Ini awal mula invasi kabut asap di kota domisili saya di Payakumbuh

Invasi Kabut Asap

Beberapa minggu terakhir kualitas udara di Payakumbuh bener-bener menghawatirkan. Mungkin tidak separah kota tetangga, misalnya Pekanbaru yang kualitas udaranya sudah mencapai level berbahaya. Usut punya usut tentu saja gak pernah bisa jauh dengan hasil pembakaran hutan. Entah emang dibakar atau emang kebakar sendiri sebab musim kemarau.😥 Bencana tahunan.

Dua minggu yang lalu udara masih biasa-biasa saja. Meski sebenernya sudah ada yang berubah dari langit semenjak sebulan terakhir. Langit biru udah susah dicari. Tapi waktu itu belum terlalu “ngeh” apakah itu awan yang bergumpal atau bukan. Jadinya pas mau traveling lagi, jadi mikir-mikir, soalnya view-nya udah ketutupin sama kabut.

Eh rupanya hari demi hari terus berlalu, kabut udah nyentuh tanah. Awalnya mulai curiga pas siang hari, secara kalau siang nggak mungkin ada kabut et causa embun kan? Ternyata bener pas malamnya bau asap udah menyeruak. Bahkan pakaian yang dipakai berubah baunya jadi bau asap. Saya yang nggak tahan dengan segala jenis asap mulai dari asap knalpot, asap rokok, apalagi asap hasil pembakaran karena memang dari sononya alergi, ngerasain banget dampaknya. Eh, rupanya memang kabut. Innalillah..

Ini awal mula invasi kabut asap di kota domisili saya di Payakumbuh
Ini awal mula invasi kabut asap di kota domisili saya di Payakumbuh, dipotret jam 2 siang. Jarak padang mungkin sekitar 500 meter

Tiap pagi sebelum saya berangkat ke klinik, saya biasa lewat jalan protokol kota. Sekitaran jam 8 pagi. Biasanya kabut et causa embun kalau jam 8 udah pada minggat ya? Soalnya kalau embun selama ini gak pernah jauh-jauh dari jam 5 subuh sampai jam 7 pagi, tapi ini kok lama banget ya? Jadinya agak bingung, sepertinya kabut asap udah nyampur sama kabut alami alias embun. Ya, embun memang agak tebel di Payakumbuh kalau lagi musim kemarau. Nggak tahu juga kenapa, mungkin ahli geografi bisa menjelaskan penyebabnya. Mungkin ada pengaruh juga dengan lokasi Payakumbuh yang dikelilingi bukit dan gunung dan berada di ketinggian 514 meter dari atas permukaan laut.

7
Kabut kaya gini masih ada jam 8 pagi😯 , kemungkinan besar bukan embun lagi.
8
Kabut di pusat kota jam 8 pagi, matahari jadi nggak jelas bentuknya, jarak pandang mungkin hanya 100 meter

Awalnya saya masih agak penasaran dari mana asalnya asap ini. Waktu itu media belum terlalu menyoroti mengenai kabut asap. Walhasil nggak dapat informasi yang detail, jika memang ini kabut asap, lalu kiriman dari mana? Biasanya kalau musim kabut asap, penyebabnya adalah dari provinsi Riau. Namun, beberapa hari yang lalu saya hanya mendengar adanya kebakaran hutan di bagian selatan Sumbar, yaitu Jambi dan Sumatera Selatan. Secara, Payakumbuh yang letaknya di utara tentu saja bakal relatif aman dibandingkan kota Dharmasraya atau kota Padang yang letaknya di selatan dan lebih dekat dengan kedua provinsi tetangga tersebut. Tapi ternyata tidak.

Siang harinya sepulang dari klinik, saya sempetin lagi dokumentasiin asap. Kali ini saya udah nggak tahan, terpaksa make masker, sebab sudah sangat terasa mengiritasi saluran napas.

1
Pemandangan asap terlihat makin parah, jarak pandang makin dekat jika dibanding siang hari sebelumnya
2
depan kantor DPRD
3
Jalan menuju rumah
4
pepohonan di depan udah gak jelas kelihat
5
masuk ke pemukiman deket rumah

Ketika subuh hari-hari berikutnya juga makin parah.

10
Jarak pandang cuma sekitar 20 meter
11
Serasa di Silent Hill liat tebelnya kabut asap di depan rumah
12
Jalan samping rumah. Di belakang itu sebenernya ada bukit, tapi udah gak keliatan.

Asap dari mana ya?

Seperti yang lagi jadi headline di media, Indonesia kini tengah dilanda darurat kabut asap. Menurut berbagai sumber, kabut asap ini berasal dari titik panas akibat kebarakaran hutan yang melanda sebagian besar daerah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sampai Jumat kemarin (4/9), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat ada 156 titik panas, yaitu 95 titik di Sumatera dan 61 titik di Kalimantan. Data dari BMKG lebih fantastis lagi. Dari BMKG Pekanbaru menyebutkan satelit Tera dan Aqua memantau 708 titik panas di Sumatera pada tanggal 3/9. Data ini terus mengalami peningkatan dari hari-hari sebelumnya. Semua provinsi di Sumatera mengalami kebarakan hutan, namun yang paling banyak menyumbang adalah Jambi, Sumsel dan Riau.

