Keliling Kota Lama Semarang Sehabis Petang #BackpackerStories – Part 15

Cerita di Semarang masih berlanjut ketika saya termenung duduk di depan lokomotif tua di Lawang Sewu. Waktu itu sore hari, sekitar pukul setengah lima. Saya masih terduduk memikirkan kartu memori kamera saya yang sudah penuh. Ketika saya berusaha hendak memindahkan foto-fotonya ke dalam flashdisk, rupanya USB slot saya rusak. Akhirnya, usai berpikir sejenak, saya memutuskan mencari toko elektronik yang ada di dekat sana. Siapa tahu ada yang menjual USB slot ini.

Saya pun kemudian bangkit, lalu berjalan kaki keluar dari Lawang Sewu dan menelusuri salah satu jalan di simpang Tugu Muda Semarang bernama Jalan Pemuda yang memiliki trotoar yang cukup rapi dan lebar. Saya terus berjalan di sepanjang trotoar itu hingga melewati Balai Kota Semarang yang megah dan kemudian tiba di Paragon City Mall, salah satu pusat perbelanjaan besar di Semarang. Syukurlah, setelah mencoba masuk, keliling-keliling mencari toko handphone dan elektronik, saya menemukan apa yang saya cari. Mas-mas penjaga toko di sana benar-benar sabar melayani saya sampai beberapa kali mengetes USB Slot baru itu di tablet saya, dan alhamdulillah berhasil. Barulah setelah itu saya memindahkan semua foto di dalam memori card kamera ke dalam flashdisk dengan bantuan tablet sampai memori kamera itu kembali kosong. Saya benar-benar lega, setidaknya kini saya tidak perlu pusing lagi jika hendak mengabadikan momen di kamera digital.

1 Balai Kota Semarang

Usai mengosongkan kartu memori kamera, saya lalu langsung pergi keluar dari mall. Ketika saya tiba di luar, langit tampak sudah mulai gelap oleh awan hitam. Semarang diguyur gerimis. Ah, sayang sekali, pikir saya, tampaknya waktu berkeliling Semarang tidak sepanjang yang saya pikirkan akibat kejadian tadi. Lagipula, malam itu saya harus segera ke stasiun untuk mencetak tiket kereta yang sudah saya pesan via online. Ya, kereta itu adalah kereta yang akan membawa saya ke Surabaya.

Saya kemudian mulai melangkah ke salah satu halte Trans Semarang terdekat, dan memilih untuk langsung pergi ke stasiun Semarang Tawang, stasiun tempat saya memesan kereta. Ketika sampai di halte, wah, penumpang benar-benar membludak. Bus-bus trans Semarang yang datang silih berganti sepertinya tidak cukup efektif untuk menampung banyaknya penumpang yang ingin naik bus. Tapi anehnya saya masih saja sabar, memilih menunggu bus lewat. Lagipula hari sedang gerimis, dan saya sudah terlanjur membeli tiket, sayang untuk dibuang begitu saja. Namun syukurlah, sekitar 30 menit menunggu, akhirnya bus yang saya cari pun tiba. Saya dan penumpang lainnya cukup berdesak-desakan masuk ke dalam bus itu, Semarang benar-benar ramai.

2 Stasiun Semarang Tawang

Alhamdulillah. Menjelang waktu magrib, saya tiba di Stasiun Semarang Tawang. Stasiun ini tampak cukup berumur, dilihat dari bangunannya yang masih bergaya Belanda. Tampaknya stasiun ini adalah salah satu stasiun tertua di kota ini. Tanpa pikir panjang, saya langsung masuk ke dalam stasiun untuk mencetak tiket, lalu beranjak menunaikan shalat Magrib berjamaah dan shalat jama’ Isya di mushalla stasiun. Usai shalat, saya pun berniat menitipkan barang di mushalla itu. Saya ingin berkeliling Semarang lagi malam ini, lagi pula kereta yang akan berangkat ke Surabaya masih lama, yaitu pukul 11 malam nanti. Dari pada bermenung di stasiun, lebih baik saya jalan-jalan sebentar. Lagipula ada Gojek.

Tapi, ah, saya jadi teringat kisah di Masjid Malioboro, apa boleh ya menitipkan barang di sini? Saya memberanikan diri bertanya pada sang penjaga masjid.

“Tidak apa-apa Mas, titip saja di sini, insya Allah aman,” ucap bapak tua itu ramaaah sekali. “Penumpang yang lain juga banyak yang menitip, jadi jangan khawatir,” lanjut beliau sambil tersenyum. Semenjak sedari tadi saya bertemu dengan orang Semarang, saya tahu kalau mereka benar-benar ramah.

