Jelajah Selatan Bali: Garuda Wisnu Kencana dan Pura Uluwatu

Minggu, 29 Januari 2017. Pukul 9 pagi. Jalanan Kuta tampak ramai sekali. Saya baru saja kembali dari Pantai Kuta. Saatnya menjelajah tempat lain, pikir saya. Pilihan itu akhirnya jatuh ke wilayah selatan Pulau Dewata. Berbekal internet, Google Maps, dan tentu saja sepeda motor yang sudah saya rental sebelumnya, saya mulai menjelajah. Saya terlebih dulu singgah di swalayan, membeli bekal secukupnya seperti air mineral, masker (untuk melindungi napas dari polusi), lalu beberapa snack (lumayan kalau tiba-tiba lapar di tengah jalan). Sempat berputar-putar sebentar di sekitaran Kuta dan Legian, saya siap berangkat ke Selatan.

Jalan raya Pulau Bali benar-benar crowded! Kalau tidak naik sepeda motor, ah, mungkin terjebak macet. Saya kini mengarahkan sepeda motor ke jalan By Pass Ngurah Rai, melewati daratan sempit pulau Dewata di antara Teluk Benoa dan Selat Bali hingga tiba di wilayah selatan. Tujuan pertama saya adalah sebuah taman legendaris dan ikonik, Garuda Wisnu Kencana. Untuk mencapai tempat itu, butuh perjalanan sekitar 40 menit melewati Jalan Raya Kampus Udayana. Senangnya hati, saya sempat singgah melihat-lihat kampus Unud. Meski sempat tersesat, akhirnya saya tiba di depan pintu gerbang masuk Garuda Wisnu Kencana sekitar pukul 10 pagi.

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana atau disingkat GWK terletak di tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung. Saya masuk ke sana melewati jalan beraspal yang cukup jauh hingga tiba di pintu gerbang. Sampai di area parkir, saya agak risih karena tempat itu belum diaspal (jadi becek), dan jumlah kendaraan yang parkir juga lumayan banyak, mulai dari sepeda motor, kendaraan pribadi hingga bus pariwisata. Saya malah sempat bingung masuk ke tamannya lewat mana, tidak ada penanda khusus, hingga sempat pusing berputar-putar di sekitar bukit-bukit.

Setelah mencari, akhirnya gerbang masuk taman itu ketemu (ketawa bodoh). Saya berjalan kaki agak mendaki melewati beberapa toko souvenir hingga masuk ke pelataran terbuka taman yang tampak ramai: Street Teather. Ternyata, untuk masuk ke dalam, harus membayar karcis agak mahal, Rp 80.000,- seorang. Mungkin karena hari Minggu.

Berjalan kaki bersama ratusan pengunjung lainnya, saya menikmati suasana taman GWK dengan seksama. Tempat paling menyedot perhatian adalah pelataran terbuka di atas bukit dengan patung raksasa Dewa Wisnu. Patung dengan separuh badan dewa utama agama Hindu itu tingginya 23 meter. Patung itu dikelilingi air mancur, dan di dekat sana ada air sumur yang dianggap keramat oleh warga Bali: Prahyangan Somaka Giri. Konon sumur itu tidak pernah kering dan menjadi lokasi tempat meminta hujan pada musim kemarau bagi orang-orang Hindu. Kalau kita menoleh ke arah yang sama dengan kemana wajah patung Dewa Wisnu menghadap, kita juga bisa melihat pemandangan Pulau Bali dari ketinggian. MasyaAllah, indah sekali. Kombinasi lautan, hutan yang hijau dan kota yang ramai.

Puas duduk-duduk santai di Plaza Dewa Wisnu, saya kemudian pergi ke sebuah taman terbuka dengan patung Garuda: Plaza Garuda. Tempat ini luas sekali dan berada di ketinggian, dan menjadi pelataran masuk ke Lotus Pond, area terbuka hijau yang dikelilingi oleh gundukan bukit-bukit lurus yang membentuk lorong-lorong sempit. Berjalan kaki, saya mengitari tempat itu, lalu mencoba mengintip suasana mistis di sela-sela bukit sampai puas.

