On the Way to Bandung #BackpackerStories – Part 6

Kota Bogor terlihat sangat ramai, tatkala saya menaiki mobil angkot yang berangkat ke arah terminal Bogor dari Kebun Raya. Saya duduk di bangku depan, tepat di samping Bang Supir, karena itu pemandangan kota ini cukup jelas terlihat.

“Bang, apakah sudah sampai di Terminal Baranangsiang?” tanyaku pada supir angkot. Saya tahu dari internet kalau Terminal Bogor ini namanya Terminal Baranangsiang.

“Wah, udah kelewat Mas!” ucap sopir itu cukup kaget, “Mas turun di Terminal?”

Aku menelan ludah, “Iya, Bang.”

Mobil itu kini rupanya melaju ke perbatasan kota, dekat jalan tol menuju Bandung. Saya tahu saya tak akan lewat tol, karena berniat lewat Puncak.

“Tenang Mas, nanti kita putar balik di seberang persimpangan, Mas bisa menyeberang. Terminal tidak jauh dari simpang itu.”

“Makasi Bang.”

Si Abang Supir yang baik ini akhirnya menurunkan saya di sebuah simpang tiga tepat di seberang terminal Baranangsiang. Saya pun turun usai membayar ongkos, lalu berjalan menyeberangi jalan raya besar itu sambil berhati-hati menghadapi mobil-mobil pribadi yang berlalu lalang. Lima menit kemudian, saya tiba di terminal, melihat bus-bus besar terparkir di pelataran yang aspalnya sudah tampak bolong-bolong. Terminal ini terkesan kurang bersih, mungkin jarang dirawat.

Ketika tiba, daripada bingung naik bus apa, saya menghampiri seorang ibu-ibu yang sedang duduk menjaga toko kecilnya di tepi terminal. “Permisi Buk,” kata saya, “Saya mau ke Puncak, di sini ada mobil yang mengatar ke Puncak tidak?”

Ibu itu tampak berpikir, “Ada Mas, tapi bukan bus Mas. Mas mesti naik angkot dua kali, ada di seberang jalan.”

Keningku berkerut, ribet juga. “Sebenarnya saya mau lanjut ke Bandung Buk, setelah dari Puncak. Mungkin naik bus ke Bandung di Cianjur.”

“Oh, kalau begitu Mas naik mobil ke Cianjur saja, kalau ke sana mobilnya lewat Puncak,” jawab si Ibu, “Mobilnya ada di seberang sana, bukan di terminal sini. Mereka biasa ngetem di pinggir jalan.” Ujar si Ibu sambil menunjuk ke seberang jalan yang baru saja saya lewati ketika naik angkot. “Mobil carry warna putih, bilang aja mau turun di Puncak, Mas.”

Aku bernapas lega, “Oh, baik Buk! Terima kasih ya!”

Alhamdulillah, kini saya sudah tahu jalan. Tapi sebelum berangkat ke sana, mengingat perut lapar di tengah hari, saya justru tertarik melangkahkan kaki ke sebuah toko makanan emperan. Seorang bapak tua menjual Soto Bogor. Karena penasaran, saya coba.

1 Soto Bogor di emperan terminal

2 Soto Bogor dengan kuah kuningnya yang kental

Soto Bogor ini rupanya enak sekali, rasanya gurih. Saya baru pertama kali mencoba. Tapi ya, sayang terlalu banyak minyak dan jeroan, meski begitu, setidaknya rasa lapar saya terobati. Saat membayar, saya cukup kaget. Meskipun makan di emperan, harganya lumayan nguras dompet. Wkwk. Rp 20.000,- satu porsi.

Tak lama kemudian, ketika perut kenyang dan kandung kemih sudah aman –wkwk, saya baru melangkah ke mobil putih yang berada di pinggir jalan sekitar 300 meter dari seberang terminal, tepatnya di sebelah kiri menjelang masuk gerbang Tol Jagorawi. Abang-abang stokar yang tampak sibuk menuggu-nunggu calon penumpang langsung mengode saya dari jauh.

