Jawa, Bali & Nusa Tenggara, Stories, Travel

Pengalaman Pertama Naik Ferry: Mabuk Laut di Selat Lombok

Cerita di Bali terus berlanjut. Senin subuh, saya sudah terbangun di hotel S8 Suardana, Kuta. Usai shalat, bersih-bersih, sarapan kilat dengan roti dan air mineral sisa belanja di minimarket kemarin malam, saya kemudian check-out. Hari ini saya berniat naik kapal ferry jurusan Lombok di pelabuhan Padang Bai. Pasti menyenangkan, pikir saya, karena selain bakal jadi pengalaman pertama naik kapal, saya penasaran dengan pemandangan di tengah laut. 

Untuk bisa sampai ke pelabuhan Padang Bai, sehari sebelumnya saya sudah memesan tiket shuttle bus di loket “Perama Tour & Travel” dekat tugu bom Bali. Harganya cukup terjangkau, Rp 75.000,- dan berangkat pukul 6 pagi. Sepuluh menit sebelum berangkat, saya sudah sampai di loket dan mendapati sebuah minibus yang sudah siap terparkir. Setelah melapor, petugasnya mempersilahkan saya naik. Penumpang masih sepi. Saya lalu memilih duduk di bangku kosong leret ketiga dekat jendela. Di bangku depan sudah duduk dua orang bule yang sepertinya sibuk dengan kenyamanan masing-masing. Tak lama setelah supir masuk, bus yang saya tumpangi pun berangkat. Bismillah! Saya benar-benar antusias.

Sambil duduk di atas minibus, saya sesekali melihat-lihat peta di Google Maps. Pelabuhan Padang Bai terletak di pesisir timur Pulau Bali. Kalau dari Kuta jaraknya sekitar 54 kilometer. Butuh waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dengan kendaraan roda empat.  Bus ini sempat keliling sebentar di Kota Denpasar untuk menaiki beberapa orang penumpang tambahan. Kira-kira setengah jam kemudian barulah armada ini berangkat menuju tujuannya.

Di sepanjang perjalanan menuju pelabuhan Padang Bai, saya disuguhi dengan pemandangan desa-desa kecil di Bali, terutama yang ada di sepanjang pesisir timur pulau ini. Seperti yang sudah sering saya temui ketika menaiki kendaraan roda dua tempo hari, banyak sekali aktifitas upacara keagamaan yang berlangsung di beberapa pura yang saya lewati. Masyarakat Bali berkumpul menggunakan busana putih-putih dan kain sarung bermotif tradisional. Yang perempuan memakai kain ikat pinggang sementara yang laki-laki mengenakan semacam penutup kepala. Unik ya?

Rasanya perjalanan saya ke Padang Bai singkat sekali. Tak lama kemudian saya ternyata sudah sampai. Saya turun di depan gerbang pelabuhan dan mengucapkan terima kasih pada sang supir yang sudah mengatar saya sampai ke sini. Ketika turun pertama kali, banyak sekali bapak-bapak yang menghampiri saya. “Mau ke Lombok, Mas? Naik kapal kami saja, ada tiket promo dengan fasilitas bla, bla, bla..” rata-rata menawarkan seperti itu. Agen wisata, pikir saya. Saya hanya bisa menolak dengan segan. Sampai-sampai ketika saya masih berjalan kaki ke depan pelabuhan, karena tak sempat menjawab penawaran mereka, beberapa orang bapak malah bicara ketus. “Orang bicara kok nggak di jawab,” ujarnya. Ah, saya jadi serba salah. Ribetnya harus melayani mereka satu-satu. Untung saja beberapa saat kemudian saya sudah sampai di terminal penumpang, jadi mereka tidak lagi bersikeras menawarkan. Sungguh pengalaman yang kurang mengenakkan.

Alhamdulillah, ucap saya dalam hati. Harga tiket kapal ferry di pelabuhan menuju Pulau Lombok menurut saya tidak terlalu mahal, setidaknya tidak semahal penawaran jasa tour dan travel yang menjejali saya barusan. (Ada yang nawarin sampai 200 ribu, gilaks). Saya dapat membaca tarifnya di depan loket penumpang. Untuk dewasa cukup membayar Rp 40.000, sedangkan untuk anak-anak Rp 25.000. Petugasnya juga ramah. Usai membayar tunai, saya diberi kartu khusus elektronik (E-ticket). “Kapalnya sudah bersandar di dermaga, Mas,” ucap sang petugas, “Silahkan langsung naik saja.” Rasanya hati saya senang sekali. Usai mengucapkan terima kasih, saya langsung beranjak menuju tepi dermaga melewati jalan khusus yang mudah dilihat. Di beberapa sudut petugas juga tampak berdiri dan senantiasa memandu calon penumpang yang akan naik ke kapal.

Akhirnya, tak lama kemudian saya tiba di depan pintu kapal. Seorang petugas kembali mengecek E-ticket yang saya bawa dan mempersilahkan saya masuk. Perasaan saya ketika itu sulit untuk diungkapkan. Ini pertama kalinya naik kapal! Saya terkekeh, tinggal di Padang malah baru sempat naik kapal ferry di Bali.

