Padang Bulan - Andrea Hirata

Padang Bulan – Andrea Hirata [Book Review – August 2015 #5th]

Novel berikut ini adalah novel mengenai perjuangan hidup dan perjuangan cinta. Buku ini merupakan buku terakhir yang sempat saya baca bulan Agustus lalu, dan merupakan bagian pertama dari dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata, penulis novel fenomenal Laskar Pelangi. Novel yang udah lama banget ya? Tapi baru kebaca sekarang. Hehe.. Cekidot🙂

Details

Padang Bulan - Andrea Hirata
Padang Bulan – Andrea Hirata
  • Judul: Padang Bulan
  • Penulis: Andrea Hirata
  • Penerbit: Bentang
  • Tebal: xviii + 310 halaman
  • Cetakan ke: 3 (Agustus 2011)
  • ISBN: 978-602-8811-20-9

Sinopsis

Kisah di novel ini dimulai dari dua sudut pandang. Kisah pertama datang dari seorang perempuan tangguh bernama Enong, lalu berlanjut pada kisah seorang pemuda bernama Ikal, tokoh utama dari tetralogi Laskar Pelangi.

Kisah Enong dimulai dari cerita kedua orang tuanya, yang hidup miskin penuh kesederhanaan namun saling mencinta. Ketika itu, saat Enong masih kecil, Syalimah, ibu Enong, begitu bahagia ketika mendapat kejutan pertama dari sang suami setelah delapan belas tahun menikah. Sebuah sepeda Sim King made in RRC! Ia terus menunggu suaminya dari tambang yang berjanji akan mengajak mereka melihat pasar malam sambil menaiki sepeda baru itu. Namun, kesedihan tiada terperi ketika Syalimah tahu Zamzami tak kan pernah kembali. Suaminya itu kini mati ditimbun reruntuhan tanah. Ia kalut. Tersedu sedan disamping Zamzami yang telah mati.

Enong, anak sulung mereka, tak luput dari cerita menyedihkan itu. Ia anak SD kelas enam yang sangat cerdas. Bahasa Inggris adalah favoritnya, dan alangkah bahagiannya ketika ia mendapat Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata yang dibelikan ayahnya dari hasil keringat bekerja di tambang. Benda itu adalah benda paling berharga dalam hidupnya. Sampai dirangkainya cita-cita itu, menjadi guru bahasa Inggris. Tapi ketika mendengar kabar ayahnya mati, ia kalut. Tapi ia tak punya pilihan lain. Keluarganya miskin, selama ini ayahnya adalah tulang punggung keluarga. Menafkahi istri dan empat orang anak. Dengan tegarnya, anak kelas enam SD itu memutuskan berhenti sekolah dan mencari kerja demi kelangsungan hidup ibu dan ketiga adiknya, menggantikan sang ayah.

Enong, mencari kerja sampai ke Tanjung Pandan. Tapi malang tak ada pekerjaan yang bisa ia dapatkan. Ia pun pulang, lalu memutuskan sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan oleh satu pun orang Melayu di tanah Belitong itu. Menjadi perempuan pendulang timah! Enong, perempuan pertama yang menjadi pendulang timah dalam sejarah Belitong.

Saban hari dirasa beratlah pekerjaan itu. Tapi Enong pantang menyerah. Tekadnya seperti baja, sulit terbayangkan jika ada anak perempuan jolong remaja seperti dirinya yang bisa menghadapi sulitnya pekerjaan seberat itu. Meski harus menjadi korban permainan orang-orang yang menganggapnya bodoh, bahkan sampai harus menjadi buruan orang-orang lalu terhempas ke dalam sungai hingga trauma dengan salakan anjing, Enong tumbuh menjadi perempuan tangguh yang mampu menghidupi keluarganya sedikit demi sedikit.

Namun, cita-citanya tak pernah padam. Enong masih menyimpan kamus Satu Miliar Kata yang teramat berharga itu. Ia masih menyimpan mimpinya. Sampai ketika ia berkawan dengan sahabat pena, saling kirim surat dalam bahasa Inggris.

