Intoleransi Yahudi di Masjid Al Aqsa: Belajar dari Sejarah

Batin saya begitu tersentak mendengar kabar yang beredar dari Palestina seminggu terakhir ini. Ya, kabar itu datang dari Masjidil Aqsa, masjid suci ketiga bagi umat Islam, tempat dimana Nabi Muhammad saw mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj. Masjid yang berdiri di kota Yerusalem itu kini seolah tersandra oleh kungkungan tentara Yahudi Israel. Mereka secara sewenang-wenang telah menutup kiblat pertama umat Islam itu dari segala aktivitas muslim. Umat Islam tidak lagi dizinkan berdoa, berdzikir, bahkan shalat di rumah Allah itu dengan leluasa. Bahkan niat suci mereka untuk beribadah harus dibayar dengan darah dan nyawa. Tentu saja, umat Islam manakah yang tidak tersakiti hatinya?

Masjidil Aqsa

Sejak tanah mereka “dirampas” oleh bangsa Yahudi, rakyat Palestina memang sudah mulai terusik jika hendak beribadah di Masjidil Aqsa. Intervensi tentara Zionis Israel sudah seperti penyakit kronis yang menggerogoti kebebasan dan kedamaian di sana. Kini, penyakit itu seolah-olah sedang mengalami eksaserbasi akut. Sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun. Dengan dalih penembakan yang dilakukan tiga orang terduga Arab pada dua orang polisi Israel pada Jumat, 14 Juli lalu, tentara Israel kini justru mencegat bahkan melarang seluruh umat Islam yang hendak beribadah di masjid suci itu. Maka sekali lagi, umat Islam manakah yang tidak merasa dizhalimi sekaligus marah?

Jika kembali membaca sejarah, kezaliman dan kelaliman yang dilakukan oleh yahudi Israel pada rakyat muslim Palestina sudah mulai terasa sejak migrasi besar-besaran bangsa Yahudi pasca perang dunia I dan II ke wilayah itu. Berdirinya negara Israel di tanah Palestina yang sudah lama dihuni masyarakat muslim merupakan salah satu peristiwa sejarah yang tidak sedap. “Pencaplokan” wilayah Palestina oleh Israel itu tidak lain karena didorong oleh banyak faktor, diantaranya faktor agama dan politik. Tentu saja, hal ini berdampak pada kehidupan masyarakat muslim Palestina yang sudah lama hidup berketurunan di wilayah itu.

Trias Kuncahyono dalam bukunya Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir menulis, sejak dulu bangsa Yahudi memang meyakini dan mengklaim bahwa Palestina merupakan tanah yang “dijanjikan Tuhan” kepada kakek moyang mereka, termasuk Yerusalem tempat berdirinya masjid Al Aqsa. Bagi orang Yahudi, Yerusalem adalah tanah warisan para leluhur. Mereka meyakini bahwa di sanalah ribuan tahun yang lalu berdiri Istana Daud -pendiri kerajaan Israel (Nabi Daud alaihissalam dalam tradisi Islam) dan Kenizah Allah -yang pertama kali dibangun oleh Solomon (Nabi Sulaiman alaihissalam dalam tradisi Islam) di puncak Gunung Moriah -yang sekarang disebut Temple Mount. Di tempat itulah, di Tembok Barat, sekarang mereka berdoa tiga kali sehari, atau jika berdoa di tempat lain, mereka harus mengarah ke sana. Kini, nilai historis wilayah itu menjadi alasan terbesar bagi Zionis untuk menguasainya meski dengan jalan peperangan dan kekerasan. Mereka seperti tidak sadar, bahwa Yerussalem juga sejatinya adalah tanah suci bagi agama samawi lainnya, yaitu Kristen dan Islam.

Ahli sejarah mencatat, Yerussalem sudah mengalami serangkaian peristiwa memilukan sejak meninggalnya raja Solomon. Silih bergantinya penguasa di tanah itu membuatnya nyaris tidak pernah hidup damai penuh toleransi kecuali dibawah masa pemerintahan Islam. Ketika dikuasai oleh Nebukadnezar dari Babilonia, peninggalan kerajaan Solomon dimusnahkan, lalu orang-orang Yahudi ditawan dan dibawa ke negeri mereka. Di bawah kekuasaan Romawi, orang-orang Yahudi ditumpas, kenizah mereka dibakar, lalu kota diganti dengan simbol-simbol pagan. Barulah pada masa Umar bin Khattab, saat Islam berhasil membebaskan negeri itu dari kerajaan Romawi, kedamaian mulai muncul. Untuk pertama kalinya sejak 500 tahun, orang-orang Yahudi diperbolehkan untuk beribadah di sana, hidup berdampingan dengan umat Islam dan Kristiani. Kedamaian kota itu terus dipertahankan di bawah kekuasaan kekhalifahan Umayah, Abbasyiah dan Fatimiyah.

Tapi ketika perang Salib pecah dan Yerussalem dikuasai tentara salib, kota itu kembali berdarah dan tertutup bagi Islam dan Yahudi. Barulah pada masa Salahudin al Ayyubi (Saladin) kota itu kembali dibebaskan, tapi setelah serangkaian peristiwa besar, kota itu pun kemudian dibumihanguskan oleh tentara Tartar dibawah pimpinan Hulaku Khan. Jauh kemudian, pada masa Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Agung, Yerussalem kembali dibangun dan kebebasan beragama kembali muncul. Namun semenjak kekhalifan Islam terakhir itu runtuh usai perang dunia I, Yerussalem mulai dikuasai Inggris dan akhirnya menjadi latar belakang munculnya Israel sekarang.

Kini, sepertinya sejarah intoleransi itu kembali menggaung di Yerusalem apalagi setelah dikuasainya tanah suci itu oleh bangsa Yahudi Israel. Entahlah apakah mereka tidak pernah belajar sejarah atau bagaimana, perlindungan yang diberikan umat Islam kepada mereka kini seakan dibalas dengan air tuba. Demi nafsu mereka, apapun yang menghalangi kini seolah menjadi sasaran. Sudahlah tanah Palestina kini mereka jajah, rakyatnya pun mereka perangi. Bahkan hak seorang beragama untuk beribadah pun mereka kungkungi. Tapi, hebatnya dunia yang katanya menjunjung hak asasi manusia ini seolah diam saja, seakan-akan mereka berkata A di depan, tapi B di belakang. Naudzubillah.

Mencermati hal diatas, sebagai seorang yang faqir ilmu, saya hanya merasa sedih dan marah melihat apa yang terjadi di Masjid Al Aqsa sekarang ini. Ini bukanlah masalah politik, sosial, atau apapun, melainkan masalah Aqidah. Islam yang kita cintai tengah disakiti, maka muslim mana yang tidak berkata hatinya? Sama saja halnya jika Masjidil Haram atau Masjid Nabawi dinodai, bukankah kita akan marah? Jika tak bisa berkorban dengan jiwa maupun harta, semoga kita masih bisa berjuang dengan do’a. Itulah senjata terbesar orang-orang mu’min, jika mereka (orang-orang Yahudi) itu mengetahui. Sesungguhnya Allah swt Maha Teliti dan tidak tidur, Ia akan selalu mendengar do’a-do’a hamba-Nya yang dizholimi. Maka, kepada-Nyalah kita mohon ampun dan pertolongan, karena pertolongan Allah itu adalah suatu keniscayaan. Wallahumustaan.

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Semoga Al Aqsa kembali damai.

#wallahu’alam.

Advertisements

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s