Kembali ke Jogja Setelah Sekian Lama #BackpackerStories – Part 8

Kali ini ingin melanjutkan cerita perjalanan yang sempat terputus beberapa waktu lalu. Selasa, 24 Januari 2017, sekitar pukul 19.30 malam. Ketika itu saya baru saja berangkat dari Stasiun Bandung pada malam hari, bertolak hendak menuju destinasi berikutnya yaitu Kota Yogyakarta.

Usai memesan tiket kereta menuju Stasiun Yogyakarta, saya pun menaiki kereta eksekutif dan berniat menghabiskan malam sambil tidur di bangku kereta yang Alhamdulillah lumayan empuk. Perjalanan dari Bandung menuju Jogja menghabiskan waktu kira-kira 8 jam, saya kira waktu yang ideal untuk beristirahat sejenak setelah lelah berjalan mengelilingi Kota Bandung di siang hari.

Alhamdulillah, tepat pukul 03.25 malam menjelang subuh, saya tiba di Stasiun Yogyakarta. Awalnya saya agak heran, kenapa ya stasiun ini agak berubah dari yang pernah saya kunjungi di tahun 2012 silam saat pertama kali datang ke Jogja? Ceritanya di sini. Waktu itu dalam benak saya, setiba di stasiun saya bisa memakai toilet untuk melepas hajat dan mandi, tapi sekarang, kereta itu malah membawa saya berhenti di peron belakang stasiun dan memaksa saya untuk turun di halaman belakang stasiun Yogyakarta. Akhirnya, rencana saya untuk bersih-bersih di stasiun karam sudah.😑

Waktu itu masih gelap, tapi kota ini seperti tidak pernah sepi. Baru saja saya turun dari kereta, puluhan tukang ojek, becak dorong, sopir travel, dan lain-lain ikut mengerumuni penumpang yang baru saja turun dari kereta. Karena saya tak punya arah tujuan yang jelas, ditambah lagi karena risiko yang cukup besar jika menaiki kendaraan-kendaraan umum di malam seperti ini, saya lebih memilih berjalan kaki keluar dari stasiun. Orang-orang Jogja yang menawarkan jasa mereka benar-benar gigih, mereka terus saja menawarkan dengan logat Jogja yang kental dan pelan, tapi hati mereka kekeuh banget. Saya jadi kurang nyaman. Sepertinya mereka tahu mana yang pendatang mana yang tidak. Apalagi saya membawa ransel yang lumayan berat. Sepanjang jalan saya selalu dicegat. 😅

Saat tiba di Jogja, saya langsung mengabari orang tua via Line. Tak lama kemudian saya akhirnya berhasil keluar dari stasiun. Saat saya keluar dari pintu gerbang, saya benar-benar bingung. Keramaian tadi perlahan-lahan berkurang ketika penumpang lain sudah berpencar sesuai dengan arah tujuan mereka masing-masing, sementara di depan saya kini hanya ada jalan beraspal panjang yang terasa lengang dan senyap-senyap bercahaya lampu temaram. Satu dua orang masih tampak duduk di pinggir trotoar, tetap saja, menawarkan jasa ojek setiap kali saya lewat. Karena capek meladeni mereka satu per satu, saya memilih menghindari jalan besar dan mulai melihat-lihat gang sempit di dekat sana. Kebetulan, usai melihat google maps, saya menemukan lokasi sebuah masjid yang terletak di Jalan Malioboro. Ya, Masjid Malioboro. Secara, jalan yang paling termahsyur di Jogja itu terletak tidak jauh dari Stasiun Yogyakarta. Saya bisa berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer menuju masjid. Tentu saja, melewati gang-gang sempit yang mempersingkat jarak tempuh perjalanan dan menghindarkan saya dari para tukang ojek yang kekeuh. 😂

Selama melewati gang-gang sempit itu, saya bisa tahu kalau di tempat ini banyak sekali toko-toko jasa laundry yang berkeliaran. Dalam hati saya berpikir, lumayan untuk mencuci semua pakaian kotor yang saya susun di dalam tas. Tapi, karena masih tutup, saya memilih lanjut berjalan hingga sampai di Jalan Malioboro yang masih lengang. Tak jauh dari sana, saya akhirnya melihat Masjid mungil yang cukup indah di pinggir trotoar besar jalan Malioboro. Tapi sayang, masjidnya masih ditutup oleh pagar besi. Tapi saya bersyukur sekali, di depan masjid itu terdapat toilet dan kamar mandi umum yang murah meriah. Saya pun akhirnya bersih-bersih di sana sampai saya mendengar suara azan Subuh berkumandang dari masjid yang kini telah terbuka.

