Memaknai Sisa Perjalanan di Jakarta #BackpackerStories – Part 4

The journey continues..

Hal yang paling membuat saya terkenang dengan perjalanan di Jakarta kali ini adalah merasakan sehari menjadi warga ibukota. Berjalan kaki di bawah terik matahari, berkerumun di jembatan penyebrangan, ikut mengantri naik busway hingga angkot, dan bertemu dengan kenalan-kenalan baru yang baik hati menemani dan menunjukkan jalan.

Shalat di Masjid Istiqlal

Cerita di Jakarta semakin menarik setelah saya pergi meninggalkan Monas di siang itu. Mengingat waktu Zuhur telah masuk, saya berniat untuk shalat di Istiqlal. Sempat keletihan saat mendapati gerbang terdekat menuju Istiqlal ternyata ditutup, saya harus kembali memutari taman Monas yang luas itu dan keluar lagi dari gerbang arah Istana Merdeka. Bapak-bapak tukang kebun Monas pun bilang ke saya,

“Banyak juga yang menegeluh kalau pintu-pintu gerbang Monas lainnya ini ditutup Mas, pengunjung jadi harus memutar jauh ya. Kasian, tapi bagaimana lagi.”

Saya sependapat dengan si bapak, meskipun tentu saja petugas memiliki alasan tersendiri untuk hanya membuka beberapa pintu (kalo gak salah cuma dua dari empat pintu yang ada). Akhirnya, saya pun mesti kembali melewati jalan yang sama dengan yang saya tempuh dari jembatan penyeberangan Stasiun Juanda untuk menuju ke arah Masjid Istiqlal. Cukup melelahkan memang, berjalan kaki hampir dua kilometer.

Saya juga cukup syok ketika mendapati kerumunan manusia yang luar biasa banyaknya dan hendak menaiki jembatan penyeberangan orang dari arah Masjid Istiqlal. Jakarta benar-benar rame… Mungkin waktu itu persis ketika shalat Zuhur selesai di Istiqlal dan orang-orang hendak kembali ke kantor masing-masing. Sedikit berdesak-desakan karena melawan arus, saya pun akhirnya sampai di Masjid Istiqlal dengan kondisi sangat kelelahan. Sehingga ketika sampai di Istiqlal, saya tidak bisa tidak untuk memilih mandi terlebih dahulu di kamar mandi masjid sebelum menunaikan shalat. 😂 Hitung-hitung untuk kembali menyegarkan badan yang letih dan kepanasan.

Masjid Istiqlal sendiri memang menjadi spot favorit untuk shalat dan beristirahat sejenak di Jakarta. Masjid terbesar se-Asia Tenggara dan ketiga di dunia ini tidak hanya menawarkan kenyamanan untuk istirahat, tetapi juga kesejukan untuk beribadah. Jadi objek wisata juga mungkin banget, karena arsitekturnya yang khas dan modern. Sesuatu yang paling saya suka adalah karpetnya yang lembut dan loteng kubahnya yang tinggi banget dan disinari lampu berwarna keemasan, membuat pemandangan jadi luas dan mesjid terasa kian lapang tanpa menghilangkan kesakralannya. Selain itu, di Istiqlal ini kita juga bisa menitipkan sepatu dan barang bawaan ke petugas khusus dengan cuma-cuma, sehingga kita bisa mengelilingi Masjid dengan lebih leluasa tanpa takut kehilangan barang bawaan. Hasilnya, shalat di Masjid ketika itu terasa sangat melegakan, lagipula, saya bisa berbaring sejenak melepas penat. 🙂

img_1157
Suasana Shalat di Istiqlal
img_1161
Langit-langit dan tiang Istiqlal yang megah

Pengalaman Pertama Naik Busway

Usai shalat di Masjid Istiqlal, sekitar pukul setengah tiga sore, saya kemudian berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Mini. Tiga kali ke Jakarta belum pernah sekalipun saya pergi ke tempat itu. Menaiki busway tentu saja menjadi pilihan, soalnya tidak ada jalur KRL menuju Taman Mini. Lagipula, saya belum pernah sekalipun mencoba menaiki busway, pengalaman pertama ini patut untuk dicoba.

