1-horz

Book Review – Januari 2016

Assalamu’alaikum blog, Salam everyone. Maaf sudah begitu lama tak singgah. Bulan Januari lalu saya sempat membaca beberapa macam buku, maaf belum sempat saya tuliskan. Berhubung waktu luang tak lagi sebanyak dulu, *alasan, mungkin kali ini saya ingin menuliskan beberapa review singkat mengenai buku-buku tersebut, setidaknya bisa menjadi pengingat dikala lupa, atau sekedar info singkat bagi sahabat yang masih pikir-pikir untuk membaca buku tersebut.

Kali ini bukunya masih didominasi oleh novel karya Dan Brown. Kebetulan kemarin ini saya dipinjami empat buah novel Dan Brown oleh kakak sepupu, dari empat baru kebaca tiga. Satu lagi buku tafsir karya Buya Hamka. Berikut sedikit ulasan saya.

1. Inferno – Dan Brown

Diterjemahkan dari Inferno karya Dan Brown. Terbitan Doubleday, New York, 2013. Penerbit: Bentang, Cetakan II, Oktober 2013, 642 halaman.

1Novel ini bercerita tentang ancaman tersebarnya sebuah wabah biologis yang dapat mematikan kesuburan 1/3 populasi dunia. Wabah ini ditemukan oleh seorang ahli genetik jenius bernama Betrand Zobrist, yang dilatar belakangi oleh hipotesisnya mengenai over populasi manusia yang dapat menyebabkan kepunahan manusia. Dia berkeyakinan bahwa dengan tersebarnya wabah biologis ini ke seluruh dunia, kepunahan itu dapat dicegah.

Adalah Robert Langdon, profesor simbologi agama di Universitas Harvard, harus terlibat dengan misteri ancaman wabah itu. WHO membutuhkan keberadaannya karena petunjuk yang tersisa dari keberadaan wabah itu melibatkan simbol-simbol rumit dari karya-karya Dante. Sebelum kematiannya, Bertrand Zobris yang tergila-gila dengan kisah hidup Dante menyembunyikan wabah itu di dalam sebuah alat berbentuk silinder di suatu tempat yang tidak diketahui keberadaanya. Sienna Brooks, seorang dokter jenius yang sempat menaruh hati pada Bertrand Zobrist, sejatinya tidak menyetujui cara Zobrist menyelamatkan manusia dari kepunahan dengan cara menyebarluaskan wabah itu, namun ia pun tak ingin wabah itu jatuh ke tangan WHO karena khawatir wabah itu akan digunakan sewenang-wenang oleh penguasa. Hingga akhirnya Sienna berusaha mencari keberadaan wabah itu meski harus bersitegang dengan tentara keamanan yang mengira ia bersekongkol dengan Zobrist.

Tetapi, awal cerita ini dibuat dramatis dengan kondisi dimana Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence dalam keadaan hilang ingatan, hingga ia pun dipusingkan dengan apa dan mengapa dia berada di tempat itu. Satu-satunya orang yang dipercayainya ketika itu adalah dokter yang merawatnya, Sienna Brooks, orang yang mengetahui rencana Zobrist namun berseberangan dengan WHO. Pada akhirnya, meskipun terlibat aksi kejar-kejaran dengan tentara keamanan melewati Florence, Venezia dan sampai ke Turki, sambil mempelajari simbol-simbol Dante, Langdon akhirnya mengetahui yang sebenarnya. Sienna hanyalah wanita yang ingin berbuat baik.

Novel ini cukup memukau nalar dan emosi, karena seperti khasnya novel-novel karya Dan Brown, teka-teki yang mengandung misteri seperti dikupas kulit demi kulitnya hingga mencapai suatu klimaks. Meski pada akhirnya misteri itu terkuak dengan cara yang sulit untuk diperkirakan. Khusus untuk Inferno, buku ini bertemakan seputar dunia kedokteran. Saya cukup suka novel ini, meskipun menurut saya kurang adiktif dibandingkan karya fenomenalnya The Da Vinci Code. Setidaknya, ada pesan moral dari novel ini yang mungkin bisa diambil, yaitu masalah “kepercayaan”. Kadangkala kita berprasangka buruk pada seseorang, tapi ternyata prasangka buruk itu tidak benar. Oleh sebab itu, jauhilah prasangka karena sebagian besar dari prasangka itu adalah dusta.🙂

2. Digital Fortress – Dan Brown

Diterjemahkan dari Digital Fortress karya Dan Brown, terbitan St. Martin’s Paperbacks, New York. Penerbit: Serambi, Cetakan I: Mei 2006, 567 halaman.

