Rumahmu Bukan di Sini

Biarlah sajak yang bercerita tentang semua prasangka
Biarkan pula kaki menapak ke negeri-negeri pengelana
Kadangkala ketika penat, sajak dan perjalanan adalah obatnya
Barangkali lelah telah datang, atau jenuh melanda.

Tidak ada salahnya berlaku khilaf, manusia tidaklah sempurna
Bukankah Musa pernah membunuh, dan Yunus pernah minggat?
Tapi sabar dan harapan adalah pengobat hati mereka
Sampai bahagia menyapa mereka di surga, pundak mereka tersandar lega
Belajarlah ikhlas, sadar bahwa segala sesuatu terjadi dengan segala hikmah
Bahkan setitik debu yang membuatmu bersin bisa mengingatkanmu pada-Nya, alhamdulillah
Itulah sebaik-baik pengelana, sebaik-baik pembelajar, sedalam-dalam ketawadhu’an.

Tatkala melihat langit yang seperti tak berujung, dunia ini seolah tiada batasnya
Ketika memandangi laut yang tiada bersudut, dunia ini seolah begitu luas
Tapi lihatlah kulit telapak tanganmu, bukankah ia lama-lama kasar dan mengeriput?
Atau bagaikan kumbang yang hinggap tadi malam, besok pagi bahkan terbang pun tak mampu lagi
Rupanya dunia ini hanya persinggahan, ke alam kekekalan.

Wahai diri, janganlah lupa bahwa engkau hanya manusia
Penduduk surga yang terusir karena khilafnya, lalu diturunkan di bumi sebagai hamba sahaya
Sementara akhirat kembali menunggumu, menyambut dengan jujur sesuai perilakumu
Tidak apa-apa, lalui saja dengan sukacita
Ingatlah jika rumahmu adalah di sana, bukan di sini.
Karena itu laa tahzan, innallaha ma’ana.

Advertisements

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s