“Wah, terima kasih Pak. Rencananya saya mau keliling sebentar,” ucap saya segan.

“Silahkan Mas,” jawab beliau. Saya tersenyum senang. Bapak ini sepertinya bisa dipercaya. Akhirnya, saya menitipkan ransel saya pada beliau, lalu beranjak keliling sebentar di dekat stasiun. Alhamdulillah, gerimis mulai mereda, saya mulai melangkah keluar pintu pagar.

Stasiun Semarang Tawang terletak dekat dengan kompleks kota tua Semarang. Saya bisa melihatnya di dalam google maps. Kebetulan sekali, keliling kota tua Semarang mungkin adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Tapi, perut saya keroncongan sekali, sepertinya butuh diisi. Beruntung, di balik pagar stasiun berjejer berbagai penjual makanan kaki lima yang siap memanjakan lidah. Usai melihat-lihat sebentar, pilihan saya jatuh ke sebuah makanan seperti sup hangat dengan potongan daging padat dan kuah kari. Rasanya cocok sekali untuk mengusir rasa dingin di tengah cuaca hujan rintik-rintik. Karena penasaran, saya bertanya pada Mas-mas penjual makanan itu.

“Ini namanya apa ya Mas?” tanya saya. Rasanya memang baru pertama kali melihat makanan itu. Bagi saya lebih mirip gulai daging sapi.

“Ini tongseng Mas,” jawabnya. Nama yang aneh, pikir saya.

“Dagingnya daging apa ya Mas?” saya masih penasaran.

“Ini daging kambing Mas, Mas belum pernah coba? Bukan orang sini ya?” tebak si Mas penjual tongseng.

Wah, daging kambing? Air liur saya langsung beranak. Saya mengangguk, “Saya dari Padang Mas, mau ke Surabaya,” diikuti anggukan dan antusias si Mas penjual tongseng. “Harganya berapa Mas?”

“Tiga lima Mas, seporsi,” ucapnya.

Buset, mahal amat! Pikir saya terkekeh. Tapi karena bentuknya menggiurkan, ditambah lagi dagingnya daging kambing, perut saya lapar, dan cuaca sedang dingin, saya menyerah.

“Ya udah, pesan satu Mas!”

Singkat cerita, keringat saya ngucur bulat-bulat usai menyantap semangkuk tongseng yang lezat itu bersama nasi putih dan segelas teh hangat. Tempatnya sederhana saja, duduk di pinggir trotoar bersama pelanggan lainnya di bawah pohon besar yang melindungi kami dari hujan rintik-rintik yang masih tersisa. Ah, tidak ada yang lebih sempurna dari ini. Saya kekenyangan. Saya yang tidak biasa makan malam merasa berdosa besar sudah makan semangkuk makanan berkalori jumbo ini. Penyesalan yang nikmat. Haha.

3 Tongseng Kambing

Akhirnya, setelah kenyang menyantap tongseng, saya pun mulai berjalan kaki mengelilingi kompleks kota tua Semarang yang berada tak jauh di depan stasiun. Malam itu cukup sepi, mungkin karena hujan gerimis. Tapi sesepi apapun saya tetap saja semangat, walaupun tempat yang saya lewati terkesan cukup horor, yaitu jalan kecil berbelok-belok di tengah rumah-rumah tua yang tidak berpenghuni. Sedikit menyeramkan, tapi sepertinya tidak mempan bagi sifat vagabondase (menyukai jalan-jalan tak menentu) saya yang lebih hebat.

Tapi, semenyeramkan apapun tempat itu, tetap saja cantik. Gedung-gedung tua ini dibangun dengan gaya arsitektur kolonial masa lalu. Bayangkan saja bentuk bangunan Belanda zaman dulu, seperti itulah kira-kira. Di tambah lagi, di beberapa titik terdapat taman-taman kecil dengan lampu-lampu hias berwarna-warni. Kota tua ini benar-benar klasik (eh bukan, mereka menyebutnya “Kota Lama” bukan “Kota Tua”). Memang tidak terasa seperti Eropa, tetapi gaya khas peninggalan Belanda di Indonesia memang punya hawa tersendiri. Itulah yang saya rasakan ketika berjalan melewati komplek itu, sampai akhirnya saya tiba di jalan besar dan berdiri ternganga di depan gereja cantik berdinding putih dengan pilar-pilar romawi dan berkubah merah bata dengan menara-menara aggun di sisi kiri dan kanannya, yaitu Gereja Blenduk.