2Novel kedua yang saya baca ini berbicara mengenai dunia intelijen. Susan Fletcher, seorang matematikawan jenius yang menjabat sebagai kepala divisi kriptografi di National Security Agency (NSA) Amerika Serikat, dihubungi oleh komandannya, Trevor Strathmore untuk memecahkan kode rumit yang tidak dapat dipecahkan oleh komputer super NSA, TRANSLTR. Kode itu dikenal dengan sebutan Benteng Digital. Susan kemudian mengetahui bahwa kode ini dibuat oleh Ensei Tankado, kriptografer Jepang mantan anggota NSA yang tidak suka dengan cara NSA menyadap semua privasi masyarakat di seluruh dunia untuk kepentingan keamanan nasional. Ensei mengancam kode itu akan disebarluaskan jika ia dibunuh.

Namun diketahui, Ensei telah mati di Seville, Spanyol, diduga karena serangan Jantung. Tanpa sepengetahuan Susan pada awalnya, Strathmore pun meminta David Becker -tunangan Susan, untuk terbang ke Spayol mengambil apa saja yang ada di tubuh Ensei yang diyakini menyimpan petunjuk untuk memecah kode itu. Belakangan diyakini bahwa cincin Ensei-lah jawabannya. Tapi, setelah David menemukan mayatnya, cincin itu tidak ada, sampai akhirnya David terlibat petualangan serius mencari cincin itu hingga sampai harus berjuang dari pembunuh bayaran yang mengincarnya.

Sementara di kantor NSA, orang-orang meyakini bahwa TRANSLTR sejatinya telah terinfeksi virus. Namun Strathmore bersitegang membantah, dalam hati ia mempercayai ia dapat menguasai kode Ensei dan membuat TRANSLTR dapat menyadap semua komputer di seluruh dunia meskpun dilindungi oleh benteng digital itu. Ketegangan itu berlanjut hingga dua orang tewas terbunuh. Strathmore rupanya telah lupa diri. Ensei Tankado rupanya telah dibunuh oleh pembunuh yang dibayarnya, Hulohot. Dia pulalah yang memerintahkan Hulohot menghabisi nyawa David Becker setelah ia berhasil menemukan cincin itu. Drama haus ambisi dan penghianatan mewarnainya, hingga nyaris mengorbankan seluruh Bank Data NSA. Pada akhirnya, Motif Strathmore terkuak, Ensei Tankado pun rupanya bukanlah bermaksud jahat, dan Susan bersama David kini berjuang menyelamatkan Bank Data NSA dari serangan Hacker seluruh dunia.

Well. Dibanding novel sebelumnya, Digital Fortress ini lebih emosional. Novel ini cukup adiktif untuk dibaca, dan pelajaran moral yang dapat diambil adalah, tentang “ambisi”. Jangan sampai ambisi yang terlalu tinggi membuatmu lupa diri. Ya, saya rasa itu pesan moral yang penting dari novel ini. Suka.😀

3. Tafsir Al-Azhar Juz II – Prof. Dr. Hamka

Diterbitkan pertama kali tahun 1983. Penerbit: PT. Pustaka Panjimas, Jakarta. Cetakan Revisi, Juli 2007, 368 halaman.

3Saya mungkin bisa dibilang pengagum Prof Hamka, dilihat dari karya-karya fenomenal beliau yang telah tercipta sejauh ini, termasuk tafsir Al Azhar. Di tafsir juz ke-II ini, yang dimulai dari Surat Al-Baqarah ayat 142 sampai 252, banyak hal yang tercakup di dalamnya. Namun, cara buya Hamka menuliskan hasil penalaran dan keilmuannya dalam buku karangan beliau ini mengagumkan buat saya.

