Da Vinci Code

The Da Vinci Code – Dan Brown [Book Review – October 2015 #1st]

Sebuah kode yang rumit tersembunyi di balik Karya-Karya Leonardo Da Vinci. Sebuah kejar-mengejar yang menegangkan melintasi katedral-katedral dan kastil-kastil Eropa. Sebuah kebenaran menakjubkan yang disembunyikan rapat-rapat selama berabad-abad.. Akhirnya Terkuak. [Da Vinci Code]

Awalnya saya agak sangsi membaca buku ini. Buku lama yang menurut penuturan sodara saya recommended banget. Sebuah novel dengan daya nalar dan imajinasi yang tinggi, bergenre detektif, konspirasi, dan religius. Tapi, setiap detail referensi yang diceritakan benar-benar berasal dari fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Boleh saya katakan, novel ini bukan sembarang novel, melainkan sebuah akumulasi dari sebuah riset yang amat mendalam.

Well, kisah-kisah detektif masih merupakan genre awam buat saya, ditambah lagi buku ini tebal banget, rasanya bakal lama menamatkannya. Tapi, setelah saya coba beranikan diri membaca, sehalaman, dua halaman, hingga tersadar saya jadi addicted! Hehe. Buku tebal yang dapat saya tamatkan hanya dalam waktu lima hari di tengah aktivitas lain. It was really something for me. Hha. Baiklah, berikut reviewnya.

Details:

Da Vinci Code
Da Vinci Code
  • Judul: The Da Vinci Code
  • Penulis: Dan Brown
  • Penerbit: Serambi (terjemahan)
  • Tebal: 624 halaman
  • Cetakan ke: 5 (Mei 2006)
  • ISBN: 979-3335-38-4

Sinopsis

Robert Langdon, seorang Profesor “Simbologi Agama” di Universitas Harvard, berkebangsaan Amerika, kini terlibat dalam sebuah misteri pembunuhan seorang kurator Museum Louvre Paris terkenal bernama Jacques Saunière. Kurator berusia 76 tahun ini bukanlah sembarang orang, yakni seorang kepala biarawan dari sebuah organisasi rahasia yang juga menyimpan rahasia luar biasa dari sejarah agama Kristen. Mereka tergabung dalam perkumpulan biarawan yang dikenal dengan sebutan “Biarawan Sion”, organisasi nyata yang didirikan pada 1099. Menurut sejarah, organisasi ini pernah beranggotakan orang-orang berpengaruh, seperti Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci.

Tengah malam itu, seorang albino datang ke museum Louvre, memaksa Saunière mengatakan lokasi dimana letaknya benda bernama “batu kunci”. Sampai ketika Saunière berlari melintasi selasar Galeri Agung, merogoh lukisan Caravaggio, hingga akhirnya menyebabkan alarm seantero museum berdering. Tapi, Saunière tercekat, tak bisa kabur, sampai sebuah pistol dihadapkan sang albino ke arahnya, ia terpaksa mengatakan sesuatu.

Ketika sang kurator usai bicara, albino tersenyum dengan angkuh. “Ya, ini persis seperti kata yang lain padaku.” Tiga senechaux yang telah lebih dulu dibunuh.

Kebenaran. Jika aku mati, kebenaran akan lenyap selamanya. 

Peluru panas itu kemudian bersarang di perutnya, sampai albino pergi.

Malam itu jua, Robert Langdon dihubungi oleh kepolisian Perancis terkait peristiwa berdarah itu. Dengan dalih keahlian simbologi yang dimilikinya, Fache, kepala satuan polisi Prancis meminta Langdon mencari petunjuk akan pelaku pembunuhan itu. Ya, Saunière meninggalkan teka-teki misterus ketika kematiannya, di saat tersisa waktu dua puluh menit sebelum asam lambungnya menggerogoti isi perutnya akibat peluru panas. Kini, Langdon melihat lelaki tua itu mati, dengan tubuh meniru posisi Vitruvian Man, gambar Leonardo Da Vinci, lalu diikuti dengan suatu pesan acak (cryptic) yang tertulis di samping tubuhnya,  dan sebuah Pentagram tergambar di perutnya dengan darahnya sendiri.

