Hatur Nuhun, Bandung #BackpackerStories – Part 7

Malam itu hujan gerimis. Bus yang mengantar saya dari Cianjur menuju Bandung menurunkan penumpangnya di depan Terminal Leuwi Panjang, tepatnya di halte Soekarno Hatta Kota Bandung. Saya pun turun, sambil menggendong ransel di punggung, berbalut jaket hitam yang mengusir hawa dingin malam itu. Suhu di Bandung rupanya mirip dengan Bukittinggi. Usai turun, sebagian penumpang lainnya mulai pergi, ada yang dijemput sanak keluarganya, ada yang naik angkot atau kendaraan umum lainnya menuju tujuan masing-masing. Sementara saya, sendirian.

Tujuan selanjutnya tentu saja, penginapan. Berbekal aplikasi ojek online, saya akhirnya memilih menuju Mess 888 -yang sudah saya booking di traveloka- menggunakan ojek. Syukur sekali Ante Des sudah mengajarkan saya memakai aplikasi ini. Mudah dan simple. Tak lama usai memesan, saya langsung ditelpon si abang ojek, menanyakan dimana posisi saya saat ini.

“Di depan terminal Leuwi Panjang, Bang,” ucap saya di balik ponsel, “Dekat halte.”

Abang ojek langsung menjawab, “Oke! Saya langsung jemput ya, Kang.”

Lima menit kemudian, si abang ojek akhirnya datang. Tak seperti di Jakarta, rupanya ojek online di sini menyembunyikan jaket yang melambangkan identitas mereka. Helm mereka juga helm biasa.

“Hatur nuhun, Akang. Mau kemana?” si Abang ojek bertanya, lebih tepatnya meyakinkan. Saya bisa tahu kalau sebenarnya dari aplikasi ojek online itu dia sudah tahu tujuan saya kemana.

“Ke Mess 88, Bang.” Ucap saya sambil melihat-lihat informasi penginapan itu di traveloka, “Di Jalan Ciparay.”

“Oh, oke Kang! Saya tahu jalan Ciparay,” sambung Abang ojek ramah, “Ini helmnya, agak sedikit gerimis, apa perlu jaket?”

“Tidak usah Bang,” saya tersenyum simpul, lalu duduk di atas bangku sepeda motornya.

Si Abang ojek kini mulai menancapkan gas kemudinya, melewati jalan raya Kota Bandung yang ramai di malam hari. Seiring perjalanan si Abang sesekali mengajak ngobrol, menanyakan saya dari mana, mau kemana, dan berapa lama di Bandung.

“Cuma sehari besok saja Bang, rencana saya mau melanjutkan perjalanan ke Jogja besok.”

“Wah, Akang berani juga ya! Saya sendiri belum pernah pergi ke pulau lain di luar Jawa,” Si Abang rupanya terkejut mendengar cerita saya. Dia semakin antusias menanyakan rencana perjalanan saya mengitari kota-kota di Jawa dan hendak menuju Bali dan Lombok. Saya hanya bisa manut-manut. Ide ini memang mungkin terdengar gila bagi sebagian orang. Ngapain capek-capek pergi sendirian? Ckck.

Tak lama kemudian kami sampai di jalan Ciparay. Kami berdua sempat kebingungan mencari dimana lokasi Mess 888 itu berada.

“Sepertinya sudah lewat nih Kang, saya yakin tempatnya di pinggir jalan tadi. Ini udah hampir sampai ke simpang menuju jalan Logam,” ucap si Abang, “Kita balik ke belakang ya.”

“Oke Bang,” saya percaya sepenuhnya pada si Abang, sampai akhirnya kami berdua sampai di tujuan.

“Makasih banyak ya Bang!” ucap saya sembari berpisah pada si Abang ojek yang baik hati ini, lalu melangkah ke sebuah penginapan yang dari luar tampak seperti ruko yang sedang tutup. Hanya ada tulisan kecil bermerek “Mess 88” dan sebuah pintu kecil yang terbuka. Saya pun masuk ke dalam, mengitari sebuah koridor kecil hingga sampai di jalan buntu dengan tangga mungil yang mengarah ke sebuah pintu yang sedang terbuka. Saya memberanikan diri masuk, menyapa seorang bapak-bapak yang sedang duduk di sofa sambil menoton televisi.

