Jelajah Bogor: Teman dari Oackland #BackpackerStories – Part 5

Pagi yang cerah di Pinggir Setu Citayam. Hari ini hari Senin, hari orang-orang sibuk bekerja. Tapi tidak bagiku, ini kesempatan pertamaku untuk mulai menjelajah Pulau Jawa lebih jauh. Oleh karena itu, subuh-subuh hari aku sudah bangun, menyicipi sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Ante Des –sepupu kandung Ibuku- dan keluarganya. Ya, malam tadi, sepulang dari Taman Mini, aku menginap di rumah beliau, yang berada di pinggir sebuah waduk di Citayam yang mereka sebut dengan istilah “Setu”. Rumah itu sangat unik, masyarakat di pemukiman padat penduduk itu menyebutnya “villa pinggir setu”.

Berbeda dari rumah kebanyakan, rumah Ante Des ini sangat alami, terbuat dari pohon bambu, dipenuhi oleh pepohonan rimbun yang benar-benar menyatu dengan alam. Rumah ini adalah hasil rancangan Ante Des bersama suami beliau, Om Afud, seorang aktifis lingkungan yang sering diundang menjadi keynote speaker di kegiatan-kegiatan berbasis green environment sampai ke luar negeri. Beliau juga sering menjadi pembicara di seminar-seminar nasional, media-media mainstream dan sampai mendapat penghargaan dari presiden. Banyak sekali piagam dan lencana yang beliau koleksi di sebuah rak lemari besar yang juga dipenuhi buku-buku tebal. Om Afud memang salah satu inspirasi besarku.

“Mau kemana saja kamu hari ini An?” Ante Des bertanya ketika saya menyantap sarapan pagi di meja makan ruang tengah.

“Ke Bogor Nte, nanti malam nginepnya di Bandung. Rencana mau lewat Puncak, hitung-hitung menikmati pemandangan selama perjalanan,” sambungku, “Aan juga mau singgah dulu di Puncak.”

Ante Des manggut-manggut, apalagi setelah kuceritakan rencana solobackpacker-ku menjelajah Jawa, “Sudah tahu mau naik apa? Kamu bisa tanya Om Afud kalau ragu. Dia sudah hapal seluk-beluk Bogor.”

Om Afud yang sibuk mengutak atik remote tivi tersenyum simpul, “Ah, nggak juga. Sudah lama juga nggak ke Bogor.” Dua anak lelakinya yang masih remaja tanggung tampak sibuk menyiapkan tas untuk berangkat sekolah. Sementara Atuk, ayah kandung Ante Des, ikut sarapan bersamaku.

“Rencana naik KRL dulu Nte, lalu menyambung bus di Terminal Bogor ke Puncak,” ucapku mengira-ngira usai membaca sebuah blog di internet. Aku mengalihkan pandangan ke Om Afud, “Tapi Aan masih ragu Om, apakah masih ada bus ke Bandung yang lewat Puncak?”

Om Afud berpikir sejenak, “Akhir-akhir ini bus memang sudah lewat jalan tol, jarang yang lewat Puncak. Tapi Om rasa beberapa mobil kecil masih ada, tenang saja.”

Aku mendengarkan, mengangguk-angguk. Setidaknya aku tak perlu khawatir lagi karena tahu masih ada bus kecil yang lewat Puncak.

“Sebelum ke Bogor, lebih baik singgah dulu ke Masjid Kubah Emas, An. Tak jauh lho dari sini, masih di daerah Depok, bisa naik Gojek aja. Masjidnya bagus, sekalian sholat dhuha di sana,” ucap Ante Des menawarkan. Aku setuju, lagipula perjalanan ke Bogor hanya akan memakan waktu sekitar 30 menit naik KRL dari Citayam. Aku masih punya banyak waktu.

Ante Des kemudian mengajariku cara memesan ojek online. Ini baru pertama kalinya. Usai menginstall aplikasi ojek online itu, Ante Des sekalian mengisi saldonya untukku. Aku senang sekali. Tak lama kemudian, tukang ojek datang, dan aku berpamitan dengan keluarga Ante Des. Membayangkan akan bertualang seorang diri, aku bukannya takut malah menjadi tidak sabar.