Bagaimana misteri itu kemudian dipecahkan, sampailah ketika seorang agen kriptologi kepolisian, yakni perempuan muda bernama Sophie Neveu datang menyadarkan Langdon akan jebakan Fache yang hendak menjadikan Langdon sebagai tersangka. Sophie tidak lain adalah satu-satunya cucu Saunière yang selamat setelah kedua orang tua beserta saudara laki-lakinya tewas karena kecelakaan mobil beberapa tahun silam. Ia datang karena melihat kode angka yang membuatnya merasa harus terlibat, dan ada pesan rahasia yang ingin diungkapkan kakeknya pada dirinya. Langdon dan Sophie kemudian terlibat kemelut dengan Fache, ketika mereka berdua bersembunyi di sebuah toilet, lalu mengatur siasat agar Fache terkecoh ketika mengira mereka berdua melarikan diri. Dan Ya, Fache tertipu, hingga keduanya kini leluasa menggali simbol-simbol dan petunjuk yang ditinggalkan Saunière di lokasi kematiannya itu. Sebuah kode rahasia, simbol Venus, Leonardo Da Vinci, petunjuk lukisan Mona Lisa, lalu Madonna of the Rocks. Hingga ia menemukan sebuah kode dan kunci dengan ukiran fleur-de-lis, sebuah simbol rahasia dari Biarawan Sion.

Singkat cerita, keduanya kini terlibat kejar-kejaran dengan kepolisian Prancis yang dikepalai oleh Fache, hingga mereka sampai di sebuah bank rahasia dan membuka rekening Saunière. Mereka yakin bahwa Saunière ingin menyampaikan sesuatu pada keduanya melalui benda yang tersimpan di bank itu. Kunci fleur-de-lis dan sebuah password menjadi alat untuk membukanya. Hingga mereka menemukan sebuah kotak kayu bersimbol mawar yang didalamnya terdapat cryptex. Sebuah petunjuk untuk Holy grail, atau “cawan suci” yang menjadi misteri akan rahasia Jesus Kristus.

Ketika mereka berhasil kabur dari bank dan beranjak menuju sebuah Puri Villete seorang Inggris yang juga tergila-gila dengan Holy grail, yang tak lain adalah sahabat Langdon, bernama Leigh Teabing, rahasia itu makin terkuak. Holy grail, setelah menelusuri petunjuk dari lukisan Da Vinci, The Last Supper, lukisan legendaris yang terdapat di dinding Santa Maria delle Grazie di Milan, rupanya bukanlah suatu benda berupa cawan kristus, melainkan seorang perempuan, yaitu Maria Magdalena, yang tidak lain adalah istri Jesus Kristus. Suatu rahasia sejarah yang mencengangkan yang selama ini tampaknya disembunyikan atau dibantah oleh Vatikan setelah dunia lebih mengenal Maria Magdalena sebagai pelacur. Biarawan Sion, organisasi rahasia itulah yang selama ini menyimpan rahasia kebenaran itu, dan selalu menjaga keturunan Maria Magdalena dan Jesus Kristus sampai detik ini. Hingga terkuaklah sejarah dimana Jesus Kristus pada masa itu dianggap Nabi, lalu semenjak Perundingan Nicaea yang digelar oleh Konstantin di Roma, maka mereka menetapkan ke-Ilahian Jesus dan mengumpulkan Injil-injil yang tersisa dan memilihnya untuk ditetapkan menjadi al-Kitab. Sebuah rahasia sejarah yang tentu saja sangat ditentang oleh Vatikan.