“Permisi Pak, benar ini Mess 888?” tanya saya.

“Iya Mas. Mau check in?” tanya si bapak.

Saya mengangguk, “Iya Pak, saya sudah pesan lewat traveloka,” ucap saya seraya memperlihatkan layar tablet, “Ini bukti pembayarannya Pak.”

“Oh, atas nama Syandrez. Baiklah, silahkan diisi buku tamunya dulu ya Mas,” ucap si Bapak membimbing saya berjalan ke sebuah lemari kaca yang berubah fungsi menjadi meja resepsionis. Sepertinya si bapak mengelola penginapan sederhana ini sendirian. Saya lalu melangkah masuk di lobi utama, yang tampak bersih, rapi dan minimalis. Beberapa bangku terdapat di sudut koridor, seperangkat sofa dan meja tamu lengkap dengan televisi gantung di ruang utama dan dua jalur koridor yang dipenuhi oleh pintu-pintu kamar. Suasananya cukup lengang.

“Kamar Mas di nomor 9, ini kuncinya Mas, sudah saya siapkan.”

1Mess 888

Singkat cerita, alhamdulillah, malam itu saya bisa tidur nyenyak di kamar. Pelayanannya cukup memuaskan. Sebelum tidur, saya tak lupa berbagi cerita ke keluarga di rumah, lalu membuka Google Maps seraya mencari lokasi menarik yang akan saya jelajahi esok hari. Beberapa di antaranya saya tandai di peta, lalu saya mencari informasi mengenai transportasi di Bandung melalui internet. Syukurlah, ada sebuah aplikasi angkot Bandung yang sangat bagus dan gratis di Playstore. Dengan teknologi GPS seperti di Google Maps, saya bisa tahu rute angkot mana saja yang bisa mengantar saya ke semua tujuan di kota Bandung. Tak lupa, keesokan paginya saya juga langsung membeli tiket kereta api menuju Jogja melalui aplikasi PT KAI yang juga tersedia gratis di Playstore. Hanya dengan beberapa sentuhan jari tangan di tablet, saya bisa membeli tiket kereta secara online dan mentransfer biayanya melalui mobile Banking. Sekali lagi, Alhamdulillah, teknologi informasi seperti ini benar-benar membantu. Keberadaan tablet ini benar-benar krusial, oleh sebab itu saya tak lupa mengecas power bank semalaman.

Kini, di pagi hari, Kota Bandung tampak sangat cerah. Langitnya biru benderang dengan sedikit awan. Usai hujan semalam, hawa Bandung kini benar-benar sejuk dan nyaman. Lagipula, sekarang, badan saya juga sudah wangi kembali, dengan pakaian baru yang bersih. Usai check out tepat pada pukul 7 pagi, saya berjalan kaki keluar dari jalan Ciparay menuju jalan raya Terusan Buah Batu. Karena lapar, saya berusaha mencari rumah makan yang ada di dekat sana, sampai akhirnya sebuah tongkrongan bubur ayam di pinggir jalan menggoda hati saya. Harganya murah meriah, Rp 10.000,-. Saya makan dengan lahap bersama beberapa orang lainnya. Meskipun sederhana, bubur ayam ini benar-benar enaaak, walaupun di lidah Minang seperti saya ini. Hehe. Lagipula makanan ini khas sekali di Bandung, sayang jika tidak menyicipinya langsung dari tangan orang Bandung.

2Bubur ayam Bandung, enak bangett

Alhamdulillah, kenyang. Usai membayar ke si Bapak, saya kemudian melihat-lihat aplikasi angkot Bandung di layar tablet. Pagi-pagi begini saya memilih mengitari Bandung dengan angkot dan berangkat menuju museum kota di dekat Tugu Bandung Lautan Api. Museum itu bernama Museum Sri Baduga, seperti yang tertulis di Google Maps. Sesuai petunjuk aplikasi itu, saya akhirnya naik angkot di pinggir jalan tepat di samping tongkrongan bubur ayam. Lalu lintas juga tampak semakin ramai, seiring orang-orang yang berangkat sekolah, bekerja, dan ibu-ibu yang membawa tas belanjaan ke pasar. Saya kemudian memilih duduk di bangku paling ujung, bersama penumpang lainnya yang didominasi oleh ibu-ibu dan anak sekolah itu. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Sunda berirama khas, yang masih saja asing di telinga saya. Kota ini benar-benar kepunyaan orang Pasundan.

