Cerita Singkat di Monas #BackpackerStories – Part 3

The journey continues..

Monumen Nasional, bangunan menjulang tinggi itu kini ada dihadapan saya. Panas terik kala itu tidak memudarkan niat saya untuk berputar-putar di sekeliling tamannya yang juga sedang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Tujuannya tak lain hanya ingin mencari angle yang pas untuk mengabadikan tugu besar itu melalui lensa kamera. Supaya kulit wajah gak terbakar teriknya matahari yang sekekali muncul dari balik semburat awan tebal, saya memakai topi kecil yang kiranya gak terlalu matching dengan postur kepala saya yang lebar, tapi gak ada pilihan lain. Ckck.

Mungkin hasrat terbesar kala itu adalah melampiaskan hobi fotografi saya yang masih bisa dibilang super amatir. Karena belum punya kamera keren, foto-foto yang saya ambil kala itu hanya menggunakan kamera digital biasa. Bahkan untuk selfie punΒ saya cuek saja menggantungkan kamera digital itu di kepala tongsis, sambil mengira-ngira wajah saya dan background nya udah masuk dengan pas atau belum. πŸ˜‚ ngenes banget.

Penampakan saya ketika sampai di Monas πŸ™ˆ

Usai capek foto-foto (selfie)Β tapi hasilnya cukup mengecewakan, πŸ˜‘ saya kemudian akhirnya menyerah, berusaha mencari kesibukan lain. Menaiki puncak Monas, sepertinya menarik. Tapi saya kebingungan ketika mendapati sepanjang cawan Monas dikerangkeng dengan pagar besi, tanpa menyisakan tempat menyelinap. Gimana cara masuknya ya?
Rupanya tidak saya saja yang kebingungan, seorang ibu-ibu juga menanyakan hal yang sama ke saya.

“Mas, gimana sih caranya orang-orang itu bisa nyampe di sana?” tanya si Ibu sambil menunjuk ke arah cawan Monas.

“Hm, mungkin perlu beli karcis dulu buk, ini saya juga lagi nyari-nyari,” jawab saya.

Meski hanya berusaha menebak-nebak, rupanya saya gak sepenuhnya salah. Tak jauh dari seberang halaman Monas, saya melihat keramaian manusia bersama bapak-bapak berseragam Polisi.

“Ayo yang masih mau masuk, sebentar lagi gerbangnya kami tutup!” sahut Pak Polisi.

Mau tutup? Kelut saya dalam hati. Saya akhirnya bergegas menuju tempat pak polisiΒ meski penasaran dan melihat beberapa orang buru-buru masuk ke sebuah tangga menurun tersembunyi di balik pagar yang tak jauh dari tempat si bapak berdiri. Ah, itu pasti jalan masuk Monas! Syukurlah saya akhirnya bisa masuk ke dalam sebelum pagarnya ditutup. Nyaris banget.

Ternyata iya, tangga itu menurun ke bawah tanah, berakhir di sebuah tempat pembelian tiket masuk Monas. Ramenya minta ampun. Sepertinya saya salah hari datang ke sini, hari ini Hari Minggu, jadi pengunjungnya mungkin membludak. Harga tiketnya pun lebih mahal sepertinya, Rp 20.000,- per orang jika ingin sampai puncak Monas. Padahal di papan pengumumannya cuma Rp 15.000,- aja. Lalu karena saya belum punya kartu elektronik Bank DKI, saya juga mesti beli dulu sama petugasnya, karena sekarang apa-apa di Jakarta kayaknya mesti digital. Hasilnya saya mesti beli kartu Bank DKI seharga Rp 40.000,-. Tapi di kartu ini sudah tersedia saldo yang nanti bisa dipotong berapapun kita pake ketika memakai fasilitas pemerintah *untuk kasus ini mungkin khusus untuk berwisata.Β Okelah kalau begitu. πŸ˜‚

Ramainya antrian di tempat pembelian tiket Monas
Suasana antrian tiket masuk Monas
Kartu elektronik untuk masuk Monas

Usai antri beli tiket, saya harus melewati terowongan bawah tanah sepanjang kurang lebih 300 meter hingga saya sampai di area cawan Monas. Akhirnya.Β Saya jadi teringat ibu-ibu tadi, apa dia bisa masuk atau enggak.

