lonelinessbench.jpg

Fitnah Cinta

Beranjak dewasa, tiada mengapa pemuda itu mulai merasakan suka, jika hal itu belumlah lagi bisa didefinisikan sebagai cinta. Suka kepada keindahan yang tampak oleh kedua matanya, suka kepada hal yang diingininya. Ia adalah seorang perempuan yang rupawan, indah akhlaknya, dan pemahaman agamanya terlihat dari penampilannya. Tidak ada alasan khusus untuk menyukainya, rasa itu hanya muncul begitu saja dari langit.

Ia tahu, suka dan kecintaan adalah anugerah Allah kepada hati manusia. Karena Allah berfirman, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: Ayat 14) Dan dia meyakini sepenuh hati akan hal itu.

Si pemuda menyadari betul bahwa rasa yang ia alami adalah pemberian dari Tuhannya. Itulah rasa yang dianugerahkan sebagai kesenangan hidup di dunia. Jika ia perturutkan, boleh jadi ia mendekati perempuan itu melebihi batasannya. Tapi ia pun tahu, rasa itu adalah ujian untuk dirinya, ketika ia mengetahui jika Rasulullah saw bersabda, “Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya”. (HR. Muttafaq Alaihi)

Ketika itu, ia mulai sering memikirkan sang perempuan dalam sabarnya. Ia masih terlalu muda untuk mengatakan maksud hatinya untuk menjalin hubungan yang halal. Ia belum sanggup, lahir maupun batin. Jadilah pemuda itu akhirnya memilih untuk menyukainya dalam diam, sambil sesekali menyebut nama perempuan itu dalam do’a dan dalam munajatnya. Sekiranya perempuan adalah jodohnya, maka ia memohon kemudahan, namun sekiranya tidak, ia memohon Allah untuk mencabut perasaannya. Itu sulit, dan sangat menyakitkan. Ia hanya ingin berusaha menjaga diri dan perempuan itu, sehingga ia lebih memilih menyimpan perasaannya. Bagi sebagian orang, mungkin hal itu sangat tidak laki. Tapi ia hanya takut kepada Tuhannya, jikalau ia melebihi batasan.

Waktu berlalu hingga sekian tahun keduanya tak sengaja sering berinteraksi, dalam keseharian bersama teman dan juga kerabat, dan perasaan itu rupanya masih sama di hati si pemuda, bahkan semakin bersemi. Dia semakin yakin bahwa perempuan itu adalah perempuan yang ditunggunya selama ini. Sampai-sampai kisah mereka terbawa dalam mimpi, hingga muncul perasaan cemas dan takut jikalau perempuan itu pergi. Hingga suatu hari, pemuda itu termenung. Perempuan yang dicintainya dalam diam, akhirnya dilamar oleh seorang laki-laki. Dan laki-laki itu bukanlah dirinya.

Sejak lama dan pertama kali, si pemuda memang sudah tahu konsekuensinya. Hanya ada sebuah prinsip sederhana  yang ia tekankan dari dulu. Jika jodoh, pasti bertemu. Hanya itu. Hingga hari itu tiba, ia masih percaya. Sebenarnya, Ia pun telah mempersiapkan diri jika hal yang seperti itu terjadi di masa depan. Ia harus merelakan orang yang dicintainya, karena bukan ialah jodohnya. Tapi, tiba-tiba hatinya berteriak, sedih dan kecewa.

Mengapa Allah tidak mengilangkan perasaan itu jikalau perempuan itu ternyata bukanlah jodohku?!

Astaghfirullah. Pemuda itu kemudian beristighfar. Menghela napas panjang. Tersadar bila syetan baru saja membisikkan kata-kata muslihatnya, sampai akhirnya batinnya balik bertanya.

Wahai diriku, sudahkah engkau mencintai Allah seperti engkau mencintai perempuan itu?

Atau, apakah engkau lebih mencintai perempuan itu dibandingkan Allah?

Pemuda itu terdiam.

Jangan-jangan perempuan itu telah melalaikanmu. Atau, Allah cemburu padamu. 

Pemuda itu tambah menunduk. Ia teringat dengan dirinya sendiri.

Untuk perempuan sebaik itu, sudahkah aku baik pula untuknya? Ataukah, untuk diriku yang sehina ini, apakah aku pantas untuknya? 

Atau, apakah aku begitu berharap dicintai olehnya, dibandingkan berharap dicintai oleh Yang maha memberi cinta?

Sejenak pemuda itu berusaha menghibur diri. Ia tersadar ia telah khilaf. Mungkin ia terlalu menyukai perempuan itu, sementara ia tahu, bahwa boleh jadi apa yang buruk menurutnya adalah baik menurut Allah, dan laki-laki yang baik, adalah untuk perempuan yang baik pula.

Sampai akhirnya, batinnya berkata.

Janganlah bersedih, sesungguhnya perempuan itu hanyalah satu dari kesenangan dunia, sementara yang lebih baik itu adalah di sisi Allah. Bersemangatlah, karena Allah telah menyelamatkanmu dari kebutaan mencintai selain diri-Nya. Bersabarlah, karena sabar itu salah satu dari sifat orang yang dibersamai oleh-Nya. Berjuanglah, agar kamu setelah ini menjadi pribadi yang lebih mencintai-Nya, dan percayalah, jikalau rasa cintamu pada-Nya tak kan berbalas dengan air tuba.

Akhirnya, pemuda itu menangis. Ia tersadar masih terlalu naif ketika ia dapati dirinya penuh dengan kekurangan. Ia hanyalah seorang hamba yang kurang ikhlas dalam berjuang menghadapi ujian cinta dari-Nya. Ia sadar jikalau cinta itu tak selamanya menjadi anugerah, ia bahkan bisa menjadi fitnah jikalau tak pandai menghadapinya.

Wallahu’alam.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s