Pertama Kali ke Borobudur #BackpackerStories – Part 11

Hari kedua di Jogja. Usai diguyur hujan sejak sore hari kemarin, kota ini mulai kembali cerah dan terasa sejuk. Pagi ini saya berencana berangkat ke luar kota menuju Candi Borobudur. Candi ini terletak di barat laut dari pusat kota Jogja, melewati perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Karena jauh, saya tak mungkin naik Trans Jogja seperti ke Candi Prambanan. Setelah browsing, saya tahu jika menuju Borobudur bisa menaiki bus di terminal Jombor. Terminal ini terletak di sebelah utara dari pusat kota dan dapat dicapai dengan Trans Jogja.

Berangkat sekitar pukul 7.30, terlebih dulu saya berniat menitipkan baju kotor saya di laundry yang berada tak jauh di dekat hotel tempat saya menginap. Ya, bekal pakaian saya semua sudah habis, tapi syukurlah saya tidak kehilangan akal. Tadi malam, ketika gerimis masih belum sepenuhnya reda, saya sempat keluar lagi dari hotel menuju Malioboro demi mencari beberapa helai kaos oblong untuk dipakai besok hari. Kebetulan sekali, sekalian beli baju untuk kenang-kenangan. Akhirnya pagi itu, saya sudah siap dengan baju kaos yang baru. Hehe. Tapi ketika mengantar pakaian kotor itu ke laundry, rupanya belum buka, terpaksa niat itu saya urungkan dulu. Mudah-mudahan nanti siang masih sempat.

Singkat cerita, saya kemudian naik Trans Jogja ke Terminal Jombor dan langsung disambut oleh seorang stokar bus yang berteriak-teriak, “Borobudur!” Saya jadi kaget, sontak saja saya langsung menoleh ke stokar itu dan melambaikan tangan. Rupanya, bus ke Borobudur baru saja akan berangkat. Saya sempat melihat bus itu sudah mulai bergerak meninggalkan terminal, tapi berhasil dicegat sang stokar yang melihat saya tergopoh-gopoh turun dan berlari dari halte Trans Jogja menaiki bus tersebut. Syukurlah, saya bisa naik tepat waktu.

Naik bus ke Borobudur cukup menyenangkan. Hargayanya lumayan, Rp 20.000,-. Meski busnya sederhana dan tidak ber-AC, saya bisa merasakan aura kehidupan orang-orang Jogja yang juga ikut menaiki bus. Sebagian besar mereka adalah ibu-ibu lansia dan bapak-bapak, mereka sesekali berbincang-bincang dalam bahasa Jawa yang sama sekali tidak saya mengerti. Saya waktu itu memilih duduk di bangku yang terdekat dengan pintu masuk depan, tepat di samping jendela sebelah kiri. Angin yang masuk dari pintu saat bus berjalan terasa cukup kencang, tapi saya suka. Apalagi di sepanjang perjalanan saya bisa menyaksikan pemandangan sepanjang jalan dengan lebih leluasa. Udara makin lama juga makin sejuk, karena kawasan Borobudur berada di ketinggian, melewati kaki gunung Merapi. Gunung berujung runcing itu indah sekali dari jauh.

Sekitar 1 jam kemudian, Alhamdulillah saya akhirnya tiba di Terminal Borobudur usai beberapa kali transit di terminal-terminal sepanjang kota kecil yang dilewati dari terminal Jombor. Rupanya, di pulau Jawa ini hampir setiap kotanya memiliki terminal bus yang masih beroperasi. Di setiap terminal bus itu lalu berhenti, kemudian menaik dan menurunkan penumpangnya. Sesekali pedagang asongan lewat, menawarkan makanan yang cukup aneh-aneh. Sampai akhirnya saya membeli sebungkus gethuk warna warni yang rasanya ambar-ambar manis.

1 Terminal Borobudur

Terminal Borobudur pagi itu cukup sepi, tapi sama seperti terminal-terminal pada umumnya, ketika saya turun dari bus pasti akan ada selalu orang-orang yang menawarkan jasa tumpangan, baik itu becak, ojek, dan lain-lain. Karena saya masih ragu, saya kemudian memilih berjalan sejenak keluar terminal sampai seorang bapak mencegat saya. Orang Jawa benar-benar gigih menawarkan, termasuk bapak ini.