Opus Dei, prelatur Vatikan, adalah sebuah sekte Katolik yang amat taat, yang telah menjadi kontroversi akan kegiatan cuci otak, pemaksaan dan praktik berbahaya yang dikenal sebagai corporal mortification, atau “penistaan jasmani”. Merekalah yang berusaha mati-matian untuk menghancurkan satu-satunya rahasia sejarah yang tertinggal itu. Dari sebuah petunjuk akan lokasi dimana Holy grail itu berada, mereka pun memburu benda yang nyatanya kini dipegang oleh Langdon dan Sophie. Ya, seorang albino bernama Silas, anak buah dari Uskup Aringarosa, salah satu pemimpin Opus Dei, dialah yang membunuh anggota terakhir dari Biarawan Sion, Jacques Saunière atas perintah tuannya. Ketika Silas mengtahui bahwa kata-kata terakhir Saunière terkait lokasi batu kunci itu adalah bohong, ia amat murka, demikian juga Aringrosa, lalu sampailah Silas di Puri Villete, tempat Langdon, Sophie dan Teabing malam itu jua. Silas lalu datang menodong pistol, mengancam, tapi nasib buruk menimpanya ketika Teabing menendang kakinya yang dilingkupi oleh besi yang tertancap di dalam dagingnya, sebuah ritual penistaan jasmani oleh anggota Opus Dei. Bersama pembantunya, Remy, mereka semua kabur ketika menyadari bahwa Fache ternyata telah mengikuti mereka sampai ke tempat itu. Silas menjadi tawanan mereka, lalu mereka terbang ke London dengan pesawat pribadi Teabing.

Cerita akhirnya menjadi semakin rumit ketika mereka tiba di London. Mencari kode untuk membuka cryptex yang diyakini menyimpan peta menuju holy grail. Petunjuk yang tersisa di cryptex berupa tulisan terbalik itulah yang menuntun mereka menuju sebuah gereja tua di London untuk mencari kode itu. Tapi ketika mereka di gereja, rupanya Remy berkhianat, ia menolong Silas ketika yang lain pergi masuk ke gereja. Remy, Silas, dan juga Uskup Aringarosa rupanya berhubungan dengan seorang yang dikenal “Guru”, yang telah merencanakan setiap detail kejadian pada malam itu untuk membuka rahasia holy grail. Remy dan Silas lalu bersekongkol menjebak ketiganya, menodong dengan pistol, hingga mereka berhasil merebut batu kunci itu dan membawanya kabur bersama Leigh Teabing yang kini jadi tawanan mereka. Ketika Langdon dan Sophie dilanda kepanikan, mereka mencari cara lain untuk menemukan kode cryptex itu dengan mencarinya di perpustakaan besar. Sampai mereka menemukan sebuah petunjuk yang menjurus kepada patung yang terdapat di atas makam Sir Isaac Newton di London.

Di sisi lain, ketika Silas telah diantar oleh Remy ke tempat peristirahatannya, karena telah berhasil menjalankan misinya dari tuannya, Uskup Aringarosa, dan uskup itu telah disetir pula oleh seorang bernama Guru yang menawarkan bantuan mencari petunjuk Holy grail dengan imbalan uang jutaan poundsterling. Kini, Remy dan Guru bertemu di selasar makam Sir Isaac Newton, dan.. tanpa diduga, Guru memasukkan kacang ke minumannya lalu memberikannya pada Remy hingga ia meminumnya, tak sadar bahwa ia alergi berat dengan kacang, hingga akhirnya kerongkongannya bengkak, sulit bernapas, hingga tewas! Guru, tidak lain adalah Leigh Teabing! Ia kini menuju makam Sir Isaac Newton bersama cryptex di tangannya, meski ia akhirnya tak bisa menemukan kode untuk membuka cryptex itu meskipun telah tiba di sana. Ia sadar bahwa ia membutuhkan Langdon untuk memecahkan kode itu.

Hingga berlanjut, akhirnya Langdon dan Sophie sampai di makam itu, menyadari bahwa baru saja seseorang telah datang. Alangkah terkejutnya ketika mereka bertemu sahabat Langdon itu, Leigh Teabing, menyodorkan pistol ke kepala Langdon, memaksanya untuk bergabung dengannya dan memecahkan kode rahasia pembuka cryptex itu. Melalui kelumit yang panjang, siasat yang hati-hati, atau nyawa melayang sebagai taruhannya, Langdon mengatur strategi. Ia mengambil cryptex yang disodorkan oleh Teabing ketika tangannya satu lagi mengarahkan pistol ke kepala Sophie, memaksa Langdon memecahkan kode itu untuknya. Langdon berpikir keras, hingga akhirnya ia sadar akan petunjuk nyata yang ada di makam Isaac Newton.

