Book Review, Dakwah, History, Interest

Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Adam A.S. Hingga Isa A.S – Ibnu Katsir [Book Review]

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”

(QS.Yusuf: 3)

Usai membaca beberapa buku bergenre sejarah dan saintologi alam semesta, pikiran saya sempat tergelitik serius. Saya hanya merasa kasihan, ketika para penulis-penulis barat begitu bingung mempertanyakan darimana asal usul manusia dan jagad raya. Bermacam-macam teori pun lahir, mulai dari teori kosmologi, darwinisme, dan sebagainya. Diantara mereka bahkan ada yang mempertanyakan kesahihan kitab suci mereka sendiri, karena banyak peristiwa semesta yang tidak sesuai dengan apa yang mereka dapat di ajaran agama mereka. Akibatnya, dewasa ini banyak diantara saintis dan fisikawan modern memilih untuk meninggalkan agama mereka dan beralih menjadi pemikir bebas dan atheis.

Karena latar belakang di atas, akhirnya saya merasa perlu untuk kembali membuka bacaan lama secara lebih serius dan menelaah sejarah kehidupan manusia berdasarkan al-Qur’an. Oleh karenanya, saya berusaha mencari buku-buku klasik yang ditulis ulama besar abad pertengahan tentang sejarah Nabi dan Rasul semenjak Adam A.S. Alhamdulillah, saya menemukan buku ini, Kisah Para Nabi, yang dikarang oleh ulama besar di zamannya, Ismail bin Umar al-Qurisyi ibn Katsir, atau yang lebih populer dengan sebutan Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H) dan disempurnakan penulisannya (di-tahqiq) oleh Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur’an Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir: Prof. Dr. Abu Musthafa Abdul Hayyi al-Farmawi tahun 1990.

Buku Kisah Para Nabi bercerita tentang sejarah panjang peradaban manusia hingga zaman sebelum Nabi SAW, karena bab pertama buku ini adalah tentang kisah Nabi Adam AS dan diakhiri dengan kisah Nabi Isa AS. Buku ini sepenuhnya bersumberkan kepada al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW, dan di setiap hadits umumnya dicantumkan derajat kesahihannya sehingga kita bisa mempelajarinya dengan terbuka. Ibnu Katsir juga tidak segan-segan menuliskan sumber-sumber non Islam seperti dikutip dari Ahli Kitab baik Yahudi maupun Nasrani dengan penjelasan yang jelas sebagai bahan perbandingan. Setiap kisah Nabi pun disusun rinci secara kronologis, lengkap dengan silsilah, pandangan geografis, kondisi manusia saat itu, dan ditulis dengan bahasa yang lugas dan kadang cukup emosional. Saya sendiri menikmati setiap kalimat di buku ini meskipun adalah terjemahan, karena masing-masing bab selalu ada keterkaitan.

Selain kisah para Nabi dan Rasul, buku ini juga menceritakan kisah-kisah umat-umat terdahulu yang tidak bisa dipisahkan dengan peranan Nabi pada zaman itu. Kita jadi bisa menilik asal muasal peradaban besar manusia di masa lalu, seperti sejarah bangsa Babilonia, Romawi, Afrika, Arab dan Persia. Setiap kisah disertai dengan dalil-dalil naqli dan aqli yang memuaskan, sehingga usai membacanya membuat kita semakin penasaran untuk menggali lebih dalam.

Usai berjuang menamatkan buku ini dalam waktu kurang lebih satu bulan di sela-sela aktifitas harian, saya merasa menemukan semacam hikmah. Ya. Ada hal-hal yang selama ini rasanya belum terlintas di benak pikiran, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, buku ini secara perlahan mampu menyadarkan otak saya akan koneksi logis dan rasional akan peristiwa-peristiwa luar biasa di masa lalu yang pada awalnya sulit dicerna oleh keterbatasan akal manusia. Memang sulit mendeskripsikannya, tapi demikianlah. Saya sama sekali tidak menemukan kesenjangan apa yang mereka sebut ilmiah pada hari ini dengan kenyataan yang disebutkan dalam al-Qur’an. Penciptaan Adam AS dari tanah, penunjukan manusia sebagai khalifah di atas bumi, lahirnya bangsa-bangsa di dunia, hingga kehidupan tak kasat mata seperti kehidupan langit, malaikat dan iblis, surga dan neraka, sama sekali mudah diterima akal dengan segala logikanya jika saya menerimanya dengan hati yang terbuka.

