careful-where-take-knowledge-from

Ketika Ulama Sudah Tiada

Beberapa hari yang lalu, ketika di mushalla komplek tempat saya tinggal, saya menyempatkan diri untuk mendengarkan ceramah agama yang rutin diadakan setiap bulan. Ketika itu, topik yang dibahas adalah mengenai tanda-tanda hari kiamat. Sang ustadz waktu itu menjelaskan, bagaimana ketika hari ini tanda-tanda yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw 14 abad yang lalu mulai satu per satu muncul dan terlihat. Kita, memang adalah umat di penghujung zaman. Tapi, sudahkah kita sadar?

Ada pun tanda-tanda kiamat menurut beberapa hadits sahih, sangat banyak. Namun satu hal yang paling menjadi perhatian saya waktu itu adalah, hadits Nabi Saw tentang dicabutnya ilmu dari umat manusia. -Bagaimana mungkin? Ya, mungkin itu adalah pertanyaan awam yang tetiba saja muncul di benak kita ketika Nabi Saw bersabda, bahwa pada akhir zaman nanti ilmu akan dicabut.

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.’” (HR.Bukhari)

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.’”(HR.Muslim)

Hari ini, kita menyaksikan teknologi tumbuh begitu mengesankan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat setiap hari dengan penemuan-penemuan yang menakjubkan. Sarjana dan profesor semakin banyak, diktat dan jurnal semakin membanjiri sekolah dan perguruan tinggi. Lalu, dimana letaknya ilmu itu dicabut?

Tidak, saudaraku. Bukan itu yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw.

Ilmu, jika ditelaah dari segi pengertian secara istilah, KBBI pun menjelaskan bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Literatur lain juga menyebutkan, “Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (And English reader’s dictionary). Ya, dari situ kita tahu bahwa ilmu adalah sebuah pengetahuan tentang sesuatu. Dan mereka yang menguasi ilmu itu, kita kenal dengan istilah ilmuwan. Tapi, mungkin ada yang tertinggal oleh kita.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan, siapa sebenarnya seorang ilmuwan sejati itu. Islam mengenal istilah ilmuwan itu dengan istilah ulama, -orang yang berilmu. Lantas bagaimana menurut Allah swt tentang ulama?

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba –hamba-Nya hanyalah ulama (orang berilmu).” (QS. Faatir:28)

Jelas. Ulama adalah mereka yang takut kepada Allah. Tentu saja, rasa takut itu muncul dengan sendirinya jika ia mengenal siapa itu Allah swt. Jika ia mengenal berarti ia mengetahui. Jika ia mengetahui, dapatlah ia dikatakan berilmu. Karena jika kita mau menelaah menjadi lebih dalam, saya mempunyai keyakinan besar jika ujung dari ilmu pengetahuan itu pastilah mengantarkan mereka kepada suatu kesadaran, bahwa ada Zat yang Maha Kuat yang mengatur segalanya, sebagaimana dulu fisikawan Inggris ternama, Isaac Newton (1642-1724), berakhir pada kesimpulan, “Bahwa Tuhan merupakan bagian yang esensial, satu-satunya sumber aktivitas, dan Ia bertanggung jawab secara langsung atas segala yang terjadi di dunia.” (Karen Armstrong, 1993). Seandainya mereka beriman dengan apa yang disampaikan Al-Qur’an, maka pastilah mereka mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah swt.

“… niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Mujadillah: 11)

Untuk membahas mengenai hakikat ilmu itu lebih mendalam, saya pun menyadari bahwa saya tak pula mampu untuk menjelaskannya. Namun, jika kita kembali kepada topik awal, dimana ilmu di akhir zaman itu akan dicabut, mungkin di sinilah letaknya. Ilmu itu bukan dicabut dengan seketika, melainkan Allah akan mewafatkan para ulama.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).

Ketika ulama sudah berkurang, -mereka yang benar-benar memahami tentang esensi ke-Tuhanan itu, dilihat dari sisi manapun dari jenis ilmu-, tentu saja ilmu itu perlahan-lahan akan sirna. Umat manusia makin lama akan makin bodoh, bodoh mengenal siapa Tuhan mereka. Padahal esensi hidup itu adalah beribadah kepada-Nya, dan bersiap untuk kembali menghadap-Nya. Bahkan mereka yang terlahir muslim pun akan semakin bodoh, karena tidak tahu esensi mereka menjadi muslim. Al-Qur’an ada, tapi ia tak mengerti maknanya. Jangankan makna, mungkin saja sudah jarang yang membaca bahkan membukanya. Karena ketidak tahuan itulah, mereka mulai meninggalkan shalat, meninggalkan zakat, dan semakin sibuk dengan urusan dunia. Bekerja tanpa tujuan, mencari uang, bersenang-senang, bermaksiat, sehingga hati mereka kosong, tiada lagi pedoman. Astaghfirullah, naudzubillah.

Kira-kira, sudahkah kita melihat hal itu hari ini? Wallahu’alam. Jika memang sudah, kiranya kita memang sudah berada di penghujung zaman, dan bodohnya lagi kita kadang tidak sadar. “Kiamat sudah dekat” mungkin hanyalah slogan di ceramah-ceramah umum, tapi miskin penghayatan, seolah-olah menjadi ajang senda gurau.

Kita mungkin sering terlupa, lalu menyadari bahwa di zaman sekarang ini ulama yang disebut oleh Allah swt dalam Al-Qur’an itu memang sudah sangat sulit kita temukan. Meski demikian, semua itu memang sudahlah menjadi keniscayaan, seperti yang beliau Saw sabdakan. Ujian umat manusia di akhir zaman memang sangatlah berat, ketika yang menggelora adalah tontonan kemaksiatan dimana-mana. Kita yang tak kuat iman dengan mudahnya terpengaruh, seolah-olah yang kita ikuti itu suatu kebenaran, hal yang lumrah dan wajar-wajar saja, padahal tidak ada tuntunannya dalam petunjuk hidup, Al-Qur’an maupun Sunnah, bahkan nyata-nyata dilarang. Karena ketidak tahuan kita, atau bahkan ketidakingintahuan kita -naudzubillah-, kita mau saja mengikuti semua itu, seperti sabda Rasulullah saw:

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Kita berlindung kepada Allah dari kebodohan. Kebodohan akhir zaman yang semakin merajalela ketika tak ada lagi ulama yang mengingatkan. Semoga, kita bisa melalui masa-masa sulit seperti hari ini dengan tetap sabar dan istiqamah. Marilah kita berusaha mempelajari apa isi kandungan al-Qur’an agar kita bisa bertahan dari badai fitnah akhir zaman, dimana ilmu perlahan-lahan mulai dilenyapkan. Agar ketika Allah menanyai kita di hari perhitungan, setidaknya kita telah berusaha sebaik mungkin untuk menaati-Nya di atas segalanya, meski di tengah kebodohan.

Wallahu’alam.🙂

5 thoughts on “Ketika Ulama Sudah Tiada

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s