Bali & Nusa Tenggara, Indonesia, Travel

Pertama Kali Tiba di Lombok, Pulau Seribu Masjid

Senin siang, kapal ferry yang saya tumpangi akhirnya mendekati Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Sempat berhenti sejenak di tengah laut, saya bisa melihat puluhan kapal ferry yang sepertinya sedang mengantri untuk berlabuh. Ketika menunggu kapal kembali bergerak, tiba-tiba sebuah pesan WA masuk. Rupanya dari Ama, ibu saya. Beliau bilang kalau di Mataram ada seorang teman lamanya yang sudah menunggu-nunggu kedatangan saya. Saya cukup kaget. Ama pasti baru saja menelepon temannya, pikir saya.

Kira-kira setengah jam kemudian, saya pun turun di dermaga bersama ratusan penumpang lainnya yang baru saja melewati perjalanan dari Pelabuhan Padang Bai Bali selama lebih kurang enam jam. Perasaan saya benar-benar senang. Saya sama sekali tidak menyangka sudah berjalan sejauh ini seorang diri.

Kini, sesuai dengan rencana semula, saya berniat terlebih dahulu ke Kota Mataram, terutama mengunjungi Islamic Center NTB dengan masjidnya yang indah itu, sekalian agar bisa istirahat dan shalat sejenak. Untuk ke sana, saya sebelumnya sempat browsing. Satu-satunya jasa transportasi yang ada sepertinya hanya ojek. Bismillah.

Usai turun di dermaga, seorang bapak-bapak kemudian datang menghampiri saya menawarkan jasa ojek. Sempat tawar menawar, saya akhirnya setuju naik dengan harga Rp 40.000,- sampai masjid NTB. Cerita-cerita sedikit, rupanya si bapak masyarakat asli sini. Rumahnya tidak jauh dari pelabuhan. Beliau tinggal dengan istri dan anaknya. Pekerjaannya tidak tetap, jadi tukang ojek hanya sambilan. Karena tampak jujur, saya percaya. Komunikasi kami terjalin cukup baik. Sebelum berangkat, beliau izin menjemput helm untuk saya kenakan. Saya menunggu di depan gerbang masuk pelabuhan, sembari melihat-lihat suasana.

Ketika termenung di depan gerbang, tak lama kemudian seseorang menelepon saya. Nomornya tidak dikenal. Karena punya firasat kalau yang menelepon adalah teman Ama, saya langsung angkat.

“Assalamu’alaikum, Aan. Ini Ante I, teman Mama,” ujar beliau memperkenalkan diri. Ternyata benar, ucap saya dalam hati. Saya pun ikut menyapa sambil berkenalan. “Aan beneran sudah sampai di Lembar? Ante jemput ya?!” tawar beliau antusias. “Nanti supir Ante yang jemput tidak apa-apa ya? Ante kebetulan sedang ada kegiatan.”

“Ah, tidak usah dijemput, Nte,” jawab saya segan. Lagipula saya sudah memesan ojek, tak elok membatalkan. “Aan naik ojek saja dulu ke Mataram, nanti kita bertemu di masjid raya NTB saja, Nte, insyaallah.” Saya berusaha menjelaskan.

Karena maklum, Ante I tampaknya setuju. “Baiklah kalau begitu, nanti Ante susul ke masjid, ya!” Saya ikut senang.

Sekitar sepuluh menit kemudian, si bapak tukang ojek akhirnya datang. Saya diberi helm, lalu kami pun berangkat ke Mataram dengan sepeda motor. Udara kota yang hangat khas pesisir mulai kian terasa. Jalan raya yang lebar dan mulus menyambut kedatangan saya.

Selama perjalanan, saya diajak ngobrol oleh si bapak tukang ojek. Saya bilang jauh-jauh dari Padang, kepingin melihat Lombok. Mendengar cerita saya keliling Jawa sampai Bali beliau terheran-heran. “Saya saja belum pernah ke Bali, Mas,” ujarnya. “Selama ini hanya mutar-mutar Lombok saja, belum pernah keluar pulau.”

“Kalau gitu bapak harus coba sekali-sekali, Pak,” bujuk saya. Lagipula saya pikir tiket naik kapal ke Bali dari Lombok tidak terlalu mahal.