“Mas, mau kemana?” tanya si bapak. Saya jadi segan tidak menjawab.

“Ke Borobudur Pak.”

“Kalau begitu naik becak saya saja ya Mas, dua ribu nyampe gerbang.”

Saya berharap tidak salah dengar, dalam hati saya cukup terkejut, murah banget! Saya langsung setuju tanpa pikir panjang.

Akhirnya, saya naik becak ke pintu gerbang komplek Candi Borobudur yang sebenarnya dekat banget dengan terminal Borobudur, tak sampai satu kilometer rasanya. Melewati pasar tradisional Borobudur, saya akhirnya tiba tepat di pintu gerbang candi 5 menit kemudian.

“Sudah sampai Mas, ini dia Borobudur,” ucap si Bapak. Saya pun senang, langsung turun dan merogoh dompet memberikan uang dua ribu rupiah.

“Mas, ini mah kurang, sepuluh rebu Mas!” tiba-tiba si Bapak nyeletuk. Saya jadi kaget. Tadinya lembut banget.

“Lha, tadi bapak bilang dua ribu bukan?” tanya saya keheranan.

“Siapa yang bilang? Sepuluh ribu Mas!” si Bapak membela diri.

Akhirnya saya nyerah. Ckck. Saya yakin sekali tadi si bapak bilang dua ribu, rupanya sepuluh ribu. Entah kuping saya yang salah atau saya kena tipu. Wkwk. Wallahu musta’an. Ah, tidak apa-apalah, mungkin udah rezeki si bapak. Hati saya bilang begitu. Saya akhirnya membayar beliau Rp 10.000,- lalu beliau langsung pergi. Saya cuma bisa termenung sejenak menertawakan diri sendiri.

Mencoba melupakan kejadian konyol itu sejenak, saya kemudian masuk ke komplek candi Borobudur. Melewati gerbang saya belum dipungut biaya, langsung disuruh masuk. Saya kemudian menemukan papan informasi berisi peta Borobudur. Rupanya di tempat ini tidak cuma hanya ada candi, tapi ada berbagai musum dan taman-taman.

2 Peta Kompleks Candi Borobudur

Ketika masuk, saya menemukan arus manusia melewati semacam tempat antrian. Rupanya tempat pembelian tiket ada di sana. Saya lalu ikut mengantri bersama orang-orang yang waktu itu belum terlalu ramai. Harga tiketnya lumayan terjangkau, sama seperti di Prambanan, Rp. 30.000,- sekali masuk.

3 Mengantri beli tiket masuk Borobudur

Usai membeli tiket, saya kemudian diarahkan berjalan menuju pintu gerbang lainnya yang kini mengarah ke sebuah taman yang cukup luas. Ketika pertama kali masuk bersama wisatawan yang lain yang pada umumnya anak-anak sekolah, turis lokal dan mancanegara, saya langsung disambut oleh welcome sign bertuliskan “Borobudur”. Rupanya, pagi-pagi begini sudah crowded.

4 Pardon my selfie sukaesih, hehe. Ini cukup langka sodara-sodara.

Tak lama kemudian, saya meneruskan langkah memasuki sebuah jalur pedestrian panjang melewati taman rumput dan pepohonan yang sangat luas. Beberapa langkah kemudian, akhirnya saya melihat puncak candi Borobudur dari kejauhan. Wah, ini pengalaman pertama melihatnya. Magestic sekali melihatnya dari jauh! Akhirnyaa, sampai juga di Borobudur.

5 Puncak Borobudur yang terlihat dari kejauhan

Mengikuti arus langkah manusia, saya akhirnya semakin dekat dengan candi yang pernah menjadi salah satu keajaiban dunia itu. Di beberapa momen, saya sempat melihat beberapa biksu budha dengan pakaian khas oranye mereka sedang berbincang-bincang dengan para pengunjung dari luar negri. Ini juga pengalaman pertama saya melihat biksu Budha itu dari dekat. Mereka cukup fasih berbahasa Inggris, dan tampak ramah menyapa pengunjung.