Setelah keluar dari area Masjid Istiqlal, saya kemudian kembali melintasi trotoar di bawah jembatan penyeberangan orang dekat Halte TransJakarta Juanda. Sambil mengobati rasa dahaga, saya memilih mencicipi es doger kaki lima yang ada di trotoar tersebut. Harganya murah meriah, hanya Rp 5.000,- saja. Rasanya juga enak dan bapak-bapak yang jualan lumayan bersih, jadi saya tertarik. Es doger itu pun rasanya cukup untuk melepas dahaga di tengah panasnya udara kota, sekaligus membuat perut saya kenyang.

Usai menyicipi es doger, saya kemudian menaiki jembatan penyeberangan orang yang kini sudah tampak sedikit lebih lengang, lalu menyeberang ke Halte Juanda yang berada tak jauh di sisi seberang jalan. Sampai di halte, saya kemudian membeli tiket melalui mbak-mbak petugas yang berada di balik kaca. Karena pertama kali naik busway, si mbak nya menyuruh saya membeli kartu elektronik terlebih dahulu, harganya Rp 40.000,-. Kartu tersebut sudah berisi saldo yang bisa digunakan untuk menaiki busway dimana saja, caranya adalah dengan memindai kartunya di mesin pemindai otomatis ketika masuk area tunggu busway, persis seperti di stasiun KRL. Saya tidak tahu persis berapa isi saldo ketika pertama kali membeli kartu, mungkin Rp 20.000,- (karena di sana tertulis saldo akhir segitu), namun sekali naik bus saldo kita dipotong seharga Rp 3.500,-. Jika saldonya habis kita bisa mengisi kembali (selengkapnya ada di buku panduan yang diberikan). Walhasil, hari itu saya sudah mengoleksi tiga macam kartu elektronik, satu ketika naik KRL, kedua sewaktu masuk monas, dan ketiga kali ini.

cats
Seperangkat paket yang saya dapat saat membeli kartu elektronik untuk naik Trans Jakarta, disebut dengan e-money, ada buku panduannya juga.

Ketika saya sudah berada di ruang tunggu busway, saya kemudian mencari-cari informasi mengenai busway yang mengarah ke Taman Mini. Menurut google maps, saya mesti mengambil busway jurusan Harmoni – PGC1 terlebih dulu, lalu kemudian turun di Cawang UKI dan menyambung ke jurusan Kampung Rambutan. Karena bus pertama yang harus saya ambil adalah jurusan Cawang UKI, maka saya melihat-lihat peta dan nomor kode busway yang tertera di papan informasi di halte tersebut, sekaligus bertanya kepada petugas security yang kebetulan ada di sana.

“Bus ke Cawang UKI nomor 7A ya pak?” tanya saya.

“Iya betul Mas,” jawab si bapak.

Sebetulnya saya masih agak-agak ragu memilih bus, sehingga saya benar-benar fokus melihat setiap kode bus yang lewat. Seorang bapak-bapak calon penumpang tampaknya melirik-lirik saya sejak tadi usai mendengar percakapan saya dengan pak security. Sampai ketika lima menit berselang, tibalah sebuah busway yang melaju cukup kencang sampai-sampai saya tidak sempat melihat kode jurusan busnya. Namun di dalam layar bus, terpampang angka 5C. Saya sendiri, masih termenung, mengira ini bukanlah busnya.

“Mas, mau ke Cawang UKI kan?” ujar si bapak calon penumpang tadi, “Ini dia busnya. Saya juga naik bus ini.”