Sepanjang perjalanan, saya juga sesekali mengecek posisi di peta, sembari mencocokkan rute angkot yang saya naiki dengan kenyataannya. Angkot Bandung memang punya kombinasi warna tertentu, dan setiap warna mengantarkan kita ke tujuan yang berbeda. Sambil memastikan saya menaiki angkot yang benar, saya juga bertanya pada ibu-ibu penumpang lain.

“Iya benar Aa, nanti kalau mau ke Museum, Aa turun di simpang Jalan Gurame lalu menyambung dengan angkot lain. Nanti saya tunjukin ya,” ucap seorang Ibu ramah sekali.

“Wah, terima kasih Buk!” saya benar-benar senang dengan keramahan orang-orang Sunda.

Kota Bandung terlihat begitu ramah dari atas angkot. Suasananya hidup sekali, orang-orangnya juga tampak bahagia. Damai sekali. Kehidupan masyarakat kota Bandung tampak adem ayem, bergandengan dengan bangunan-bangunan besar maupun kecil yang menghiasi pemandangan sekelilingnya. Ah, saya jadi senyum-senyum sendiri di angkot.

Tak lama kemudian, usai ditunjukkan oleh ibu-ibu, saya turun di tepi persimpangan jalan dan naik lagi ke angkot lainnya menuju kawasan Bandung Lautan Api. Saya duduk di bangku depan di samping bapak supir yang mengendarai mobilnya dengan pelan tanpa beban. Saya bisa melihat lebih jelas kondisi lalu lintas kota ini yang tampak cukup padat dengan jalan yang sempit-sempit, sampai akhirnya saya turun di depan Museum Sri Baduga. Dua kali naik angkot, saya hanya merogoh uang Rp 5.000,-.

3Museum Sri Baduga Bandung di pagi hari

Suasana pagi yang sejuk di depan pelataran museum yang berada di pusat kota membuat saya bersemangat. Lagipula, museum adalah lokasi favorit saya jika menjelajahi sebuah tempat baru. Selain bisa memahami sejarah kota yang dikunjungi dalam waktu singkat, tentu saja, banyak pengetahuan penting yang bisa kita dapatkan. Museum Sri Baduga rupanya adalah tempat yang tepat untuk mempelajari sejarah Kota Bandung secara detail. Nama museum ini diambil dari nama raja Sunda yang bertahta di Pakwan Pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi yang tertulis di prasasti Batutulis, “Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakwan Pajajaran Sri Ratu Dewata.” Suasana museum yang dibangun pada tahun 1980 ini juga cukup modern tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya, dimana bangunan utamanya mengadopsi gaya rumah adat Jawa Barat.

Selain itu, petugasnya juga ramah-ramah, khas orang Sunda. Pertama kali datang, meskipun kepagian, saya diperkenankan melihat-lihat museum dari luar sebelum membeli tiket masuk pukul 08.00 pagi. Beberapa anak-anak berseragam sekolah dasar juga tampak antusias melihat-lihat koleksi museum dari luar bersama guru-guru mereka. Melihat semangat anak-anak berusia belia itu belajar, saya menjadi kagum. Saya jadi berpikir, seandainya setiap kota punya museum seperti ini, mungkin anak-anak dan generasi muda bisa belajar banyak mengenai sejarah tempat mereka berasal.

4Anak-anak SD di Bandung tampak antusias mempelajari sejarah kota mereka

Tepat pukul 08.00 WIB, akhirnya kami semua diperkenankan masuk ke dalam gedung utama museum. Bersama kerumunan anak-anak SD dan beberapa pengunjung lainnya yang didominasi muda mudi yang tertarik degan sejarah, saya begitu terkagum-kagum melihat koleksi benda-benda peninggalan sejarah yang ada di museum ini. Tidak hanya peninggalan sejarah berupa tulisan-tulisan kuno, prasasti-prasasti zaman dahulu, dan benda-benda antik lainnya, museum ini seolah menceritakan kronologi lahirnya kota Bandung sejak zaman prasejarah. Saya bisa tahu kalau dulunya Bandung merupakan sebuah telaga raksasa purba yang terbentuk dari terbendungnya sungai Citarum akibat tumpukan lava Gunung Tangkuban Perahu. Lama kelamaan, telaga itu kemudian surut. Oleh sebab itu, wilayah itu dikenal dengan nama “Bendung” atau “Bendungan” yang lambat laun disebut dengan “Bandung”.