6 Ada biksu! 🙂

Sedikit lagi maju melangkah, saya kemudian menemukan sebuah tempat pemakaian sarung. Istilahnya sedikit menggelitik, “sarungisasi”, hehe. Entahlah ada di KBBI atau tidak, yang jelas di tempat ini pengunjung bisa memakai sarung khusus sebelum masuk ke bangunan utama Candi Borobudur. Beberapa petugas tampak stand by di sana. Karena saya lihat tidak semua orang yang memakai sarung, saya tidak begitu tertarik, barangkali memang gratis, tapi tetap saja. Ckck. Lain cerita kalau ke sana rame-rame, mungkin bagus sekali untuk dijadikan properti foto bareng. Tapi tetap, candi ini adalah tempat ibadah bagi umat Budha, oleh sebab itu, pengunjung wajib berpakaian sopan. Mereka yang berpakaian agak minim disarankan memakai sarung dulu sebelum masuk.

7 Tempat Sarungisasi

Akhirnya, tak lama kemudian saya tiba di depan tangga masuk menuju bangunan candi. Rupanya, ada aturan tersendiri untuk memasuki candi ini. Pengunjung dapat membaca aturan itu di sebuah papan besar yang berdiri tak jauh di depan pintu gerbang Timur, tempat pengunjung masuk. Saya baru tahu ada aturan seperti ini. Jadi, pengunjung mulai masuk dari pintu sebelah timur ini, lalu berjalan berputar searah jarum jam di sepanjang lorong candi (Pradaksina) sambil perlahan naik tangga ke lantai berikutnya hingga sampai ke puncak candi di tengah-tengah. Seperti tawaf ya? Tapi arahnya berlawanan. Saya tidak tahu maksudnya, tapi cara ini cukup memudahkan pengunjung mengitari candi dengan tertib.

8 Pradaksina, tata tertib masuk ke Candi Borobudur

Selain itu, Candi Borobudur ini adalah situs warisan budaya dunia yang sudah disertifikasi oleh Unesco dan dilindungi dari bahaya perang atau semacamnya. Kita bisa membaca papan pengumumannya juga tak jauh dari papan informasi tadi.

9 Borobudur masuk Situs Warisan Dunia

Akhirnya, setelah puas membaca beberapa petunjuk, tibalah saatnya saya naik ke jenjang pintu masuk candi Borobudur. Candi itu kini berada tepat di depan mata saya dan dibawah telapak kaki saya. Rasanya senang sekali. Selamat datang di Candi Budha terbesar di dunia, Candi Borobudur!

10 Welcome to Borobudur Temple!

Menurut sejarahnya, Candi Borobudur ini dibangun oleh Samaratungga yang memerintah tahun 782 – 812 M pada masa Dinasti Syailendra. Tapi sumber lain ada yang menyebutkan kalau candi ini mulai dibangun sekitar 750 – 850 M. Candi ini dibangun untuk memuliakan agama Buddha Mahayana yang dianut oleh masyarakat pendukungnya pada masa itu. Borobudur terdiri dari 10 lantai yang terbagi menjadi 3 bagian teras, yaitu bagian kaki (Kamadhatu, lantai 1-2), bagian tubuh (Rupadhatu, lantai 3-9), dan bagian puncak (Arupadhatu, lantai 10). Terasnya juga terbagi menjadi 3 denah, yaitu denah bujur sangkar di lantai 3-7, denah lingkaran di lantai 8-9, dan stupa induk di lantai 10.

11 Struktur Bangunan Candi Borobudur

Ketika saya masuk, pemandangan candi ini dari dekat sangat mengesankan. Dinding-dindingnya terpahat relief-relief rumit yang sulit dibayangkan bagaimana cara orang membentuknya. Saat berjalan, saya tidak ingat lagi aturan masuk yang saya baca di awal tadi karena saking terkesannya. Wkwk. Saya kira pengunjung yang lain juga seperti itu. Saya terus berjalan menaiki tangga sambil berniat langsung menuju puncak.

12 Tangga Candi Borobudur di sisi Timur

Masya Allah, ketika saya tiba di puncak Candi, saya melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan. Gunung Merapi dan Gunung Merbabu tampak begitu memukau di sisi sebelah timur sana. Cukup lama saya bermenung menikmati suasana alam yang begitu elok ini, sampai tak lama kemudian pengunjung semakin crowded. Tapi, yang membuat paling berkesan memang struktur candi itu sendiri. Stupa-stupa ini tersusun begitu simetris dan cantik, melihatnya berpadu dengan alam membuatnya semakin epic. Beberapa sudut ketika mengitari lantai candi ini saya juga menemukan beberapa patung Buddha yang sangat legendaris. Selain itu relief-reliefnya juga rumit. Ya, inilah ciri khas Candi Borobudur.