“Robert, jangan! Kau tidak akan menolongnya, bukan?” teriak Sophie.

Langdon mendekat dengan langkah mantap, sambil memegangi cryptex itu di depan tubuhnya. “Tidak,” katanya, matanya menajam ketika menatap Teabing. “Tidak, sampai dia membiarkanmu pergi.”

Rasa optimisme Teabing memudar. “Kita sudah sangat dekat, Robert. Jangan bermain-main denganku!”

“Aku tidak main-main,” kata Langdon. “Biarkan dia pergi. lalu aku akan membawamu ke makam Newton. Kita akan membuka cryptex ini bersama.”

Langdon dan Sophie akhirnya terlibat pertengkaran. Sophie tak mau beranjak, ia berteriak, ia ingin lebih baik cryptex itu pecah dan cuka di dalamnya merusak kertas papirus halus di dalamnya, daripada ia memberikan peta holy grail itu kepada Teabing. Ia rela rahasia yang diwariskan kakek untuknya itu hilang selamanya.

“Apa?” Langdon terkesiap.

“Robert, kakekku pasti akan lebih senang rahasianya hilang untuk selamanya daripada melihatnya berada di tangan pembunuhnya.” Lalu menatap Teabing. “Tembak aku jika kau memang harus. Aku tidak akan meninggalkan warisan kakekku dalam tanganmu!”

Baiklah. Teabing mengarahkan senjatanya.

“Jangan!” Langdon berteriak, sambil menaikkan tangannya dan menggantukan cryptex itu dengan berbahaya ke arah batu yang keras.

“Betulkah, Robert? Kau tahu di bagian mana rahasia itu harus dicari?” ujar Teabing.

“Betul, aku tahu.”

Langdon telah membuat keputusan. Lindungi Sophie, LIndungi Grail. Ia lalu melempar cryptex itu ke langit, hingga membuat Teabing terkejut tegang dan tak sengaja secara reflex berusaha menangkap benda yang tengah melayang di langit itu agar tidak pecah, atau rahasia itu akan hilang selamanya. Sementara Sophie kini terbebas.

Batu kunci itu! Tidak boleh menghantam lantai!

….

Pecah. Langdon dan Sophie berdiam di pinggir makam ketika menatap cryptex itu pecah, sementara Teabing tampak sedih, murka, kesal, kecewa, bercampur aduk. Sampai ia menyadari. “Robert,” bentaknya, “kau membukanya. Dimana.. peta itu?”

Tanpa berkedip, Langdon merogoh saku dada jas wolnya dengan hati-hati dan mengeluarkan gulungan kerta papirus yang halus.

Dia tahu! Jantung Teabing sangat menginginkan pengetahuan itu. Mimpi seurmur hidupnya. “Katakan padaku!” perintah Teabing. “Ku mohon! Oh, Tuhan, kumohon! Ini belum terlambat!”

Dan semuanya terlambat ketika Fache datang, lalu menangkap Teabing. Ia belakangan tersadar dengan bukti-bukti perencanaan pembunuhan yang diungkap oleh Teabing, ketika ia melepon uskup Aringarosa yang telah merasa ditipu oleh Guru, yang tak lain adalah Leigh Teabing.

Begitulah cerita panjang dalam satu malam dan sepotong pagi itu berlanjut, ketika mereka menemukan lokasi dimana Holy grail itu berada. Ya, tak lain adalah dari petunjuk dalam kertas papirus itu.

Holy Grail menanti di bawah roslin kuno.

Akhir cerita dikisahkan, Sophie dan Langdon datang ke sebuah gereja di Edinburgh, menguak misteri holy grail.

Mengapa Saunière mau bersusah payah untuk memandu kita ke tampat yang begitu nyata?