5Beberapa koleksi di Museum Sri Baduga

Usai menikmati ribuan koleksi peninggalan sejarah di Musum Sri Baduga dan mempelajari sejarah kota ini dalam waktu singkat, saya menjadi semakin suka dengan Bandung. Sebagai penikmat sejarah, saya seolah dibawa berjalan ke masa lalu dan melihat bagaimana kota ini terus tumbuh dan berkembang sampai akhirnya berdiri di zaman teknologi seperti sekarang. Selain dibuat dengan konsep kronologis –sesuai dengan jalannya waktu sejarah-, benda-benda di sini masih asli dan sangat terawat. Sepertinya, konsep museum seperti ini patut dijadikan contoh bagi museum-museum lainnya di Indonesia. Bagaimana caranya agar pengunjung bisa merasakan, ketika pertama kali datang, mereka digiring untuk mengikuti cerita sejarah dan keluar dengan rasa puas seolah sudah berjalan melintasi waktu ribuan tahun lamanya, daripada hanya sekedar memamerkan benda-benda saja. Bener gak sih? Hehe

Waktu sekitar dua jam akhirnya saya habiskan di Museum, sebelum akhirnya beranjak keluar mengitari Kota Bandung seutuhnya. Karena cuma seharian, saya kemudian berfokus pada tempat-tempat strategis di pusat kota. Perjalanan selanjutnya saya mulai dari tugu Bandung Lautan Api yang berada tepat di seberang museum. Mungkin sedang dalam renovasi, alun-alun terbuka itu dikelilingi oleh seng-seng tinggi, memaksa saya berjalan mengitari trotoar di sampingnya hingga menemukan sebuah celah masuk. Di tempat ini, banyak pedagang kaki lima yang berjualan pernak-pernik, saya kemudian berjalan-jalan santai mengelilingi lokasi ini. Tapi sayang, kondisinya seperti kurang terawat, tugu bersejarah itu juga tampak agak semrawut dibanding tempat lainnya di Bandung. Rerumputan juga tampak liar memenuhi pelataran tugu obor api yang berada di tengah-tengah lapangan terbuka. Apa mungkin masih dalam tahap renovasi? Saya juga kurang tahu pasti.

6 Suasana di Alun-Alun Bandung Lautan Api

Usai melihat-lihat suasana keramaian pedangang kaki lima di area Bandung Lautan Api, saya kemudian memutuskan untuk berangkat ke tempat yang paling populer di kota ini. Apalagi kalau bukan alun-alun Bandung yang kekinian. Semenjak diposting oleh walikota Bandung yang tersohor, Bapak Ridwan Kamil, di media sosial terutama Instragram, tempat ini menjadi tempat paling membuat penasaran. Saya kemudian naik angkot, melewati lingkungan pasar tradisional Bandung yang sangat ramai. Meski begitu, ketika naik, penumpangnya cukup lengang, hanya ada seorang ibu-ibu yang meneteng tas belanjaannya. Kami berdua sempat bertegur sapa dan sempat membuatku terkejut setelah mendengar penuturannya.

“Ibu asli Padang?!” tanya saya antusias.

Si ibu mengangguk. Saya tak menyangka bertemu orang Padang di sini.

Ka pai kama Nak?” tanya sang Ibu ramah berbahasa Minang. Saya merasa punya keluarga baru.

Nio ka Masjid Raya bu, ka alun-alun,” jawab saya senang sambil senyum. Sang ibu kemudian sesekali bercerita panjang lebar mengenai tempat itu.

“Hati-hati ya Nak, jangan sampai kehilangan barang di sana. Kalau mau berkeliling, lebih baik kamu titipkan barangmu ke petugasnya, soalnya di Bandung sini rawan pencurian. Ibu sendiri pernah menemukan orang-orang yang kehilangan sepatu usai keluar masjid. Dompet juga dijaga baik-baik ya.”