Di area ini kita bisa melihat tembok panjang dengan ukiran-ukiran yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan. Saya kemudian mengikuti arus pengunjung sampai menemukan sebuah Museum tersembunyi di bawah Monas, Museum Sejarah Nasional. Museumnya lumayan besar, sekitar 80 x 80 meter, dan sebagian besar diisi dengan diorama (semacam miniatur tiga dimensi seperti boneka manusia di dalam altar di balik kaca yang menggambarkan suasana dan adegan sejarah saat diceritakan). Diorama itu menceritakan beberapa peristiwa penting sejarah RI terutama di masa-masa perjuangan kemerdekaan, sesuai dengan semangat pembangunan Monas oleh Bung Karno dulu.

Ukiran-ukiran di area cawan Monas
Salah satu diorama di Museum Sejarah Nasional
Wasiat Bung Karno tentang Monas

Usai melihat museum, saya keluar ke pelataran cawan Monas. Pemandangannya cukup luas di atas sini, angin yang berhembus kencang juga membuat sejuk badan saya yang sudah berkeringat. Tapi, niat saya untuk naik ke puncak Monas setinggi 132 meter itu terpaksa harus dibatalkan melihat panjangnya antrian masuk lift ketika itu. Antriannya berlapis-lapis sampai mengelilingi cawan monas hampir setengahnya. Gila. Kalau dipaksakan antri mungkin saya akan kehabisan waktu di Monas sampai sore, sementara waktu Zuhur sudah masuk dan masih banyak yang ingin saya lihat di ibukota. Walhasil, cawan Monas menjadi tujuan terakhir. πŸ˜₯

Panjangnya antrian masuk ke lift menuju puncak Monas yang kapasitasnya lebih kurang cuma 11 orang
Suasana Kota Jakarta dari pelataran cawan Monas

Sedikit kecewa sih, karena sudah beli tiket lumayan mahal. Tapi pemandangan gedung-gedung Jakarta dan suasana denyut nadi metropolitan yang cukup jarang saya lihat di atas cawan ini rasanya cukup sudah mengobati rasa penasaran saya tentang Monas. Bagian yang belum terwujud boleh jadi menjadi alasan untuk kembali. Setidaknya untuk saat ini, semangat Bung Karno dan para pahlawan kemerdekaan yang terkandung dalam bangunan raksasa ini sudah dapat saya rasakan. Saya kira, itu bagian yang paling penting. Selanjutnya, saya harus memutuskan melanjutkan perjalanan, mempelajari apa saja yang bisa dipelajari dari Kota Jakarta, dan menikmati apa saja yang bisa dinikmati dalam petualangan singkat sebagai solo traveler. 😁 What’s next?

Nb: Sudah ada yang pernah sampai puncak Monas belum?

Advertisements

7 thoughts on “Cerita Singkat di Monas #BackpackerStories – Part 3

  1. Saya pernah naik ke puncak Monas. Tapi itu juga karena ikut event jadi kita diberi slot waktu khusus. Jika kunjungan sendiri mungkin saya pikir-pikir juga. Memang kalau akhir pekan, apalagi long weekend, mending urungkan niat, kecuali memang tak ada tujuan lain kecuali Monas. Antriannya bikin emosi. Saya rasa kudu hari kerja kalau mau leluasa dan antrian tidak terlalu panjang, huhu. Cuma saya mesti mengumpulkan niat lebih kalau mau keluar kantor dan mengorbankan waktu makan siang untuk naik Monas, haha.
    Eh tapi sekarang Monas juga buka malam hari, sih.
    Iya, Pemprov DKI Jakarta memang sedang menggalakkan penggunaan JakCard. Buat naik busway dan KRL juga bisa. Tapi agak kurang produktif sih menurut saya, ya apa kabar pengunjung dari daerah, yang belum tentu akan memakai kartu semacam itu di daerahnya?

