Foto bareng perawat IGD

Di IGD Kita Bertemu #Internshiplife – Part 2

Bulan kedua internsip, akhirnya saya mencicipi hidangan berikutnya, yakni stase IGD. Menjalani keseharian sebagai dokter jaga di IGD (Instalasi Gawat Darurat) di rumah sakit memang ngeri-ngeri sedap. Awalnya memang terasa sedikit horor, sebelum saya benar-benar menyicipi hidangan itu. Bagaimana tidak, sesuai dengan namanya, instalasi gawat darurat, tentu saja dipenuhi oleh pasien-pasien gawat darurat. Apatah lagi, RSUD Payakumbuh terkenal sangat ramai oleh pasien.

Bekerja di IGD

Sebelum benar-benar jaga IGD, beberapa hari sebelumnya tentu perlu persiapan. Sebut saja, mengumpulkan catatan turun-temurun dari dokter jaga yang telah berpengalaman, membuat jimat dosis obat yang sering dipakai, dan bertanya kepada rekan-rekan yang sudah menyicipi stase IGD sebelumnya. Hehe. Ya, itu wajib. Pasalnya, di setiap tempat kadang memiliki protap yang berbeda-beda, dosis obat pun kadang ada seninya tergantung siapa dokter spesialis yang menjadi DPJP nya. Sehingga, beradaptasi dengan sistem di tempat yang baru memang suatu keharusan, termasuk mengetahui pemeriksaan yang tersedia, obat yang ada, dan penatalaksanaan pasiennya. Sepintar apapun dokternya, tapi obatnya gak ada, ya percuma kan? Nah.

Akhirnya, setelah persiapan rasanya sudah cukup matang, di hari pertama dinas IGD, tentu saja saya mesti berkenalan dulu dengan dokter jaga dan perawat-perawat. Perkenalan itu syukurlah tidak terlalu rumit, pasalnya beberapa kali saya memang sudah sering singgah di IGD, jadi, setidaknya sudah pernah berkenalan dan berinteraksi sebelumnya. Mereka rupanya ramah dan sangat terbuka.

Alhamdulillah, kami mungkin termasuk beruntung. Sebagai dokter yang sedang menjalani internsip, kami masih berada di dalam pengawasan dan bimbingan dokter pendamping, dan dibantu oleh dokter-dokter jaga yang merupakan dokter umum yang telah bekerja tetap di rumah sakit dan tentu saja telah memiliki banyak pengalaman. Tidak hanya dokter umum, begitu juga dengan dokter spesialis, mereka selalu ada dan bersedia mentransfer ilmu dan pengalaman mereka selama menangani pasien. Kadang-kadang, teori memang tidak selalu sejalan dengan kenyataan, dan seni menghadapi kenyataan itu, barulah saya dapatkan melalui beliau-beliau, terutama saat menjalani dinas di IGD.

Dinas di IGD rumah sakit ketika itu dibagi dalam 3 shift, yaitu pagi, sore dan malam. Shift pagi berlangsung dari pukul 08.00 s.d. 14.00, terdiri dari satu dokter jaga dan dua dokter internsip. Shift sore berlangsung pukul 14.00 s.d 20.00, terdiri dari masing-masing satu dokter jaga dan dokter internsip, demikian juga dengan shift malam yang berlangsung pukul 20.00 s.d 08.00 keesokan harinya. Namun ketika shift sore, satu dokter internsip ikut jaga di ruangan, berkeliling dengan seorang dokter jaga lainnya untuk memantau kondisi pasien yang tiba-tiba gawat di ruangan. Demikianlah, setiap pergantian shift, kami selalu melakukan operan pasien, agar kondisi pasien dan penatalaksanaan yang telah diberikan bisa dilanjutkan oleh dokter yang jaga setelahnya. Dan syukurlah, waktu itu kami diberikan kesempatan untuk dinas dengan pola 8 hari jaga, dan 4 hari libur setelah post jaga malam. Kondisi ini berlangsung selama sebulan penuh, sebelum kami kembali pindah ke stase ruang rawat inap di bulan berikutnya, tidak mengenal hari libur maupun almanak merah, dinas jaga IGD tetap saja 24 jam non stop. Meski dengan jadwal yang demikian melelahkan, bahkan beberapa sejawat sampai jatuh sakit, alhamdulillah kami bisa melewatinya dengan baik.