Saya sedikit terkejut mendengar kata-kata si bapak,”Oh ini ya Pak?” antara percaya tidak percaya karena busnya bernomor 5C, saya akhirnya memutuskan untuk naik ke bus itu, “Makasi pak.”

Akhirnya saya naik busway, meski dalam hati masih bimbang. Ternyata google maps belum bisa sepenuhnya dipercaya. Saya pun bertanya kepada seorang pemuda yang agak seumuran dan kebetulan duduk di samping kursi kosong yang hendak saya duduki.

“Permisi Mas, ini benar bus jurusan Harmoni?” tanya saya polos. Saya malah mengingat jurusan Harmoni karena bus ke Cawang UKI adalah bus jurusan Harmoni – PGC1.

“Bukan Mas. Harmoni ke arah belakang sana, sudah lewat” jawab si Mas. Ia pun tampak kebingungan.

Saya kaget, “Oh, iya Mas?” jujur saya mulai panik.

“Kalau ke Cawang UKI?” tanya saya selanjutnya.

“Kalau ke Cawang UKI memang ini busnya mas,” jawab si Mas itu kemudian, “Memangnya Mas mau kemana?” si Mas balik bertanya.

“Sebenarnya saya mau ke Taman Mini Mas, saya masih bingung karena baru pertama kali naik busway” jawab saya sambil menghela napas.

“Oh, Taman Mini?” lanjut si Mas. “Kebetulan, saya juga mengarah ke sana Mas.”

“Serius Mas?”

“Iya, Mas bareng saya saja,” sambung si Mas, seolah-olah menjadi malaikat penyelamat di hari itu. “Nanti kita turun di Cawang UKI, lalu nyambung pake bus jurusan Pinang Ranti. Nah, Mas nanti turun saja di Tamini Square, lalu menyambung sedikit dengan angkot ke pintu gerbang Taman MIni, nanti biar saya pandu Mas,” jelas si Mas panjang lebar.

Alhamdulillah, ujar saya dalam hati, “Wah, terima kasih banyak ya Mas!” jawab saya riang.

Siang itu entah berapa besar rasanya rasa syukur yang muncul dalam hati saya, ketika Allah mempertemukan saya dengan Mas-mas baik hati yang dengan senang hati memandu perjalanan saya di atas busway. Kami kemudian saling memperkenalkan diri, dari perkenalan itu saya mengenal si Mas, namanya Hanafi. Ternyata ketika itu dia ditemani pula oleh temannya, seorang perempuan. Hanafi pun mengenal saya yang berasal dari Padang ketika kami mengobrol, dan cukup terkejut mengetahui kalau saya ke Jakarta sendirian. Perbincangan pun berlanjut ketika kami melewati Pasar Senen yang ketika itu baru saja usai terbakar.

“Mas, coba lihat, itu pasar Senen yang terbakar tiga hari yang lalu,” ujar Hanafi.

“Yang lagi hebh di tivi-tivi itu ya Mas?” kata saya.

“Iya,” Hanafi tersenyum.

Sepanjang jalan, saya mencoba menikmati pemandangan di luar jendela busway. Ternyata begini rasanya naik busway. Kekeh saya dalam hati. Saya merasa benar-benar jadi orang kampung ketika masuk ke Jakarta. Saya juga sesekali terkesima dengan gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi kota ini. Pemandangan yang jarang saya temui. Tanpa rasa khawatir lagi, saya benar-benar merasa nyaman selama dipandu oleh Hanafi, termasuk ketika turun di Cawang UKI, dan naik busway kedua jurusan Pinang Ranti. Lebih kurang total satu jam perjalanan, akhirnya saya harus berpisah dengan Hanafi di Halte Tamini Square.

“Ini dia Tamini Square Mas,” ujar Hanafi sambil menunjuk ke arah Mall besar di seberang jalan, “Tampaknya kita harus berpisah.”