“Cianjur Mas?!” seru Abang stokar.

“Iya Bang!” saya mempercepat langkah, rupanya mobil carry itu sebentar lagi akan berangkat, “Lewat Puncak Bang?” tanya saya mencoba meyakinkan, takut salah naik.

“Lewat Mas,” lanjut si Abang, “Ayo naik Mas.”

Usai menitipkan ransel saya di bagasi, saya duduk di bangku paling belakang bersama dua orang lelaki lainnya. Saya duduk dekat jendela. Panasnya minta ampun, keringat saya mengucur bulat-bulat. Saya tak bisa tidak membuka kancing atas baju kemeja, mengusir hawa panas yang terkurung di badan, sambil mengipas-ngipas kepala dengan topi. Serasa naik mobil tahun 90-an yang sering saya naiki dari Mudiak (Talago, 50 Kota, -kampung Ibu saya) ke Payakumbuh dulu. Ckck. Syukurlah tak lama kemudian mobil itu berangkat, angin sepoi-sepoi mulai menyelinap di balik jendela.

“Bang, saya turun di Puncak ya,” ucap saya ketika stokar meminta ongkos.

Abang itu menangguk, “20 rebu Mas,” ucapnya melanjutkan angka-angka yang harus saya bayar.

**

Satu setengah jam berlalu. Pemandangan perbukitan dan hutan yang lebat mulai mendominasi ketika mobil kami melaju mendekati area Puncak. Kebun teh yang hijau menawan membentang luas di seantero panorama. Indah banget, mirip di Alahan Panjang Sumbar. Topografi Bogor – Puncak rupanya mirip dengan jalan-jalan yang biasa saya lalui di Sumbar. Bukit, lembah, hutan rimba dan sungai.

Menjelang tiba di sini, kemacetan kecil kadang terjadi, apalagi ketika melewati beberapa kawasan pasar-pasar kecil di pinggir jalan sampai ke Cisarua, mirip dengan pasar Lubuak Aluang atau Kayutanam ketika naik bus Sinamar dari Payakumbuh ke Padang. Tapi, sambil melihat-lihat Google Maps, ada satu tempat yang ingin saya singgahi sambil menikmati pemandangan dan beristirahat. Masjid Atta’awun.

“Kiri Bang!” ucap saya ketika sampai di tepi simpang masuk masjid. Akhirnya saya turun di sebuah jalan mendaki yang cukup ramai oleh rumah-rumah makan sederhana dan orang-orang berlalu lalang. Jauh-jauh ke Puncak, saya malah ketemu rumah makan Padang. Ckckck.

Masjid Atta’awun terletak di Jalan Raya Puncak kilometer 90. Mesjid yang sering menjadi latar videoklip azan magrib di televisi ini berada di ketinggian bukit, dan udaranya, sejuuk sekali. Masyaallah. Selain suasananya yang nyaman, bentuk masjid ini juga bagus. Selain itu pemandangan yang disuguhkan di pelataran halaman masjid juga membuat ingin duduk berlama-lama. Kita bisa melihat luasnya hamparan perbukitan hijau ditemani pemandangan beberapa pemukiman dan orang-orang yang berolahraga terbang layang.

Ketika melangkah ke dalam masjid, saya meninggalkan sepatu dan ransel di tempat penitipan barang, lalu menaiki jenjang sekian puluh tingkat hingga sampai di pelataran masjid yang cukup luas itu. Karena sudah lewat Dzuhur, saya langsung shalat, dan alangkah segarnya mendapati air wudhu yang benar-benar dingin, khas air pegunungan. Selain itu, suasana di dalam masjid juga nyaman, menunjang kekhusyu’an shalat. Tak heran mengapa orang-orang cukup ramai datang ke masjid ini.