Alhamdulillah, sekarang badan saya sudah wangi kembali. Saya juga sudah segar usai tidur di atas kereta. Hari ini sepertinya akan cerah, saya benar-benar bersemangat untuk mulai menjelajah Jogja. Tapi, sebelum itu, shalat Subuh adalah momen yang sangat saya tunggu-tunggu. Masuk ke masjid, Alhamdulillah, saya bisa menunaikan shalat subuh berjama’ah bersama muslim yang lain. Rasanya, nikmat sekali.😇

Shalat Subuh di Masjid Malioboro

Tak lama usai shalat dan menyempatkan diri tilawah sebentar menjelang langit membiru meskipun masih pukul 5 subuh, saya kemudian berpikir untuk menitipkan barang-barang ini di masjid. Ketika hendak meletakkan tas di pinggir masjid itu, seorang bapak menghapiri saya, mencegah saya untuk meninggalkan barang sembarangan.

“Ranselnya dititip di lemari saja Mas, di sini ramai, rawan pencurian,” ujar si Bapak yang ramah itu, menunjuk beberapa loker yang tersedia di sisi belakang masjid. Setiap loker itu memiliki satu kunci tersendiri.

Saya mengangguk, “Boleh Pak?” saya masih ragu.

Ndak apa-apa saya rasa,” sepertinya si Bapak juga kurang yakin.

Akhirnya, saya mengurungkan niat untuk meletakkan tas di dalam masjid dan beranjak keluar menuju loker sesuai petunjuk bapak. Tak lama kemudian, seorang pemuda yang masih muda mencegat saya. Mungkin salah seorang pengurus masjid.

“Mau ngapain Mas?!” tanya pemuda itu penuh curiga dengan tatapan aneh. Saya benar-benar merasa tidak nyaman.

“Apa boleh saya menitip tas saya sementara di sini?” tanya saya, “Saya ingin keluar keliling Malioboro dulu, saya dari jauh, belum punya penginapan.”

“Oh, terserah Mas, tapi saya tidak tanggung jawab ya!” jawabnya langsung dengan mimik yang kurang mengenakan dan langsung memalingkan muka pergi ke sebuah kamar.

Dalam hati saya terheran, kok ketus begitu? Akhirnya saya tidak jadi meletakkan tas di sana, memilih berbalik arah. Tiba-tiba jama’ah lain yang tak sengaja melihat kejadian itu ikut berkomentar melihat saya, “Ya memang gak boleh Mas!” Saya makin merasa tersudut, lalu memilih kembali mengatur napas sambil duduk di tangga teras, mengatur emosi yang tersadar mulai sedikit naik. Si bapak yang menawarkan tadi ikut menghela napas, duduk di samping saya.

“Maafkan saya ya Mas, pagi-pagi jadi bikin masalah,” lanjut si Bapak tidak enak.

“Ah, tidak apa-apa Pak,” saya berusaha tersenyum.

“Sabar ya Mas, orang-orang sini memang begitu,” ujar si Bapak yang sepertinya juga tampak mengeluarkan uneg-unegnya, “saya hanya bisa mengurut dada kalau sudah diketusi seperti itu.”

Saya hanya terseyum menyangkal, ini sama sekali bukan masalah.

“Ngomong-ngomong Mas dari mana?” tanya si Bapak kemudian.

“Saya dari Padang Pak,” lanjut saya memulai percakapan sedikit panjang mengenai perjalanan saya sekarang. Si Bapak ikut mendengarkan sampai beliau bercerita tentang perjalannya dari Sumatera Barat beberapa minggu yang lalu. Rupanya si Bapak ini sempat tinggal sekitar satu minggu di Payakumbuh. Beliau bekerja sebagai supir truk yang mengantarkan barang hasil kerajinan antar kota dan provinsi. Beliau mengaku asli Jawa Tengah. Pengakuan beliau tentu saja membuat saya terkejut, karena Payakumbuh adalah kampung halaman saya. Saya tak menyangka bertemu beliau di masjid Malioboro ini.

