Tugu PDRI

Kampung Kecil yang Pernah Jadi Ibukota Negara

Kali ini saya ingin sedikit cerita tentang traveling singkat dua minggu yang lalu. Pagi-pagi di hari Minggu, bersama motor mio hitam yang sudah jadi teman baik saya sejak SMA dulu, kami berdua menelusuri jalanan menelusuri kabupaten Lima Puluh Kota ke arah Barat. Awalnya kepengen banget lihat-lihat sebuah nagari kecil di pelosok kabupaten Lima Puluh Kota bernama Koto Tinggi. Nagari kecil ini bukan nagari sembarangan, bahkan dulunya pernah jadi ibukota negara di masa Pemerintahan Darurat RI (PDRI), saat ibukota Negara jatuh ke tangan Belanda pada agresi Belanda ke II tahun 1948.

Lumayan jauh ternyata, lebih kurang lima puluh kilometer dari Payakumbuh. Tapi suasana dan pemandangan yang disuguhkan selama perjalanan sangat indah dan membuat rasa penat gak kerasa. Alhamdulillah..🙂

Sebelum kesana, saya sempatkan dulu muter-muter di arah Sungai Talang, sebuah nagari cantik yang dikelilingi persawahan dan perbukitan. Sebelum melewati Sungai Talang, kita akan bertemu dulu dengan kenagarian bernama Sungai Baringin, lalu Gando, Piobang, dan Koto Baru Simalanggang. Di sepanjang jalan, pemandangan sawah dan bukit menghiasinya. Masya Allah.🙂

Pemandangan di sini memang masih sangat asri bukan? Alhamdulillah cuacanya waktu itu cukup bersahabat. Suasana pagi yang sejuk membuat suasana serasa menyenangkan.🙂

Sehabis dari sungai Talang, saya kemudian meluncur ke arah Barat, menelusuri jalan hampir sepanjang empat puluh lima kilometer ke arah Koto Tinggi, melewati kota kecil bernama Suliki. Kalau orang Payakumbuh bilang, ke arah Mudiak.

Di sini, pemandangannya juga tak kalah mengagumkan. Sebagian besar memang masih didominasi oleh persawahan dan perbukitan. Udaranya masih sejuk dan terasa sangat alami.

Sekitar satu jam perjalanan kurang lebih, melewati jalan lurus kemudian mendaki bukit dan jalan berkelok-kelok, saya kemudian akhirnya sampai di sebuah Nagari kecil bernama Koto Tinggi. Tempat ini cantik sekali. Di kiri jalan kita bisa menemukan sungai kecil yang berjalan beriringan, ditemani lebatnya pepohonan hutan lindung dan bertemu dengan perkampungan Minang dengan belasan rumah gadang dan mesjid raya di tengah-tengahnya. Tapi sayang, saya nggak sempat mengambil fotonya waktu itu.😥

Di ujung jalan berkelok-kelok itu kemudian saya akhirnya sampai di pasar Koto Tinggi. Di tempat itu terdapat tugu perjuangan PDRI yang terletak di tengah-tengah lapangan besar dan diapit oleh beberapa rumah dan bangunan. Namun sayang, kondisi tugu itu sekarang agak kurang terperhatikan. Agak miris memang. Iseng-iseng saya berhenti di pasar itu melihat-lihat sekelilingnya. Rupanya disana terdapat sebuah bangunan tua kecil yang pernah menjadi kantor pusat PDRI. Jika benar, tentu saja tempat pernah menjadi ‘istana negara’ di zama PDRI. Tapi seribu kali sayang… rumah kecil itu seolah tidak lagi terurus. Bahkan di depannya sekarang sudah jadi tempat parkir. Sungguh sejarah sudah mulai terlupakan. Sadiah bana ko ha.. So sad. 😥

Menurut beberapa sumber, tidak jauh dari pusat nagari Koto Tinggi, pemerintah pusat akan membangun sebuah monumen nasional untuk mengenang peristiwa PDRI itu sendiri. Lokasinya berada di sebuah pelosok pedesaan, di tepi lereng perbukitan, di atas area seluas 40 hektar di salah satu kawasan yang pernah menjadi basis PDRI, yaitu di Jorong Sungai Siriah, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh.

Desain monumennya gak main-main. Keren banget.