Sampailah kisah pada Ikal, seorang pemuda bertubuh tak semampai, berkawan dengan seorang pemuda lucus bernama detektif M.Nur. Kawannya itu dikenal detektif yang berdedikasi meskipun bagi sebagian orang lebih dekat dengan kurang kerjaan. Bersama burung pelatuknya yang setia bernama Jose Rizal, ia terlihat profesional. Ikal, jatuh hati pada seorang perempuan tionghoa, bernama A Ling. Tapi ia seperti bertepuk sebelah tangan. Detektif M.Nur menduga, A Ling menyukai seorang pemuda tampan dan gagah, Zinar namanya, pemilik toko di tempat ia bekerja. Dari gelagatnya Zinar akan menikahinya. Ikal cemburu buta padanya. Sungguh cemburu.

Tapi, meskipun Ikal telah berusaha menemui orang itu, ia memang tak sebanding dengan Zinar. Dibanding wajahnya yang tampan, badannya yang gagah, ekonomi yang mapan, teman yang banyak, Ikal bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah pengangguran berwajah pas-pasan dan tubuh yang tak semampai. Tak jauh beda dengan detektif M.Nur yang lebih jelek lagi. Mereka berdua bujang lapuk pengangguran. Sering dimarahi emak masing-masing. Akhirnya mereka putuskan merantau ke Jakarta. Ikal semakin rajin mengirim surat lamaran di kantor pos, disanalah ia mengenal Enong, yang selalu rutin berkirim surat dengan sahabat penanya.

Sudah mantap berangkat, Ikal dan Detektif M.Nur sampai di pelabuhan, lalu kapal pun hendak pergi. Rupanya, batal! A Ling masih terpikirkan oleh Ikal, emak masih terpikirkan oleh M.Nur. Mereka pulang lagi. Tidak jadi memutuskan merantau.

Kini Ikal pun mengenal Enong. Sejak pertemuan terakhir di kantor Pos, Enong mendapati Ikal yang pandai berbahasa Inggris. Ikal pun seperti penerjemah ulung yang bisa menjawab kosa kata yang tak ditemuinya di kamus Satu Miliar Kata. Sampai akhirnya Enong menemukan katalog yang berisi kursus bahasa Inggris yang akan dibuka di Tanjung Pandan. Enong yang tak lupa dengan impiannya memaksakan diri mendaftar, sampai akhirnya diterima. Tak lain jua karena peran Ikal.

Ikal pun tak ingin jadi bujang pengangguran selamanya. Hasrat persaingan dengan Zinar kini menggelegar. Ikal, lalu mendaftarkan diri bekerja di warung kopi pamannya, yang keras lantang dan bermulut kasar. Tak mudah memang mencari pekerjaan. Ikal terus mencari cara untuk memikat hati A Ling dengan menantang Zinar. Bermodal kawan dengan Grand master catur internasional, Nochka, yang selalu ia hubungi via chatting online, ia menantang Zinar bercatur. Tapi, malangnya Ikal, ia tak mampu berkutik dari kepiawaian Zinar. Tak cukup disitu, ia pun menantang Zinar dalam berbagai hal, tapi tak pernah unggul. Bahkan, sampai ke masalah tinggi badan.

Sampailah kepada cerita ketika Ikal memesan alat peninggi badan bermerek ortoceria! Ia pesan jauh-jauh dari Jakarta, mengorbankan gaji bulanan yang ia kumpulkan dari bekerja di warung kopi. Diam-diam, tak ingin diketahui siapa-siapa. Ia begitu yakin alat peninggi badan itu dapat membuatnya lebih tinggi empat sentimeter. Ia yakin dengan cara itu A Ling akan terkesan padanya. Tapi, kecelakaan naas terjadi ketika alat itu dipakai. Leher ikal terikat erat dan kakinya menggantung. Ia seperti orang yang gantung diri.

Enong terkejut bukan main menemukan Ikal tergantung hampir mati. Detektif M.Nur pun apatah lagi. Mereka menyelamatkan ikal dari maut, lalu membawanya ke Puskesmas sambil digotong di atas bak sepeda, membuat pemandangan lain di keramaian pasar.

“Masih banyak perempuan lain Boi! Kalau kau kesulitan mencari jodoh, mengapa tak bicara padaku? Masih banyak keponakanku perawan tua di udik sana!” Enong menarik napas panjang.

