Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan – Agustinus Wibowo [Book Review]

Ini buku luar biasa, terutama bagi penikmat perjalanan. Berawal dari persinggahan saya di Gramedia Padang selepas dinas di malam tahun baru itu, saya menemukan buku ini. Perjalanan menjadi tema, dan demi memupuk gelora traveling yang beberapa waktu ini mulai bercokol di benak saya, buku ini bak air laut yang membuat saya semakin haus setelah meminumnya.

Ah, gak bermaksud lebay kok. Hehe. Saya memang penikmat traveling yang masih newbie. Ada banyak kisah yang beredar di luar sana, lahir dari rahim perjalanan dan selalu siap untuk dicicipi. Lagipula tema traveling masih awam di benak saya, dan saya awalnya bahkan tidak begitu bergairah untuk melihat tema tentang perjalanan. Mungkin karena selama ini saya hanya berpikiran dangkal, ketika mengklaim, perjalanan itu hanya rekreasi, jalan-jalan, having fun. Ternyata saya salah!

Pasca dua tahun yang lalu, pikiran kolot saya itu kini semakin insaf. Sepertinya perjalanan itu harus dijalani sendiri baru mengerti, seperti ketika perjalanan ke Italia ketika itu. Perjalanan itu ternyata lebih dari sekedar hiburan, lebih dari sekedar melihat hal-hal dan tempat-tempat baru, tapi di sana tertuang segudung pelajaran! Attitudes! Ruh! Dia hidup dan bernapas seperti manusia.

Di buku setebal 552 halaman ini, Agustinus Wibowo, seorang travelwriter asal Indonesia berketurunan tionghoa menelanjangi perjalanannya itu di depan mata saya. Bagaimana ia lebih bersemangat mengejar hasrat perjalanannya mengembara ke negeri-negeri jauh ketimbang ketika ia menyelesaikan studinya di negeri leluhurnya di Tiongkok sana. Merantau jauh meninggalkan keluarga yang tak henti mendoakan namun memendam kerinduan teramat sangat. Mungkin dia menemukan jati dirinya di situ.

Ketika membaca buku ini, saya merasa ikut di samping Agus, bagaimana ia tidur berhimpitan di kereta menuju Tibet, menggali spiritualitas di negeri-negeri penuh vihara -Tibet, menggigil kedinginan di atap-atap bumi -Himalaya, Nepal,  hidup di tengah remang-remang budaya India, terpanggang di teriknya gurun-gurun di Pakistan, menyaksikan segala keganjilan hidup, kesedihan, kebahagiaan, kemiskinan, hasrat, harapan, konflik, peperangan, ideologi, kemaksiatan, keimanan, hingga merasakan teriakan hidup di negeri-negeri yang selama ini tidak pernah terdengar, Afghanistan. Menurut saya, tulisannya ini tidak hanya sekedar kenyataan, tapi ia mampu membawa roh perjalanannya itu sehingga membuat ternganga, ternyata dunia di luar sana begitu berbeda. Agustinus menceritakannya dengan sangat dalam, dan ia mampu mengutarakan pemikiran dan pengalamannya menjadi begitu bermakna. Saya salut.

Mengenai gaya bahasa, Agus seolah-olah sedang bercerita kepada pembacanya. Meskipun kalimat-kalimatnya terkadang rumit dan membuat saya harus mencerna lebih dalam dan mengulang-ulang kembali halaman yang sudah saya baca -dan saya akui saya masih perlu banyak belajar tentang tekhnik membaca-, saya cukup suka alurnya. Di buku ini, Agus tidak hanya menceritakan perjalanannya, tapi selalu ada bagian yang menceritakan mengenai suasana emosional ketika ia berada di saat-saat terakhir kala ibunya berjuang melawan penyakit parah yang menggerogoti raganya. Tentu saja, akhir perjalanan akan selalu menjadi poin yang ditunggu-tunggu dalam setiap alur travel writing. Di kisah ini, Agus menyebutnya titik nol.

Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang.

Perjalanan, oh, perjalanan… Siapa yang benar-benar tahu ke mana kaki ini akan melangkah?

Aku pulang.

Inilah Safarnama. Inilah perjalanan. Inilah hidup.

Saya benar-benar merekomendasikan buku ini bagi penikmat traveler dan pengembara nilai-nilai kehidupan. Buku ini tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga pemikiran seorang manusia. Benar-benar menambah wawasan dan nilai-nilai spiritualitas. Highly recommended! 5 stars.

Details: 

  • Judul: Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan
  • Penulis: Agustinus Wibowo
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan ke: 6, Juli 2015
  • Tebal: xii + 556 halaman
  • ISBN: 978-979-22-9271-8
Advertisements

8 thoughts on “Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan – Agustinus Wibowo [Book Review]

  1. Iya, buku ini memang mencerahkan banget, membuktikan bahwa jalan-jalan tidak cuma sekadar pergi ke tempat baru terus foto-foto terus pulang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan lebih dari itu. Saya belum pernah baca bukunya sih tapi jadi penasaran deh setelah baca postinganmu ini Mas, hehe. Dan semakin semangat pula buat melangkahkan kaki ke tempat baru, mencari kejadian apa yang disiapkan Tuhan untuk kita, hoho.

    Liked by 1 person

    1. Iyaa.. Setuju Mas Gara.. Selama ini mungkin kita lebih fokus ke imajinasi kita sendiri ketimbang menggalinya langsung dari setiap orang dan tempat yg kita temui dan kunjungi.. Buku ini bikin saya sadar kalau di luar sana ada “rumah-rumah” baru yang ternyata punya cerita dan pelajaran yang banyak untuk kita.. Kalau pepatah orang Minangnya, “Alam takambang jadi guru”.. Ah, jadi pengen traveling lagi 😂

      Like

        1. Maksudnya, alam terbentang luas untuk dijadikan guru Mas.. Kita diharapkan mampu mengambil pelajaran dari fenomena alam dan kehidupan.. Kira2 begitu Mas artinya *maklum bukan pakar sastra Minang 😂

          Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s