Jalan Kaki ke Candi Prambanan #BackpackerStories – Part 9

Rabu, 25 Januari 2017, pukul 08.00 WIB. Jogjakarta pagi itu begitu cerah. Usai menyantap nasi gudeg di Malioboro, saya mulai melangkahkan kaki menelusuri beberapa jalan kecil di persimpangan yang di sisi kiri dan kanannya berdiri rumah-rumah, toko-toko, dan bangunan-bangunan lainnya yang nyaris berdempet-dempet. Tujuan saya adalah sebuah hotel sederhana di dekat stasiun yang baru saja saya booking via online seharga Rp 120.000,- per malam. Saya berencana menginap dua malam di sana mengingat Jogja memiliki destinasi yang lumayan banyak dan tak kan cukup dikunjungi dalam satu hari saja. Lagipula, hal ini saya lakukan juga karena menimbang rencana saya untuk berangkat ke Bali dari Surabaya pada hari Sabtu ketika tiket pesawat sudah turun. *Ya, kebetulan hari Jum’at bertepatan dengan perayaan tahun baru Imlek, jadinya harga tiket pesawat nyaris naik dua kali lipat. Maka dari itu saya lebih memilih mengatur jadwal agar saya berangkat ke Bali dari Surabaya pada hari Sabtu. 😁

Suasana jalan kecil kota Jogja

Ketika saya sampai di hotel yang dituju dan bertemu dengan resepsionis, saya berniat langsung check-in. Tapi, rupanya check-in baru dibuka lewat jam 1 siang, karena mereka mesti mempersiapkan kamar dulu sebelum saya tempati. Karena sudah terlanjur sampai, saya memilih menitipkan ransel di meja resepsionis dan jalan-jalan dulu dengan tas kecil saja. Saya kemudian menelusuri tepian trotoar sampai tiba di halte bus Trans-Jogja. Di sana duduk seorang petugas perempuan yang ramah sekali. Saya lalu bertanya padanya mengenai banyak hal tentang bus Trans-Jogja hingga akhirnya berniat untuk naik. Rupanya, Trans-Jogja ini adalah salah satu sistem transportasi bus dalam kota yang terintegrasi dengan sebuah kartu khusus yang bisa dibeli langsung di halte, mirip Trans-Jakarta, tapi lebih sederhana. Saya membeli kartu seharga Rp 3.500,- untuk sekali jalan dan bebas berhenti di halte mana saja yang saya mau. *Kurang lebih mirip dengan Trans-Padang. 😁

Menunggu bis di Halte Trans Jogja

Tak lama usai menunggu, bus pertama saya pun datang. Saya langsung naik ke atasnya dan memilih duduk di sebuah bangku paling belakang di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan kota selama perjalanan. Di dalamnya saya bisa merasakan denyut nadi kehidupan orang-orang Jogja yang juga ikut naik bus. Sambil melihat-lihat peta rute bus ini akan melaju, saya mencoba menghapal denah kota Jogja melalui Google Maps. Rupanya bus ini melewati pusat-pusat keramaian penting di kota, termasuk jalan Malioboro. Menikmati pemandangan kota dari bus yang ber-AC ini, rasanya nyaman sekali. Jogja benar-benar indah. 😍

Suasana di atas bis Trans Jogja

Setelah beberapa menit duduk di atas bus, niat itu pun muncul. Sesuai travel plan, tempat yang paling ideal untuk dikunjungi pagi ini mungkin adalah tempat yang agak jauh dari pusat kota. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi Candi Prambanan. Candi Prambanan sendiri terletak tepat di perbatasan antara Provinsi DIY dengan Jawa Tengah. Beruntung, bus Trans-Jogja memiliki rute yang jauh sampai ke dekat perbatasan yang berada di sebelah timur, tapi saya harus dua kali naik bus dengan rute berbeda. Dari bus yang saya naiki sekarang ini, saya berhenti di halte Bandara Adisucipto, lalu turun sebentar melihat-lihat bandara dan numpang di toilet, hehe. *alibi. Tak lama kemudian saya mengambil rute Trans-Jogja lainnya yang melewati Terminal Prambanan. Ya, di sanalah akhirnya saya turun.
Sampai di terminal, biasa, hal pertama kali yang saya temui adalah tukang ojek yang berseliweran menawarkan jasa tumpangan. 😂 Satu dua orang hingga mungkin genap sepuluh tak kenal lelah menawarkan saya tumpangan ke Candi Prambanan.