Saya terus mendengarkan nasihat Ibu ini dengan seksama, tentu saja terdengar berbeda jika yang memberi nasihat adalah bagian dari orang satu kampung, atau urang awak. Ibu ini terasa seperti keluarga sendiri. Menurut penuturannya, beliau sudah tinggal di Bandung cukup lama dan berkeluarga di tempat ini. Mendengar antusiasmenya bercerita, saya kemudian juga ikut-ikutan, meski selalu saja, respon orang-orang yang saya temui ketika mengetahui saya berkelana sendirian memperlihatkan keterkejutan. Tapi percayalah, saya tidak sekesepian itu. Haha. Lagipula ternyata banyak orang-orang baru yang saya temui sepanjang perjalanan yang mau berbagi pengalaman. Kenikmatannya terasa berbeda.

Tak lama kemudian, akhirnya saya tiba di sebuah pasar yang berada tepat di samping sisi kiri masjid raya. Di sana ramai sekali, didominasi oleh pejalan kaki yang berjalan di trotoar lebar yang rapi dan juga kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Tak jauh dari sana, saya pun tiba di Masjid Raya Bandung yang selama ini selalu membuat saya penasaran. Masyaallah, ramai juga.

Masjid Raya Bandung ini sendiri memiliki dua menara tinggi yang berada di ujung kedua sisi bangunan berkubah tiga itu. Ketika sampai, saya berjalan mengitari sebuah pedestrian keramik lebar yang ramai tepat di depan pintu-pintu masjid. Beberapa menit kemudian, saya sampai di depan pintu utama masuk masjid dan melihat dua buah tempat penitipan sepatu di terasnya. Awalnya cukup ragu hendak menitipkan ransel pada petugasnya, tapi rupanya abang-abang penjaga di sana ramah-ramah, saya diperkenankan menitipkan ransel yang terasa cukup berat itu kepadanya. Saya kemudian diberi kupon berkode angka tertentu, yang bisa dipakai untuk meminta barang yang saya titipkan itu jika hendak kembali mengambilnya. Kini, saya hanya membawa sebuah tas sandang kecil berisi perlengkapan penting dan juga topi untuk melindungi kepala dari sengatan matahari.

Iseng-iseng mengintip suasana masjid, rupanya sedang ada acara majils taklim ibu-ibu. Ramai sekali, bahkan ada beberapa ibu-ibu yang terpaksa duduk di teras saking padatnya jama’ah yang mendengarkan ceramah. Karena sulit masuk, akhirnya saya lebih memilih mengitari alun-alun Bandung yang berada tepat di halaman masjid. Pertama kali melihatnya, wah, luas juga. Hijaunya rerumputan sintetis yang memiliki pola-pola garis mirip labirin persegi ini membuat sejuk mata memandang. Meskipun di tengah teriknya cahaya matahari ketika itu, tidak membuat antusiasme pengunjung redup untuk menikmati area terbuka itu sambil bersantai dan bermain. Oh iya, tentu saja, kita boleh menginjak alun-alun itu asalkan sepatu dibuka terlebih dulu. Selain itu, di seberang masjid dari alun-alun ini, juga terdapat sebuah teras panjang yang dipenuhi bangku-bangku dan meja yang dipenuhi oleh pengunjung yang ingin duduk bersantai-santai. Di beberapa sudut juga terdapat area bermain anak-anak yang berkawan dengan keceriaan yang muncul di wajah anak-anak. Adem sekali.

7 Masjid Raya dan Alun-Alun Bandung

Puas duduk-duduk menikmati suasana di pelataran Masjid, saya kemudian beranjak ke tempat menarik lainnya di dekat Masjid Raya. Tepat di seberang masjid, terdapat sebuah persimpangan jalan yang cukup terkenal, yaitu Jalan Asia Afrika. Sambil berjalan kaki, saya bisa menikmati suasana kota yang mirip dengan hawa-hawa Eropa di sepanjang pedestrian yang cukup lebar dan bersih yang berada di sepanjang jalan itu. Di beberapa titik, bahkan ada bangku-bangku kayu cantik yang bisa digunakan cuma-cuma untuk duduk-duduk santai melihat suasana kota. Saya terus terkagum-kagum melihat dekorasi jalan ini yang demikian indah sampai saya tiba di depan gedung Merdeka yang bersejarah. Seandainya kota-kota lain di Indonesia juga meniru kerapihan tata kota jalan raya ini, pasti warga akan nyaman sekali berjalan-jalan. Seperti kata Kang Emil, kota itu layaknya harus lebih manusiawi, bukan mobilwi. Kalau ini saya setuju banget. Hehe. 😀

