Jpeg

Love Sparks in Korea – Asma Nadia [Book Review]

Manakah yang lebih penting bagi seorang gadis, mencintai atau dicintai?

Sudah lama tidak update blog. Sekali update masih tentang buku. Hehe. Tidak mengapa insya Allah. Kali ini ingin sedikit melanjutkan proyek book review singkat yang terbengkalai. Buku berikut ini adalah buku ketiga yang saya baca bulan Maret 2016 lalu.

Detail:

Jpeg

Judul: Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Asma Nadia Publishing House
Cetakan ke: 1, Oktober 2015
Tebal: viii + 380 halaman
ISBN: 978-602-9055-39-9

Sinopsis:

Buku novel ini berkisah tentang sepenggal perjalanan hidup seorang perempuan yang hidup sederhana dan terlahir dari keluarga sederhana. Ia juga menderita penyakit berat yang membuat fisiknya lemah. Namanya Rania. Sejak kecil dia punya cita-cita untuk menjelajahi seluruh dunia. Dan sekarang impian itu terwujud. Dia telah menjadi perempuan muda berjilbab yang telah menjelajahi 44 negara dan menjadi penulis terkenal. Tak hanya sekedar traveling, dia juga membawa misi dakwah memperkenalkan Islam dan Indonesia ke seluruh pelosok dunia dengan jilbabnya yang menjadi ciri khas. Sosok yang menjadi panutannya tak lain adalah Ibnu Batutah, seorang penjelajah muslim yang diceritakan ayahnya semasa kecil. Sejak saat itulah, kehidupan ekonomi keluarganya mulai membaik.

Suatu ketika Rania mengunjungi Khatmandu, Nepal. Saat berkelabut dengan fikirannya, tiba-tiba seorang lelaki bertubuh gempal berlari setelah merebut tas ranselnya. Rania tersentak dan berteriak sambil berlari mengejar. Waktu itulah, seorang pemuda Korea berambut gondrong menyaksikan adegan kejar-kejaran itu. Pemuda yang mencintai fotografi, Hyun Geun. Dan ya, Hyun Gun menyelamatkan ransel Rania dengan mendaratkan tendangan taekwondo di bagian selangkangan si pencopet hingga ia kabur sambil meringis. Namun, ketika mengembalikan ransel itu pada Rania, Hyun Geun tampak khawatir. Wajah perempuan yang dilihatnya itu pucat sekali, sambil mengatur nafasnya yang sesak saat berusaha mengucapkan terima kasih.

“No. I’m okay. Sorry. You can leave. I’ll be ok.”

Terpaksa, Hyun Geun kembali bergabung dengan teman-temannya. Dan sepenggal cerita itu tak sadar menjadi awal mula cerita panjang yang akan dilalui Rania.

Kejadian itu pun sampai di telinga Mama dan Papa via telepon, sembari Rania menyampaikan rencananya pergi ke Korea untuk kegiatan menulisnya. Keduanya masih saja khawatir meskipun Rania meyakinkan kondisinya baik-baik saja. Tapi ada topik lain ketika itu. Kejadian bersama pemuda Korea yang tak dikenalinya itu menjadi bahan candaan di rumah. Namun, tampaknya ia harus bersaing dengan seorang pemuda baik hati yang telah delapan tahun menjadi tetangga di depan rumah mereka. Kenalan lama dengan ‘pesona keindahan.’ Lelaki gagah berpostur atletis dan diam-diam menyukai Rania. Nama lelaki itu, Ilhan.

***

Keesokan harinya, Rania kembali tak sengaja bertemu Hyun Geun dan teman-temannya saat berkunjung ke Pokhara, kota lain di Nepal. Keduanya berkenalan, termasuk dengan Jeong Hwa, perempuan Korea yang tak pernah ingin jauh dari Hyun Geun. Juga Alvin, yang ternyata orang Indonesia. Saat itulah mereka menjadi akrab dan mengenal lebih dekat satu sama lain, apalagi keduanya mencintai fotografi. Sampai akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Hyun Geun.

“I like you.”

Rania terdiam, Hyun Geun salah tingkah. Namun drama itu tiba-tiba berubah mengejutkan, saat ponsel Rania berdering mengabarkan Papanya sudah tiada. Duka pun menyeruak. Rania menangis, hatinya meronta.

