IMG_0429

The Lost Symbol – Dan Brown [Book Review]

Novel ini bercerita tentang petualangan Robert Langdon di Amerika Serikat, yaitu Washington DC. Professor dari Universitas Harvard ini mendapat undangan dari seorang sahabat lamanya yaitu Peter Solomon – seorang anggota Freemasons – untuk memberikan ceramah di gedung tempat anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan para senator merumuskan undang – undang yaitu Gedung Capitol. Namun, setibanya di gedung itu, Langdon baru menyadari bahwa dia ternyata telah dijebak oleh seseorang yang mengaku Peter Solomon. Tidak ada ceramah, hanya ada suara orang itu di balik telepon, seorang pria psikopat yang mengaku telah menyembunyikan Peter Solomon dan kini nyawa Peter berada ditangannya.

Di saat yang sama, di lokasi yang berbeda, adalah Katerine Solomon, adik perempuan Peter Solomon yang sejak beberapa waktu belakangan ini bersama kakaknya tengah berupaya mengembangkan sebuah peletian rahasia di laboratorium rahasia mereka di Smithsonian Museum Support Center. Mereka tengah mengembangkan penelitian di bidang Ilmu Noetic -tentang kebijakan kuno rahasia- yang dipercaya memiliki potensi yang sangat mengejutkan dunia. Namun, malam itu tiba-tiba Katerine kehilangan kakaknya Peter Solomon. Dimana kakak?

Tiba-tiba, di ruangan Rotunda Capitol, jeritan anak kecil menyadarkan Langdon saat ia melihat  tangan pontong yang tertancap pada alas kayu berpaku sehingga bisa berdiri tegak. Dunianya mulai berputar ketika di menyadari sedang memandang tangan kanan terpenggal Peter Solomon.

Para petugas polisi Capitol akhirnya datang mengamankan lokasi keributan di Rotunda. Namun Langdon masih syok melihat tangan sahabatnya tertancap di sana. Ia lantas mendekat seraya mengamati tangan itu, sampai ia menemukan simbol-simbol aneh padanya. Sebuah mahkota.. dan sebuah bintang. Tangan Misteri.  Namun keseriusan Langdon terusik oleh kerumunan polisi yang tiba, sampai akhirnya perempuan berdarah Jepang, Inoue Sato, penguasa tertinggi  Office of Security (OS) CIA datang ke lokasi. Ia berbicara tentang krisis yang mengancam keamanan nasional, dan Langdon tahu informasi untuk mencegah krisis itu. Keduanya, bersama Anderson -chief polisi Capitol malam itu, akhirnya menyadari bahwa tangan puntung dan simbol-simbol serta tato di tangan itu merupakan sebuah petunjuk. Sebuah undangan untuk membuka portal kuno, sebuah gerbang mistis dan misteri-misteri kuno yang hilang selama berabad-abad. The lost symbol. Amerika punya masa lalu yang tersembunyi.

Beranjak dari cerita awal itu, Langdon semakin serius memecahkan teka-teki itu. Sebuah undangan untuk membuka rahasia Amerika masa lalu, sebuah momen berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Peter Solomon. Kita kemudian digiring dengan sejarah Amerika sejak pertama kali berdiri, sembari Langdon menganalisis setiap petunjuk yang ia temui dari tangan pontong Peter Solomon itu. Freemason. Ordo ab chao. Jimat. Sebuah ruang bawah tanah di lorong Capitol. Sebuah rahasia yang tak boleh diketahui oleh siapapun. Piramida Mason. Langdon tiba-tiba teringat dengan bungkusan kubus kecil yang dipercayakan Solomon kepadanya. Peter sudah memperingatkan Langdon: Orang-orang yang berkuasa ingin mencurinya dariku. Akan berbahaya di tangan yang keliru. Langdon mulai sadar, CIA mungkin saja menginginkan itu darinya. Dan celakanya, benda itu ada di tas kulit yang ia sandang saat ini.

Kini, saat Langdon bersama Anderson dan Sato telah tiba di ruang bawah tanah rahasia itu, kecemasan itu menjadi-jadi. Piramida batu? Namun ada yang hilang, batu puncak? Ia baru tersadar ketika Sato mencurigai langdon tengah menyembunyikan potongan piramida di dalam tas kulitnya, hal yang bahkan Langdon sendiri tidak tahu, karena ia tak pernah membuka bunkusan kubus itu. Sebuah jimat, dan itu adalah potongan piramida yang hilang. Tiba-tiba siluet gelap seorang lelaki muncul di ambang pintu, menghantam Sato dan Anderson, membawa Langdon pergi bersamanya secepat mungkin. Warren Bellamy, arsitek Capitol, sahabat baik Peter Solomon -anggota freemason lainnya. Kini, Langdon tahu bahwa dirinya harus berkejar-kejaran dengan CIA.

