Jawa, Bali & Nusa Tenggara, Stories, Travel

Exploring Bali Island: Pertama Kali Mendarat dan Ngebolang di Kuta dengan Motor Matic

Pesawat yang saya tumpangi mengudara meninggalkan Pulau Jawa di malam Minggu, lalu mendarat dengan mulus di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Ya, Bali! Sebenarnya saya berharap lebih baik ketika tiba di pulau ini untuk pertama kali, setidaknya ada teman, tidak sendirian, akan tetapi bertualang seorang diri juga bukanlah hal yang buruk. I was free.

Turun dari pesawat, saya masih belum percaya telah menginjakkan kaki di pulau dewata ini, sembari menyaksikan suasana bandara yang terkesan internasional. Kenapa demikian, hm, mungkin karena sepanjang penglihatan saya melihat lebih banyak orang asing di sini, especially, bule. Namun, secara umum bandara ini rasanya tak jauh berbeda dengan bandara-bandara di tanah air, literally, nuansa tradisionalnya, terutama gaya adat Bali.

1 Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali (source: https://cdn.sindonews.net)

Hendak keluar dari bandara, perut saya sangat lapar, oleh karena itu beruntung saya sempat menemukan minimarket di sana, lalu membeli segempok roti sobek dan sebotol air mineral. Kenapa beli roti sobek? Alasannya, lebih murah. Hehe. Setelah itu saya langsung cus ke hotel tempat menginap yang sudah saya pesan beberapa hari sebelumnya via traveloka. Naik taksi? No, saya tidak seroyal itu. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, di Bali ada Gojek! Cukup berjalan sedikit ke depan gerbang bandara, si abang Gojek langsung menjemput dan mengantarkan saya ke hotel sederhana di daerah Kuta. Saya lega.

Untuk ukuran hotel seharga lebih kurang 120.000 satu malam, tempat ini bagi saya cukup nyaman. Namanya Rabasta Resort Kuta, hotel bintang 3, Jalan Kartika Plaza, Gang Pudaksari, Kuta. Di kamar saya ada dua tempat tidur, televisi layar lebar, wifi, AC, lemari, dan kamar mandi dalam kamar. Usai mandi, saya langsung tidur karena kelelahan. Mudah-mudahan besok cuaca cerah, saya tak sabar ingin mengeksplor Bali seharian.

2 Rabasta Beach Resort Kuta, Bali (source: https://images.oyster.com)

**

Pagi di Pulau Dewata. Alhamdulillah, cuacanya sangat cerah! Saya begitu bersemangat hendak langsung berkeliling, tapi ada satu hal yang membuat saya sempat berpikir keras. Bagaimana caranya mengeksplor pulau ini dalam waktu singkat, mudah, dan murah? Lagipula saya tidak yakin akan naik kendaraan umum di tempat ini, atau naik Gojek terus-terusan. Bali kan luas sekali?

Syukurlah, sebelum tidur tadi malam saya menemukan metode transportasi cerdas dari internet, yakni rental sepeda motor! Usai browsing, saya menemukan salah satu tempat terdekat di Kuta yang menyediakan jasa tersebut, lalu menandai lokasinya di Google Maps. Pasti menyenangkan berkeliling Bali dengan sepeda motor! I felt free!

Pukul 7 pagi Waktu Indonesia Tengah, mengenakan kemeja kasual kotak-kotak lengan panjang, celana jeans, dan tas sandang kecil berisi tablet, powerbank, dan lain-lain, saya langsung melipir ke kantor rental motor yang dimaksud dengan Gojek, namun sayang setelah tiba di sana, hasilnya nihil. Entah karena kepagian atau lokasinya salah, saya sama sekali tidak mencium jejak tempat itu. Si abang Gojek juga kebingungan, tapi akhirnya bersedia membantu saya mencari tempat rental motor lain di sekitar Kuta. Abang Gojek ini benar-benar baik, seperti pengemudi Gojek lainnya. Alhamdulillah, setelah berkeliling dan bertanya-tanya pada penduduk sekitar, akhirnya saya menemukan jasa rental motor di dekat tugu bom Bali. Saya benar-benar bersyukur.

Kini, dengan modal Rp 80.000,-, dan KTP, saya punya waktu sampai pukul 6 sore untuk menggunakan sepeda motor matic. Sebenarnya akan lebih murah jika kita merental selama dua hari, sekitar 120.000,- (maaf saya lupa pastinya berapa), tapi saya sudah berniat menuju Lombok besok pagi. Saya kemudian sadar, sambil tertawa dalam hati, ke Bali kok cuma sehari? Ckck.

3 Motor matic rental yang banyak jasanya

4 Pendeta Car & Motor Bike Rental, lokasinya di Jalan Legian, Kuta-Bali, dekat Ground Zero Monument. No Telp 0361 758437, Mobile 081338042060

5 Monumen Bom Bali (Groud Zero)

Akhirnya, saya mulai mengelilingi Pulau Bali dengan sepeda motor. Karena lapar dan belum sarapan, saya pergi keliling-keliling Kuta dan menemukan sebuah warung nasi halal di pinggir Jalan Raya Kuta. Warung itu bernama Nasi Pedas Bu Andika. Wew, tentu saja karena saya orang Minang, sukanya sama yang pedas-pedas. Hehe. Lagipula warung itu tampak ramai oleh pengunjung, sepertinya enak.