Si bapak juga lanjut bercerita tentang orang asli Lombok, yang ternyata punya suku-suku tertentu. “Rata-rata orang sini suku Sasak, Mas. Termasuk saya.” Saya mengangguk-angguk. Mirip suku-suku di Minangkabau rupanya.

Seiring waktu berjalan, kami pun akhirnya sampai ke perbatasan Kota Mataram. Jalan rayanya mulus dan tertata rapi. Suasana religius pun mulai terasa. Banyak sekali masjid dengan kubah-kubah cantik berdiri di sudut-sudut kota. Kabarnya tiap lima ratus meter berdiri masjid yang indah. Saya juga dengar penjelasannya dari bapak tukang ojek. “Makanya pulau ini disebut pulau seribu masjid, Mas,” jelas beliau. Saya jadi terkagum-kagum.

Tak lama kemudian, saya pun akhirnya sampai di tujuan. Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Nusa Tenggara Barat berdiri dengan megah di jantung kota Mataram. Saya benar-benar terkesima dengan arsitekturnya yang indah. Masjid ini punya lima menara setinggi 99 meter, mengikuti jumlah asmaul husna. Di atas puncaknya berdiri kubah dengan atap-atap yang khas bergaya Lombok dan Sumbawa. Lalu ditengah-tengah bangunan utama terdapat kubah besar berwarna hijau toska dan kuning emas dengan corak batik sasambo khas Nusa Tenggara Barat. Koridor-koridor panjangnya pun mengingatkan saya pada masjid Nabawi di Madinah. Pelatarannya juga luas dan lapang, memungkinkan sirkulasi udara yang tenang menjadi kian terasa. Di tengah-tengahnya ada fasilitas keran air untuk berwudu’.

Masjid Hubbul Wathan ini dibangun sejak tahun 2013 dan selesai di tahun 2015 pada masa gubernur M. Zainul Majdi. Kapasitasnya mencapai 20.000 jemaah. Masjid ini pernah menjadi tuan rumah lomba MTQ nasional ke XXVI di Mataram tahun 2016.

Puas mengagumi masjid dari luar, saya berniat masuk ke dalam masjid. Kebetulan saya sampai menjelang shalat Ashar tiba, jadi saya langsung berwudhu’ dan ikut shalat berjamaah sekaligus menjama’ shalat Dzuhur setelahnya. Saya terlebih dulu menitipkan barang di tempat penitipan sebelum naik ke ruangan masjid melalui sebah tangga yang besar yang di sisi kiri dan kanannya terdapat eskalator. (Gak keliatan di foto).

Masyaallah, suasana di dalam masjid juga tidak kalah menenangkan. Ruangannya cukup luas, dengan karpet lembut berwarna merah dan mimbar masjid yang indah. Langit-langitnya juga besar bercorak batik tradisional. Sebuah ornamen mirip kipas raksasa menggantung di tengah lengkungan kubah bertuliskan lafadz Allah. Suasana itu kian menentramkan saat muadzin mengumandangkan azan dan masyarakat berbondong-bondong untuk segera menunaikan shalat Ashar berjamaah. Sebagian besar dari mereka sepertinya pelajar SMA dan masyarakat sekitar. Mataram terkesan benar-benar religius.

Selesai shalat, saya kembali berkeliling masjid untuk melihat-lihat. Yang saya suka dari masjid ini salah satunya adalah menaranya, tinggi menjulang dengan ukiran-ukiran khas bernuansa Islami. Atapnya juga sepertinya tersipirasi dari salah satu rumah adat NTB bernama Bale Lumbung, khas dari suku Sasak di Pulau Lombok. Belakangan saya baru tahu kalau di menara ini tersedia lift untuk melihat pemandangan Mataram dari ketinggian. Sementara itu, kalau melihat tangga masjid yang besar dan panjang itu, sepertinya diadopsi dari rumah adat Sumbawa bernama Istana Dalam Loka. Jadi secara keseluruhan, gaya bangunan masjid ini berasal dari kombinasi rumah-rumah adat yang ada di NTB, karena sepengetahuan saya, NTB memiliki beragam rumah adat khas yang berasal dari dua pulau terbesar, yaitu Lombok dan Sumbawa.

