi. Dampak yang ditimbulkannya juga tidak main-main, yang pada akhirnya akan menghasilkan kepribadian negatif, diantaranya: keyakinan dan bayangan yang negatif;  menolak perubahan; tidak aktif menyelesaikan masalah; selalu mengeluh, mencela dan melihat sisi negatif dari segala sesuatu; selalu merasa frustasi, sendiri dan gagal; hasil kerja lemah; senang menyendiri, tak mampu bersosialisasi; hingga rentan sakit jiwa dan terserang penyakit.

“Berpikir Positif.” Energi yang kemudian dapat menggantikan proses berpikir sebelumnya. Penulis kemudian menjelaskan mengapa berpikir positif itu penting, dan kemudian penulis mengajak pembaca untuk mempraktikkannya. Seperti beberapa quote yang saya kutip dari beliau:

“Berpikir positif adalah sumber kekuatan dan sumber kebebasan. Disebut sumber kekuatan karena ia membantu Anda memikirkan solusi sampai mendapatkannya. Dengan begitu Anda bertambah mahir, percaya dan kuat. Disebut sumber kebebasan karena dengannya Anda akan terbebas dari penderitaan dan kungkungan pikiran negatif serta pengaruhnya pada fisik.”

Hidup yang Anda jalani saat ini adalah pancaran pikiran, keputusan, dan pilihan Anda. Jika Anda rela menerima tantangan, berarti Anda telah merintis perubahan, kemajuan dan perkembangan.

Anda hari ini adalah hasil keputusan Anda kemarin. Anda esok hari ditentukan oleh keputusan Anda hari ini.

Kenyataan adalah persepsi Anda. Jika Anda ingin mengubah kenyataan hidup Anda, mulailah dengan mengubah persepsi Anda.

Masa lalu adalah mimpi, masa depan adalah proyeksi. Hidupmu saat ini yang diwarnai cinta mendalam pada Allah membuat masa lalu menjadi mimpi yang indah dan masa depan penuh harapan.

Kadangkala Allah menutup pintu yang ada di depan kita, tapi Dia membuka pintu lain yang lebih baik. Namun, kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktu, konsentrasi, dan tenanga untuk memandang pintu yang tertutup daripada menyambut pintu impian yang terbuka di hadapannya.

Di akhir buku ini, penulis menuliskan strategi untuk berpikir positif. Cara untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif. Diantara quote yang saya kutip dari beliau yaknni:

Pemikir adalah pembuat pikiran. Pikiran menyebabkan seseorang berpikir. berpikir membuat konsentrasi. Konsentrasi melahirkan perasaan. Perasaan melahirkan perbuatan. Perbuatan menghasilkan sesuatu, dan hasil menentukan kenyataan hidup Anda. Jika Anda benar-benar ingin membuat perubahan dalam hidup, ubahlah persepsi Anda.

Beberapa strategi yang ditawarkan oleh beliau lengkap ditulis di buku ini. Beliau menjabarkan cara-cara mempraktikkannya, seolah-olah sebagai seorang instruktur. Misalnya saja salah satu strategi yang disebut strategi teladan, yakni dengan cara membayangkan orang yang sangat kita kagumi menghadapi kondisi seperti yang kita hadapi lalu berusaha menirunya. Banyak lagi strategi yang lain yang jika dituliskan disini akan menjadi sangat panjang tentunya.🙂

At least, buku ini recommended pokoknya! Silahkan membaca jika berminat!😀

3. Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik – Martin Lings

Penerbit Serambi | 671 Halaman

Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik - Martin Lings (image: sejarawanmuda.files.wordpress.com)
Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik – Martin Lings (image: sejarawanmuda.files.wordpress.com)

Buku ini merupakan biografi Nabi Muhammad Saw. Sejarah tulen. Diterjemahkan dari Muhammad: His Life Based on the Earliest Source, karangan Martin Lings, terbitan The Islamic Tet Society, 1991.

Memang tidak pernah bosan membaca Sirah Nabawiyah. Banyaakk sekali pelajaran yang dapat diambil dari kisah beliau Saw. Mungkin belum punya pembanding dengan Sirah Nabawiyah yang lain, namun buku ini menjelaskan perjalanan hidup Nabi Saw bahkan dari semenjak kisah Ibrahim dan Isma’il ‘alaihissalam, dan asal muasal suku Quraisy, salah satu suku bangsa Arab keturunan Ibrahim yang terkuat, suku nenek moyang Rasulullah SAW. Buku ini juga mengutip dari sumber-sumber berbahasa arab kuno tahun 8 dan 9 Masehi, dan mendekati serta mereportase kata-kata dari orang-orang yang langsung mendengar Nabi SAW berbicara, tentu saja mengutip dari hadits-hadits sahih dan sumber-sumber yang dapat dipercaya.

Mungkin jika menceritakan bagaimana kisah hidup Rasulullah secara detail, mulai dari keturunan sebelum beliau dilahirkan, sampai ketika beliau lahir, tumbuh besar, menerima wahyu, berdakwah, mendirikan peradaban Islam dari nol menjadi luar biasa, menikah dan berumah tangga, berperang melawan kekafiran, menegakkan kebenaran di atas kalimat Laa ilaaha ilallaah.., hingga beliau wafat. Hanya satu kalimat. Masya Allah! Speechless!😥

Tak perlu panjang lebar mereview buku ini. Sebab setiap poin di dalam kisah Rasulullah Saw adalah penting dan merupakan suri tauladan dan contoh yang terbaik. Yang menjadi poin untuk kita bersama, mungkin adalah sebuah motivasi. Kenalilah Rasulullah Saw lebih baik dari sebelumnya, salah satunya dengan sering membaca kisah hidup beliau Saw, maka perhatikanlah, insya Allah kita akan menemukan sesuatu yang amat indah di dalamnya, bahkan sampai membuat mata menangis. No kidding.😥

Tapi untuk buku yang ditulis oleh Martin Lings, seorang mualaf yang lahir di Inggris, besar di Amerika Serikat lalu akhirnya menetap di Mesir ini, saya menilai sungguh luar biasa. Tidak salah jika buku ini terpilih sebagai biografi Nabi terbaik dalam bahasa Inggris pada konferensi Sirah Nasional di Islamabad tahun 1983. Meski penulisnya sekarang telah wafat tahun 2005, buku tentunya merupakan karya yang patut dikenang.🙂

Demikian sedikit review tentang buku-buku yang alhamdulillah sempat saya tamatkan bulan Juli lalu. Sekali lagi, semoga kita dari hari ke hari semakin cinta membaca, karena memang membaca itu mengasyikkan, menambah inspirasi, wawasan, dan juga hiburan yang menyenangkan! Semoga bermanfaat.🙂

One thought on “Reviewing Books – July 2015

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s