Rumah Ante Des di Pinggir Setu Citayam, alami banget kan? Di tengah panasnya suasana pemukiman penduduk di sana, udara di sini justru sangat sejuk.

Foto Bareng Om Afud sebelum pamit, Om yang sederhana banget. Ante Des gak mau difoto karena malu. Hehe


“Wah, sepertinya masjidnya tutup Mas!” ujar si tukang ojek melihat gerbang Masjid Kubah Mas tertutup rapat, “Mungkin masih kepagian.”

Aku sedikit manyun, rasanya kami sudah jauh berkelana dengan motor. “Kalau begitu, saya minta diantar langsung ke stasiun KRL terdekat aja ya Mas? Boleh?” tanyaku, “Nanti biayanya saya tambahin.”

“Boleh Mas. Stasiun terdekat dari sini itu Stasiun Depok Baru, nanti saya antar sampai depan gerbang.”

“Oke Mas.”

Lima belas menit kemudian, kami sampai di Stasiun Depok Baru. Aku turun di sana, mengucapkan terima kasih pada abang-abang tukang ojek yang ramah itu, tak lupa menyelipkan beberapa tip. Aku lalu berjalan mengikuti antrian masuk stasiun. Karena sudah membeli tiket KRL di Stasiun Cawang tadi malam sepulang dari TMII, aku tinggal membayar ongkos sekali berangkat ke Bogor. Rp. 3000,- saja. Murah sekali, pikirku. KRL kini menjadi transportasi favoritku di Jabodetabek.

Pukul 09.00 pagi, kereta menuju Bogor akhirnya tiba di Stasiun Depok Baru. Aku naik, lalu duduk di salah satu bangku yang masih lapang. Pagi menjelang siang ini rupanya kereta sudah lengang, berbeda dengan tadi malam sewaktu orang-orang pulang bekerja, aku hanya bisa berdiri sepanjang kereta mengantarku dari Stasiun Cawang sampai Stasiun Citayam. Kini, aku bisa mengamati pemandangan di balik jendela yang sesekali menerpa penglihatanku, sebagian besar rumah-rumah penduduk, yang lainnya bangunan tinggi menjulang. Tiga puluh menit kemudian, aku sampai di Stasiun Bogor.

Tiba di Stasiun Bogor

Wah, ramai sekali, ujarku sampai di stasiun itu. Tidak hanya penumpang, yang membuat ramai justru adalah para tukang ojek dan supir angkot. Saya hanya heran, jumlah mereka mungkin puluhan, bahkan angkot-angkot yang berjejer di seberang pagar stasiun itu juga berjibun. Ini kenapa pada ngetem semua di sini? Pikirku. Aku cuek saja berjalan kaki keluar pagar mengikuti arus penumpang yang baru saja turun dari KRL, sambil foto-foto dan melihat Google Maps. Tujuan selanjutnya adalah Kebun Raya Bogor.

Karena cuaca panas sekali, aku memutuskan naik angkot usai berjalan sekian ratus meter dari stasiun. Tanpa bertanya-tanya dulu, aku naik saja, sekalian menikmati suasana Bogor dari dekat, membiarkan kemana saja angkot ini mengulirkan rodanya. Ketika duduk di angkot, aku bisa merasakan padatnya lalu lintas kota Bogor, macet sekali, terutama di sepanjang Jalan Raya Dramaga di depan Stasiun. Tak lama kemudian, angkot itu berbelok ke kiri di jalan Djuanda, mengitari pagar Kebun Raya Bogor yang luas. Jalannya kini berganti dengan pemandangan pepohonan yang sejuk, hingga aku memilih turun di pintu gerbang 3 Kebun Raya. Aku membayar ongkos Rp 3.000,-.

Alhamdulillah, sampai juga di Kebun Raya, ujarku dalam hati, hendak menyeberang jalan pasca turun dari angkot dan masuk ke gerbangnya. Ketika melangkah masuk, beberapa petugas berseragam TNI menghampiriku.

“Mau masuk Mas?” tanya si Bapak.

Aku mengangguk, “Iya, Pak. Apa benar lewat sini?” tanyaku ragu-ragu.