Selama bertugas, saya benar-benar baru merasakan menjadi “dokter” ketika berada di stase ini. Sebelumnya, di bangsal rawat inap, kita lebih banyak berkutat dengan masalah status rekam medis dan administrasi, sementara di IGD, kita bisa langsung memeriksa pasiennya dari A sampai Z, hingga menetapkan diagnosis kerja, melakukan pemeriksaan penunjang dan memberikan pengobatan. Meskipun masih harus melapor kepada dokter jaga yang bertugas setiap kali usai memeriksan pasien dan hendak memberi terapi, tapi saya rasa itu cukup bermanfaat karena bisa menjadi ajang pembelajaran yang sangat baik. Kita bisa mempraktikkan ilmu teori yang kita terima di bangku kuliah dan mempermahir skill yang telah kita dapatkan di bangku koas. Namun kekurangannya, kita jadi kurang merasa percaya diri memberikan terapi karena mesti disesuaikan dengan petunjuk dokter jaganya.

Kerja Sama Tim

Sebagai dokter jaga di IGD, saya mulai menikmati yang namanya kerja sama dalam tim, baik itu antar sejawat maupun antar profesi. Bersama dokter umum, misalnya, kami sering mendiskusikan perihal pasien, demikian juga ketika dihadapkan pada pasien yang complicated, telepon selalu tersedia untuk berkonsultasi dengan DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien). Karena pada dasarnya, setiap pasien yang masuk ke ruang rawatan menjadi tanggung jawab DPJP. Jadi, ketika pertama kali pasien datang ke IGD, dokter umum akan memeriksa, menengakkan diagnosis dan memutuskan terapi segera untuk mengatasi kegawatan pasien. Pasien dapat ditatalaksana langsung sesuai prosedur, dan jika butuh dirawat atau kondisi pasien di luar kompetensi dokter umum, pasien akan dikonsulkan kepada DPJP. Tapi, dokter umum tetap bertanggung jawab selama pasien berada di IGD, baik saat di ruangan, saat pulang, saat pindah ke ruang rawat, dan juga saat dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih memadai.

Kerjasama tim lainnya yakni antara dokter dengan perawat. Banyaknya pasien di IGD membuat kondisi yang tidak memungkinkan bagi dokter untuk bekerja sendiri, oleh karena itu butuh perawat yang berpengalaman. Ketika pasien masuk, perawat akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan keperawatan, termasuk mengukur tanda-tanda vital yang diperlukan, seperti suhu dan tekanan darah. Perawat IGD memiliki kemampuan yang mumpuni, hingga dapat membantu dokter memberikan prioritas tertentu kepada setiap pasien yang lebih gawat untuk ditatalaksana lebih awal. Sebab, di IGD, pasien ditangani bukan berdasarkan urutan datang, tapi dari seberapa gawat pasien itu. Oleh karena itu kita mengenal istilah triase. Usai melakukan analisis keperawat, perawat akan melaporkannya kepada dokter, dan dokter akan melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis dan memberikan terapi sesegera mungkin sesuai prioritas hasil triase. Seperti yang diketahui, kondisi pasien di IGD sangatlah beragam, dan keberadaan perawat untuk membantu dokter melakukan penatalaksanaan merupakan suatu keniscayaan. Misalnya saja melakukan tindakan pemasangan infus, kateter urin, nasogastric tube, dan lain-lain. Tanpa perawat mungkin dokternya akan keteteran, karena pasien yang jauh lebih gawat bisa saja datang tiba-tiba.

Kerja sama tim lainnya yang tak kalah penting adalah dengan para brankar man, yang setia mendorong bed pasien kemanapun kita butuhkan, para supir ambulance yang ready 24 jam mengatar pasien untuk rujukan, apoteker yang selalu sedia memberikan obat, petugas rekam medis yang selalu sedia di meja administrasi, petugas labor dan staf radiologi yang siap sedia melakukan pemeriksaan penunjang, hingga petugas cleaning service yang sigap senantiasa membersihkan IGD dari noda, meskipun setitik darah, nanah atau kotoran. Rasanya, kami tak kan bisa berkerja optimal tanpa keberadaan mereka. Dan mereka adalah the great team yang selalu dapat diandalkan.

Selain kerja sama tim, IGD benar-benar melatih kita untuk dapat berpikir dengan cepat dan akurat. Diagnosa apa yang akan ditegakkan, terapi apa yang akan diberikan, sesulit dan segawat apapun pasiennya. Dan ini membutuhkan kemampuan komunikasi, baik sesama sejawat dan kepada pasien, keterampilan klinis dan tindakan medis, dan kemampuan mengambil keputusan yang cepat agar semua selamat. Namun, tentu saja, kita tetap harus bergantung kepada Yang Maha Pemilik Nyawa, karena Dia yang akan menentukan apakah pasien itu selamat atau tidak di tangan kita, dengan atau pun tanpa pertolongan kita.

