Jpeg

Critical Eleven – Ika Natassa [Book Review – March 2016 #1st]

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat –tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing-karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. 

Kalimat sinopsis awal yang saya kutip di atas berasal dari sebuah novel national best seller karya Ika Natassa. Novel ini adalah buku pertama yang saya baca di Bulan Maret 2016 lalu. Secara umum saya pada awalnya berpikir jika alur cerita di dalam novel ini adalah sebuah petualangan dalam penerbangan, rupanya tidak sama sekali. Mungkin iya pada awalnya, sebelas menit dalam penerbangan menjadi latar belakang, namun ternyata, sebelas menit paling kritis yang dimaksud adalah sebelas menit dalam kehidupan romansa sepasang kekasih. Hha. Berikut sedikit reveiwnya.

Jpeg
Critical Eleven -Ika Natassa

Details

  • Judul: Critical Eleven
  • Penulis: Ika Natassa
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Halaman: 344 halaman
  • Cetakan ke: 8 (Desember 2015)
  • ISBN: 978-602-03-1892-9

Sinopsis

Kisah dimulai ketika sepasang manusia dipertemukan di atas sebuah pesawat. Anya, seorang perempuan dengan segala kemelut pikiran yang menari-nari di kepalanya –trust me, it’s complicated! :lol:- tak sengaja tertidur ketika pesawat itu membawanya dari Jakarta ke Sydney. Malunya, ia terbangun dan tersadar telah bersandar di pundak seorang lelaki, Ale, yang tersenyum ramah dan lama-lama enak diajak ngobrol. Pertemuan pertama yang tidak direncanakan, tapi yang jelas tak berapa lama setelah itu mereka jadian dan well, menikah satu tahun kemudian.

Mengenai kedua tokoh ini, Anya, bernama lengkap Tanya Laetitia Baskoro adalah seorang management consultant yang tinggal di Jakarta dan tidak jarang terbang ke berbagai kota atau negara lain. Sementara sang suami, Ale, bernama lengkap Aldebaran Risjad, berprofesi sebagai petroleum engineer, menghabiskan waktunya 5/5 di Teluk Meksiko, lima minggu kerja dan lima minggu libur.

Tiga tahun setelah mengarungi kehidupan sebagai sepasang suami istri, meskipun kadang dibumbui oleh drama LDR-an karena faktor pekerjaan, Anya hamil. Ale benar-benar kegirangan. Gue peluk layar komputer sampai kabelnya tertarik-tarik, terdengar suara Anya tertawa bahagia di speaker. Saking bahagianya. Ale pun baru bisa pulang ke Jakarta tiga minggu setelah itu, ia pun mulai memberi perhatian lebih pada istri dan cabang bayi mereka. Kontrol rutin ke dokter dan sering menemani Anya di rumah. Empat bulan, jenis kelamin sang janin ketahuan, laki-laki.

“Dude, are you crying?” Anya senyum-senyum melihat mata Ale yang mulai merah karena terharu.

“Enggak.” Ale langsung pasang tampak Chuck Norris lagi.

Semuanya berjalan bahagia, sampai suatu hari, Anya memberi kabar mencemaskan. “Le, junior kok agak anteng ya hari ini? Nggak nendang-nendang.” Ale membaca email dari Anya itu sehari sebelum off dari pekerjaan dan terbang ke Indonesia. Ale sampai menelepon Anya berulang-ulang, sampai esok hari cabang bayi sama sekali tak bergerak seharan.

“Le, junior masih diem. I’m really worried this time.” Tulis Anya di pesan singkat. Ale yang baru pulang dari luar negeri langsung janjian dengan istrinya di rumah sakit. Dan seperti sambaran petir, kabar itu harus ditelan mereka pahit-pahit.

“Jagoan kecil gue udah nggak ada.”

**

Di rumah, kamar si kecil sudah jauh-jauh hari dipersiapkan. Ale mengerjakan kamar itu dengan kedua tangannya sendiri, semuanya. Setiap kali pulang ia selalu ngotot mengerjakan proyek pribadinya, membuat kamar si jagoan kecil. Tapi, kini si jagoan yang ditunggu-tunggu ternyata sudah tiada.

Suasana duka mendalam itu pun berlanjut, sampai ketika hari itu tiba. Ale mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya, di depan wajah istrinya, Anya. Kata-kata itu sangat menyakitkan, hingga membuat Anya tidak mengenal sosok lelaki yang pertama kali ia temui di pesawat itu. Anya terlanjur sakit hati. Hingga kini, mereka yang meskipun masih berstatus suami istri, hanya bertemu dan bertegur sapa layaknya orang asing yang belum pernah saling kenal, bahkan di rumah mereka sendiri.

Butuh perjalanan panjang untuk menyadarkan keduanya. Meskipun yang paling merasa benci adalah Anya, sementara Ale semakin berkelut dengan pemikiran, dosa apa yang sudah ia perbuat? Lama sekali buat mereka berdua, mencari duduk perkara. Meski keduanya dirundung pilu karena kehilangan calon buah hati, mereka harus tetap menjalani hidup sebagai sepasang suami istri sampai semuanya selesai.

In a way, -critical eleven dalam dunia penerbangan, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah -delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ulasan

Buku ini cukup menyebalkan, hehe. Menyebalkan dari sisi positif. Ceritanya unik, alurnya menarik dan sangat alamiah dan natural. Seperti kehidupan nyata sepasang suami istri muda sesungguhnya. Walaupun tidak semuanya saya suka dari jalan ceritanya yang kadang menempatkan hal-hal yang tidak seharusnya. Misalkan saja dari sisi agama, keduanya muslim, tapi diceritakan minum wine dan sejenisnya. Meskipun ada sisi-sisi religius yang dapat menjadi pelajaran.

But at least, buku ini cukup bagus untuk menjadi bekal pengalaman yang unik untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Bagaimana keduanya memahami isi pikiran satu sama lain, berkomunikasi, lalu menghadapi badai rumah tangga mereka. Beberapa pelajaran yang dapat saya ambil antara lain; pertama, jangan berharap terlalu berlebihan karena dibaliknya tersimpan kekecewaan; kedua, berpikirlah matang-matang sebelum berbicara; ketiga, perasaan perempuan itu complicated! -hehe; keempat, jangan memendam kebencian terlalu lama, karena hanya akan menyiksa batin; kelima, memaafkan adalah jalan terbaik untuk menghadapi kekhilafan orang lain. No body is perfect. 🙂

2 thoughts on “Critical Eleven – Ika Natassa [Book Review – March 2016 #1st]

  1. Thankyou ulasannya Aan, kakak sudah pengeeen beli buku ini dari tahun kemaren. Tapi beberapa kali papasan di rak-rak buku, selalu ada yang membuat ragu untuk membeli. Hehhe… besok2 mudah2an sudah bisa baca buku ini. Btw, novel2 Ika Natasha yang lain juga banyak yang keren2 An kecek kawan kak lo e😄

    Liked by 1 person

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s