Jika harus menulis ringkasan dari isi al-Qur’an juz II dan penafsiran dari Buya Hamka, rasanya tidaklah memungkinkan, mengingat betapa luasnya cakupan ilmu yang terkandung di dalam ayat-ayat ini. Namun, saya bisa mengatakan cara Buya Hamka menuliskan penafsiran betul-betul ilmiah dan tidak semata-mata berisi pendapat beliau. Beliau menyertakan 45 macam tafsir di buku ini beserta puluhan kitab sarjana modern dan karangan orientalis Barat. Namun, kutipan-kutipan dari karangan itu tidak terkesan kaku seperti halnya jurnal ilmiah, melainkan seperti karya sastra yang bahasanya indah dan mudah dipahami. Apabila dirinci, beliau meyakini setiap ayat yang satu dengan yang lainnya punya keterkaitan meskipun berbeda topiknya. Di antara topik yang dibahas di dalam juz II ini antara lain sebagai berikut:

  • Perihal tentang Kiblat
  • Menghadapi cobaan hidup
  • Mengenal Allah dengan memperhatikan alam
  • Masalah pemimpin
  • Ilmu Fiqih meliputi: Makanan dan minuman, Qishas, Wasiat, Puasa, Do’a, Pakaian, Harta, Jihad dan berperang, syariat Haji dan Umrah, serta Memilih pendamping hidup dan fiqih dalam pernikahan.

Tafsir ini enak untuk dibaca, meskipun bahasannya berat namun jika ditelaah lebih jauh dapat membuat hati menjadi tenang. Sekaligus, banyak ilmu-ilmu agama yang dapat kita pelajari dari buku ini. Jadi, karya beliau ini tidak hanya sebuah karya sastra, namun juga karya ilmiah yang sangat mendalam.

4. Deception Point – Dan Brown

Diterjemahkan dari Deception Point karangan Dan Brown, terbitan Pocket Books, New York, Cet.Ke-2. Penerbit: Serambi, Cetakan IV, November 2006. 631 Halaman.

4Secara umum, novel ini merupakan kombinasi dari kisah politik dan teknologi ruang angkasa Amerika Serikat. Novel ini menceritakan tentang sebuah meteor yang ditemukan di pulau es kutub utara -Milne Ice Shelf, oleh NASA. Para ahli dikumpulkan di sana untuk meneliti kebenaran mengenai meteor itu hingga ditemukan sebuah fosil makhluk hidup tertanam di dalamnya -sebuah kehidupan di luar bumi. Itu artinya, NASA menemukan penemuan yang luar biasa. Penemuan ini pun di umumkan oleh Presiden AS, Zachary Herney ke seluruh dunia. NASA berpesta.

Penemuan meteor itu sejatinya sangat berpengaruh pada politik AS. Senator Sexton, yang merupakan kandidat presiden AS, pada awalnya mengkritik pemerintahan Herney tentang kebijakannya mengucurkan biaya besar-besaran untuk proyek ilmu pengetahuan NASA. Biaya itu telah membuat pemborosan pada anggaran negara, sementara tidak ada penemuan berarti apapun yang dapat dihasilkan NASA. Jika ia menjadi presiden, ia berencana akan mengalihkan anggaran itu untuk pendidikan anak-anak Amerika. Padahal sejatinya, Sexton tengah bersekongkol dengan perusahaan-perusaahan ruang angkasa swasta yang menginginkan privatisasi ruang angkasa. Mereka pun memberinya suap untuk melancarkan kampanyenya.

Penemuan itu tentu saja menggemparkan Sexton, membuatnya terpuruk. Kampanyenya sia-sia. Namun ternyata, meteor itu memiliki celah yang tak terbantahkan. Meteor yang diyakini itu telah direkayasa, dan rahasia itu kemudian diketahui oleh empat orang ahli yang semula mengira meteor itu asli. Meteor itu ternyata sebuah muslihat, sebuah batu yang berasal dari bumi dan diserupakan dengan meteor. Rachel Sexton, wanita muda yang selalu berseberangan dengan ayahnya, salah satu dari ahli itu. Saat ia mengetahui kebenaran itu, Rachel dan ketiga ahli lainnya -Michael Tolland, Corky Marlinson dan Norah Mangor, kini menjadi incaran Delta Force untuk dibunuh. Norah terbunuh, sementara Rachel dan dua rekannya yang lain pada akhirnya terjebak di atas kapal laut milik Tolland ketika Delta Force memburu mereka. Dari sanalah Rachel mengirim pesan tanda bahaya sekaligus hasil penemuan itu pada ayahnya via fax secara darurat, dengan harapan ayahnya akan memberinya bantuan. Tapi, Sexton justru tidak menghiraukan nasib anaknya, ia berniat mengumumkan kebohongan itu pada dunia meskipun nyawa anaknya menjadi taruhan.

