Mengenal Jepang - Yusuke Shindo

Mengenal Jepang – Yusuke Shindo [Book Review – August 2015 #3rd]

Mengenal Jepang. Buku ini adalah buku yang recommended banget buat sahabat yang kepengen tahu dan mengenal Jepang lebih jauh. Setidaknya itu yang bisa saya bilang mengenai buku ketiga yang saya baca bulan Agustus ini. Izinkan saya kembali sedikit mereview buku bacaan lagi ya. Dari lima buku yang kebaca, ini yang ketiga. Awalnya pengen ngereview lima-limanya sekaligus dalam satu postingan, termasuk dua buku sebelumnya. Tapi kayaknya lebih baik satu-satu, supaya bisa kebahas agak lebih banyak. Hehe. *[Gaya😛 ]. Mudah-mudahan bulan depan bisa posting review langsung setelah baca, jadi nggak numpuk. *[Maunya gitu. Tapi tentu saja nanti sesuai mood dan waktu luang. Hehe😛 ] Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa bermanfaat.🙂

Details
Mengenal Jepang - Yusuke Shindo
Mengenal Jepang – Yusuke Shindo
  • Judul: Mengenal Jepang
  • Penulis: Yusuke Shindo
  • Penerbit: Kompas
  • Tebal: viii + 256 halaman
  • Cetakan ke: 1 (2015)
  • ISBN: 978-979-709-933-6
Ikhtisar

Buku ini terdiri dari 16 Bab. Setiap babnya menjelaskan tentang satu topik yang berbeda satu sama lain. Supaya lebih afdol rasanya, saya akan coba bahas sedikit poin-poin penting dalam setiap bab. Mungkin saya akan merangkumnya sebagai berikut:

#1. Jepang, sebuah negara kepulauan

Seperti Indonesia, Jepang juga adalah negara kepulauan yang dikelilingi lautan. Namun, ada perbedaan nyata antara keduanya. Indonesia terdiri dari ribuan suku bangsa dan juga bahasa, sementara Jepang, hanya satu, yaitu orang Jepang, dan satu bahasa Jepang. Selain itu, tidak seperti Indonesia, tidak populer bagi mereka melakukan interaksi serta pertukaran dengan luar negeri. Sepanjang sejarah, Jepang tidak mengalami penjajahan maupun penyusupan dari bangsa lain. Sangat mengherankan memang. Tapi, orang Jepang suka berpikir bahwa sesuatu yang ada di luar negeri itu baik. Seiring perjalanan waktu, lambat laun Jepang akhirnya menerima budaya dari luar negeri, tapi tetap, cara mereka berbeda. Mereka terlebih dahulu menyesuaikannya dengan budaya yang tradisi Jepang, serta mengubahnya. Satu lagi, bahkan Jepang tidak pandai berbahasa Inggris. Meskipun orang Jepang terutama zaman Meiji mempelajari ilmu dan teknologi maju dari luar negeri, tapi semua literatur dari luar negeri itu diterjemahkan dulu ke dalam bahasa Jepang. Bahkan untuk kosa kata yang tidak dikenal, mereka membuatkan istilah Jepang untuk menunjukkan arti tersebut dengan baik.

#2. Karakter rakyat yang tekun dan rajin

Manusia Jepang memilki karakter serius dan rajin. Contoh konkrit adalah usaha Jepang menuju modernisasi pada zaman Meiji. Ketika itu, masih di zaman Edo, tahun 1853 mereka didatangi kapal hitam dari Amerika, yaitu kapal perang yang besar dengan mesin uap dengan cerobong asap yang mengeluarkan api. Pertama kali mereka melihat itu. Mereka hanya punya kapal layar. Mereka panik. Tapi 50 tahun kemudian, ketika perang melawan Rusia, dunia percaya tanpa keraguan bahwa Rusia akan menang melawan Jepang, tapi ternyata, Jepang telah berhasil membuat armada laut perkasa hingga menumbangkan Rusia, negara dengan Armada Baltik-nya yang menjadi salah satu yang terkuat di dunia. Sejak itu, negara Asia “kecil dan terujung itu”, mulai diperhitungkan oleh dunia. Dikaji lebih jauh, rupanya mereka telah serius menginvestasikan jutaan karung beras untuk membangun sekolah. Mereka bangkit melalui pendidikan.

