Jawa, Bali & Nusa Tenggara, Stories, Travel

“Nyeleneh” di Tanjung Perak sampai Museum Sampoerna

Wah, sudah cukup lama saya tidak melanjutkan cerita di Surabaya tempo hari. Kali ini saya ingin sedikit mencatat pengalaman perjalanan berikutnya setelah mengunjungi Tugu Menara Pahlawan.

Perjalanan berlanjut ketika pagi menjelang siang itu panasnya kota Surabaya mulai membakar kulit. Hari benar-benar cerah, begitu juga dengan semangat saya. Ada beberapa spot yang ingin saya lihat di Surabaya, dan pilihan berikutnya jatuh ke pelabuhan paling termasyur di kota ini, yaitu Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Saya hanya penasaran melihat kapal-kapal besar yang konon katanya datang dari tempat-tempat terjauh di negeri ini. Saya kemudian memutuskan untuk pergi ke tempat itu.

Seperti biasa, saya terlebih dahulu mencoba naik kendaraan umum yang ada. Saya cukup kaget, rupanya di kota sebesar ini tidak ada layanan bus trans seperti yang saya temui di Jakarta, Jogja, Semarang bahkan Padang. Transportasi di tempat ini lebih mirip Bandung, yaitu angkot dan ojek dimana-mana. Di Bandung pun saya beruntung bisa menemukan aplikasi yang bagus untuk melihat rute angkot-angkot yang ada, tapi tidak di Surabaya. Saya harus benar-benar berjuang mencari angkot tersendiri untuk bisa pergi kemana-mana, literally, by foot.

Surabaya rupanya panas sekali. Sebelas-dua belas dengan Padang. Tapi saya bersyukur trotoar di kota ini bagus-bagus dan cukup lapang. Saya lalu berjalan mencari angkot melewati trotoar-trotoar pedestrian yang ada di sepanjang jalan dan seringkali bersabar jikalau ada tukang ojek yang datang mendekati saya. Ya, seperti yang saya ceritakan tempo hari, pengendara ojek di sini gigih minta ampun.

Tiga puluh menit berjalan melintasi pedestrian dan sesekali menyeberang perlintasan, saya kemudian menemukan beberapa kendaraan angkot yang ngetem di pinggir jalan. Angkot itu masih kosong, dan sepertinya sang supir masih menunggu penumpang. Saya beranikan diri bertanya.

“Pak, apakah ini angkot ke Pelabuhan Tanjung Perak?” tanya saya.

“Oh, bukan Mas. Kalau mau ke pelabuhan, Mas bisa naik angkot di sebelah sana Mas,” jawab si Bapak Supir sambil menunjuk sebuah angkot yang berhenti di seberang jalan, “Tapi Mas mungkin akan lama menunggu, soalnya masih nunggu penumpang.”

Dalam hati saya cukup lega dari jauh melihat angkot itu sudah berisi beberapa penumpang, walaupun belum bisa dibilang banyak.

“Oh, baiklah. Terima kasih Pak,” jawab saya mengakhiri percakapan. Saya lega ternyata bapak ini baik, bahkan menunjukkan saya angkot yang benar. Saya berharap hari ini masih cukup panjang, jadi saya bisa keliling kota seharian meskipun kembali dari pelabuhan nanti.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di terminal Tanjung Perak lebih kurang 30 menit kemudian. Meskipun cukup lama menunggu di angkot sebelumnya, saya lega bisa tiba di sini pagi-pagi pukul sepuluh. Usai turun dari angkot dan membayar ongkos seharga tiga ribu rupiah, saya berjalan mengikuti alur pinggir jalan sampai tiba di depan gapura yang di belakangnya terdapat menara besar. Tapi saya agak sangsi jika pintu masuk pelabuhan ada di sini. Akhirnya, beberapa meter dari gapura itu saya melihat sebuah pos yang dijaga oleh beberapa petugas.

“Pak, kalau mau masuk ke pelabuhan lewat mana ya Pak?” tanya saya. Si bapak tampak kebingungan.

“Pelabuhan penumpang Mas?” tanya si Bapak.

Saya mencoba mengangguk, meskipun tak tahu apakah itu pelabuhan penumpang atau bukan. Yang jelas di benak saya, pelabuhan. Itu saja.