Ketika melihat google maps, saya benar-benar yakin bahwa Taman Mini sudah tidak jauh lagi dari posisi saya saat ini. Karena jasa Hanafi, saya benar-benar merasa berhutang budi, tentu saja saya tidak bisa melewatkan ucapan terima kasih kepadanya. Mungkin jika suatu saat saya naik busway lagi, orang pertama yang saya ingat adalah Mas Hanafi ini.

Naik Angkot ke Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah memang tempat yang masih membuat saya penasaran. Dulu ketika saya ke Jakarta saya sudah dua kali ke Dufan dan Ancol, tapi ke TMII belum pernah sekalipun. Jauh-jauh ke Jakarta tapi belum melihat TMII kayaknya ada yang kurang. Hasilnya, setiba di Tamini Square, saya lanjut ke TMII.

Mengingat jauhnya pintu gerbang TMII dari Tamini Square, saya akhirnya mencoba peruntungan naik angkot. Usai bertanya-tanya sama pak supir angkot yang kebetulan lewat, saya pun memberanikan diri.

Ketika di atas angkot, saya mendapati penumpang yang tidak terlalu banyak. Hanya dua orang, satu remaja putri yang pulang sekolah dan satu ibu-ibu rumah tangga yang sepertinya pulang dari pasar. Ibu-ibu itu sempat mengajak saya mengobrol, mungkin penasaran dengan penampilan saya yang membawa ransel dan tas kecil seperti musafir yang datang dari jauh.

“Mau kemana Mas?” tanya si Ibu.

“Ke TMII bu,” jawab saya.

“Kok sore sekali?”

Saya sedikit bingung menjelaskan, “Hm.., memang sempatnya baru sore buk,” jelas saya singkat sambil tersenyum.

Si ibu tampaknya cukup maklum, sampai akhirnya pak sopir memperingatkan saya bahwa kami sudah sampai pintu utama TMII.

“Ini pintu TMII Mas,” kata pak sopir angkot.

Tiba-tiba si Ibu berkata, “Mas mau masuk ke dalam kan?” tanya si ibu tadi.

“Iya buk,” saya terdiam menahan diri sebelum benar-benar melangkah turun dari angkot.

“Kalau begitu lebih bagus di pintu gerbang 3 saja, sore-sore begini biasanya pintu utama sudah tutup..” kata si Ibu, “Lagipula pintu 3 jaraknya lebih dekat ke dalam wahana.”

“Oh begitu ya buk,” kata saya, “boleh buk,” ujar saya setuju. Ibu-ibu ini sepertinya orang baik.

Si ibu kemudian berbicara ke supir angkot, “Pak, turunnya di pintu tiga aja ya Pak, kasian si Masnya jalan jauh ke dalam, belum lagi mana tau nanti sudah tutup.”

“Oke!” sahut pak Supir, meskipun sempat sedikit beradu argumentasi dengan si ibu.

“Ongkosnya tiga ribu ya,” bisik si ibu ke saya.

“Oh, iya, makasi banyak ya buk,” bisik saya balik sambil senyum.

Alhamdulillah dengan selamat saya tiba di depan pintu gerbang 3 TMII yang letaknya di selatan. Saya pun pamit dengan si ibu baik hati yang baru saja membantu saya. Meski akhirnya pak sopir meminta ongkos Rp 4.000,- saya terima saja dengan lapang dada. Kami pun akhirnya berpisah satu sama lain. Dalam hati saya masih terharu-haru biru, jauh-jauh begini ternyata Allah selalu memberikan kemudahan dalam setiap perjalanan.