#3. Jepang, negara yang menghargai empat musim

Jepang punya empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin. Perubahan musim sangat terasa di Jepang. Kehidupan, hiburan, pemandangan, pakaian, makanan dan topik pembicaraan orang pun berubah mengikuti musim. Mereka sangat mengapresiasi musim. Itu terlihat dari karya seni Jepang, ukiyo-e, lukisan khas Jepang yang sering menggambarkan alam. Contoh lain haiku, puisi Jepang dengan syair 5-7-5 suku kata. Mereka sangat tertarik dengan alam, contoh saja tentang bunga Sakura di musim semi, daun  yang berubah menjadi kuning dan merah ketika musim gugur (momiji), mencintai suara burung dan serangga, tertarik dengan fenomena cuaca (hingga orang Jepang tiap pagi punya kebiasaan untuk selalu mengecek cuaca hari itu melalui berita, dll, soalnya akan mempengaruhi pakaian seperti apa yang dikenakan), dan makanan di sana akan berubah sesuai musim.

#4. Pentingnya “Wa” bagi orang Jepang

“Wa” adalah filosofis yang dijunjung tinggi di Jepang, yaitu suatu representasi dari sikap bergaul dengan orang lain tanpa konflik, dapat bekerja sama dan saling menghargai satu sama lain. Intinya, orang Jepang selalu menjunjung tinggi harmonisasi, dan keadaan damai. Mereka tidak menyukai terjadinya peperangan serta perkelahian dengan orang lain, apalagi dengan orang asing. Kata “wa” ini sangat dihormati di Jepang, sehingganya nama anak di Jepang pada umumnya akan memakai kata ini, meskipun menggunakan istilah lain, misalnya Kazuko, Kazu=wa (memiliki kanji yang sama dengan “Wa”, yang mendung arti yang baik-baik).

#5. Memiliki Orientasi Kelompok yang kuat

Budaya Jepang mengutamakan harmonisasi, mementingkan hubungan dengan orang lain, terlebih dalam kelompok. Senioritas  (choyonojo) masih dijunjung tinggi. Yang senior dipanggil “-senpai”, yang junior dipanggil “-kohai”. Mereka akan selalu menghormati orang yang terlebih dahulu berada di komunitas, meksipun lebih muda dari mereka. Di Jepang, teamwork adalah nomor wahid. Jika bawahan suatu organisasi membuat kesalahan, justru pemimpin organisasi itu yang akan meminta maaf, bahkan sampai bisa mengundurkan diri. Di Jepang, yang terpenting adalah hubungan dengan orang lain. Mereka tidak ingin unggul untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain.

#6. Masyarakat yang menjunjung etika

Orang Jepang berprinsip, “jangan merepotkan orang lain.” Mereka memiliki kebiasaan “membungkuk” ketika bertemu dan memberi salam, bahkan ketika berbicara di telfon pun. Ini adalah refleksi rasa hormat pada lawan bicara mereka. Termasuk ketika olahraga tradisional khas Jepang, misalnya sumo, judo, kendo, aikido, dll. Mereka akan selalu menaruh rasa hormat pada lawan tanding, sebab itu mereka akan “membungkuk” sebelum dan sesudah pertandingan. Dalam etika Jepang, pemenang harus bisa memperlihatkan sikap rendah hati. Memperlihatkan kegembiraan setelah memperoleh kemenangan, bagi orang Jepang adalah kesombongan dan tidak sopan. Ya, mereka punya budaya herikudaru, yaitu rendah hati. Mereka juga sering mengucapkan okagesama de, (berkat bantuan), misalnya ketika mendapat hal yang baik, mereka tidak akan bilang bahwa itu didapat oleh usaha mereka, tapi selalu merendahkan diri dengan menyebutkan “okagesama de”, ..berkat bantuan anda juga, meskipun tidak ada orang yang membantunya sama sekali. Etika lain mereka adalah, sering merasa sungkan, sering meminta maaf, dan tidak mau membanggakan diri dan keluarga sendiri.

#7. Komunikasi khas orang Jepang

Orang jepang sering tidak bicara terus terang, selalu berusaha menjaga perasaan lawan bicaranya. Jika berbeda pendapat, mereka tidak akan menyampaikannya demi menjaga perasaan orang lain. Kadang-kadang kalimatnya jadi ambigu. Selain itu, orang Jepang lebih banyak mendengar dari pada didengar ketika mengobrol, sehingga mereka sering mengangguk sambil mengatakan ‘hai’, (‘yes’). Jika menyatakan cinta, tidak seperti orang amerika yang bilang “I love you”, maka orang Jepang hampir tidak ada yang bilang “aishiteru”. Tapi, mereka akan mencari kata-kata lain yang mengandung kiasan untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka tidak terlalu suka bicara, sehingga mereka bukanlah pembicara yang baik.