“Ayo Mas, naik ojek saya saja, Prambanan itu jauh lho Mas, dua kilo dari sini,” bujuk seorang Mas-Mas tukang ojek yang membuntuti langkah saya kemana pergi. Saya hanya bisa berusaha menolak dengan senyum, takut jadi korban permainan harga. *Selalu gitu, ckck. Maaf ya Mas. 😂 Tidak hanya tukang ojek, juga ada beberapa pengemudi delman yang menawarkan tumpangan, tapi sekali lagi, saya sudah memutuskan untuk berjalan kaki saja. Toh, saya sudah tahu seberapa jauh Candi Prambanan dari sini lewat Google Maps. Ckck. Ya, sekitar 2 km memang. Tapi, mengingat saya sudah terbiasa berjalan jauh, 2 km seolah bukan masalah lagi. 😁

Di tepi trotoar jalan raya yang melewati gerbang perbatasan Provinsi DIY dengan Jawa Tengah, saya menapaki langkah. Cuaca yang cerah berawan semakin menguatkan semangat saya untuk terus berjalan, lagipula di sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan baru yang tak pernah saya lihat. Taman hijau di sisi kiri yang berhutan lebat berkawan dengan bangunan-bangunan khas Jawa di sisi kanan. Saya terus berjalan sampai melihat sebuah masjid besar yang indah di seberang jalan yang menandai dekatnya gerbang masuk menuju Candi Prambanan.

Perbatasan Provinsi DIY dengan Jawa Tengah
Masjid di perbatasan, suka dengan arsitekturnya

Alhamdulillah, tak lama kemudian saya akhirnya tiba di Candi Prambanan, tempat yang sejak dulu paling membuat saya penasaran. Bagaimana tidak, saya belum pernah sekalipun melihat candi apapun seumur hidup secara langsung, dan tentu saja pengalaman kali ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa. Ketika sampai di gerbang, saya berjalan ikut mengantri tiket bersama para turis lainnya yang datang dari berbagai daerah dan bahkan mancanegara. Harga masuk tiketnya lumayan terjangkau, untuk wisata kelas dunia, harga Rp 30.000,- untuk single trip bagi saya tidak terlalu mahal.

Tiket masuk komplek Candi Prambanan

Saat pertama kali masuk, kita akan disuguhi dengan sebuah pelataran terbuka hijau yang memuat beberapa situs unik seperti bangunan-bangunan khas Jawa pada umumnya. Di sana juga ada peta lokasi Candi Prambanan dan beberapa papan penunjuk jalan. Secara administratif, candi ini rupanya berada di atas dua provinsi lho. Separohnya di kabupaten Sleman provinsi DIY, separohnya lagi di masuk ke wilayah Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Sampai sekarang saya masih bingung kalau mengatakan candi Prambanan itu di Jogja atau di Jawa Tengah. Ckck.