3 Mihrab masjid Atta’awun

4 Suasana di pelataran Masjid

5 Masjid Atta’awun Puncak

6 Pemandangan Paralayang di halaman Masjid

7 View Puncak dari halaman Masjid

8 Kaki Lima di depan pelataran tangga menjelang masuk Masjid

Saya sempat menghabiskan sisa waktu di siang menjelang sore itu sambil duduk-duduk santai melihat pemandangan Puncak yang luas dari halaman masjid Atta’awun. Ingin sekali berlama-lama, saya takut kemalaman sampai di Bandung. Apalagi saya sama sekali belum tahu bus apa yang bisa mengantar saya ke kota itu. Sebaiknya langsung berangkat sekarang, pikir saya.

Menaiki mobil yang serupa, saya kembali melanjutkan perjalanan melewati jalanan yang mendaki dan menurun menuju kota Cianjur. Usai membayar ongkos Rp 15.000,-, saya tidak bisa tidak tertidur pulas di atas bangku mobil yang cukup lengang itu, sampai saya terbangun di sebuah simpang antah berantah yang ada di tepi jalan raya.

“Mas, Mas mau turun dimana?” tanya Pak Sopir keheranan melihat saya masih tersentak, terbangun tiba-tiba ketika mobil itu berhenti.

“Saya mau ke terminal Cianjur Pak,” ucap saya setengah sadar.

“Kalau begitu Mas turun di sini ya, mobil ini tidak lewat terminal, Mas bisa nyambung angkot. Bilang aja ke terminal Cianjur.”

“Oh begitu ya Pak, baik Pak. Makasi Pak.” Kini saya benar-benar harus bangun, lebih tepatnya turun dari mobil.

Di tepi jalan raya dua arah yang tidak tampak begitu ramai, saya mematung sambil menyandang tas ransel, sesekali melihat jam tangan, sudah pukul 4 sore. Saya lihat di Google Maps, rupanya sudah sampai Cianjur. Tak lama kemudian, sebuah angkot hijau berhenti di depan saya.

“Bla bla bla,” entah apa yang diucapkan Sopir Angkot itu ke saya. Bahasa Sunda. Baru pertama kali mendengarnya.

“Ah, maaf Aa, saya nggak ngerti bahasa Sunda. Saya mau ke terminal Cianjur, bisa?” tanpa sadar saya ikut-ikutan berlogat Sunda dengan nada yang meliuk-liuk.

“Oh, bisa Aa,” jawab Si Aa Sopir, “Ayo naik.”

Saya mengangguk, naik ke angkot itu.

Kini, saya merasa ikut jadi warga Kota Cianjur, ketika melihat anak-anak sekolah pulang naik angkot. Ibu-ibu yang meneteng belanjaan dari pasar juga sesekali naik, mereka bercakap-cakap dalam bahasa Sunda, sama sekali tidak ada celah bahasa Indonesianya sedikitpun. Saya benar-benar cuma bisa melongo. Rasanya, lebih mending mendengar speaking bahasa Inggris daripada bahasa Sunda yang sama sekali tak familiar di telinga saya.

“Aa, turun di sini ya,” ucap Aa sopir ketika berhenti di tepi persimpangan jalan, “Saya mau putar balik, Aa nyambung angkot lain ya, nanti bayarnya di angkot itu saja.”

“Oh, baik Aa.” Saya pun turun, naik angkot lain, lalu duduk di bangku depan. Tak lama kemudian, sampailah saya di terminal Cianjur. Suasananya cukup lengang.

“Aa tunggu bus ke Bandung di sini ya, biasanya sebentar lagi bus akan tiba,” ucap Aa sopir angkot itu usai saya bilang tujuan saya. Dia menunjuk sebuah loket sederhana dengan palang besar bertuliskan “Bandung” di atasnya.