Desain monumen nasional PDRI di Koto Tinggi
Desain monumen nasional PDRI di Koto Tinggi (image: http://s3images.coroflot.com/)

Saking penasaran dengan bagaimana proses pembangunan monumen yang dimulai sejak tahun 2012 itu, saya kemudian menelusuri jalanan ke arah perbukitan. Jalan menuju monumen itu sudah mulai bagus, namun beberapa di antaranya masih belum beraspal dan berlubang. Akan tetapi, pemandangan alam menuju tempat itu benar-benar indah.😀

Ternyata, setelah melihat langsung pengerjaan monumen itu, sepertinya tidak seperti apa yang dibayangkan. Pembangunannya masih terlihat terbengkalai. Tidak terlihat alat berat yang bekerja. Hanya ada bangunan dengan pondasi yang dibiarkan begitu saja. Ah.. sayang sekali.. Kenapa ya?😥

Yap. Perjalanan singkat ini setidaknya seolah mengetuk hati saya. Bahwa, sejarah itu tidaklah elok untuk dilupakan. Kita mesti lebih mengenal negeri kita sendiri lebih dari siapapun, dengan itu kita bisa belajar menghargai sejarah dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa di masa lampau.  Ah, jadi pengen traveling lebih banyak lagi🙂

12 thoughts on “Kampung Kecil yang Pernah Jadi Ibukota Negara

  1. Rumah gadang di pinggir jalan itu bagus banget, masih ada ya rumah seperti itu, saya kira cuma museum saja Mas :hehe. Agak memprihatinkan melihat kondisi bangunan bersejarahnya, duh agak tak terurus begitu, semoga saja ada perhatian dari pemerintah tentang pelestariannya, soalnya bangunan-bangunan serta tugu itu adalah tonggak sejarah yang menurut saya penting sekali bagi masyarakat Indonesia.

    Pemandangannya keren! Saya pikir belum banyak yang membahas tentang kota ini secara lengkap seperti ini jadi tulisan ini pionir banget. Ah, semoga suatu hari nanti saya bisa ke sana :hehe. Semoga pembangunan monumen itu cepat selesai ya, menurut saya tak ada gunanya rencana sespektakuler apa pun ketika ia tak bisa mewujud nyata.

    Like

    • Bener banget Mas Gara..
      Di Sumbar masih banyaaaak banget rumah gadang kaya gitu, apalagi di kampung-kampung kecil. Kalau di kota-kota besar mungkin yang asli pahatan kayu Minang memang sudah agak jarang dijumpai, adanya yang sudah dimodernisasi. Namun salut juga dengan arsitek-arsitek minang akhir-akhir ini yang mendesain bangunan-bangunan khas Minang, liat aja desain Masjid Raya Sumbar, atau gedung balaikota padang, dll.. hhe

      Tapi ya itu tadi. Masalah sejarah memang negeri ini kayaknya masih kurang menghargai. Mungkin sejarah PDRI, bagi anak-anak Koto Tinggi saja gak tahu secara detail.. Sayang banget. Padahal sejarah itu benar-benar penting selama masa awal-awal kemerdekaan dulu.

      Beruntung sih sekarang udah ada sedikit perhatian pemerintah tentang rencana pembangunan monumen nasional itu, tapi sayang progresnya ngandat.. semoga bisa dilanjutkan, dijadikan museum sehingga anak negri ini bisa mengenal lebih baik lagi sejarah di negrinya sendiri.🙂

      Liked by 1 person

  2. Padahal kalau tempatnya terurus, bisa menjadi objek wisata yang diperhitungkan di Sumbar, ya, An?😦 Jadi malu, baru tahu kalau kantor PDRI ada di sana.

    Tapi kalau dipikir-pikir, monumen-monumen perjuangan seperti ini kalah peminat. Mungkin orang-orang lebih senang berkunjung ke tempat wisata yang menawarkan sesuatu yang indah dan megah, bukan cerita tentang kerasnya perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan di masa lalu.

    Like

    • Bener mi.. itulah. Kita kadang rasanya kurang tertarik dg wisata sejarah,.. beda banget sm waktu an dlu di itali, wisata museum banyak banget peminatnya, bahkan di satu kota aja, museum bisa lebih dr 10 lho..

      Like

      • Waah, 1 kota bisa lebih dari 10 museum? Di sini mungkin kebalikannya ya.😀 Semoga wisata sejarah di sini semakin baik pengelolaannya dan ramai peminatnya.

        Like

        • Iya mii.. tp memang museumnya terawat banget dan karya seni atau sejarah yg ada dsana emang bagus2… harga tiket masuknya jg lumayan, tp selalu ramai, apalagi bgi pendatang.. tiap kota an rasa ada museumnya.. smg kt jg bs ky gt…berharap jg..😐

          Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s