Kedua, saya jadi menyadari bahwa sebelum Zaman Nabi Muhammad SAW, peristiwa-peristiwa besar dan luar biasa sepertinya ‘lumrah’ terjadi. Sebut saja tentang penciptaan Nabi Adam AS itu sendiri, tentang kapal Nabi Nuh, tentang azab yang menimpa kaum-kaum Nabi Nuh, Luth, dan Syu’aib, tentang terbelahnya laut Merah oleh Nabi Musa AS, tentang turunya Taurat, kerajaan Daud AS dan Sulaiman AS, hingga mukjizat-mukjizat Nabi Isa AS yang dapat menghidupan orang mati, menyembuhkan penyakit kusta, diangkat ke langit, dan sebagainya. Saya justru merasa peristiwa-peristiwa besar diluar nalar itu sengaja ditahan oleh Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW sebagai ujian besar di akhir zaman (wallahu’alam), apatah lagi umat manusia sepeninggal Rasulullah adalah umat yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Mungkin ada hikmahnya juga, ketika para ilmuwan non-muslim berlomba-lomba menyatakan tidak bertuhan (La Ilaha) sampai jelas bagi mereka mana yang benar (Ilallah). Maka tergelitik pulalah pemikiran saya saat membaca kisah turunnya Nabi Isa AS di akhir zaman nanti, mukjizat di luar nalar yang akan ditampakkan pada umat manusia akhir zaman yang mampu menyatukan hati seluruh umat dunia agar mengakui kebenaran ajaran Islam.

Ketiga, setelah membaca kisah-kisah luar biasa di masa lalu, saya merasa metode “ilmiah” itu sangat naif jika dijadikan satu-satunya sumber utama pengetahuan. Ada semacam perasaan yang timbul dalam hati saya, bukankah apa yang kita sebut dengan ilmiah sekarang hanyalah temuan manusia berdasarkan apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan dengan panca indra saja? Sebut saja ilmu empiris atau sains yang menurut pengamatan bodoh saya semuanya berasal dari bukti yang diterima panca indra. Evidence based science, ilmu berdasarkan bukti, yang mereka sebut bukti ilmiah. Saya jadi merasa bodoh setelah menyadari hal itu. Apakah kita terlalu sombong dengan mengagungkan sains yang ternyata hanya ilmu sebatas panca indra manusia? Sementara bukankah banyak hal-hal di luar sana yang justru tidak bisa dicerna oleh sistem sensorik manusia? Oleh sebab itu tak selayaknya manusia sombong dan berbangga diri, padahal justru sains itu selalu sejalan dengan apa yang disampaikan al-Qur’an. Hingga sampailah saya pada kesimpulan, sains itu hanyalah salah satu instrumen untuk membuktikan kebenaran al-Qur’an.

Keempat, saya jadi menyadari bahwa iman itu memang harus disertai ilmu, sehingga tidak hanya menjadi semacam doktrin, tradisi, atau bahkan apa yang sebagian besar ilmuwan atheis bilang: tahayul (naudzubillah). Oleh sebab itu, belajar itu ternyata memang wajib. Semua cerita sejarah yang telah Allah sampaikan kepada kita dalam Al-Qur’an haruslah digali benar-benar dan dijadikan pelajaran agar kualitas iman kita tidak hanya sebatas mengikuti nenek moyang, tetapi iman atas landasan ilmu dan keyakinan yang mendalam.

Kelima, kehidupan manusia ternyata sudah tua. Saya merasa baru saja kembali dari kehidupan puluhan ribu tahun setelah membaca buku Kisah para Nabi karangan Ibnu Katsir R.A. ini dan menyadari kalau kitalah umat terakhir yang mewarisi bumi dari para pendahulu kita. Itu jugalah kebahagiaan yang saya rasakan setiap kali membaca buku bergenre sejarah. Banyak pelajaran yang didapat, baik dari pengalaman, budi pekerti dan pengetahuan masa lalu sehingga tujuan hidup kita menjadi lebih terarah. Insyaallah.

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS.Al-Baqarah: 255)

Yap, saya rasa itulah kurang lebih kesimpulan yang bisa saya dapatkan usai membaca buku ini. It’s worth it. Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi siapapun, bahkan mungkin wajib bagi mereka yang mengaku muslim. 5 stars. 😀

Details:

  • Judul: Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Adam A.S. Hingga Isa A.S.
  • Judul Asli: Qashash al-Anbiyaa
  • Penulis: Ibnu Katsir (Penerjemah: Saefulloh MS)
  • Penerbit: Qisthi Press (Terbitan Indonesia)
  • Cetakan ke: 2, Februari 2017
  • Tebal: xviii + 846 halaman
  • ISBN: 978-979-1303-84-2

2 thoughts on “Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Adam A.S. Hingga Isa A.S – Ibnu Katsir [Book Review]”

  1. Yang ‘aneh’ tapi umum terjadi pada ilmuwan-ilmuwan yang ateis adalah mereka biasanya menghentikan pencarian mereka pada satu titik. Mereka tahu bahwa asal usul alam semesta berawal dari ketiadaan, tetapi mereka tidak mau mencari siapakah yang menjadikan ada dari tiada itu. Mereka lantas menyimpulkan bahwa alam berjalan dengan sendirinya hanya karena tidak mampu mencari Sang Maha Pencipta dari bukti-bukti ilmiah yg mereka temukan (atau mungkin, menyangkal tanda-tanda kekuasaan Allah?). Makasih atas review bukunya, An..tampaknya sangat penting untuk dibaca

    Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s