Taman terbuka setelah gerbang masuk pintu
Welcome sign

Usai mengitari jalan di taman pintu gerbang, alhamdulillah, akhirnya saya puas sekali, saat pertama kali melihat gugusan candi-candi yang megah itu menjulang tinggi dari kejauhan. Saya benar-benar kagum. Inilah dia Candi Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Menurut sejarahnya, candi ini didirikan pada abad ke-9 sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan –Raja keenam Kerajaan Medang/ Mataram Kuno, dari keluarga/wangsa Sanjaya- yang menganut agama Hindu sebagai tandingan Candi Borobudur, candi Budha terbesar di dunia yang didirikan oleh wangsa Syailendra. Pembangunan candi ini kemudian disempurnakan oleh raja-raja Mataram kuno selanjutnya yakni raja Lokapala dan Balitung Maha Sambu. Tinggi candi ini mencapai 54 meter. Besar sekali ya?

Wonderful Prambanan 😍
Candi Prambanan

Saat saya melangkah masuk ke dalam melewati pintu pagar pembatas yang dijaga ketat petugas, saya kemudian bisa melihat dengan jelas struktur candi ini dari dekat. Komplek Candi Prambanan ini terdiri dari banyak candi, tapi yang paling besar adalah 3 buah candi Trimurti, yaitu candi Siwa, Wisnu, dan Brahma, yang merupakan nama-nama dari dewa-dewa inti kepercayaan agama Hindu. Candi-candi lain yang mendampinginya disebut candi Wahana, antara lain candi Nandi, Garuda dan Angsa. Ada juga beberapa candi kecil di antara barisan-barisan candi Trimurti dan Wahana, yaitu candi Apit sebanyak dua buah dan candi Kelir sebanyak empat buah. Selain itu relief masing-masing candi juga unik, sulit untuk dijelaskan. Sambil mengagumi arsitekturnya yang rumit ini, saya terus berkeliling di halaman candi yang cukup luas dan sesekali masuk ke dalamnya. Di dalamnya terdapat arca dewa-dewa Hindu yang lebih besar. Selain itu, pengunjung waktu itu semakin lama semakin ramai seiring matahari beranjak naik, mengantri untuk ikut masuk ke dalam candi. Rupanya animo pengunjung juga besar sekali.

Suasana dari atas salah satu Candi
Salah satu relief di dinding candi Prambanan

Akhirnya, Alhamdulillah, saya bersyukur sekali akhirnya bisa melihat Candi Prambanan ini dari dekat. Saya cukup betah menghabiskan waktu hingga siang hari di sana hingga kaki mulai terasa penat berjalan. Setidaknya, pengalaman kali ini membuat saya semakin ingin mengeksplor tanah air lebih banyak. Indonesia benar-benar kaya akan situs-situs sejarah. Lagipula, masih ada satu candi lagi yang paling membuat saya penasaran, yaitu candi Borobudur yang lokasinya berada cukup jauh. Untuk sekarang, mengingat masih ada satu hari tersisa di Jogja, tak ada salahnya jika saya kemudian memilih berkeliling di pusat kota terlebih dulu. Lagipula, saya masih ingin berlama-lama di Jogja, menikmati setiap suguhan yang bisa saya cicipi sampai genap dua hari ke depan. Mudah-mudahan saya bisa mengenal Jogja lebih akrab setelah ini, kota yang mereka sebut dengan slogan Jogja Istimewa. 😊

#to be continued insyaAllah.

Advertisements

4 thoughts on “Jalan Kaki ke Candi Prambanan #BackpackerStories – Part 9

  1. Baca postingan ini sekalian pemanasan sebelum benar-benar berangkat ke Jogja nanti. Berarti TransJogja bisa dijadikan andalan untuk transportasi yang murah dan aman ya.. dan baru tahu juga Candi Prambanan itu terletak di antara dua provinsi.

    Oya, mohon maaf lahir dan bathin, An. Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga dipertemukan lagi dengan Ramadhan selanjutnya 🙂

    Like

    1. Iya Mi, trans jogja cukup bisa diandalkan, karena setahu aan di sana memang gak ada angkot dan transportasi dalam kota lain selain trans jogja ini, hhe. *pengecualian untuk becak, ojek, dll.

      Sama-sama Mi, maaf lahir batin ya 😇

      Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s