“Iya, silahkan diperiksa dulu di bagian security,” ujar tentara itu. Aku kemudian digiring ke sebuah posko pemeriksaan, beberapa orang lelaki berseragam TNI lainnya duduk di sebuah tenda kecil, menanyaiku berbagai pertanyaan.

“Ini isinya apa Mas?” ucap si Bapak meraba-raba ranselku.

“Biasa pak, pakaian dan beberapa peralatan pribadi,” jawabku sekenanya. Mereka masih melihat-lihat ranselku.

“Oke, silahkan masuk. Anda beli dulu karcisnya di sana,” ucap tentara itu menunjuk ke seorang petugas wanita yang berdiri tak jauh dari tenda. Aku menghela napas lega, berjalan ke wanita itu dan membeli tiket masuk Kebun Raya seharga Rp 14.000,-. Lumayan terjangkau, ucapku dalam hati. Petugas itu tersenyum ramah mengucapkan selamat datang.

Tiket Masuk Kebun Raya Bogor

“Anda bisa melihat-lihat peta kebun raya di sebelah sana,” ucap wanita itu padaku sambil menunjuk sebuah papan informasi di depan kami berdua. Aku berterima kasih, lalu memandangi peta Kebun Raya itu dengan seksama. Rupanya luas sekali, aku berdiri di titik yang berada di sebelah utara kebun raya.

Aku kemudian memilih mengatur langkah mengkuti jalan beraspal yang lurus ke arah timur yang sedikit menurun, lalu dihiasi dengan berbagai macam bunga-bunga berwarna warni. Jalan itu dinamai “Jalan Astrid”, seperti yang tertulis di sebuah papan petunjuk, “untuk mengenang kunjungan Ratu Astrid dan Pangeran Leopold dari Belgia pada tahun 1928”. Bunga berwarna warni itu bernama bunga tasbih, berwarna merah, kuning dan berbatang hitam yang melambangkan Kerajaan Belgia. Aku juga bisa menikmati udara sejuk di padang rumput terbuka yang berada di pinggir jalan itu, sampai aku tiba di sebuah kolam air mancur dengan beberapa teratai berukuran raksasa. Aku lalu mengikuti jalan itu sampai di sebuah jembatan, dan tiba di area pepohonan besar nan lebat. Sambil melepas penat, aku berhenti di sebuah papan informasi lainnya dan membaca dengan seksama, sampai seorang wanita bertubuh tinggi besar, berkulit putih, berambut pirang, ikut berdiri di sampingku.

Jalan Astrid

“Hallo,” sapaku padanya. Aku tidak menyangka akan bertemu bule sedekat ini.

“Hallo,” perempuan itu tersenyum. Dia rupanya sendirian. Namanya Laurence, dari Oackland, Amerika Serikat. Aku ikut memperkenalkan diri.

“Waw, dari Sumatra ya?” ujarnya dalam bahasa Inggris, “Aku tidak menyangka bisa bertemu solo backpacker dari Indonesia sepertimu,” ucapnya padaku antusias. “Aku di sini juga sendirian, kebetulan sedang jalan-jalan di Asia Tenggara, beberapa hari yang lalu aku dari Thailand, kebetulan satu minggu ini aku ke Bogor mengikuti latihan yoga.”

“Wah, luar biasa. Baru pertama ke Indonesia?” tanyaku.

“Ya, aku baru saja tiba dari Jakarta, langsung ke sini. Minggu depan aku berencana pergi ke Bali.”

Kami berdua mulai mengakrabkan diri. Aku benar-benar senang bertemu bule di sini, sudah lama lidahku kelu karena lama tidak mengucapkan bahasa Inggris.

“Mungkin kita bisa jalan berdua? Aku juga sendirian,” kataku menawarkan.

“With very pleasure!” jawabnya senang. Aku juga, mendapat teman baru dari Amerika. Aku jadi teringat Hanafi yang kemarin membantuku di Jakarta, sekarang Laurence. Teman baru rupanya akan selalu ada dalam perjalanan, batinku berucap.

Kami berdua akhirnya menelusuri setiap sisi Kebun Raya Bogor yang luas itu bersama-sama, sambil berceloteh ria sepanjang jalan. Aku berusaha mengimbangi cara bicaranya yang cepat, Alhamdulillah, kami bisa berkomunikasi dengan lancar.

