Berjalan di Atas Cahaya - Hanum Salsabiela Rais, dkk

Berjalan di Atas Cahaya – Hanum Salsabiela Rais, dkk [Book Review – August 2015 #4th]

Kali ini ingin sedikit ngereview sebuah buku yang menurut saya cukup inspiratif. Buku ke-4 bulan Agustus lalu. Buku ini sebenernya sudah saya beli tahun 2013 lalu, cuma belum sempat kebaca ketika masih sibuk-sibuknya koas. Hehe.🙂 Akhirnya baru sempat kebaca tuntas saat sekarang. Berikut sedikit reviewnya.

Details
Berjalan di Atas Cahaya - Hanum Salsabiela Rais, dkk
Berjalan di Atas Cahaya – Hanum Salsabiela Rais, dkk
  • Judul: Berjalan di Atas Cahaya
  • Penulis: Hanum Salsabiela Rais, Tutie Amaliah dan Wardatul Ula
  • Penerbit: Gramedia
  • Tebal: xii + 210 halaman
  • Cetakan ke: 4 (Juli 2013)
  • ISBN: 978-979-22-9359-3
Resensi

Hanum Salsabiela Rais adalah seorang istri dari Rangga Almahendra yang pernah mengambil kuliah di Eropa selama tiga tahun. Setelah pulang ke Indonesia, Hanum kembali mendapat tugas sebagai reporter di salah satu tv swasta dan ditugaskan untuk meliput berbagai kegiatan keislaman di Eropa. Salah satu kisah yang diceritakan oleh Hanum adalah ketika keputusannya untuk kembali ke Eropa untuk menjalankan tugas ditengah kurangnya biaya dan akomodasi dalam perjalanan. Namun ada sebuah hikmah ketika Hanum menerapkan nilai-nilai seperti pepatah orang barat, “never burn the bridge”, yaitu selalu menyambung silaturahmi dengan orang-orang baik yang telah banyak membantunya selama di Eropa. Melalui mereka, Hanum kemudian mendapat banyak pertolongan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dari kutipannya, Hanum menjelaskan bahwa mereka yang membantu tidak semua Muslim, ada juga yang non muslim. Tak jarang merekalah yang dikirim Allah swt untuk membantu dan mempermudah titiannya.

Ketika menceritakan kembali kisah-kisahnya sebagai reporter, ada beberapa hal unik yang dilihatnya dari setiap orang yang ditemuinya. Misalnya ketika meliput kehidupan seorang muslimah yang amat istiqomah di Bern-Swiss. Meskipun hanya seorang diri tinggal di pedesaan Bern -yang jauh lebih modern jika dibandingkan dengan pedesaan di Indonesia, Hanum menemukan bagaimana keteguhan seorang bunda Ikoy asal Aceh itu memegang nilai-nilai Islam yang dianutnya meskipun harus jauh dari keluarga. Membangun keluarga Islami dengan seorang lelaki bule mualaf, bahkan diterima bekerja di perusahaan jam tangan ternama di Swiss. Ia membuktikan bahwa wanita berjilbab juga bisa berkarir cemerlang meskipun dilanda sentimen negatif di Eropa. Ia juga punya visi besar untuk Aceh, dan berniat untuk kembali membangun negerinya. Sebuah kisah yang menarik.

Ada lagi kisah ketika Hanum meliput seorang wanita muslimah berjilbab yang berprofesi sebagai penyanyi rap di kota Wina Austria. Wanita bernama Nur Dann itu keturunan Turki. Tidak seperti penyanyi rap  kebanyakan dengan gaya esentrik, Nur Dann mampu menjadi penyanyi rap berjilbab yang banyak digandrungi penggemar. Ketika Hanum bertanya mengapa ia nge-rap meski berjilbab, wanita itu menjawab mantap. Ia ingin mengubah dunia lebih baik dengan jilbab, ia ingin mengubah perspektif dan cara pandang orang tentang jilbab yang dibilang sumber kekolotan perempuan Muslim. Dengan cara inilah ia berdakwah. Perempuan muda yang sangat inspiratif.

Banyak lagi kisah-kisah menarik yang ditulis Hanum di buku ini. Sebagian besar menceritakan bagaimana perjuangan seorang muslim dan muslimah untuk mempertahankan keislamannya meskipun hidup di bumi Eropa yang sekuler dan memiliki pandangan negatif tentang Islam. Kisah lainnya seperti kisah seorang pria bule mualaf yang membangun keluarganya ketika harus berpisah dengan kedua orang tuanya yang justru adalah penginjil Katholik yang taat. Kisah Fatma, teman seimannya dulu yang berjuang menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anaknya. Lalu kisah Xiao Wei, wanita asal Tionghoa yang merubah perspektifnya terhadap orang Islam ketika mengenal Hanum. Kisah komunitas muslim berjuang menyewa rumah untuk dijadikan masjid. Dan banyak lagi.

Tidak hanya Hanum, kisah-kisah lainnya juga disumbangkan oleh Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Mereka juga perempuan-perempuan Indonesia yang pernah mengecap kehidupan di Eropa. Pengalaman hidup sebagai seorang muslimah memang butuh perjuangan, terutama menyangkut ibadah rutin dan jilbab yang selalu menjadi hal yang diskriminatif di sana. Kisah-kisah mereka begitu emosional, misalnya saja kisah ketika Tutie Amaliah dijauhi oleh rekan-rekan sekampusnya karena dia terlalu sibuk mengurusi anaknya yang masih kecil dan tak sempat bergaul ikut berpesta-pesta dengan rekannya. Ia kemudian dicap bahwa orang muslim itu terbelakang, terkekang suami, susah berintegrasi. Sepertinya ia bukan takut dipukul Tuhannya saja, tapi juga suaminya. Begitulah pergunjingan mereka terhadap Tutie, tapi ia membuktikan bahwa wanita muslim bukan demikian, ia mampu menjadi perempuan yang dihormati, semuanya menjadi nyata ketika ia mengundang teman-temannya ke rumah dan mengenalnya lebih dekat. Siapa sangka di akhir kelulusan, ia menjadi perempuan yang menyampaikan pidato di dipan ribuan orang dan mendapat tepuk tangan yang membahana.


Ulasan

Buku ini simpel, tapi sangat inspiratif menurut saya. Dari buku ini saya bisa mengenal lebih dekat bagaimana Eropa memandang seorang muslim. Mereka hanya tidak paham, namun hanya akan terpesona jika mengenal lebih jauh. Saya juga salut dengan perjuangan Hanum, Tutie dan Wardatul Ula dalam mengemban misi muslimah sebagai “agen Islam yang baik”. Saya juga tergakum-kagum dengan betapa istiqomahnya seorang muslim di saat harus berhadapan dengan hal-hal yang mengganggu akidahnya. Saya merasakan bahwa, justru ketika di tempat asing itulah kita merasa ekslusif, hingga di setiap saat kita sadar bahwa kita adalah muslim. Dan kita adalah potret bagi muslim dan muslimah lainnya di dunia. Saya rasa itu perjuangan yang sangat luar biasa.

Buku ini aslo recommended buat kita-kita yang ingin mendalami dan memaknai keislaman kita lebih baik. Insya Allah buku ini bisa menjadi teman baik saat santai, yang ditulis dengan kalimat yang apik dan mudah dipahami. Sisi emosionalnya juga dapet. Cocok juga bagi yang hobi traveling dan sedikit melankolis. Hehehe.😀

4 thoughts on “Berjalan di Atas Cahaya – Hanum Salsabiela Rais, dkk [Book Review – August 2015 #4th]

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s