“Kalau pelabuhan penumpang Mas bisa lewat sini,” kata si Bapak menunjuk ke arah sebuah jalan lebar lainnya yang muncul di balik pepohonan lebat, “Tapi biasanya buka agak siang, kalau jam segini belum.”

Saya cukup kaget mendengar ucapan si Bapak.

“Tapi kalau mau lihat-lihat dulu silahkan,” sambung beliau. Saya kemudian mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh si bapak sampai saya melihat sebuah bangunan megah di sisi kiri. Mungkinkah ini tempatnya? Gedung besar bergaya modern itu bertuliskan “Terminal Penumpang, Gapura Surya Nusantara”. Tapi tempat itu sepertinya masi sepi, dan benar saja, jalan masuknya masih ditutup oleh pembatas besi.

Saya kemudian melihat ke segala arah, sampai saya menemukan sebuah gerbang lainnya dengan tulisan “Terminal Jambrud”. Saya langsung berpikir, wah, pasti di sana banyak kapal! Saya akhirnya memutuskan berjalan sedikit lagi ke tempat itu. Cuaca panas tidak ada apa-apanya bagi saya ketika itu. Namun semakin dekat berjalan, saya menyadari kalau tempat itu dipenuhi oleh truk-truk dan kontainer besar. Di ujung pemandangan saya bisa melihat kapal-kapal yang mengintip di balik gerbang terminal. Saya benar-benar antusias.

Ketika saya tiba tepat di pintu gerbang terminal itu, saya hanya bingung karena tidak ada sama sekali jalan khusus untuk pejalan kaki seperti saya. Tidak ada petugas atau siapapun yang seharusnya melayani saya ketika masuk ke pelabuhan. Karena tidak menemukan siapa-siapa melainkan truk-truk besar yang berlalu lalang, saya masuk saja. Tapi tak lama kemudian, seseorang seperti terdengar sedang berteriak-teriak di belakang saya. Saya kemudian menoleh ke belakang, melihat seorang petugas berseragam rapi meniup peluitnya persis ke arah saya. Saya benar-benar kaget.

“Mas mau kemana?!” tanya si petugas, “Di sini orang asing dilarang masuk!”

Saya melongo, “Mau melihat-lihat pelabuhan saja Pak,” jawab saya canggung plus bingung. Apa saya salah?

“Kalau ke pelabuhan, Mas bisa ke gedung terminal penumpang yang ada di ujung sana,” jawab si petugas itu kemudian. “Terminal ini hanya khusus untuk barang-barang kargo Mas, berbahaya bila berkeliaran di sini.”

Oh, I see. Akhirnya saya mengerti. Pernah melihat wajah anak-anak kecil polos yang kedapatan maling bakwan di warung? Mungkin seperti itulah ekspresi saya ketika itu. Haha. Saya benar-benar merasa bodoh. Saya menyadari kalau tempat ini tidak seharusnya saya masuki. Sudahlah sendiri, mencurigakan, saya benar-benar tidak bisa berhenti menertawakan diri saya. Dasar bocah nekat. Wkwk.

**

Siang itu semakin terik, setelah mengetahui kenyataan bahwa pelabuhan belum dibuka, saya jadi sedikit kecewa. Ah, tapi tidak apa-apa, lagipula saya bisa menikmati seluruh perjalanan ini, baik suka maupun duka. Hehe. Berbekal informasi dari seorang petugas keamanan di depan gedung terminal penumpang yang modern itu, saya bisa tahu kalau pelabuhan baru akan dibuka pukul satu siang. Itu artinya, sekitar tiga jam lagi. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke tempat lain terlebih dahulu menggunakan ojek online. Saya cukup lelah jika harus menunggu angkot seperti tadi lagi, wasting time. Wkwk. Tapi, memesan ojek online rupanya tidak semudah yang saya bayangkan. Saya harus berhadapan dengan beberapa tukang ojek yang gigih selangit, dan setelah menerima telepon konfirmasi dari si abang ojek online (yang sebaliknya, sangat ramah), saya terpaksa harus berjalan sedikit keluar pelabuhan demi menghindari konflik antara dua ojek berbeda basis ini. Saya bisa memaklumi. Ya.. Apa boleh buat, yang penting bagi pelanggan itu adalah kemudahan dan kenyamanan bukan? CMIIW.