“Aku selalu senang melihat senyum orang Indonesia, mereka ramah-ramah,” ucap Laurence ketika kami berjalan di sebuah kolam air yang dipenuhi anak-anak dan remaja berjilbab yang sedang touring dengan sekolahnya.

“Kamu tahu Laurence, sebenarnya, orang-orang Indonesia itu selalu antusias kalau melihat bule sepertimu. Kami ingin sekali menyapa kalian, tapi kami kadang malu dan ragu. Padahal kami sangat senang.”

“Oh ya?! Aku juga sama, ingin sekali menyapa tapi aku kadang bingung, karena tidak semuanya mengerti apa yang aku katakan,” ucap Laurence tergelak.

Aku ikut tertawa. Ketika kami sampai di tepi kolam di depan Istana Bogor, anak-anak yang sedang berbelanja di sebuah toko makanan ringan mengerumuni kami berdua, mereka tertawa malu-malu, membuat Laurence ikut tersenyum. Ketika dia hendak membeli sesuatu di toko itu, aku melihatnya kesulitan berkomunikasi dengan si penjual. Akhirnya, aku menjadi penerjemah mereka berdua, Laurence dan penjual itu terbahak-bahak karena saling tidak mengerti, ketika mereka bercakap-cakap, aku siap menerjemahkan. Tiba-tiba aku mendapat job baru sebagai penerjemah, ckck.

“Wah, istana ini bagus sekali!” ucap Laurence. Aku setuju. Baru pertama kali aku melihat Istana Bogor yang indah itu di depan mata kepalaku. Kolam air yang dipenuhi teratai, berkawan dengan padang rumput hijau yang dipenuhi rusa-rusa piaraan terpampang luas di halaman istana itu. Kami berdua lanjut foto-foto, Laurence tampak senang sekali mengajakku selfie dan sesekali memfoto sekawanan rusa dan patung-patung unik yang ada di halaman istana. Perbincangan lainnya ikut mengalir, sampai Laurence berbicara cukup serius.

Istana Bogor

Bersama Laurence dari Oackland, USA

“Apakah kamu muslim, Syandrez?” tanya Laurence.

“Ya, aku muslim,” jawabku tersenyum, tidak bertanya balik padanya.

Laurence mengangguk, “Ya, aku melihat banyak sekali muslim di sini, mereka semua rupanya jauh dari yang pernah kubayangkan selama ini. Ramah sekali, tidak seperti anggapan orang di luar sana.” Laurence melanjutkan kalimatnya, “Aku sendiri, a free thinker, pemikir bebas. Entahlah, aku hanya berusaha melihat masalah dari sudut pikiranku saja.”

Aku tidak menyangka Laurence akan berbicara seperti itu, dalam hati, aku justru senang setelah dia bisa melihat sisi yang sebenarnya dari muslim di Indonesia.

“Kamu sudah lama berkelana seperti ini?” tanyaku.

“Ya, lumayan lama. Kamu tahu, usiaku sekarang sudah tidak muda lagi, sudah tiga puluh empat tahun.”

“Oh ya?” aku terkejut, sama sekali tidak menyangka. Kukira dia masih jauh lebih muda.

“Ya, umurmu berapa sekarang, Syandrez?”

“Aku, dua puluh empat tahun.”

“Waw, you’re so young! Sudah bekerja?”

Aku tergelak, untung saja tidak bertanya, sudah berkeluarga, ckck.

“Ya, saya sesekali berpraktek di sebuah klinik di Padang.”

“Kamu dokter?”

Aku mengangguk.

Oh my God!” Laurence tampak girang, kalimat-kalimatnya mengalir bak batang aia, deras sekali. Ia lalu menceritakan pengalamannya mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu, kulihat kakinya terdapat bekas luka operasi. Sambil berceloteh seperti tiada berujung, kami lalu melepas penat sambil duduk-duduk santai di bangku kecil depan kolam Istana Bogor menikmati makanan dan minuman yang dibeli Laurence beberapa saat yang lalu.

“Istana ini adalah salah satu kediaman presiden, Laurence,” kataku menatap istana itu, “Presiden biasanya menyambut tamu-tamu kenegaraannya di sini.”