8 Tugu Asia Afrika

9 Suka banget dengan sajak yang bikin baper ini. hehe

10 Jalan Asia Afrika

11 Gedung Merdeka Asia Afrika

Tak lama kemudian, saya memilih terus melanjutkan perjalanan mengitari sebuah jalan yang wajib dikunjungi kalau sedang di Bandung, yaitu jalan Braga. Sama seperti di Jalan Asia Afrika, jalan Braga ini juga punya pedestrian yang ramah untuk pejalan kaki. Tidak ada mobil yang parkir sembarangan di sepanjang trotoar ataupun lapak kaki lima yang menghambat mobilitas pengunjung. Pepohonan rindang membuat suasananya jadi sejuk. Kursi-kursi kayu yang cantik juga banyak sekali di sepanjang pedestrian ini, belum lagi toko-toko makanan bermerek yang bikin perut semakin terasa lapar. Tapi, dari sekian banyak tempat menarik, mungkin yang paling menyita perhatian saya ketika itu adalah beberapa penjual lukisan yang memamerkan karyanya di samping trotoar itu. Lukisannya indah-indah dan aduhai. Hehe.

Puas berkeliling di sepanjang jalan Braga, berputar-putar di sudut-sudut pertokoan dan sempat berhenti sejenak di kedai swalayan terdekat untuk mengganjal perut, saya kemudian memilih melanjutkan perjalanan ke Balaikota Bandung yang berada sekitar satu sampai dua kilometer dari jalan Braga. Meskipun cuaca cukup terik, tapi berjalan kaki pun masih nyaman hingga saya sampai di sebuah taman cantik yang berada di kompleks kantornya walikota Bandung. Taman balaikota ini sudah dipermak sedemikian rupa, dan saya benar-benar kagum melihat suasananya. Pepohonan lebat yang meneduhkan serta menyejukkan berkawan dengan sungai-sungai buatan yang jernih. Tak heran, mengapa banyak sekali pengunjung lokal yang memilih tempat ini untuk bersantai dari hiruk pikuk kesibukan kota. Relieving banget. Melihat anak-anak balita bersama ibu-ibu mereka bermain air dengan gratis, duduk-duduk santai di bangku-bangku taman, ah, membuat saya semakin iri pengen tinggal di Bandung. Tak heran kenapa sepanjang jalan, orang-orang yang saya lihat tampak bahagia sekali. Ini kota emang bikin baper. Salut buat Kang Emil.

12 Sungai air jernih di taman Balaikota Bandung

13 Iya saya tahu itu tulisannya Love. Hehe.

14 Pohon besar yang berada di depan Balaikota, sejuknya..

15 Balaikota Bandung

Sepulang dari taman balaikota, waktu zuhur sepertinya hampir masuk. Saya kemudian meninggalkan tempat itu, berniat kembali menuju Masjid Raya. Saya lalu memilih kembali berjalan kaki dan menyeberang di trotoar. Senangnya hati, saya menemukan sebuah lampu lalu lintas dengan tombol penyeberangan pejalan kaki di samping balaikota. Ketika saya mendapati jalan raya itu ramai sekali, saya menekan tombol itu hingga lampu merahnya menyala dan mobil-mobil berhenti dengan ikhlas. Ckck. Saya akhirnya bisa menyeberang di zebra cross. Rasanya, sistem seperti ini baru pertama kali saya lihat di Indonesia.