“Apa sukamu hanya anak Tionghoa? Usah kau cemas. Kenalanku banyak perempuan Tionghoa yang tak laku-laku! Mau Hokian, Khek, Ho Pho, Tongsan, lengkap! Janganlah berputus asa. Lihatlah Kakak, ni, dari kecil Kakak susah. Cobaan datang bertubi-tubi, tapi mana pernah Kakak patah harapan. Tak pernah! Hidup ini harus tabah. Memang benar badanmu pendek, tapi mukamu tak jelek-jelek betul. Paling tidak, kau lihai berbasa Inggris!”

Malang nian nasib Ikal. Niat lain disangka lain. Tapi apa boleh buat. Cinta butanya pada A Ling memang tak masuk akal. Kali ini ia benar-benar menyerah, lalu berniat lagi ke Jakarta.

Tapi, siapa kira, kini ketika esok kan pergi. Tiba-tiba, A Ling berada di depan pekarangan rumahnya. Ia melihat gadis itu terpaku, ia tampak jengkel dan kesal, seraya berkata kesal padanya karena mau berlayar dengan Mualim Syahbana ke Jakarta tanpa memberi tahunya. Tapi, bagaimana pula Ikal kan menyampaikannya. Lantas, perempuan tionghoa itu berujar, ia tak bisa menemui Ikal saban hari belakangan karena sibuk membantu sahabat pamannya membuka toko dan penyiapkan perkawinannya. Rupanya, sahabat pamannya itu adalah Zinar yang akan menikah dengan orang lain. Kini, undangan Zinar pun diberikannya pada Ikal.

Maka alangkah bodohnya Ikal. Konyol. Untuk apa melakukan hal sejauh ini toh ternyata Zinar bukan akan menikai A Ling?! Rupanya, ini semua ulah detektif swasta tengik bernama M.Nur, yang memberi informasi menyesatkan.. M.Nur pun manggut-manggut dibalik pesan yang ia tulis via Jose Rizal. 

Tapi, pada akhirnya Ikal bahagia. Ia masih punya secercah harapan.

Ulasan

Gubrak! 😛 Novel ini benar-benar lucu menurut saya. Haha.😀 Padahal di awal-awal kisahnya begitu serius, tapi di akhirnya saya menjadi ketawa-ketawa sendiri. Andrea Hirata memang sangat lihai dengan kata-katanya yang natural. Ia tak terlihat melebih-lebihkan kata, tapi tersirat makna yang dalam dan humor yang mengena. Saya hanya terkagum-kagum dengan sedikit kisah ini. Setidaknya, melalui kisah ini ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil.

Pertama, saya sangat mengagumi tokoh Enong. Pelajaran akan pentingnya kesabaran, ketegaran, semangat hidup, semangat berjuang, dan pantang menyerah, termasuk dalam meraih impian. Tokoh Enong adalah salah satu tokoh paling inspiratif dari novel yang pernah saya baca. Meskipun cerita fiksi, (saya tidak tahu apakah ini diangkat dari kisah nyata atau bukan), tapi setidaknya Enong telah mengajarkan suatu hal yang luar biasa. Yaitu, KEBULATAN TEKAD.

Kedua, saya bisa mengambil pelajaran mengenai kesungguh-sungguhan dan totalitas dari seorang Ikal. Walaupun tujuannya amatlah konyol, tapi usahanya memang dapat diacungi jempol. Sesederhana apapun tujuan hidup kita, Ikal seolah-olah meneriakkan, berusahalah semaksimal-maksimalnya!🙂

Ketiga, masih dari Ikal, saya bisa mengambil sebuah arti dari kata kesetiaan. Cinta yang begitu polos dari seorang Ikal, membuatnya hanya punya satu orang dalam hatinya, dan tak bisa berpaling. Saya pikir, kesetiaan adalah syarat mutlak seorang lelaki sejati. Hahay🙂

Ya, setidaknya tiga nilai itu saya dapatkan di novel Padang Bulan ini. Novel pertama dari dwilogi Padang Bulan. Dimana novel berikutnya akan lebih menceritakan kisah perjuangan Enong. Untuk buku pertama ini, saya harus bilang, I like it. 🙂

2 thoughts on “Padang Bulan – Andrea Hirata [Book Review – August 2015 #5th]

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s