Book Review, Interest

Origin – Dan Brown [Book Review]

“Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi?”

Edmon Kirsch (Origin, Dan Brown)

Sungguh menyebalkan, ucap saya dalam hati setelah membaca buku ini. Origin, salah satu karya terbaru Dan Brown cukup berhasil menyita perhatian saya belakang hari. Isu-isu yang diangkat memang favorit saya: sejarah, agama, dan sains. Jika membaca kuot singkat di atas, mungkin kita bisa menerka, cerita novel ini tentang apa.

Sedikit flashback. Buku yang ada di tangan saya sekarang ini saya dapatkan bulan Desember 2017 lalu setelah penantian panjang di toko buku langganan. Karena sudah mengikuti kisah Robert Langdon-nya Dan Brown dari awal, tak bisa tidak buku ini harus saya beli. Saya sudah rela-rela nyetor uang panjar tiga bulan sebelumnya agar kebagian buku edisi terbatas ini. Haha. Alhamdulillah, saya dan Mak Oni (partner booknerd saya belakangan ini) mendapatkan edisi hardcover asli, terbitan pertama Origin versi terjemahan Indonesia yang langsung ditandatangani oleh Dan Brown sendiri. Oh my God!


Back to the point, kisah yang ditawarkan Dan Brown di seri petualangan Robert Langdon kali ini sebenarnya tidak jauh-jauh dari tema biasanya, yakni perseteruan antara Sains dan Agama. Awalnya, setelah mendengar isu-isu sedap dari para booknerds pencinta Dan Brown, berbeda dengan novel-novel sebelumnya, Origin akan menyerang semua agama sekaligus dengan isu penciptaan: “Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi?” Pertanyaan bagus. Meski saya sudah punya jawaban, tapi monggo, apa yang ingin dikupas di sini? Saya jadi penasaran.

Alkisah, Robert Langdon, professor simbologi agama Universitas Harvard ini terlibat dalam konspirasi pembunuhan Edmond Kirsch -ilmuwan terkemuka dunia yang juga mantan mahasiswa Langdon. Kepala Edmond Kirsch ditembus pelurus panas saat ia sedang live di layar kaca hendak mengumumkan penemuan ilmiahnya yang ia yakini dapat mengubah pandangan manusia akan sains: bukti ilmiah asal-usul kehidupan manusia dan alam semesta. Selama berabad-abad, isu ini memang telah menjadi perdebatan antara saintis dengan pemuka agama. Kali ini, sembari menantang tiga agama sekaligus secara frontal: Katolik, Yahudi dan Islam, Edmond pun berkata dalam hati, Ini tidak akan mengguncang fondasi kalian. Ini akan menghancurkannya! Tapi justru pada saat detik-detik penemuannya hendak disiarkan ke seluruh dunia, Edmond mati dibunuh pria tak dikenal. Diduga, motif sang pelaku berkaitan dengan temuan saintifik Edmond yang sungguh berbahaya tersebut.

Tragedi berdarah yang mengerikan itu ternyata harus menyeret Langdon dan Ambra Vidal –calon istri pangeran Spanyol ke dalam suatu momen pelarian pelik dan dramatis. Langdon dituduh menjadi tersangka penembakan Edmond sekaligus penculik calon ratu Spanyol yang sejatinya memilih mengikuti Langdon karena terjebak situasi. Karena ingin mengetahui siapa pembunuh Edmond yang sebenarnya dan mengungkap penemuan mencengangkan apa yang akan diumumkan mantan mahasiswanya itu, kedua tokoh ini akhirnya mengubak semua simbol dan petunjuk yang ditinggalkan Edmond lewat peninggalan-peninggalannya dan makhluk virtual ciptaannya, Winston. Kita akan dibawa bertualang di Spanyol, lalu disuguhi dengan fakta-fakta mencengangkan dari simbol-simbol organisasi nyata penuh konspirasi, gereja-gereja, sekte-sekte Kristen, dan kehidupan pelik istana kerajaan. Semuanya terasa begitu complicated.

Kembali ke pertanyaan awal, “Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi?”, semuanya baru terjawab di beberapa lembar terakhir buku ini. Rasa penasaran saya mecapai klimaks menjelang tahu jawaban yang disuguhkan. Karena itu, silahkan baca sendiri. Hehe.

Meski saya harus bilang kalau Origin bukanlah novel terbaik Dan Brown selama ini, buku ini sangat menghibur dan menggelitik logika. Full of conspiracy, memang, tapi sebagai seorang Muslim, saya memilih untuk menjadikannya alasan untuk memperkuat keyakinan. Saya hanya kasihan, ketika para futuris yang diwakili Edmond Kirsch menjadi atheis karena merasa bahwa agama tidak mampu menyawab dan menerima apa yang telah ditemukan sains selama berabad-abad. Tapi, benarkah demikian?

Akhirnya, usai membaca buku ini sampai habis, tetap banyak nilai-nilai yang bisa saya temukan. Karena novel ini berlatar fakta yang nyata kebenarannya, selain menambah wawasan kita akan sains seperti teori fisika kuantum, evolusi Darwin, kosmologi dan semacamnya, buku ini juga worth it untuk modal menjelajahi Spanyol, mengenal kehidupan kerajaannya, dan menggali makna-makna tersirat dari seni dan budayanya. Selain itu, ada juga sisi moralitas yang dapat diperoleh dari kisah kali ini, seperti kesungguhan, rasa percaya, kejujuran, loyalitas, dan cinta.

Di samping tema asal-usul alam semesta, isu-isu tentang kehidupan masa depan juga menarik dilihat dalam Origin. Setelah membacanya, saya jadi ikut sadar, pesatnya perkembangan teknologi seperti yang diceritakan memang akan sulit untuk diprediksi. Kemunculan organisme kingdom ke-7 setelah Animalia, Plantae, Protista, Eubacteria, Archaebacteria dan Fungi menarik untuk dipikirkan, yaitu spesies anorganik: Technium. Ya. Semoga segala kemajuan peradaban manusia tidak membuat kita semakin jauh dari Tuhan, tapi justru sebaliknya. Saya kira itulah nilai penting lainnya yang bisa saya peroleh dari buku ini. 🙂

Akhirnya, buku ini saya sematkan 4 dari 5 bintang. Like it.

Details:

  • Penulis: Dan Brown
  • Judul: Origin
  • Penerbit: Bentang
  • Cetakan ke: 1, November 2017
  • Tebal: 516 hlm
  • ISBN: 978-602-291-443-3 (hardcover)

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s