Karena cukup jauh, akhirnya saya kembali ke Masjid dengan menggunakan jasa ojek online. Ketika sampai di masjid, beruntung saya masih bisa ikut shalat berjama’ah bersama masyarakat lainnya. Suasana masjid dari dalam juga terasa nyaman, dingin dan lapang. Karpetnya juga lembut, enak untuk dibawa shalat. Usai shalat juga ada pengajian, saya memilih duduk mendengarkan sebelum beranjak pergi, hitung-hitung melepas penat kedua kaki yang sudah jauh berjalan sejak pagi. Ah, ingin sekai berlama-lama. Tapi, selama di Masjid, masih ada yang membuat saya penasaran. Saya ingin sekali naik ke atas menaranya yang tinggi dan melihat langsung kota Bandung dari atas. Usai bertanya-tanya ke petugasnya, saya kemudian menemukan sebuah pintu lift menara di sisi kanan masjid yang dijaga oleh petugas. Rupanya, cukup banyak yang mengantri ingin masuk ke menara, dan saya salah satu di antaranya. Dengan membayar biaya karcis masuk sebesar Rp 7.000,- saya bisa sampai ke puncak menara dan melihat pemandangan kota yang menakjubkan.

16 Suasana shalat di Masjid Raya Bandung

17 Pemandangan dari puncak menara Masjid Raya Bandung

Usai puas melihat pemandangan kota dari puncak menara, saya kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lain di Bandung sebelum berangkat menuju stasiun. Karena kereta ke Jogja akan berangkat malam hari, saya masih punya sisa waktu untuk berkelana mengelilingi kota. Tapi, sebelum melanjutkan petualangan ini, saya duduk sejenak di teras masjid sambil menikmati makan siang yang saya beli dari ibu-ibu penjual makanan yang berseliweran di sepanjang sisi kanan masjid. Ada banyak makanan yang mereka jual, mulai dari nasi lengkap dengan lauk-pauk khas Sunda yang dibungkus dengan daun pisang, aneka macam gorengan, dan beberapa makanan khas lainnya. Karena lapar, saya memilih makan nasi. Saya bisa memilih lauk apapun yang saya suka dari keranjang makanan mereka. Makan di sini selain murah meriah, saya juga tidak perlu capek-capek mencari restoran lain di tengah kota yang mulai semakin padat menjelang sore. Harga yang dibayar tak lebih dari Rp 20.000 sampai perut kenyang. Alhamdulillah.

Destinasi Bandung berikutnya adalah Gedung Sate, kantor Gubernur Jawa Barat. Usai mengambil ransel, bermodal GPS dan aplikasi angkot Bandung di tablet, saya bisa menikmati pemandangan kota dari atas angkot dan bergabung dengan masyarakat Bandung untuk merasakan kehidupan mereka. Beberapa kali gonta-ganti dan sambung menyambung angkot, saya akhirnya sampai di Gedung Sate sekitar pukul 3 sore. Rasanya memang belum ke Bandung kalau belum singgah ke sini, meskipun sampai sekarang saya suka heran kenapa bangunan ini disebut Gedung Sate? Katanya, tiang di puncak atap gedung ini seperti tusukan daging sate, apa benar? Hehe.

Tepat di seberang Gedung Sate yang termahsyur itu terdapat lapangan Gasibu yang luas dan dilengkapi dengan jogging track dan perpustakaan kecil di salah satu sudutnya. Banyak warga kota yang berolahraga di sini, atau anak-anak sekolah yang berkerumun di gedung perpustakaan yang apik itu. Fasilitas kota ini memang lengkap banget yah? Selain itu, karena berada tak jauh dari sana, saya sempat juga mengintip museum Geologi Bandung dari dekat, tapi, saya akhirnya tidak memutuskan untuk masuk meningat hari semakin sore.

18 Suasana olahraga di lapangan Gasibu

19 Perpustakaan Gasibu

20 Museum Geologi Bandung

Spot terakhir yang saya kunjungi di Bandung akhirnya jatuh ke kawasan ITB dan Cihampelas yang dilalui oleh satu jalur angkot. Sempat merasakan macetnya lalu lintas ke ITB di sore hari, setidaknya saya akhirnya merasakan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa kampus ternama itu ketika mobil angkutan kota kami berkeliling sambil menaik turunkan penumpang yang sebagian besar sepertinya adalah mahasiswa ITB. Notabene, saya juga pernah bermimpi kuliah di sini, meskipun akhirnya takdir berkata lain. Hehe. Namun, karena pensaran dengan lokasi pusat kerajinan tangan dan oleh-oleh Bandung, saya memilih untuk bertahan di atas angkot hingga akhirnya sampai di kawasan Cihampelas. Kawasan ini ramai sekali, ibarat pasarnya para turis. Tapi, saya lebih memilih turun di depan Cihampelas Walk dan masuk ke dalam komplek pertokoan modern di tempat itu sembari mencuci mata ketika sore. Tempat ini lumayan ramai oleh pengunjung, dan mall ini rasanya unik karena terdapat jembatan-jembatan outdoor yang menghubungkan setiap toko-toko disana.