Tapi, dari segala keseriusan yang ada di IGD, sesungguhnya IGD tidaklah semenyeramkan yang dibayangkan. Ada kalanya kita saling bercanda satu sama lain, saling traktir-traktiran, makan bareng, jajan bareng, foto narsis bareng, dan segala macam keseruan yang muncul ketika pasien sedang lengang. Dan yang paling senang itu adalah dinas dengan mereka yang selalu bisa membuat suasana serius menjadi ringan dengan tawa dan canda-candaan mereka. Jika tidak, bisa stres lama-lama. ckck..

img-20160804-wa0004
Foto bareng dengan dokter jaga dan perawat IGD
1451505910818-1
Keseruan saat dinas malam di pergantian tahun baru

Tipikal Pasien IGD

Dari segi pasien yang datang, IGD kami memang selalu ramai, bisa mencapai 40 orang lebih hanya dalam rentang satu shift. Jika lagi beruntung, paling sedikit bisa di bawah sepuluh pasien, tapi itu sangat jarang. Saya hanya pernah merasakannya dua kali dalam 4 bulan di IGD. Namun, meskipun sebagian besar pasien datang dengan kondisi gawat, ada juga cerita tersendiri yang kadang menjadi guyonan. Setelah sekian hari selalu bertatap muka dengan berbagai macam tipikal manusia, kadang ditemukan kasus-kasus yang diluar kondisi gawat darurat. Misalnya saja, pasien usia lanjut yang ditinggal keluarganya datang menangis ke IGD minta ingin diperiksa. Atau anak-anak ABG yang habis berantem lalu pura-pura pingsan. Atau perempuan muda yang tak berdaya dan lemes habis berantem dengan suaminya. Hehe. Rupanya banyak juga manusia yang butuh perhatian ya. Tapi please, ini nyebelin banget. IGD gak sebercanda itu adik-adik, pak, buk, ckck.. Tak jarang, selama saya dinas di IGD, setiap minggu paling tidak selalu datang seorang bapak tua yang mengeluh sesak dengan tampang sedih dan minta dipasang oksigen. Usai di pasang oksigen, bapaknya langsung sembuh. Kami menyebutnya pasien inventaris. Hehe, kasihan memang. Sang bapak sepertinya ditinggal begitu saja oleh keluarganya. Tak ayal, jika beliau datang, kami selalu memberi obat cuma-cuma.

Namun tetap saja, selain kisah-kisah guyonan, kadang-kadang ada juga masalah serius yang dihadapi oleh beberapa pasien yang dapat diambil pelajaran. Kadang, kisah-kisah itu membuat kita mengurut dada, misalnya, seorang anak datang tidak sadar sehabis minum racun tanaman karena hendak bunuh diri, baik akibat masalah di rumah, cekcok dengan orang tua, atau ABG yang mencoba bunuh diri setelah tahu hamil di luar nikah. Kisah lain seperti pertengkaran yang berujung kepada upaya pembunuhan, bahkan yang lebih tragis lagi misalnya anak bayi yang tega dibuang atau bahkan dibunuh orang tua kandungnya. Sedih.

Namun, terlepas dari segala kesedihan dan permasalahan yang dibawa oleh pasien, setidaknya saya mendapat beberapa pelajaran berharga selama di IGD. Selain pengalaman dan keterampilan klinis, dan pengalaman berinteraksi dengan anggota tim, pengalaman yang penting lainnya adalah merasakan sesuatu yang berbeda dari pada sekedar mengobati penyakit pasien, yaitu ketika kita bisa menjadi seseorang yang dipercaya untuk mendengarkan keluhan mereka. Sesederhana itu. Entah kenapa, rasanya berbeda. Saya kira, itu pun dapat mengurangi beban mereka, bahkan bisa menjadi obat yang mujarab untuk kesembuhan pasien. Meski dalam hati meyakini, saya mesti harus banyak belajar untuk itu. Dan bagaimana pun dokter tetap harus mengedepankan rasa empati kepada setiap pasien yang ditemuinya, tidak boleh terpengaruh secara emosional, namun tetap tidak pernah melupakan prinsip-prinsip kemanusiaan.

#to be continued.

One thought on “Di IGD Kita Bertemu #Internshiplife – Part 2

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s