“Wah, saya asli Payakumbuh Pak,” ujar saya ketika mood saya mulai sedikit membaik mendengar bapak ini menyebut kampung halaman saya.

“Oh ya?” ucap si Bapak, “Wah, jauh sekali Mas kesini,” komentar beliau.

Percakapan itu mulai sedikit melebar.

“Orang Sumbar beda sekali dengan orang-orang sini Mas, di sana saya merasa diperlakukan istimewa sebagai orang pendatang dari Jawa. Mereka ramah-ramah, bahkan menawarkan saya tempat istirahat. Sementara di sini, karena tahu tak punya rumah, saya malah dihardik.” Suara si Bapak mulai gemetar, “Padahal saya sudah tiga hari ini tidak makan nasi, tapi mereka tidak sedikitpun menunjukkan belas kasihan,” tak sengaja saya melihat mata si Bapak mulai berkaca-kaca lalu menolehkan pandangannya ke arah yang lain, “Truk saya sedang rusak Mas, sampai saat ini masih di bengkel, sementara persediaan saya di sini sudah habis. Tak ada pekerjaan yang bisa saya lakukan di sini, akhirnya saya menumpang istirahat di masjid ini.”

Saya termenung mendengar ucapan si bapak. Antara percaya tidak percaya. Tapi melihat kondisi tubuhnya yang lumayan lusuh, saya lebih memilih berhusnuzon. Jika memang benar, rupanya masih ada orang yang jauh lebih menyedihkan dari saya, sendirian tanpa biaya.

Karena kasihan, saya tak bisa mengelakkan tangan membantu si Bapak, “Ini sedikit rezeki buat bapak,” ucap saya meskipun uang yang saya beri tidak banyak. “Semoga bisa membantu.”

Si Bapak terharu, begitu juga saya. Rasanya lega membantu si Bapak yang tampaknya memang sedang kesulitan ini.

“Terima kasih banyak Mas,” si Bapak langsung menjabat tangan saya lumat-lumat.

“Sama-sama Pak.”

“Mas setelah ini mau kemana? Biar saya bantu carikan penginapan ya? Saya lihat di sini banyak yang bagus dan terjangkau, barangkali saya bisa menolong,” ujar si Bapak tersenyum.

“Ah, tidak usah Pak, terima kasih, biar saya saja yang mencari sendiri. Lagipula saya ingin jalan-jalan dulu sebentar, menikmati Malioboro.”

“Oh, begitu ya Mas. Baiklah Mas,” ujar si Bapak ikut berdiri ketika saya hendak beranjak melangkah pergi usai memakai sepatu.

Ya, begitulah kurang lebih percakapan singkat ketika langit Jojga mulai cerah disinari matahari pagi. Meskipun awalnya merasa tidak nyaman karena dihardik orang-orang asing, saya berusaha memendam perasaan kesal itu dalam-dalam. Hari yang berharga ini terlalu sayang dihabiskan untuk memikirkan perlakuan orang yang tidak menyenangkan, lebih baik Malioboro yang indah ini saya nikmati dengan senang hati. Semuanya pasti ada hikmah, insyaallah.😀

IMG_2124
Masjid Malioboro

Suasana Malioboro di pagi hari

Akhirnya, pagi itu saya sarapan Nasi gudeg Jogja di pinggir jalan Malioboro. Rasanya enak meskipun agak manis-manis gitu, beda dengan samba lado urang Minang. Tapi tak apalah, namanya juga musafir, sayang jika tidak merasakan makanan khas di sepanjang perjalanan. Biarpun sendiri, duduk bercengkrama sambil menyuap nasi gudeg bersama orang-orang lokal yang jalan-jalan santai di Malioboro ternyata menyenangkan. Rupanya tak semua orang Jogja seperti yang sempat saya bayangkan. Mereka mungkin sangat taat dengan aturan, jika ada yang melanggar maka serentak semua mengajukan perlawanan. Ya, saya rasa itu sifat yang bagus, semuanya pasti ada nilai positifnya. Setidaknya perjalanan singkat ini sedikit banyak mengajarkan saya akan pepatah Minang dulu, Dima bumi di pijak, di sinan langik dijunjuang. Artinya, dimana pun kita tinggal, wajib bagi kita untuk menghormati adat istiadat setempat.

Selamat datang di Jogja kawan!

#to be continued insyaallah.

Nasi Gudeg Jogja

Advertisements

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s