Hari Terakhir di Jogja, Malioboro dan Kraton Yogyakarta #BackpackerStories – Part 12

Dua hari saja di Jogja memang rasanya belum cukup untuk mengelilingi sekaligus menikmati semua tempat menarik di kota ini. Tapi, bagi saya dua hari di Jogja itu cukup istimewa. Sehabis dari Borobudur, entah kenapa saya masih saja pengen keliling di Malioboro. Sebenarnya jalan ini biasa saja, tapi antusiasme orang-orang yang mengunjungi tempat ini membuatnya berbeda.

Kronologisnya, usai turun dari bus di terminal Jombor, saya naik Trans Jogja dan tiba di Malioboro sekitar pukul satu siang. Lebih tepatnya, saya ke sini usai shalat zuhur dan jama’ ashar dulu di hotel, lalu pergi menitipkan pakaian bekas saya ke laundry yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana, dekat stasiun Yogyakarta. *Namanya juga backpackeran, baju pas-pasan. Hehe.

Malioboro seperti biasa, crowded banget. Ketika lewat di depan plang legendaris bertuliskan “JL.MALIOBORO” dan huruf-huruf jawa yang saya tak mengerti cara membacanya, (menurut Wikipedia, dibaca Dalan Malioboro) orang-orang sudah ramai berfoto selfie. Karena sayang untuk melewatkan, saya ikutan juga. Ckck. *Emang mental selfie, ckck. Sebenarnya tidak juga, saya kutip dair Mbak Asma Nadia, foto di depan destinasi bersejarah itu adalah hak traveler juga kan ya? Hehe.

1 Selamat datang kembali di Malioboro

Bagi saya, Malioboro itu unik. Pertama, dari segi desain jalannya yang sudah mulai ramah pejalan kaki. Trotoarnya kini cukup lebar untuk ditempuh dengan nyaman. Beberapa spot juga dilengkapi bangku-bangku santai, lampu-lampu hias, dan tempat-tempat berteduh. Kedua, jalan ini sudah mulai rapi dan bersih, beberapa sudut dilengkapi dengan bak sampah yang futuristik, meskipun sama sekali belum bisa menyingkirkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang berjualan di atas trotoar. Selebihnya, tempat ini secara simbolis mampu menggambarkan budaya Jogja dalam satu kali pandang, tentang delman, becak, kulinernya, ramah tamah penduduknya, dan masih banyak lagi. Dan yang lebih penting, nilai historisnya.

2 Jalan-Jalan di salah satu sudut Jalan Malioboro

Dalam bahasa sansekerta, kata Malioboro memiliki arti karangan bunga. Jalan yang membentang dari Tugu sampai Kantor Pos Yogyakarta ini awalnya dibangun sebagai sumbu imaginer antara Pantai Selatan, Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. Jalan ini mulai ramai dikunjungi di era kolonial tahun 1790 ketika pemerintah Belanda membangun benteng Vredeburg di ujung selatan. Selain itu, Belanda juga membangun Dutch Club tahun 1822, Dutch Governor’s Residence tahun 1830, Java Bank dan Kantor Pos tak lama setelahnya. Malioboro kemudian bertambah ramai ketika orang Belanda berdagang dengan orang Tionghoa. Tahun 1887, jalan Malioboro kemudian dibangun menjadi dua usai didirikannya stasiun kereta api yang kini bernama stasiun Tugu Yogya.

Malioboro dulu juga memiliki peran yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di selatan, pernah terjadi pertempuran sengit antara pejuang tanah air dengan pasukan kolonial Belanda yang ingin menduduki Yogya. Peristiwa itu dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949. Kini, di tempat itu dibangun sebuah monumen. Saya terus berjalan sampai ke monumen itu melewati Kantor Gubernur DIY dan Pasar Beringharjo lalu tiba di persimpangan Kantor Pos menuju Kraton Yogyakarta.