Papa sudah pergi. Benarkah secepat itu?

***

Rania pulang, masuk ke pelataran rumah dengan lunglai dengan sisa air mata usai pemakaman yang tak sempat dihadirinya. Saat itulah Ilhan akhirnya melihat wajah Rania. Seminggu lebih Ilhan berusaha menenangkan Rania yang sendu, sampai akhirnya kembali seperti sedia kala. Namun selama itu Rania masih saja bersikap biasa kepadanya. Di sisi lain, Hyun Geun selalu rutin menghibur Rania dengan mengirimkan beberapa email berisi foto dan pesan singkat. Keduanya saling berbalas email layaknya sahabat. Sampai suatu ketika, Rania pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bertualang, melainkan ingin di sisi Mama dan membuat Mamanya bahagia. Namun, Mama berkata.

“Kamu tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain dengan sesuatu yang bahkan sangat membahagiakanmu, Rania sayang. Bagaimana jika Mama justru akan bahagia kalau kamu pergi? Berangkat ke Korea. Menjadi duta Islam dan juga Indonesia.”

Rania telah memutuskan hal yang sulit bagi dirinya. Ia tak bisa berkutik dengan permintaan Mamanya. Ia pun akhirnya terbang ke Korea.

***

Cerita dalam novel ini berlanjut dalam drama pelik yang dialami Rania bersama dua lelaki itu. Hyun Geun dan Ilhan. Hyun Geun yang tak bisa melupakan Chin Sun, sosok wanita yang sangat dicintainya. Yang membuatnya selalu terbayang sosok ini ketika melihat Rania. Atau justru Ilhan, lelaki yang seikhlas hati dalam mencintai hingga rela mengikuti gadis hummingbird-nya itu ke negeri Korea. Kedua lelaki ini adalah sumber konfilk batin dalam diri Rania. Rania harus memilih di antara dua, “manakah yang lebih penting bagi seorang gadis, mencintai atau dicintai? Pada akhirnya jawaban itu pun harus tertulis di lembaran cerita seorang Jilbab traveler seperti Rania. Yaitu kepada dia yang mengatakan,

“Apakah kamu mengizinkan saya terbang bersamamu? Menjadi bagian dari detail masa depanmu? Dan sebelum kamu mengalihkan wajah lima detik dari sekarang, tolong beri saya jawaban.”

Kepada pria itu, Rania tersipu. Satu anggukan kecil yang terlihat sebelum gadis itu memalingkan wajah membuat hati sang lelaki menjadi bersorak.

Ulasan

Saya tak ingin menjadi spoiler habis-habisan, hehe. Lagipula, I ain’t a good reviewer. Haha. Jika boleh berkata, saya awalnya kurang suka dengan alur ceritanya, apalagi dengan tema almost pure romance, karena jujur, motivasi awal mencari buku ini adalah cerita tentang pengalaman traveling-nya. Tapi, entah mengapa, lama kelamaan saya menjadi cukup menikmati kisah pelik dari romansa tiga manusia di novel ini. Buku ini sangat melankolis menurut saya pribadi. Ketiga-tiga tokohnya digambarkan lebih kental dari sisi melankolisnya. Ketiganya punya sisi ‘kesedihan’ yang justru menarik untuk diceritakan.

Namun yang paling penting, pelajaran berharga dalam membaca setiap novel adalah mengetahui sisi pemikiran orang lain sembari belajar memahami diri sendiri. Hal itu bisa menjadi refleksi jika dikembalikan pada diri kita sendiri. Misalnya, dalam buku ini, merespon hal-hal sensitif seperti ‘rasa suka’ atau ‘mencintai’. Meskipun saya tidak sepenuhnya meminati topik semacam ini. Hehe. Namun tentu saja ada pelajaran yang saya dapat dari buku ini, yakni selain melihat bagaimana layaknya perasaan ‘cinta’ tetap berjalan dalam koridor syar’i, salah satu pelajaran berharga dalam kisah ini adalah tentang pentingnya kebulatan tekad dan keikhlasan.

Buku ini cukup recommended. Dan kabarnya, film-nya akan segera tayang lebaran tahun ini.🙂

2 thoughts on “Love Sparks in Korea – Asma Nadia [Book Review]

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s