Sekitar pukul 10.30, akhirnya saya tiba di destinasi berikutnya, Museum Sampoerna. Museum ini tergolong unik buat saya karena punya sisi kontroversial, ya, apalagi kalau bukan rokok. Tapi ketika sampai di sana, tempatnya memang bagus banget. Museum ini terkesan tua namun sangat terawat. Gedung utamanya adalah sebuah bangunan dengan pilar-pilar batang rokok Dji Sam Soe dan bernuansa kolonial. Memang tidak salah, gedung ini telah berdiri sejak tahu 1862 pada masa pemerintahan Belanda sampai akhirnya dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna pada tahun 1932. Tempat ini kemudian menjadi pabrik tembakau pertama Sampoerna, dan baru dibuka untuk umum sebagai sebuah galeri museum pada tahun 2003.

Isi dalam bangunan museum cukup menyita perhatian saya. Ruangannya rapi dan apik tanpa meninggalkan suasana tradisional. Di sini, pengunjung akan disuguhi dengan cerita tentang keluarga pendiri Sampoerna dan sejarah perkembangan bisnis mereka. Tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai macam jenis tembakau dan rempah-rempah asli yang dipamerkan langsung di dalam wadah-wadah yang terbuat dari anyaman bambu dan berbagai media tradisional lainnya.

Suasana di dalam museum ketika itu cukup ramai. Kami para pengunjung mungkin terkesan dengan beberapa peninggalan sejarah industri rokok yang masih terawat sampai saat ini. Yang paling menarik bagi saya adalah melihat alat cetak bungkus rokok kuno yang ada di sana. Sepertinya terbuat dari logam dan benar-benar orisinil. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dulunya tenaga manusia digunakan untuk memproduksi bungkusan rokok dari alat semacam itu.

Selain galeri alat-alat kuno bersejarah, di tempat ini juga terdapat galeri lukisan dan toko souvenir. Untuk toko souvenir, lokasinya ada di lantai dua museum. Tempat itu bernuansa Tiongkok dan Jawa, terlihat dari dekorasi lampion-lampion merah dan kuning dan plafon yang dihiasi oleh ukiran-ukiran unik. Ketika sampai di tempat itu, rupanya pegunjung sudah ramai. Di sana kita bisa menemukan berbagai macam souvenir seperti batik, kerajinan tangan, kaos, buku, dan barang pernak-pernik khas Surabaya.

Selain itu, di sisi luar gedung juga terdapat bangunan lainnya yaitu sebuah café. Tempatnya indah sekali jika dipandang dari luar. Karena sendirian dan masih belum lapar, saya akhirnya tidak jadi masuk. Tapi di tempat ini pegunjung bisa merasakan beberapa sajian menu Asia maupun Western dengan nuansa klasik. Katanya, lebih bagus lagi datang pada saat dinner, sebab ada pertunjukan musiknya.

Nah, itulah perjalanan singkat saya di pagi menjelang siang di Surabaya. Pelajaran berharganya adalah jangan malu bertanya dan jangan terlalu nekat karena penasaran. Ada yang punya pengalaman yang sama? 🙂

#to be continued in #backpackerstories insyaAllah.

Bacaan: http://houseofsampoerna.museum

3 thoughts on ““Nyeleneh” di Tanjung Perak sampai Museum Sampoerna”

  1. Wih, kegigihan dan keberanian yang patut diacungi jempol. Tidak apa-apa tidak berhasil melihat kapal, setiap perjalanan pasti ada hikmahnya, berhasil atau gagal, hehe. Museum Sampoerna-nya tampak bagus, koleksi-koleksinya pun cukup terawat, ya. Bisa nih jadi destinasi kalau kebetulan main ke Surabaya, hehe. Bangunan kolonial memang keren-keren dan merupakan bahan tulisan yang seru banget.

    Like

    1. Hehe, iya Mas Gara. Semua ada hikmahnya, walaupun sorenya saya balik lagi ke pelabuhan. Haha.

      Museum sampoernanya memang bagus, tapi kalau bawa anak2 kesini agak dilema juga, soalnya ini museum rokok 😅

      Like

      1. Berhasilkah di kunjungan kedua ke pelabuhan itu? Hehe.
        Iya sih… mungkin bisa dikompensasi dengan penjelasan soal bahaya rokok? Dilematis, sih. Hehe.

        Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s