#8. Masyarakat yang menjunjung loyalitas

Orang jepang sangat menjunjung tinggi kesetiaan dan tanggung jawab (loyalty). Mereka sangat sadar untuk “memathui kata-kata orang yang lebih tua usianya atau yang lebih tinggi jabatannya”, “membalas budi kepada orang yang telah membantunya”, dan “melakukan sepenuhnya untuk perusahaan tempat dirinya bekerja”. Bahkan meskipun loyalitas itu mengancam nyawanya.

#9. Cara pandang yang unik terhadap uang

Dalam ajaran bushido, yang terutama dijunjung tinggi oleh orang Jepang terutama samurai, “kemewahan dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kemanusiaan, dan kesederhanaan diharapkan bagi kelas pejuang.” Uang lebih identik dengan hal yang hina dan kotor, memikirkan dan memedulikan itu saja sudah dianggap rendah, demikian awalnya. Tapi lambat laut budaya itu berubah, anak muda Jepang sekarang jika memilih pekerjaan akan mempertimbangkan gaji.

#10. Kepercayaan orang Jepang

Jika bertanya agama, orang Jepang mungkin akan kebingungan. Mereka hampir tidak pernah menyatakan apa agama mereka. Ada kepercayaan mempercayai Tuhan bagi masyarakat Jepang, ini disebut ajaran Shinto. Ajaran ini sangat memuliakan alam. Gunung, sungai, jalan, adalah kekayaan alam yang besar. Mereka sejak dulu takut pada gunung, hutan, danau, batu dan pohon yang dianggap suci. Jika harus dikatakan Agama, Shinto sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan Islam, Kristen dan agama lainnya. Mereka tidak punya kitab suci, dan bahkan mereka tidak punya kesadaran bahwa mereka adalah penganut Shinto, lebih praktisnya, hal tersebut adalah cara pikir yang umum, adat istiadat, yang disebarkan lewat pergaulan ataupun ajaran orang tua. Sebab itu, kadang, orang Jepang akan merayakan natal ketika orang kristen merayakan natal, menikah di gereja, lalu ketika tahun baru mereka ke Kuil shinto untuk berdo’a, ke kuil Budha saat upacara pemakaman, dan lain-lain.

#11. Orang Jepang yang resik

Tidak seperti Indonesia, tidak ada sampah di kota-kota di Jepang. Mereka sangat resik. Di dalam rumah tentu saja, tetapi di sekitar rumahnya juga dibersihkan dengan bersih. Sedikit ceritanya bisa dibaca di postingan saya sebelumnya di sini.

#12. Jepang dan Sake

Jepang memiliki minumkan alkohol yang khas, yaitu sake. Mereka punya tradisi meminum sejenis sake yang dinamakan “otoso” saat tahun baru, untuk menangkal sial dan memohon berkat umur panjang untuk setahun ke depan. Tidak hanya itu, ketika upacara perkawinan, mereka juga mempunyai ritual minum sake di hadapan dewa dengan tata cara yang rumit. “Kanpai” juga dilakukan di pesta-pesta di Jepang, seperti berteriak “mari bersulam” ala orang-orang barat. Meskipun mereka hanya “ikut-ikutan minum” dengan menerima sake yang dituangkan ke dalam cawannya lalu bersulam. Bukan berarti harus beneran minum alkohol, tapi cukup berpura-pura minum saja. Tradisi ini untuk adalah untuk berbaur dan menghargai orang lain.

#13. Sains dan teknologi maju Jepang

Jepang dikenal sebagai negara yang maju dalam ilmu pengetahuan. Contohnya adalah produk-produk hasil teknologi Jepang. Misalnya Shinkasen, kereta berkecepatan tinggi yang pertama kali digunakan tahun 1964. Mereka sangat mementingkan kepuasan pelanggan dalam menciptakan teknologi. Orang Jepang memiliki budaya “monozukuri” yang secara harfiah adalah perihal membuat sesuatu (barang). Mereka suka menciptakan sesuatu, yang tidak hanya sekedar menciptakan, tapi juga sebagai “seni”. Padahal, Jepang tidak kaya sumber daya alam, luas wilayah juga sempit, tapi mereka sangat mementingkan sumberdaya manusia. Mereka membangun negara berbasis industri lalu menjualnya ke dunia. Mereka adalah manusia yang sangat rajin, dan benar-benar berusaha dengan sekeras-kerasnya.