Akhir perjalanan di GWK, saya kemudian singgah kembali di Street Teather, membeli beberapa souvenir dan mengakhiri kunjungan sekitar pukul setengah 12 siang. Karena Bali masih luas, saya berusaha menyusun waktu seoptimal mungkin dan bersegera pergi ke tempat di ujung selatan Pulau Bali, Uluwatu.

Perjalanan menuju Uluwatu membutuhkan waktu sekitar 22 menit dari GWK. Mengendarai sepeda motor ke sana sungguh menyenangkan, karena melewati jalanan yang cukup sepi dan lancar. Saya beruntung cuaca juga mendukung. Selain itu pemandangan di sepanjang jalan juga lebih terasa. Kita bisa melihat upacara-upacara dadakan orang Hindu di rumah-rumah penduduk, melewati bukit-bukit yang hutannya masih alami, sesekali mengintip indahnya lautan yang berwarna biru dari ketinggian. It’s worth it! Tidak heran kenapa para bule juga banyak yang naik motor.

Sempat mengisi bensin di toko eceran, saya akhirnya tiba di Gerbang Pura Uluwatu sekitar pukul 12 siang. Pertama kali masuk saya memarkirkan kendaraan di depan toko souvenir, lalu berjalan kaki masuk ke area taman Uluwatu. Biaya masuknya Rp 40.000,- per orang. Ketika masuk, saya ditawari memakai kain sarung bali dan dipersilahkan memilih warna yang saya suka. Setelah itu, saya siap menjelajah.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah sebuah jalan kecil di antara semak-semak hutan tropis. Bersama puluhan pengunjung, saya berjalan kaki. Di sana banyak sekali monyet-monyet. Si pemandu wisata sempat mengingatkan agar berhati-hati memegang barang, baik ponsel, tas, termasuk kaca mata. “Nanti diambil monyet,” ucapnya. Saya terkekeh, jadi sedikit deg degan.

Ujung dari hutan monyet itu adalah tepian tebing yang menghadap ke lautan lepas. Tingginya mencapai 250 kaki. Darah saya tersirap ketika melihat pemandangan luar biasa itu. Di ujung salah satu tebing terdapat Pura khas Bali dengan atapnya yang berlapis-lapis. Pura Uluwatu yang legendaris, pikir saya. Saya mulai melangkah ke tempat itu melewati jalanan setapak kecil bertangga-tangga yang terdapat di sepanjang tepian tebing. Suasana dan pemandangan di sini sungguh menakjubkan.

Pura Uluwatu adalah adalah satu tempat bersejarah di Bali. ‘Ulu’ artinya ‘puncak’ dan ‘watu’ artinya ‘batu’. Puncak batu, pikir saya. Konon katanya bangunan-bangunan di sini adalah bekas peninggalan abad ke-10, beberapa di antaranya bertahan sejak zaman megalitikum. Pura Uluwatu sendiri merupakan tempat ibadah orang Hindu yang ditujukan khusus untuk Dewa Siwa Rudra, dibangun untuk melindungi Bali dari roh-roh jahat lautan. Menurut legenda, pura itu didirikan oleh Dhang Hyang Dwijendra dan disempurnakan oleh Empu Kunturan dari Majapahit di abad ke 11. Tua sekali.


Setelah puas berkeliling pura-pura indah di atas bukit terjal di Uluwatu, saya memilih duduk sejenak di pelataran terbuka. Waktu sudah berlalu sampai lewat pukul 2 siang, sementara masih banyak tempat di Bali yang ingin saya kunjungi. Tinggal 4 jam lagi, ucap saya dalam hati, sebelum sepeda motor ini saya kembalikan. Akhirnya, saya memutuskan untuk segera berbalik arah ke utara Pulau Bali. Saya sadar, perjalanan selanjutnya akan sangat berpacu dengan waktu. Lets go!

#to be continued in #backpackerstories insyaallah.

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s