Foto: DANIL SIREGAR/SUMUT POS Petugas BMKG Wilayah I Medan memperlihatkan peta sebaran titik panas yang teramati di kantor BMKG Wilayah I Medan, Kamis (3/9/2015). Penyebab kabut asap di wilayah Medan, akibat kebakaran hutan di Riau serta meningkatnya jumlah titik panas di pulau Sumatera sebanyak 898 titik.
Foto: DANIL SIREGAR/SUMUT POS
Petugas BMKG Wilayah I Medan memperlihatkan peta sebaran titik panas yang teramati di kantor BMKG Wilayah I Medan, Kamis (3/9/2015). Penyebab kabut asap di wilayah Medan, akibat kebakaran hutan di Riau serta meningkatnya jumlah titik panas di pulau Sumatera sebanyak 898 titik.

Merugikan Kesehatan

Kita emang harus ekstra hati-hati dengan kabut asap. Sebab, dapat menimbulkan penyakit dan gangguan kesehatan. Asap akibat kebakaran hutan ini dapat menimbulkan dampak lokal, dampak sistemik dan dampak tidak langsung bagi manusia. Seperti yang saya kutip dari tulisan Prof. Dr. Tjandra YA.

Pertama, kontak langsung akibat paparan kabut asap ini dapat mengiritasi selaput lendir di hidung, tenggorokan dan saluran napas. Akibatnya bisa terjadi reaksi peradangan, reaksi alergi, dan kemungkinan infeksi. Gejalanya antara lain batuk, pilek, hidung berair dan bersin-bersin. Selain saluran napas, kontak langsung kabut asap dapat juga mengiritasi mata hingga menyebabkan konjungtivitis (mata perih, merah, gatal dan berair), dan keluhan-keluhan kulit seperti kulit kering dan gatal-gatal.

Kedua, asap dapat berdampak secara sistemik pada tubuh jika terhirup. Ia dapat memperberat penyakit Asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) dan juga dapat menurunkan kualitas kerja paru-paru, sehingga orang jadi mudah lelah dan sulit bernapas. Daya tahan tubuh juga akan terganggu, akibatnya bakteri/virus dan mikroorganisme lainnya mudah menginfeksi, sehingga memperbesar risiko terjadinya Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Ketiga, bahan polutan pada asap dapat jatuh ke permukaan bumi hingga mencemari air bersih dan makanan yang tidak terlindungi. Akibat tidak langsungnya adalah ketika kita mengonsumsi makanan yang tercemar polutan asap tersebut, bukan tidak mungkin menyebabkan terjadinya gangguan saluran cerna dan penyakit lainnya. Tidak hanya pengaruh ke saluran cerna, zat-zat kimia berbahaya yang terdapat di asap juga dapat memperberat berbagai penyakit kronis di berbagai organ tubuh (jantung, ginjal, hati, dan lain-lain).

Oleh sebab itu, berbagai upaya pencegahan emang mesti dilakukan. Kalau bisa, kita memang harus mengurangi aktivitas di luar rumah/ gedung. Kalau memang harus, gunakanlah masker ketika berpergian. Ya meskipun agak sulit mencegah asap masuk ke dalam ruangan secara keseluruhan. Trus kumur-kumur dengan air putih hangat juga dapat membantu mengurangi gejala batuk dan pilek, sekalian menjadi pelarut untuk bahan-bahan iritatif yang berasal dari asap yang nyangkut di tenggorokan.

Mudah-mudahan bencana kabut asap ini cepat berlalu.. Kalau memang disengaja semoga oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab itu dapat diadili dan dihukum seberat-beratnya. No offence! Sebab ini sudah menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena sudah menjadi bencana tahunan, saya berharap pemerintah bisa mengantisipasi hal-hal semacam ini di tahun-tahun berikutnya. Semoga kabut asap ini bisa diatasi dan tidak menjadi penyakit kronis di negeri ini.

Rujukan:

4 thoughts on “Invasi Kabut Asap

  1. Kalau kumur-kumur terus yang keluar sebagai hasilnya malah air keruh, doh berarti sudah membahayakan banget ya Mas kabut asapnya :huhu. Kalau kata teman sih gara-gara pembakaran lahan buat kebun kelapa sawit, terus pembakaran adalah cara membersihkan lahan yang paling murah dan mudah. Yah, kalau omongannya soal perusahaan-perusahaan itu, buat sekarang kita belum bisa banyak cakap, kalau pemerintah belum punya aturan tegas dengan mereka-mereka itu. Semoga masalah ini cepat berlalu, ya. Itu seram sekali pemandangan subuhnya, kalau kabut mungkin asyik tapi kalau asap ya sesak banget kan jadinya.

    Liked by 1 person

    • Bener mas. Mesti ada sanksi tegas bagi perusahaan-perusahaan yang berbuat sekehendak hatinya tanpa memikirkan dampak lingkungan seperti itu. Gimana pun yang teraniaya masyarakat juga kan?😦

      Iya nih mas. Kabutnya tebal banget. Kayaknya udah nyampur sama asap, soalnya gak enak di pernapasan.😦

      Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s