wp-image-1967079625jpeg.jpeg

Rabun -yang Semakin- Jauh

Berawal dari sebuah keinginan untuk mengganti kacamata saya dengan yang baru, mengingat kacamata saya yang lama sudah tidak layak pakai, beberapa hari yang lalu saya meminta ibu untuk menemani saya pergi ke toko optik. Bukan karena tidak mau pergi sendirian, tapi saya senang saja kalau ibu yang menemani. Lagipula, toko optik yang saya kunjungi itu kepunyaan murid beliau juga yang dulu pernah belajar di sekolah tempat ibu mengajar. *padahal niatnya biar bisa dapat diskon, haha. 😂

Sebelumnya, dengan kacamata yang lama, saya memang sudah merasakan beberapa gangguan, terutama masalah penglihatan yang kurang tajam. Selain itu saya jadi lebih sering mengantuk di siang hari usai bekerja di rumah sakit, dan juga akhir-akhir ini migrain seringkali kambuhan. Padahal, saya bisa dibilang rutin berolahraga.

Kacamata lama

Sebenarnya, setelah 3 tahun tidak pernah periksa ulang, beberapa bulan yang lalu saya sudah cek visus di poli mata RSUD, dengan hasil perburukan, namun ketika saya mengambil kacamata di toko optik dengan resep dari RSUD, petugas optiknya lebih menyarankan saya untuk tetap memakai lensa yang sama dengan yang lama karena waktu itu saya masih dapat melihat dengan baik dengan lensa tersebut. Akhirnya, well, lensa kacamata saya tetap di -2,75 untuk mata kanan dan -2 untuk mata kiri (gak tau kenapa jarak minusnya lumayan jauh).

Namun beberapa insiden -walhasil karena ketelodoran saya juga-, frame kacamata yang baru saja saya beli itu akhirnya patah setelah tak sengaja saya taruh di saku celana.*jangan ditiru ya😥. Akhirnya -setelah sempat saya lem dengan perekat super kuat berkali-kali namun gagal-, jadilah beberapa bulan kemudian saya mengajak ibu ke toko optik. Ketika diperiksa, benar, visus saya menurun dan harus dikoreksi dengan lensa -3 untuk mata kanan dan -2,5 untuk mata kiri.😥 Ya, kaget memang , dari awalnya miopia saya tergolong ringan, kini sudah menjadi miopia sedang yang tampaknya progresif.

Kacamata yang malang

Miopia atau rabun jauh pada usia dewasa muda (miopia simpleks) biasanya disebabkan karena bertambahnya panjang sumbu bola mata, dimana kelengkungan kornea dan lensa masih normal. Walhasil, setiap bayangan benda jauh yang masuk ke mata jatuh di depan retina. Miopia seperti itu disebut dengan miopia aksial, berbeda dengan kasus miopia yang disebabkan karena perubahan kelengkungan kornea dan kekeruhan lensa (miopia refraktif). Faktor keturunan/ genetik memegang peranan yang lebih dominan, meskipun beberapa literatur mengaitkan dengan kebiasaan melihat dalam jarak dekat (membaca, menonton, dll) namun sampai saat ini belum dapat dijelaskan. *Tapi, akhir-akhir ini saya memang agak lebih rajin membaca sih. 😶

Source: https://www.virginiaeyeconsultants.com/

Biasanya, miopia yang mulai muncul di usia remaja -seperti yang saya alami- (school myopia) tidak akan melebihi -6 sampai -8 (tapi tetep aja gak kebayang beratnya kacamata yang diperlukan 😑) , namun paling sering perkembangannya terhenti di usia 20 tahun. Namun untuk kasus saya, toh ternyata di usia 24 minus mata saya masih nambah.😕

Akhirnya berganti pula ke kacamata baru

Karena itu, ya, mata memang harus dijaga baik-baik. Sebagai karunia Allah yang tak tergantikan, mata memungkinkan kita melihat alam sekitar dan mempelajarinya. Semoga kita pandai mensyukurinya dengan menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. [QS. An-Nahl: Ayat 78]

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s