4 Suasana Kota Lama Semarang di Malam Hari

5 Gereja Blenduk di siang hari

Melewati gereja itu, saya kemudian tiba di sebuah taman terbuka yang indah dengan lampu warna-warni di malam hari bernama taman Sri Gunting. Di depan taman itu terdapat pula bangunan lama lainnya bertuliskan “MARBA”, warnanya merah bata dengan ukiran khas Eropa. Berjalan sedikit lagi saya melihat café lama bertingkat dua bertuliskan “SPIEGEL”. Rupanya semua bangunan ini adalah komplek pusat kota lama Semarang yang kini berada di jalan Letjen Suprapto. Di sejauh mata memandang di kiri dan kanan, penuh dengan gedung-gedung lama, aura kolonial kembali terasa. Jalan ini juga khas, tidak beraspal, melainkan susunan batu rubrik. Ini dia, kota lama Semarang!

6 Taman Srigunting

7 Bangunan-bangunan lama di Kota Lama Semarang

Puas melihat-lihat kota lama sekitar setengah jam lebih, saya terus berjalan menelusuri jalan-jalan sempit di kota lama itu hingga menemukan beberapa spot toko karya seni yang cukup ramai oleh pernak-pernik menarik. Di sana ada patung-patung dan barang-barang antik yang mungkin sudah berusia ratusan tahun. Sebagian besar toko ini dikelola oleh anak-anak muda, mereka menyebutnya “Kokakola”, atau Komunitas khutikan antik kota lama. Salut ya, zaman sekarang masih banyak anak-anak muda yang cinta dengan benda-benda lama peninggalan sejarah.

8 Barang-barang antik di salah satu toko Kokakola

Sejurus kemudian, tatkala saya masih senang berkeliling di kompleks kota lama, saya kemudian ingin mengeksplor kota ini lebih lama lagi. Tidak ingin terlalu jauh karena malam semakin larut, saya kemudian memilih pergi ke sebuah Klenteng Tionghoa yang berjarak tidak terlalu jauh dari kota lama. Saya sempat tahu kalau di Semarang ini banyak sekali berdiri klenteng-klenteng penduduk negeri tirai bambu itu, dan yang paling terkenal adalah Klenteng Sam Poo Kong yang beratap tiga tingkat. Karena terlalu jauh, saya kemudian memutuskan untuk pergi ke klenteng terdekat yaitu Klenteng Tay Kak Sie yang berada di tepi sungai. Dengan menumpangi gojek, saya tiba di sana sekitar pukul 9 malam, saat orang-orang tengah ramai berkumpul merayakan tahun baru Imlek. Momen itu benar-benar momen yang kebetulan sekali. Saya bisa langsung melihat aktifitas ibadah orang Tionghoa di klenteng tersebut pada malam tahun baru, meskipun hanya dari luar.

9 Suasana Klenteng Tay Kak Sie di malam hari perayaan Imlek

Ya, itulah akhir perjalanan singkat saya di Semarang sebelum memutuskan untuk kembali ke stasiun. Pukul 10 malam, saya kembali tiba di stasiun Semarang Tawang dan berniat untuk menunggu kereta yang akan berangkat ke Surabaya. Bapak-bapak yang menjaga ransel saya di mushalla dengan ramah mengembalikannya kepada saya tanpa dipungut biaya. Sungguh, sejauh ini saya benar-benar senang dengan orang Semarang. Mereka baik hati sekali, dan membuat perjalanan saya menjadi mudah. Akhirnya, setelah masuk ke stasiun dan check in, sambil duduk dan merebahkan badan di bangku tunggu penumpang, lalu mengecas tablet dan baterai kamera di colokan listrik gratis yang tersedia, saya mencoba memicingkan mata meskipun tidak sampai terlelap. Saya hanya terkenang perjalanan lima hari terakhir, ah, saya tidak menyangka bisa sampai ke sini seorang diri. Alhamdulillah. Ini pengalaman pertama saya mengunjungi Semarang.

#to be continued in #BackpackerStories, insya Allah.

***

[2] ilustrasi diambil dari http://semarangkota.com
[3] ilustrasi diambil dari http://resephariini.com
[5] ilustrasi diambil dari https://upload.wikimedia.org
[6] ilustrasi diambil dari http://hellosemarang.com

Advertisements

3 thoughts on “Keliling Kota Lama Semarang Sehabis Petang #BackpackerStories – Part 15

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s