Singkat cerita, ketika magrib mulai menjelang dan langit sedikit agak gelap karena ditambah awan yang tiba-tiba mendung, saya memutuskan untuk mulai melangkah menuju stasiun. Tak lupa membeli beberapa mainan kecil untuk kenang-kenangan, saya kembali naik angkot hingga saya pun sampai di stasiun beberapa menit menjelang magrib. Sampai di sana, saya tak lupa check in di sebuah check in counter, lalu mencetak boarding pass kereta di sana. Alhamdulillah, prosesnya tidak lebih dari lima menit, benar-benar mudah. Saya hanya tinggal mencari mesin check in, lalu mengetikkan kode booking yang tercantum pada bukti transaksi pembelian tiket di aplikasi PT KAI di mesin tersebut, dan sret-sret, boarding pass kereta menuju Jogja langsung tercetak.

21 Stasiun Bandung

22 Boarding Pass kereta

Alhamdulillah, akhirnya perjalanan ke Bandung kali ini sesuai dengan target. Sebelum berangkat, saya sempat kembali mengisi perut di warung siomay Bandung yang ada di dekat stasiun dan shalat di mushalla stasiun bersama ratusan calon penumpang lainnya. Tak lupa berkirim kabar pada orang tua di rumah dan menceritakan pengalaman hari ini, rasanya lega sekali. Untuk menghemat pengeluaran, dan sesuai dengan travel plan yang sudah saya siapkan tempo hari, malam ini saya memutuskan untuk tidur di atas kereta eksekutif yang membawa saya dari Bandung ke Jogja. Perjalanan jauh akan segera saya tempuh, yaitu berangkat pukul 19.30, dan dijadwalkan tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 03.25 malam. Mudah-mudahan, sampai di Jogja, Allah akan memberikan saya kemudahan, meskipun saya belum tahu pasti, apa yang akan terjadi di kota itu nanti.

Akhirnya, di kala waktu seperti ini, sepertinya saya benar-benar bisa merasakan seperti apa itu arti harapan dan perjuangan. Rupanya, keduanya adalah teman dekat perjalanan. Memikirkan pengalaman singkat di ibukota Pasundan hari ini, banyak memang inspirasi dan wawasan baru yang saya temui. Setidaknya, saya bisa belajar untuk mandiri dan berjuang dengan keringat sendiri. Saya hanya tidak sabar, seperti apakah kota Yogyakarta yang akan saya temui esok hari, dan seperti apa pula ceritanya. Tapi yang jelas, ketika kereta api ini beranjak pergi meninggalkan Bandung, tampaknya kota ini memang akan selalu ngangenin. Hatur nuhun pisan, Bandung 😀

NB: Ada yang udah pernah ke Bandung? Btw tempat apa yang paling ngangenin? 🙂

#to be continued.

Advertisements

2 thoughts on “Hatur Nuhun, Bandung #BackpackerStories – Part 7

  1. Biar cuma punya waktu terbatas, perjalanan bisa jadi lebih efektif kalau direncanakan dengan baik, ya, An? Bandung memang ngenganin sih, bahkan walau waktu terakhir ke sana belum di bawah kepemimpinan Kang Emil haha. Yang asyik waktu itu adalah ITB dan Masjid Salmannya, toko buku loak di jalan cikapundung, Gedung Merdeka dan Museum Asia Afrika, sama Cihampelas. Sayangnya malah belum sempat ke Alun-alun dan Masjid Raya Bandung, cuma lihat-lihat dari pinggir jalan 😦

    Oya, mohon maaf lahir dan bathin An, selamat menunaikan ibadah puasa..

    Liked by 1 person

    1. Iya alhamdulillah Mi. Sebenarnya kurang banget cuma keliling Bandung selama sehari, banyak spot yang masih bikin penasaran. Mudah-mudahan suatu saat bisa exploring Bandung lebih luas lagi.

      Maaf lahir batin juga Mi 😁 selamat menjalankan ibadah Ramadhan

      Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s