#14. Karakter Budaya Jepang

Jepang populer dengan hasil karyanya, misalnya komik, film, anime, cosplay, musik, game, fashion, dan lain sebagainya. Pada umumnya, budaya Pop inilah yang digandrungi oleh dunia saat ini. Mereka juga punya adat istiadat yang memiliki berbagai macam karakter seperti “binatang”, misalnya saja toko Hello Kitty, Doraemon, dan lain-lain. Selain itu, mereka menganggap semua benda memiliki nyawa, sehingga tidak hanya manusia yang dipanggil -san, -kun, (yang sebaya), atau -chan (untuk yang lebih muda), atau -sama (untuk yang dihormati), bahkan binatang, gunung, matahari, bulan, dan lain sebagainya juga akan dipanggil demikian. Misalnya matahari “o-hi-sama” (tuan matahari), bulan “o-tsuki-sama” (tuan bulan), jerapah “kirin-san” (tuan jerapah), dsb.

#15. Masyarakat Jepang panjang umur

Orang Jepang rata-rata berumur panjang, sampai umur 83 tahun. Rahasianya, orang jepang sangat menjaga kesehatannya, mulai dari tradisi makan, misalnya tradisi “satu piring 3 lauk”, menunya terdiri dari nasi, sup, dan makanan tambahan lain hingga gizinya sangat baik.

#16. Penghargaan terhadap sesuatu

Orang jepang menghargai sesuatu secara tradisional. Misalnya, memakai kimono (pakaian adat jepang) yang diwariskan secara turun-temurun dari ibu ke anak perempuannya dan seterusnya. Kimono yang sudah rusak juga tidak langsung dibuang melainkan disesuaikan lagi dengan tubuh yang akan memakainya. Mereka juga punya budaya “mottainai” (tidak boleh membuang barang yang masih berharga), yaitu budaya mendaur ulang. Persis seperti kimono tadi.

Ulasan

Seperti yang saya sampaikan di awal, buku ini recommended banget! Saya yang baru baca seringkali tercengang membacanya. Wkwk. Memang beda banget dengan budaya kita. Beberapa mungkin sama. Tapi yang jelas, buku ini bagi saya sangat cukup untuk menambah rasa keingintahuan saya tentang budaya Jepang. Banyak hal yang bisa saya ambil pelajaran dari hal tersebut. Baik dari sisi positif maupun negatif, insya Allah. 🙂

Oleh sebab itu menurut saya, buku ini dapat dijadikan bahan bacaan yang bagus banget. Selain ditulis langsung oleh orang asli Jepang -yaitu Bapak Yusuke Shindo, yang pernah tinggal di Indonesia, menjadi wakil duta besar Jepang di Indonesia sampai Maret 2015- buku ini ditulis dengan gaya bahasa beliau yang ringan dan mudah dipahami. Di dalamnya juga ada beberapa gambar untuk mengilustrasikan beberapa hal mengenai Jepang. Contoh-contoh aplikasi budaya dan kebiasaan Jepang juga diceritakan dalam buku ini. At least, buku ini salah satu favorit saya. Highly recommended.😀

4 thoughts on “Mengenal Jepang – Yusuke Shindo [Book Review – August 2015 #3rd]

  1. Banyak yang bisa diteladani dari masyarakat Jepang. Meski dulu kita pernah punya kenangan buruk dengan mereka, tapi yang jelek-jelek mari kita buang, terus yang bagus-bagusnya kita ambil :hehe. Jepang memang bukti kalau hidup itu keras tapi bukan berarti kita tak bisa menaklukkan hidup. Kelangkaan sumber daya membuat mereka putar otak dan bahkan menjadikan mereka sangat rajin, agak kontras dengan sebuah bangsa yang tidur di atas harta karun tapi menjadikan mereka pemalas… yah, usaha memang dimulai dari ketiadaan.

    Terima kasih sudah berbagi! Ini teladan yang baik sekali.

    Liked by 1 person

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s