Sesampainya di TMII, saya dikenai tiket masuk seharga hanya Rp 10.000,-. Saya kemudian melihat-lihat sekitar dan menemukan sebuah kios rental sepeda. Mengitari TMII dengan sepeda sepertinya adalah hal yang menarik, lagi pula sudah cukup lama saya tidak naik sepeda, padahal di rumah sering banget karena hobi. Ransel saya kemudian saya titip dengan mas-mas petugas rental yang baik hati dan dengan menyewa sepeda seharga Rp 15.000,- saya bisa puas mengelilingi TMII selama satu jam. Jaminannya cukup KTP saja.

img_1177
Tiket masuk TMII
img_1183
Keliling TMII naik sepeda, irit waktu, duit dan tenaga

TMII rupanya sangat luas. Di sana banyak sekali wahana terutama replika rumah adat setiap propinsi di Indonesia. Saya mengitarinya selama satu jam penuh, melihat satu persatu tempat-tempat menarik yang terdapat di sana. Sungguh menyenangkan. Saya juga akhirnya melihat orang-orang begitu ramai hanya untuk bersantai melepas penat di pelataran terbuka Tugu Api Taman Mini di depan Sasono Langen Budoyo ketika senja tiba.  Anak-anak dengan riang menerbangkan layang-layang dan berlari kesana kemari sambil tertawa bersama orang tua mereka. Definisi bahagia warga ibukota sepertinya cukup sederhana. Berkumpul di taman bersama keluarga sudah cukup membuat hati senang, membuat saya merenung bahwa sesungguhnya bahagia itu tidak rumit untuk dicari, tetapi akan selalu ada kapanpun kita inginkan. Benar-benar pemandangan yang sejuk dan membuat hati saya puas.

img_1220
Suasana di Pelataran Tugu Api Taman Mini menjelang magrib

Seiring matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, saya pun mengira perjalanan di Jakarta kali ini pun harus berakhir. Petualangan saya masih harus terus berlanjut ke tempat-tempat yang sama sekali tidak pernah saya lihat sebelumnya. Namun, semenjak pertama kali beranjak dari kos-kosan saya di Padang dan berakhir di pelataran tugu Api Taman Mini hari ini, dan meskipun hanya satu hari, saya tidak memungkiri bahwa sudah banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang saya dapati. Mungkin imam Syafii benar dengan puisi beliau yang mendendangkan,

Merantaulah, karena kau akan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.

Meyakini pertolongan dan kemudahan dari Allah, belajar untuk mandiri, berani dan percaya diri adalah pelajaran berharga lainnya yang saya pelajari selama hari ini. Saya berharap, perjalanan saya selanjutnya di kota Hujan, Bogor, akan mengisahkan petulangan yang berkesan pula untuk dikenang dan menjadi bekal untuk esok hari. Lagipula Lombok masih jauh, karena itu tak ada salahnya memaknai sekecil apapun kisah selama perjalanan. Insya Allah. 😀

#to be continued.

Advertisements

3 thoughts on “Memaknai Sisa Perjalanan di Jakarta #BackpackerStories – Part 4

    1. Wah, belum ya kak? Ckck.. Klo aan dulu belum ke sana karena mugkin awalnya An menganggap kalo taman mini itu lebih cocok dimasuki sama anak-anak, ternyata taman mini juga rame buat acara2 berbasis kedaerahan gitu kak, kebetulan pas aan di sana ada acara orang Minang gitu di anjungan Sumbar nya, bahkan beberapa anjungan juga ada yang menggelar pesta pernikahan.. Wkwk

      Nb: ngekos lagi di Padang karena satu dan lain hal terkait studi dan karir kak, hehehe 😂

      Like

      1. Iyaa, kakak juga mikirnya begitu, jadi gak masuk “bucket list traveling Jkt” banget, hehhe. Tapi kayaknya dari foto orang2 di sana kece juga utk cuci mata An.
        Iyeees An, kemaren komunitas alumni SMA kakak juga ada yang reunian di salah satu anjungan Tamini. Dan kalau gak salah, salah satu penjaga gerbang Taman Mini ‘urang awak’ An, beliau udah tua tapi. Hahhaha.

        Sukses untuk usahanya An, semoga segera mencapai target yang diinginkan Hahahha.

        Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s