Bicara tentang masjid di Lombok -sampai-sampai pulau ini dijuluki Pulau Seribu Masjid, tampaknya dipengaruhi oleh budaya Islam yang mengakar kuat di pulau ini. Islam diketahui masuk ke Lombok melalui para wali dari pulau Jawa, yakni Sunan Prapen dari Gresik (Syekh Maulana Fatichal) sekitar abad ke 16 M pasca runtuhnya kerajaan Majapahit. Waktu itu kerajaan Lombok dipimpin oleh Prabu Rangkesari, dan masyarakat ketika itu menganut berbagai macam kepercaayaan mulai dari animisme, dinamisme dan hindu. Setelah mengenal nilai-nilai luhur yang dibawa oleh Islam, masyarakat berbondong-bondong menjadi mualaf, meskipun kebiasaan dari kepercayaan masa lalu itu masih tersisa dalam praktek keislaman mereka sebelum perlahan diluruskan oleh pendakwah Islam di masa kemudian. Misalnya saja “praktik Wetu Telu” yang sampai sekarang masih dapat ditemui di beberapa tempat di Lombok, seperti Roah Wulan dilaksanakan pada bulan Sya’ban, Selamatan Qunut dilaksanakan pada bulan Ramadhan, dan lain-lain. Wallahu’alam.

Setelah cukup puas mengamati fisik bangunan masjid, saya juga tertarik dengan sebuah beduk dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang dipampang di teras masjid ini. Meskipun tidak dituliskan secara rinci siapa yang membuat, menurut saya hal itu menjadi bukti kesuksesan Mataram menyembatani keberagaman budaya di tempat ini. Hm, tentu saja rukun itu harus bukan?

Setelah saya puas berkeliling dan mencari informasi dari internet mengenai masjid ini, tak lama kemudian akhirnya saya bertemu dengan Ante I. Beliau diantar oleh dua orang ajudannya menggunakan mobil (astaga saya sampai lupa nama beliau-beliau ini. Hiks. Ante I sudah menganggap mereka sebagai saudara.) Ketika bertemu, beliau langsung menyambut saya dengan sumringah dan senang hati. “Astaga, Ante masih ingat ketika dulu menggendong Aan ketika masih kecil, eh sekarang sudah besar aja!” Ucap beliau tertawa. Saya malah sama sekali tidak ingat. Tapi saya sungguh bersyukur ternyata Ante I adalah teman dekat Ama. Saya hanya tidak menyangka, bertemu beliau di tempat sejauh ini.

Akhir kisah, perjalanan saya berakhir setelah dijemput oleh Ante I. Betapa senangnya hati, Ante I mempersilahkan saya jalan-jalan dulu keliling Lombok bersama dua ajudan beliau.

“Di Lombok ini pantainya bagus-bagus. Aan harus lihat,” ucap si Abang. Sebut saja Bang Iwan.

“Kemana pun Aan mau, saya akan mengantar dengan senang hati,” ucap si Bapak tersenyum ramah, sebut saja Pak Yadi.

Singkat cerita, Ante I rupanya membawa mobil sendiri. Beliau pamit terlebih dulu untuk pulang, “Puas-puasin saja dulu ya, An!” ucap beliau, “Nanti malam Ante tunggu di rumah.” Saya benar-benar bersyukur dengan kebaikan Ante I. Sementara Bang Iwan dan Pak Yadi mengantarkan saya jalan-jalan dengan mobil yang lain.

Akhirnya, perjalanan mengelilingi Lombok pun dimulai. Saya sungguh penasaran walaupun saya tahu kunjungan ini harus segera berakhir tak lama lagi. Dari sini saya belajar, ternyata selain kepuasan batin, traveling juga memungkinkan kita bertemu dengan kenalan-kenalan baru, bahkan juga keluarga dan teman lama. Punya pengalaman pertama ke Pulau Lombok? 🙂

#to be continued in #BackpackerStories insyaAllah.

Bacaan dan gambar:

Www.gomuslim.co.id
Www.inigresik.com
usahaku.co.id
1.bp.blogspot.com

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s