Ada sesuatu pada Rosslyn yang masih harus kita mengerti.

Mereka menemukan simbol segitiga beradu, bergabung membentuk segi enam. Bintang David. Sebuah heksagram. Tapi apa artinya? Sampai akhirnya datanglah seorang wanita tua yang belakangan diketahuinya, ialah nenek Sophie, istri Saunière. Hingga Sophie terhenyak, menemukan anggota keluarganya yang hilang, rupanya, disana pulalah saudara laki-lakinya. Ia tidak tewas dalam kecelakaan mobil. Ya, semuanya jadi terkuak setelah sang nenek bercerita. Sang nenek yang tak lain adalah ketua perkumpulan Rosslyn. Hingga tersadarlah kode rahasia yang ia temukan, mata pedang dan cawan, menyatu, membentuk bintang David.

“Mr. Langdon, aku dapat mengatakan dengan pasti bahwa grail tidak ada lagi di sini.”

“Tetapi batu kunci seharusnya menunjukkan di mana Holy Grail disembunyikan sekarang. Mengapa puisi itu menunjuk ke Rosslyn?”

“Mungkin kau salah membaca artinya. Ingat, grail dapat memperdayakan. Seperti juga mendiang suamiku.”

“Tetapi seberapa jelas lagi dia dapat mengatakannya?” gugat Langdon.

Semua berakhir ketika Langdon akhirnya terdiam. Saunière memang selalu menyimpan petunjuk dengan arti ganda. “Mr. Langdon, aku ikut prihatin, karena setelah kerja kersmu, kau akan meninggalkan Rosslyn tanpa jawaban yang meyakinkan. Namun aku yakin, kelak, ia akan menyingsing di hadapanmu. Dan ketika itu terjadi, aku percaya bahwa kau, di antara banyak orang dapat menyimpan rahasia.”

Sekembalinya Langdon dari tempat itu, meninggalkan Sophie bersama keluarganya, ia pun akhirnya tersadar akan kata-kata sang nenek. Ia tersadar, simbol bintang David, tempat dimana holy grail itu bersemayam, tidaklah jauh dari tempat yang selama ini ia perkirakan. Sebuah Piramida di pusat kota Paris, yang didalamnya terdapat lagi piramida terbalik, menyatu membentuk heksagram bintang David. Ia adalah, museum Louvre.

Ulasan

Buku ini memang sempat menjadi bahan yang sangat kontroversial di dunia. Bagaimana tidak, caranya menyikapi fakta sejarah membuat orang ternganga. Tapi, untuk sekedar sebuah novel dengan cerita yang fantastis, buku ini memang membuat saya addicted! Novel ini salah satu novel terbaik yang pernah saya baca, penuh intrik, konspirasi dan misteri. Saya sangat terkesan dengan cara Dan Brown mengungkap misteri dibalik sebuah temuan fakta. Tak salah jika di depan cover bukunya dituliskan, “Memukau Nalar, Mengguncang Iman.”

Setiap akhir bab yang dituliskan membuat saya ingin dan ingin tahu kelanjutan kisahnya. Memang kepandaian menyusun cerita dengan tekhnik yang luar biasa.

Saya cukup speechless setelah membaca buku ini. Banyak hikmah yang saya dapat dari cerita singkat ini. Tapi yang pasti, ini membuat ada suatu perasaan syukur alhamdulillah dalam diri saya, entah mengapa. Mungkin saya tak harus mengatakannya.

Buku ini, highly recommended!

6 thoughts on “The Da Vinci Code – Dan Brown [Book Review – October 2015 #1st]

  1. Fakta-fakta sejarah memang bagaikan batu-batu kerikil yang tersebar di alam semesta, ya. Bisa disusun menjadi apa pun, dari bentuk yang paling teratur bahkan sampai ke bentuk yang pada akhirnya susah dicerna akal sehat :hehe. Tapi saya selama membaca buku ini lebih ke faktanya saja sih, terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan akibat kesimpulan yang disajikan buku itu.

    Liked by 1 person

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s