13 Melihat pemandangan indah dari atas Candi Borobudur

14 Patung Budha di antara stupa-stupa

15 Foto ini cukup mewakili perasaan senang saya ketika itu, hehe

16 Salah satu dari ribuan relief Candi Borobudur

17 Reliefnya rumit sekali, bagaimana ya orang-orang dahulu membuatnya?

Alhamdulillah, satu jam rasanya berlalu begitu cepat mengitari semua bagian Candi Borobudur ini. Semua sisinya sungguh mengesankan. Cukup lama saya kemudian terus menikmati suasana di atas candi sampai hati saya benar-benar puas. Setelah itu, barulah saya turun dari Candi dari sisi sebelah utara dan berjalan keluar bangunan utama.

Rupanya, suguhan komplek candi ini belum berakhir. Bagian paling menyedot perhatian saya ketika itu adalah papan informasi sejarah yang menceritakan bagaimana candi raksasa ini ditemukan. Ketika itu, Sir Thomas Stamford Raffles, Gubenur Jendral Inggris, mendengar desas desus dari masyarakat bahwa di daerah Kedu ditemukan susunan batu bergambar yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Akhirnya ia mengutus Cornelius (orang Belanda pengagum seni dan sejarah) untuk membersihkannya yang kemudian berlanjut di masa Hartman pada tahun 1835. Pemugaran kemudian dimulai pada zaman Hindia Belanda oleh Theodore van Elp tahun 1907 sampai akhirnya Indonesia merdeka dan dipugar kembali di zaman presiden Soeharto dan terdaftar di situs warisan dunia UNESCO tahun 1991. Semenjak pemugaran besar-besaran di zaman Soeharto dan didukung oleh UNESCO, Borobudur kemudian kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah agama Buddha.

Puas melihat-lihat informasi sejarah yang ada, saya kemudian berjalan keluar dari bangunan utama Borobudur lalu mengunjungi beberapa tempat yang menyajikan kesenian tradisional Jawa. Tempat utamanya adalah sebuah museum bernama Museum Borobudur. Di sana terdapat beberapa batu-batu penyusun Borobudur yang tersisa lalu dipamerkan di halaman gedung utama. Di gedung itu sendiri terdapat beberapa pertunjukan kesenian Jawa yang cukup menarik perhatian saya, seperti seni membuat kendi dari tanah liat, seni membatik dan pertunjukan musik Jawa. Di sisi lain juga terdapat sebuah bangunan khusus yang menyimpan koleksi arca-arca dan relief dari candi Borobudur yang sekarang dipamerkan.

18 Museum Borobudur

19 Koleksi Batu Pagar Borobudur

20 Seorang seniman di gedung museum sedang mengajari pengunjung membuat kendi dari tanah liat

21 Belajar membatik dengan seniman di museum Borobudur

22 Pertunjukan musik gamelan yang memperkaya suasana Jawa di museum Borobudur

Ya, akhirnya perjalanan singkat ke Borobudur cukup membuat saya terkesan dan puas. Perjalanan kali ini semakin menambah wawasan dan rasa ketertarikan saya dengan sejarah. Ada banyak hal luar biasa yang telah dilakukan orang-orang masa lalu yang sejatinya bisa dijadikan pelajaran. Terutama, sejarah orang-orang dari negeri sendiri.

Borobudur memang mengesankan, tapi perjalanan saya akan terus berlanjut. Saya semakin semangat.

#To be continued in #backpackerstories, insyaAllah.

Advertisements

2 thoughts on “Pertama Kali ke Borobudur #BackpackerStories – Part 11

  1. Jadi ingat pelajaran IPS pas SD, menghafal sejarah candi Borobudur, bahwa yang mendirikannya adalah wangsa Syailendra serta tingkatan kamadhatu rupadhatu dan arupadhatu itu. Beruntung Aan bisa menyaksikannya langsung 🙂

    Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s