“Ah, kamu jadi mengingatkanku pada Amerika,” ujar Laurence kemudian.

Aku tergelak, “Bukankah beberapa bulan yang lalu Amerika sudah punya presiden baru?”

“Oh, don’t mention that Man, Syandrez. I don’t like him. Donald Trump is not my president!” Laurence terbahak, “I hate Trump! Ever!”

Kami berdua terkekeh, aku tahu sebagian besar rakyat Amerika tidak menyangka kalau sekarang presiden mereka adalah Donald Trump. Aku yang tidak mengerti betul tentang politik hanya bisa merespon sesuai dengan pendapat mereka. Kami terus melanjutkan cerita sampai waktu berlalu hingga satu jam lebih. Kakiku sudah lumayan letih berjalan mengelilingi kebun raya yang tak habis-habisnya ini. Lagipula, siang sudah mulai terik, sementara aku harus segera melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Kami berdua akhirnya berpisah di depan gerbang utama Kebun Raya.

It’s really good to see you, Syandrez,” ucap Laurence, “Ku harap perjalananmu lancar. Jangan lupa, kalau suatu hari nanti kamu ke Oackland, hubungi aku, okey?!” Perempuan Amerika itu dengan sigap menuliskan alamat rumahnya di Oackland di buku catatanku. Ia juga menyertakan nomor hape dan aku facebook-nya.

Thank you Laurence, I wish we can see each other again,” sambungku patah-patah. Laurence tersenyum, sampai kami akhirnya benar-benar berpisah.

Usai mengucapkan kata-kata perpisahan itu, aku kemudian meninggalkan Laurence yang masih ingin berkeliling di Kebun Raya Bogor seharian ini. Karena sudah terik, aku memutuskan untuk meninggalkan Kebun Raya Bogor dan melanjutkan perjalanan ke terminal Bogor. Setelah keluar dari gerbang, aku bertanya kepada mbak-mbak penjual tiket bagaimana caranya pergi menuju terminal.

“Naik angkot di seberang jalan saja Mas,” ucap perempuan itu menunjukkan nomor angkot dan dimana aku bisa menunggunya. Di depan pasar jalan Suryakencana, tepat di depan gapura Vihara Dhanagun tak jauh dari gerbang utama Kebun Raya, aku menunggu angkot yang membawaku ke terminal Bogor.

Menunggu angkot di depan Jalan Suryakencana

Semoga ada kendaraan yang lewat Puncak, ujarku dalam hati, ketika angkot itu terus melaju di tengah-tengah kesibukan kota hujan. Meskipun perjalanan ke Bogor saat ini bisa dibilang sangat singkat, tapi aku puas. Ini bukan tentang kemana saja kita berkelana, tapi pengalaman apa yang kita dapat selama perjalanan. Aku tak sabar segera berangkat ke Bandung, apalagi melewati kawasan yang terkenal padat setiap kali libur panjang. Puncak. Aku hanya penasaran.

Ada yang punya pengalaman berbeda di Bogor? 😁

#to be continued

Advertisements

2 thoughts on “Jelajah Bogor: Teman dari Oackland #BackpackerStories – Part 5

  1. Long time no see, An :D, sekalinya update malah bikin pengen jalan-jalan..

    Tahun lalu waktu ke Jakarta ami juga menginap di Citayam, tapi di daerah perumahan apa gitu ya, lupa. Cuma untuk menginap semalam aja sih, jadi tidak sempat eksplor lebih jauh. Menarik baca kisah pertemuan dengan Laurence karena jadi tahu persepsi seorang wanita asal AS mengenai Indonesia dan Islam, dan lega juga karena ternyata masih ada yang tidak dengan mudah termakan isu media di sana.

    Seems that you are going towards your own travelogue, An 🙂 will read your next stories InshaaAllah

    Liked by 1 person

    1. Hehe, iya Mi, agak hiatus kemarin.. Padahal masih banyak hutang travel stories di blog 😂 hutang book review jg banyak, hha, mudah2an bisa kelar. Pengen sharing aja. Iya, Aan pun juga lega pas tahu pendapatnya Mi..

      Thank you for your comment and support 👍

      Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s