3 SImpang Kantor Pos Yogyakarta, bangunannya masih khas kolonial

Nah, usai melewati Malioboro, saya lalu menyeberangi simpang Kantor Pos dan jalan-jalan ke alun-alun utara Yogyakarta. Melewati gapura area Kraton, di sana suasananya tenang sekali. Tempat itu dinamakan Alun-alun Lor. Di tengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar, disebut dengan Waringin Sengkeran. Kedua pohon ini juga punya nama, yaitu Kyai Dwadaru dan Kyai Jandaru. Dulu, pada zamannya, hanya Sultan dan Pepatih Dalem yang boleh berjalan di antara kedua pohon beringin yang dipagari ini. Kini, saya malah leluasa menyeberanginya melewati sebuah jalan lurus membentang persis langsung mentok ke gerbang Kraton Yogya. Melihat kraton itu dari jauh, saya jadi penasaran. Kenapa tidak, di tempat itulah Sri Sultan Hamengkubuwono bertahta. Saya juga antusias, di era seperti sekarang ini masih ada sebuah kerajaan yang berdiri kokoh seperti di Jogja ini.

4 Alun-Alun Utara Yogyakarta

Tak lama kemudian saya tiba di Kraton Yogyakarta. Pertama kali melihatnya, sepi memang. Saya tidak tahu apakah tempat ini ditutup untuk umum atau bagaimana. Pagar utamanya terkunci dari depan, tapi saya cukup heran karena saat mengintip, ada beberapa orang yang berjalan-jalan di dalam Kraton itu. Saya tidak tahu apa mereka petugas Kraton atau justru pengunjung.

5 Kraton Yogyakarta

Eh, rupanya saya salah. Kraton ini rupanya terbuka untuk umum. Saya baru tahu ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki ke sebelah barat (kanan foto) lalu menemukan sebuah pagar kecil di sisi barat Kraton yang sedang terbuka. Awalnya, karena ragu apakah boleh langsung masuk atau tidak, saya bertanya dulu sama petugasnya. Kebetulan di dekat sana terdapat sebuah bangunan tempat membeli tiket. Rupanya memang, Kraton ini terbuka untuk para pengunjung. Mungkin sudah mulai sepi karena waktu juga sudah mulai sore (waktu itu sekitar pukul 3 sore). Tapi syukurlah, saya masih bisa masuk usai membeli tiket seharga Rp 5.000,- saja. Murah ya?

Yes, akhirnya bisa masuk. Untuk pertama kalinya, rasa penasaran saya terhadap Kesultanan Yogyakarta terobati dengan memasuki kraton ini. Bangunan pertama yang menyambut adalah sebuah kompleks pagelaran, disebut Bangsal Pagelaran. Tiang-tiangnya sangat tradisional dan megah. Bangunannya mirip limas dan tidak berdinding. Pada zamannya, di tempat ini dulunya penggawa kesultanan menghadap Sultan dalam upacara resmi. Sekarang digunakan utuk upacara adat keraton dan even-even pariwisata, religi dan lain-lain.

6 Pemandangan Kraton Yogyakarta dari dekat, Bangsal Pagelaran

Selain bangsal Pagelaran, ada banyak bangunan lainnya di sini. Saya terus mengikuti alur yang dituliskan di papan petunjuk sampai menemukan bangunan lainnya tak jauh dari sana. Di antaranya rumah-rumah khas Jawa yang kini dijadikan museum pameran. Tentu saja, sebagai penikmat sejarah saya cukup antusias. Berikut beberapa dokumentasinya.

Kraton Yogyakarta ini rupanya memiliki sejarah yang cukup panjang. Dulu pada akhir abad ke-16 terdapat sebuah kerajaan Islam di Jawa bagian tengah-selatan bernama Mataram. Lambat laun setelah kedatangan Belanda, wibawa kerajaan ini perlahan-lahan terganggu. Salah satu pangeran kerajan itu bernama Pangeran Mangkubumi, akhirnya memimpin perlawan anti penjajahan Belanda, sampai diperolehnya Perjanjian Giyanti tahun 13 Februari 1755. Perjanjian itu menyatakan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surakarta dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III, sementara Ngayogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Maka pada tanggal itu pulalah, secara resmi kekuasaan kesultanan Ngayogyakarta atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat diproklamirkan. Sultan Hamengku Buwono I kemudian memulai pembangunan Kraton Yogyakarta pada tanggal 9 Oktober 1755.