Alhamdulillah, sekali lagi saya mengucap syukur. Kapal Ferry yang saya tumpangi terasa begitu nyaman. Di dalam kapal tersedia bangku-bangku sofa yang empuk untuk beristirahat. Ada juga meja-meja di depannya, lalu televisi LCD layar lebar yang tengah memutar film. Penumpang waktu itu terlihat cukup ramai, baik dari kalangan dewasa maupun anak-anak. Karena membawa ransel yang cukup berat, saya memilih duduk terlebih dahulu, meletakkan barang di sebuah bangku dan menikmati suasana itu sejenak sampai seorang ibu-ibu datang menghampiri saya. “Jajan dulu, Mas. Nasi campur. Ada kopi hangat juga kalau mau.” Saya tergiur, bukan karena makanannya tapi karena memang perut saya lapar sekali. Akhirnya saya beli. Lagipula, harganya sangat terjangkau.

Meski makanannya sederhana sekali, saya makan cukup lahap sampai akhirnya lapar saya terobati. Usai sedikit lebih bertenaga -lagipula kapal juga masih belum berangkat, saya memilih keliling-keliling sebentar. Saya penasaran dengan interior kapal ferry ini. Tidak ada salahnya melihat-lihat. Apatah lagi sayang jika harus melewatkan pemandangan indah pelabuhan.

Dari atas kapal, saya bisa melihat pemandangan bangunan pelabuhan dari kejauhan. Sederhana sekali, tapi begitu menentramkan. Kapal-kapal kecil maupun besar tampak bersandar di beberapa tepian dermaga, bersanding dengan ramahnya lautan dan latar belakang perbukitan yang begitu menawan.

Puas melihat pelabuhan dari sisi belakang kapal, saya kemudian beranjak ke sisi samping. Ada koridor panjang di tepi pagar pembatas yang di sana bersusun kursi-kursi menghadap lautan lepas. Cocok sekali untuk menikmati suasana perjalanan di luar kapal.

Tempat-tempat lain di atas kapal juga menarik perhatian saya. Saya terus berjalan mengelilingi kapal mulai dari depan, naik ke atap kapal, tempat kemudi kapten, restoran dan lain sebagianya. Maklum, baru pertama naik kapal. Hehe.

Akhirnya, satu jam kemudian kapal ferry yang saya tumpangi mulai bergerak meninggalkan pelabuhan menuju perairan Selat Lombok. Tujuan akhir kapal ini adalah Pelabuhan Lembar di Pulau Lombok. Seiring kapal terus melaju, pemandangan di luar sana mulai tampak menakjubkan. Pelan-pelan pelabuhan tampak semakin mengecil seiring kami tinggalkan, sementara Gunung Agung Bali tampak semakin jelas dan berdiri gagah di ujung penglihatan. Masya Allah, batin saya tak berhenti mengucap syukur.

Dua jam lebih saya bertahan duduk di bangku samping kapal untuk menikmati panorama yang indah itu, sampai akhirnya kepala saya mulai pusing dan perut saya mual minta ampun. Ombak Selat Lombok mulai mengganas meskipun tidak hujan, tapi gelombang ini benar-benar bukan main. Saya rasa tingginya mungkin mencapai satu setengah meter. Kapal yang saya tumpangi benar-benar bergoyang turun naik, membuat saya mabuk. Rasanya benar-benar tidak enak, sampai akhirnya saya memilih kembali ke dalam ruang penumpang dan duduk di bangku sofa. Tapi hal itu tidak bertahan lama, sampai saya sungguh tidak tahan dan beranjak ke toilet untuk mengeluarkan isi perut yang mulai tak karuan. Ya Allah.

Cukup sekali, saya muntah sangat hebat di toilet kapal. Badan saya terasa huyung bukan main, rasanya tak sanggup lagi untuk bertahan. Sudah lama sekali saya tidak mabuk perjalanan, karena biasanya di darat saya aman-aman saja. Tapi ternyata, laut mengalahkan saya. Saya dibuat menyerah, dan memilih tidur di sofa panjang, terkulai tidak berdaya. Ckck. Motion Sickness benar-benar tidak menyenangkan. Karena saya pikir tak akan jadi masalah, saya tidak membawa obat mabuk perjalanan. Dalam hati saya yang awalnya bahagia bukan main, lama-lama justru saya berdo’a agar cepat sampai di Lombok. Tapi saya tahu, selat Lombok begitu lebar, memakan perjalanan kapal sekitar enam jam. Saya harus kuat.

Syukurlah, ternyata posisi tidur terlentang membuat pusing saya jauh berkurang. Alhamdulillah saya juga sempat tidur nyenyak, dan kembali terbangun saat ombak terasa mulai tenang. Ketika saya keluar dari kapal, pulau Lombok terlihat sudah mendekat. Dalam batin saya berujar, mimpi apa saya bisa ke Lombok? Tapi saya tidak berhenti untuk yakin, jika Allah sudah berkehendak, maka semuanya bisa terjadi. Modalnya ternyata hanya niat, usaha, dan tawakal.

Kini, sinyal internet yang tadinya sempat terputus di tengah lautan mulai terhubung kembali. Pesan singkat dari ayah dan ibu masuk bertubi-tubi. Rupanya, ada kejutan lain dari seseorang di Pulau Lombok. Saya kembali mengucap syukur tiada henti.

#to be continued in #BackpackerStories insyaAllah.

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s