6 Nasi PEdas Ibu Andika, Buka 24 jam

Melihat menunya, saya memesan sepiring nasi pedas dengan lauk sederhana, ayam goreng, tempe goreng, samba lado (tumis cabe merah), dan sayur kangkung. Saya kena Rp 27.000,-. Lumayan lah untuk daerah wisata seperti ini, pikir saya. Rasanya juga cukup melegakan di lidah saya. Alhamdulillah.

7 Penampakan nasi pedas, maaf fotonya blur

Kini, usai mengisi tenaga, saya merasa lebih bersemangat. Menancap gas sepeda motor, saya mengelilingi sudut-sudut jalanan di Kuta dengan antusias dan bebas. Di sepanjang perjalanan, saya menyaksikan aktifitas warga sehari-hari, melihat rumah-rumah adat Bali yang masih terjaga, lalu sesekali berhenti di minimarket untuk membeli masker untuk mengantisipasi polusi jalanan, dan mengantongi beberapa snack dan air mineral yang bisa saya nikmati sepanjang jalan jika lapar dan dahaga nanti. Ah, rasanya nyaman sekali jalan-jalan seperti ini.

Puas berkeliling di jalanan Kuta yang ramai, saya lalu singgah di pantai paling legendaris di pulau ini, yaitu Pantai Kuta. Saya tak perlu bingung mencarinya karena dengan mudah dapat saya lacak di Google Maps. Saya lalu memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang disediakan, dan mulai melalang buana berjalan kaki memasuki area pantai.

Pertama kali melihat pintu gerbang pantai Kuta, saya cukup terkesan dengan pahatan gapuranya yang dikenal dengan Candi Bentar, benar-benar khas Bali. Dengan ekspektasi yang cukup tinggi, saya akhirnya melangkah ke dalam area pantai, dan menemukan apa yang saya cari, yaitu laut dan ombak yang indah.

8 Gerbang utama Pantai Kuta

Pantai Kuta di pagi itu rupanya sudah ramai oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Ada yang duduk-duduk santai di bawah pohon kelapa dan pohon bakau, ada pula yang berjemur di tepi pantai. Ah, jangan ditanya busana mereka, cukup sekali pandang saja ya! You know what I mean. Ckck.

Secara kasat mata, saya merasa entah mengapa pantai ini tidak se-wah ekspektasi saya. Beberapa spot memang sangat indah, dengan pasirnya yang putih kecoklatan, tetapi beberapa bagian lainnya tampak kurang bersih dan kehitaman. Meski awalnya agak sangsi, saya tetap terkesan dengan pantai ini. Terutama mengenai bangunan-bangunan di tepian laut yang Bali banget, dengan patung-patung uniknya yang khas, tempat penangkaran penyu, dan beberapa spot yang menyediakan olahraga papan selancar. Namun walau bagaimana pun jua, saya senang akhirnya bisa menginjakkan kaki di tempat ini, ini Pantai Kuta lho.

9 Welcome to Kuta Beach!

10 Suasana Pantai Kuta

Setelah merasa puas melihat-lihat pantai Kuta di pagi hari, saya kembali membuka Google Maps, menandai tempat mana yang selanjutnya akan saya kunjungi. Setelah sekalian browsing, saya akhirnya memutuskan untuk pergi ngebolang ke arah selatan dan perjalanan pun berlanjut. Sekali lagi saya harus pintar membagi waktu seharian karena Bali memiliki objek wisata yang luar biasa banyak. Tapi bagi seorang traveler macam saya, tentu saja yang lebih menarik adalah perjalanan itu sendiri, dan kebahagiaan adalah sesederhana ketika melihat tempat-tempat baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.

#to be continued in #BackpackerStories insya Allah.

4 thoughts on “Exploring Bali Island: Pertama Kali Mendarat dan Ngebolang di Kuta dengan Motor Matic”

  1. Saya senang sekali kunjungan di Balinya menyenangkan, hehe. Selamat datang di Bali. Tempat dan kuliner yang ada di tulisan ini memang cukup terkenal di kalangan pejalan, hehe. Semua teman yang ke Bali juga saya rekomendasikan makan di Nasi Pedas Bu Andika, wkwk. Dan, keputusan yang tepat dengan menyewa motor. Transportasi umum massal langka di Bali. Jadi, kalau mau eksplor, memang lebih asyik berkendara sendiri (nggak heran Bali lumayan macet), hehe. Lebih bebas juga ke mana-mana.

    Like

    1. Wah, ternyata gak salah juga milih makan di sana ya Mas? Syukurlah, wkwk.

      Iya, sepertinya kendaraan umum sulit ditemukan di Bali ya? Nyaris gak ada saya liat kecuali bus-bus pariwisata. Kenapa ya? Padahal Bali itu rame banget, saya jadi berpikir gimana caranya masyarakat setempat bepergian. Apa semuanya punya kendaraan pribadi masing2 ya? Hm. Tapi saya liat banyak juga bule yang rentak motor 😁

      Like

      1. Iya, memang jarang banget kendaraan umum. Ada sih ada, tapi satu-dua, sudah begitu jalannya menunggu penuh. Jadi sangat nggak efisien dari segi waktu. Masyarakat kebanyakan sudah pakai kendaraan pribadi, jadi tak peduli dengan transportasi umum. Bule pun lebih suka rental motor, karena murah dan membuat mobilitas menjadi bebas.

        Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s