Selama pengejaran itu, Langdon mendapat banyak informasi melalui Belamy. Piramida mason bukanlah mengugkap misteri, tapi mengungkap lokasi rahasia tempat misteri itu terkubur. Piramida itu adalah sebuah peta, agar Misteri kuno tidak pernah hilang dalam sejarah. Tiba-tiba suara Mal’akh, lelaki peneror yang terakhir meneleponnya di Rotunda kembali bersuara di balik ponsel. “Peter masih hidup. Ku sarankan agar kau segera memikirkan peta itu, hari ini!” Langdon tahu bahwa ia terpaksa harus berpikir keras malam itu demi nyawa sahabatnya. Tak hanya Peter, kini Katherine Solomon pun dalam bahaya besar. Tapi, ada rahasia di balik siapa Mal’akh sebenarnya, dan tentu saja, alasan kuat baginya untuk melakukan ini semua.

**

Bagaimana endingnya? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab di awal-awal membaca novel. Kisah di dalam buku ini menurut saya sangat kaya dengan informasi penting yang mungkin hanya diketahui oleh segelintir orang. Kita akan diperkenalkan dengan seluk beluk organisasi rahasia, Freemasonry, Smithsonian, ritual-ritual aneh yang ada di dalamnya, konspirasi-konspirasi terselubung, sampai simbol-simbol rumit yang selalu menjaga keutuhan rahasia itu. Sejarah Amerika dan teori konspirasi di dalamnya terasa sangat memperkaya pengetahuan. Novel ini bukanlah hanya sekedar fiksi, namun fakta yang ada di dalamnya benar-benar ada dan dapat ditelaah melalui riset yang mendalam.

Sekilas, novel ini mungkin terkesan lebih menonjolkan drama pelarian, teka-teki, teror dan pembunuhan sadis yang mewarnai perjalanan Langdon dalam mengungkap misteri kebijakan kuno. Tapi, semakin membacanya ke akhir, Dan Brown rupanya ingin menyampaikan beberapa pesan bermakna. Tentang bagaimana manusia mencari Tuhan mereka, tentang bagaimana akal kita menggiring kepada suatu keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Sulit untuk dibahas secara mendetail, tapi itulah kesan akhir yang dapat saya ambil ketika menamatkan buku ini. Meksipun saya membacanya bulan Maret yang lalu -sudah lama banget-, dan beberapa alur ceritanya sulit untuk di recall ulang melainkan setelah browsing dari beberapa referensi yang ada dan membaca beberapa penggalan buku ini, saya hanya berakhir dalam sebuah kesimpulan berharga yang dikemas Dan Brown di kalimat-kalimat terakhirnya.

Dia -Langdon- merenungkan ilmu pengetahuan, keyakinan, manusia. Betapa setiap kebudayaan, di setiap negara, di setiap saat, selalu memiliki satu hal yang sama. Kita semua memiliki Pencipta. Kita menggunakan nama yang berbeda, wajah yang berbeda, dan doa yang berbeda tapi Tuhan adalah konstanta universal bagi manusia. Tuhan adalah simbol yang dimiliki oleh kita semua.. simbol dari semua misteri kehidupan yang tidak bisa kita pahami. Orang-orang kuno memuji Tuhan sebagai simbol potensi manusia kita yang tidak terbatas, tapi simbol kuno itu telah hilang setelah beberapa waktu, sampai sekarang.

Akhirnya buku ini terkesan religius, seperti khasnya buku-buku Dan Brown. Kita diajak menggunakan akal sambil menelusuri kebenaran Tuhan. Dan menelaah dengan kritis, siapa itu Tuhan. At least,buku ini recommended.🙂

* * *

Details: The Lost Symbol, karya Dan Brown. Terbitan Doubleday, New York, 2009. Cetakan Pertama, Januari 2010. Penerbit Bentang. 705 halaman. Dibaca pada Maret, 2016.

IMG_0429

 

7 thoughts on “The Lost Symbol – Dan Brown [Book Review]

  1. Sepertinya novel-novel Dan Brown mengesankan dengan fakta-fakta yang padat, tapi diramu menjadi cerita yang asyik ya, An?🙂 Belum baca yang ini, tetapi jadi penasaran dengan bukunya.

    Liked by 1 person

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s