Pertanyaan Sulit Saat Musim Nikah: Kapan Nyusul?

Dua ribu tujuh belas mungkin akan menjadi tahun yang penuh dengan romantika, terutama bagi manusia seumuran saya, ketika fenomena pernikahan mulai memenuhi jagad. Bagi teman-teman seangkatan saya sendiri, mungkin fenomena pernikahan itu sudah menjadi semacam bola panas yang menunggu giliran pemainnya untuk berlaga, terutama ketika usia subur dan mapan telah berhembus. Jika dilihat dari angka, 2017 mengandung makna bahwa sebagian besar dari kami (saya dan teman-teman seangkatan saya -baik ketika sekolah di SD, MTs, SMA dan kampus-) pun kini tengah memasuki usia tersebut, sekitar 24 sampai 26 tahun, karena rata-rata tahun lahir angkatan saya berkisar antara 1991 sampai 1992. Saya sendiri, jangan ditanya? Masih imut-imut tentunya. Maksa. 😛

Jadi kemarin ini ceritanya saya cukup depresi melihat sosial media, ckck. Awalnya senyum-senyum, bahagia, melihat satu per satu teman seangkatan sudah menyempurnakan separuh agama mereka. Tapi lama-lama kok jadi sedih ya? Haha. Becanda. Ya, postingan tentang nikah dan baralek –pesta pernikahan dalam kultur Minangkabau- mendominasi setiap timeline di sosmed, baik instagram, path maupun facebook. Grup line dan whatsapp juga tak henti-henti berdering menyampaikan kabar undangan dari teman-teman yang berbahagia. Hasilnya, belum cukup tiga puluh hari dalam sebulan ini sudah ada sedikitnya tujuh teman saya yang baralek. Kira-kira dua undangan per minggu telah datang ke rumah atau via grup/personal message. Luar biasa.

Puncaknya sampai saat sahabat dekat saya sejak kecil -notabene tinggal tepat di samping rumah saya-, akhirnya ikut menjadi salah satu orang yang berada dalam list pengirim undangan itu. Rumah kami memang benar-benar besebelahan, bahkan dapur kami hanya dipisahkan oleh setembok dinding yang sama. Dalam suasana kebahagiaan, tentu saja, saya ikut menjadi tuan rumah, bersama tetangga-tetangga lainnya, mengangkat acara baralek untuk merayakan pernikahan. Saya sempat menjadi pagar bagus acara baralek, menyambut tetamu yang datang silih berganti. Sebagian besar tamu tentu saja orang-orang yang saya kenal, karena yang nikah juga sahabat saya sendiri. Entah itu guru, teman-teman sekolah dulu, mulai dari SD sampai SMA, dan beberapa kolega ayah dan ibu kami yang juga sama. Tapi saya sadar, benar-benar sadar, seharian itu mestilah saya jadi korban pem-bully-an, you know what I mean. Ckck.

Meski sebenarnya hanya sekedar basa-basi, pertanyaan yang sudah diprediksi jauh-jauh hari pasti akan saya dengar ketika baralek berlangsung. Dengan nyaris tanpa perasaan, pertanyaan yang sama selalu keluar. “Kapan nyusul?”, atau “Urang sabalah rumah bilo undangannyo ko? -Orang di sebelah rumah kapan nih undangannya? Adalah sedikit contoh dari pertanyaan-pertanyaan serupa yang nyaris tak terhitung lagi jumlahnya. Jika yang bertanya juga senasib, saya tinggal tanya balik, tapi kalau dari guru atau kolega orang tua, apalah daya cuma bisang “insya Allah, mohon do’a,” sambil sedikit nyengir. Klise banget, tapi mau gimana lagi. Haha.

Saya yakin di luar sana masih banyak orang yang bernasib serupa dengan saya ketika dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Kultur negeri ini yang selalu serba ingin tahu kadang membuat kita terbebani dengan komentar orang lain terkait dengan kehidupan kita sendiri. Meski kadang bisa illfeel, saya kira kita memang harus bijak untuk berdamai dengan adat istiadat sendiri. Kita sendiri kadang tidak memungkiri akan menanyakan hal yang sama kepada orang lain, meskipun sekedar basa-basi. Bahkan mungkin untuk setiap momen dalam hidup kita, kapan wisuda, kapan nikah, kapan punya anak, dan berbagai macam kapan-kapan lainnya. Tapi untuk pertanyaan yang satu ini, I my self am merely curious about the answer too. 🙂

Pada akhirnya, saya meyakini nikah itu takdir, dan takdir itu adalah ketetapan namun jua sebuah pilihan, sementara pilihan itu ada karena usaha, dan usaha itu berasal dari kita sendiri. Jodoh memang di tangan Allah, tapi akan selalu di tangan Allah jika kita tidak berusaha ‘mengambil’nya. Artinya, nikah itu memang perlu usaha. Islam sendiri mengajarkan banyak tentang nikah, sebagai salah satu kesempurnaan agama. Ia adalah sunnah para rasul, sebagaimana Allah berfirman “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38).

Tapi, nikah tentu ada syarat-syaratnya, salah satunya mampu. Dari Ibnu Mas’ud ra, Nabi Saw juga bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu menikah di antara kalian, maka menikahlah; karena sesungguhnya kawin itu lebih menundukkan padangan dan lebih membentengi kemaluan: dan baransiapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa; karena sesungguhnya puasa itu sebagai tameng.” (HR.Muttafaqun ‘alaih).

Namun, terlepas dari segala pertanyaan sulit ketika musim nikah seperti itu, setidaknya mungkin kita masih patut bersyukur karena harapan masih luas terbentang. Jika ingin berjodoh dengan seseorang yang baik, maka tentulah ikhtiar menjadi baik harus selalu dikerjakan. Kita memang tidak tahu siapa jodoh yang dipilih Allah, namun semoga kita selalu yakin, bahwa jodoh itu insya Allah akan bertemu di saat yang terbaik. Ini hanya masalah waktu, sebagian datang lebih dulu, sebagian lain datang kemudian. Jika kita meyakini Islam sebagai agama, cukuplah berserah diri kepada Allah sebagai landasan segala urusan hidup kita di dunia, termasuk dalam pernikahan. Semoga kita selalu bisa meyakini hal itu.

Tapi kalau masih ditanya kapan nikah, saya sendiri masih bingung mau jawab apa. Saya rasa tidak ada salahnya mengatakan, “insya Allah, mohon do’a”. Bagi yang sudah berpengalaman, ada jawaban yang lebih bagus? 😀

 

Advertisements

8 thoughts on “Pertanyaan Sulit Saat Musim Nikah: Kapan Nyusul?

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s