Tahun 1802, giliran Inggris yang masuk ke Yogyakarta. Waktu itu sultan HB II dipaksa turun tahta, dan digantikan oleh sultan HB III. Sultan HB III kemudian dipaksa menyerahkan sebagian wilayahnya untuk diberikan pada Pangeran Notokusumo (Putra Sultan HB I) yang diangkat oleh Inggris sebagai Adipati Paku Alam I. Oleh karena itu, sejak 17 Maret 1813, Adipati Paku Alam I mendeklarasikan berdirinya Kadipaten Pakualaman.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Sri Sultan HB IX yang waktu itu berkuasa segera mengucapkan selamat atas berdirinya republik baru itu pada proklamator kemerdekaan. Tanggal 5 September 1945, Sultan HB IX dan Sri Paduka Paku ALam VIII mengeluarkan amanat bahwa wilayahnya yang bersifat kerajaan adalah bagian dari NKRI. Menerima amanat itu, maka presiden Soekarno menetapkan bahwa Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam merupakan dwi tunggal yang memegang kekuasaan atas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal itu dikukuhkan setelah periode Presiden SBY yang mengeluarkan Undang-Undang nomor 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY untuk menjaga kelestarian budaya di Yogyakarta ini.

Ya, begitulah sejarah singkat tentang Yogyakarta yang saya ketahui. Setidaknya kini saya sudah melihat langsung seperti apa kraton Jogja itu dari dekat. Ingin rasanya lebih berlama-lama di Jogja, tapi hari pun semakin gelap. Besok pagi saya berencana melanjutkan perjalanan ke kota lainnya di Jawa Tengah, yaitu Semarang. Seumur-umur belum pernah kesana. Akhirnya, sore itu saya memutuskan untuk santai-santai di pusat kota sambil menikmati secangkir es dawet Jogja yang segar bersama bapak-bapak yang lagi ngobrol ngalor ngidul dengan bahasa Jawa. Ora ngarti. Haha. Es dawetnya lima ribu saja, murah meriah dan istimewa, karena baru pertama kali mencoba.

Akhirnya, malam itu saya menghabiskan waktu di Malioboro. Beruntung, rupanya di sana sedang ada perayaan Cap Go Meh, diwarnai pertunjukan barongsai. Jarang-jarang juga saya melihatnya. Lampion-lampion indah menghiasi seluruh pemandangan malam pusat kota Yogyakarta malam itu, membuat saya betah duduk-duduk lama sampai malam. Pengalaman ini memang hanya sekali-sekali, maka rasanya sayang untuk dilewatkan.

Jogja oh Jogja, dua hari saja tapi sudah bikin kangen lagi. But the journey must continue.

to be continued in #backpackerstories insyaAllah

Advertisements

5 thoughts on “Hari Terakhir di Jogja, Malioboro dan Kraton Yogyakarta #BackpackerStories – Part 12

  1. Speechless, asli. Not only visiting such places, you also managed to understand and deliver information related to those places you’ve visited. Itu baca atau dapat dari mana sejarah Malioboro dan lain-lainnya itu, An?

    Liked by 1 person

    1. Haha, hanya mengutip dari beberapa sumber mi, paling banyak dari situs resmi keraton jogja.

      Iya, belakangan jadi kepikiran bikin historical journal gitu untuk setiap perjalanan. Jadi setidaknya tahu bagaimana sejarah tempat yang dikunjungin biar aura perjalanannya lebih terasa. Btw mungkin efek dari lagi suka baca buku sejarah, hha

      Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s