Akhirnya, saya pun turun dari angkot usai membayar ongkos Rp 3.000,-, lalu melangkah menuju loket bus itu. Saya mendapati tiga orang calon penumpang yang juga menunggu bus yang sama, duduk di bangku kayu yang lusuh dan bekas toko kaki lima yang sudah tutup.

“Ini benar ke Bandung, Mas?” tanya saya kepada seorang pemuda.

“Iya, benar Aa,” jawab pemuda itu. Saya mengambil napas lega.

Suasana terminal Cianjur kala itu cukup sepi. Bus-bus besar memang sesekali lewat, tapi setelah itu langsung pergi. Di sekelliling saya, ada beberapa warung kecil yang menyuguhkan teh dan kopi, makanan lain saya tidak yakin. Melihat langit, rasanya mulai gelap. Pukul 5 sore di sini serasa sudah pukul setengah 6 di Padang. Sambil merenung-renung perjalanan singkat hari ini, saya hanya tidak sabar membayangkan seperti apa bentuknya kota Bandung yang sudah lama tidak saya kunjungi. Dulu sempat ke Bandung saat study tour pas SMA, tapi itu hampir delapan tahun yang lalu. Saya hanya penasaran dengan “kekinian” yang diciptakan Pak Ridwan Kamil, Walikota Bandung, di akun instagramnya. Bandung yang kece abis. Akhirnya, bus besar menuju Bandung itu pun tiba.

9 Suasana sore hari di Terminal Cianjur

10 Duduk menunggu bus

Sepanjang jalan di atas bus yang ber-AC itu, saya menghabiskan waktu berkirim kabar di Line keluarga. Perjalanan seorang diri ini memang cukup menghawatirkan orang rumah, tapi karena saya bisa menikmatinya, mereka tampak ikut senang.

Pemandangan di luar jendela bus juga menakjubkan, bukit-bukit kapur yang aneh sesekali saya perhatikan. Ini berbeda dari kebanyakan bukit yang saya lihat. Sambil memikirkan tempat menginap di Bandung nanti malam, saya akhirnya memesan kamar hotel via online, dan syukurlah, dapat yang murah. Rp 55.000,- semalam, di Mess 88. Lumayan, satu kamar satu orang, kamar mandi di luar. Selebihnya, saya tidak ingat lagi, ketika pemandangan di luar jendela sudah berubah menjadi hitam dan lampu kelap-kelip.

Ada yang pernah naik bus ke Bandung sendirian? 😀

#to be continued.

Advertisements

2 thoughts on “On the Way to Bandung #BackpackerStories – Part 6

  1. Wah, asli backpacker-an ini namanya. Dulu ke Bandung sudahlah ramai-ramai, naik travel pula dari Cengkareng. Kebayang jauh dan rumitnya harus ganti-ganti moda transportasi, tapi sepadan dengan pengalaman yang didapat.

    Ami kira soto bogor yang dimaksud itu soto mi bogor, eh pas lihat fotonya, kok nggak ada mi, risol, dan kolnya ya?. Beda jenis sepertinya 😀 Trus Masjid Atta’awun itu komposisi warnanya dan tangga di luarnya sekilas mirip Masjid Bayur, walaupun atap kubahnya beda.

    Efek samping bahasa Sunda: ikut-ikutan nyunda..haha. Waktu jalan-jalan dengan teman ke Bandung juga jadi sok-sokan nyunda. (kunaon, kumaha, kadieu, dan lain sebagainya) Atau iramanya yang sok-sokan dibuat nyunda 😀

    Sok atuh dilanjut tulisanna, An 😀

    Liked by 1 person

    1. Haha, iya Mi. Jadi punya pengalaman naik kendaraan umum di bogor.. Soto bogornya mungkin versi lebih simpel Mi, ckck, lagian belinya di emperan 😂
      Iya, masjidnya bagus, pemandangannya jg bagus Mi.
      Entah kenapa logat sunda jd keluar jg, otomatis 😂😂

      Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s