    Liked by 1 person

    1. Mungkin memang bagusnya naik puncak Monas pas hari kerja ya, tapi agak ruwet juga klo mesti keluar kantor cuma buat naik puncak Monas Mas, haha.. Malam hari juga boleh tuh..

      Mengenai JakCard mungkin iya Mas, contohnya bagi saya yang cuma datang berkunjung jadi kemahalan ya, mesti beli kartu dulu baru bisa dilayani, kecuali kalau memang domisili Jakarta mungkin akan lebih praktis.. Soalnya gak bakal kepake lagi kan di daerah..

      Tapi klo di daerah saya di Padang, pemakaian kartu kaya gini sebenarnya beberapa sudah diterapkan Mas, tapi bagi yang mau bayar cash masih tetap dilayani tanpa harus punya kartu, contohnya bus Trans Padang di sini…

      Like

      1. Iya Mas, Monas di malam hari memang menyajikan pengalaman yang berbeda, hehe.
        Nah, kalau kartu JakCard-nya apa sekarang bisa juga dipakai di TransPadang? Kalau memang sudah bisa, bagus banget, jadi bisa nasional dan tak terikat bank, hehe.

        Liked by 1 person

  2. Haduh sayang sekali Aan, hari nya gak tepat ya An, kalau mau keliling wisata ibukota memang bagusnya weekday, jangan di weekend, meski weekend lebih tidak macet jalanannya. Kakak waktu ke sana juga persis di hari libur Nasional. Kira-kira sepanjang itu juga antriannya, mulai dari wisatawan lokal, luar daerah, sampai manca negara, tumpeh bleh semuanya ngantri, kira2 sejam baru bisa masuk, yang bikin lama itu karena kapasitas lift ke atas hanya sekitar untuk 10 orang (*plus petugas) An.
    Akhirnya kami sampai di puncak setengah jam sebelum pukul 9 malam (Monas tutup pkl 9 kalau ga salah), pas ke bawah lagi benar-benar memang karena sudah mau ditutup. Tapi pemandangan malam ruaaarrrr biasa An. Konon lebih menakjubkan view malam jekardah dari puncak Monas ketimbang siang nya. ^_^ Sayangnya ya itu, ga bawa kamera yang kompatibel utk taking picture.

    Tips: Kalau mau ke Monas lagi, mending weekday, jam 4 sore (ba’da ashar), nanti bisa menikmati view sunset Jkt (matahari terbenamnya di balik gedung2 tinggi dengan hembusan angin yang entah kenapa seger banget hehehe) dari taman monas-nya, udaranya tidak terlalu panas, juga gak terlalu rame (paling yang jogging), maghrib sholat di istiqlal, habis maghrib naik kereta (mirip odong2) untuk diantar masuk ke pelataran dalam Monas, antri tiket and so on… πŸ™‚ . Sepertinya Monas masih akan memanggil Aan kembali ya hahhaha.

    Liked by 1 person

    1. Waw, patut dicoba nih kak, nantilah kalau udah ada temennya, nyehehehe. Makasi tipsnya kak! Kayaknya kakak dah berpengalaman banget semenjak jadi warga ibukota ni yaa πŸ˜‚

      Like

  3. Hahaha, kakak tetap bukan warga ibukota An, setiap kali ke Jkt juga kebanyakan cengok nya kok. Tapi justru karena ke-oon-an tersebut membuat kita lebih paham dan makin haus akan wawasan. Hahaha… Iyeees, ke sanalah lagi dengan ‘teman’ nya. πŸ˜€

    Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s