Pada akhirnya aktor aslinya terkuak, seseorang yang telah merekayasa ini semua, seseorang yang telah menipu NASA bahkan presiden AS, seseorang yang mengendalikan Delta Force dan memerintahkannya untuk membunuh mereka yang mengganggu, tidak lain adalah atasan dekat yang sangat dipercaya Rachel sendiri, William Pickering. Seseorang yang awalnya terlihat sangat innocent. Motifnya semata-mata adalah untuk melindungi NASA dan mencegah Sexton berkuasa dan menswastakan ruang angkasa. Tapi ia terpaksa membunuh ahli-ahli itu demi keamanan nasional.

Akhir kisah, Pickering kemudian tewas ditelan lautan setelah “berduel” dengan Rachel dan Tolland, Rachel dan dua rekannya selamat, sementara senator Sexton mengumumkan dokumen yang salah saat konferensi pers, yakni tentang skandal seks dirinya dengan penasihat politiknya sendiri. Meteor yang salah itu kemudian diklarifikasi oleh Presiden sendiri, ia lalu meminta maaf kepada seluruh dunia.

Ya, sudah jelas karya Dan Brown penuh dengan teka-teki dan misteri. Meskipun menurut saya teka-teki dalam novel ini tidak se dalam novel-novel sebelumnya, sehingga dapat diprediksi. Namun mungkin ada pesan moral yang didapat di dalam novel ini, yakni tentang “kekuasaan” dan “kebohongan”. Haus akan kekuasaan dapat membutakan seseorang, sementara kebohongan dapat menimbulkan kejahatan yang lain terjadi setelahnya. Tapi akhirnya, saya bisa bilang buku ini menarik.🙂

Wallahu’alam. Semoga buku bulan Februari bisa ditulis kembali.🙂

4 thoughts on “Book Review – Januari 2016

  1. Waduh, saya belum pernah membaca buku-buku Dan Brown yang diulas di postingan ini. Mesti cari-cari nih, mudah-mudahan masih ada yang menyediakan. Tapi saya lihat, umumnya cerita Dan Brown itu selalu melibatkan unsur petualangan di dalam melarikan diri dari sesuatu ya, entah dari kejaran pembunuh atau kejaran polisi. Tapi (lagi), risetnya jos jadi berasa kagum banget bacanya, fakta-fakta yang ada di sana sebenarnya ada di depan mata tapi suka terlewat.
    Terima kasih rekomendasinya ya Mas, bikin penasaran banget nih :)).

    Like

    • Iya mas, saya suka novelnya karena latarnya dibuat berdasarkan fakta.. Selain tau ceritanya kita jg bisa tau banyak tentang tempat2 tertentu yg disebutin di novel…

      Sama2 mas… 😁

      Liked by 1 person

  2. Tambahan pendapat untuk novel Inferno. Nyaris sepertiga buku terasa membosankan, namun mendadak alurnya berubah menjadi sangat cepat dan menarik sekali untuk diteruskan membacanya hingga akhir. Meskipun agak kecewa dengan akhir ceritanya itu sendiri. Salah satu alasan untuk meneruskan membaca Inferno meski sudah kebosanyan di beberapa bab awal adalah, menyakini bahwa novel-novel Dan selalu memberikaan hal menarik di dalamnya. (karena sayang sekali buku yang sudah di pinjam dan berat tetapi tidak dibaca hingga selesai,)

    Liked by 1 person

    • Kegalauan terbesar saat membaca mungkin adalah ketika kita mulai tidak menikmati bacaan itu sendiri. Kalau bagi saya, mungkin juga akan mengalami stagnansi, tapi hasrat untuk menamatkan buku kadang menyelamatkan saya hingga kembali menikmati buku itu sampai akhir.🙂

      Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s