Sumatera, Travel

Berkelana di Negeri Bekas Tsunami

Pagi itu begitu tenang. Saya terbangun di kamar penginapan sederhana. Berbenah diri, saya bangunkan adik semata wayang. Kami berdua tak lagi di Padang, tapi di Banda Aceh.

Sepiring ketupat gulai kami santap di kedai sarapan sebelah penginapan. Bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam PNS tampak riang bercanda gurau ditemani kopi dan cemilan. Bahasa Aceh yang tak kami kenal sesekali terdengar dari kejauhan. Semburat mentari Aceh pun menyelinap di meja-meja kami dari balik rerindangan pohon. Meski udara Banda Aceh tak jauh beda panasnya dengan Padang, sarapan pagi itu memang terasa berbeda.

Keliling Banda Aceh adalah niatan kami berdua yang baru kemarin sampai dari Padang. Alhamdulillah, kini kami punya sepeda motor, hasil rental kemarin malam. Dibonceng si Adik, saya menerawang sepanjang jalan. Aceh begitu menentramkan. Lalu lintas tak sesibuk Padang. Meski ramai tapi tetap mengalir tenang.

Lapangan Blang Padang Aceh tampak tentram ditemani suara anak-anak remaja yang asyik bermain bola. Mereka memakai seragam sekolah, mungkin sedang pelajaran olahraga. Motor kami kini terparkir di bawah deretan pohon rindang di salah satu sudut lapangan. Tempat ini rupanya setali sekawan dengan komplek monumen Aceh. Di sini saya kembali diingatkan dengan bencana tsunami yang pernah melanda negeri ini tahun 2004 silam. Di sebuah jogging track teduh dan sejuk yang melingkari lapangan Blang Padang Aceh itu, terdapat prasasti-prasasti bersimbolkan bendera negara-negara yang turut membantu Aceh bangkit pasca bencana. Setiap prasasti bertuliskan kalimat “Terima kasih dan damai” dalam dalam bahasa yang berbeda-beda sebagai ungkapan rakyat Aceh kepada dunia.

Berjalan kaki di komplek monumen Aceh, saya pun tergerak hendak menghampiri sebuah tugu pesawat tua di tengah-tengah taman pepohonan. Sebuah catatan batu tertulis di bawahnya: “Pesawat RI 001”. Pesawat ini adalah pesawat pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh kepada Pemerintah pada saat perang kemerdekaan. Kini ia berdiri menjadi saksi perjuangan dan semangat rakyat Aceh mengusir penjajah, dan saya tahu orang Aceh sangat bangga dengan hal itu.

**

Tonggak besi warna-warni menghiasi sebuah taman rumput hijau di tengah kota. Apakah tonggak itu adalah bekas reruntuhan akibat bencana tsunami? Entahlah. Yang jelas, tragedi pilu itu kini telah berubah menjadi nostalgia penuh harapan. Ada roh untuk bergerak maju seiring merefleksikan diri dari kejadian buruk di masa lalu. Saya begitu antusias melompat-lompat di atas angin sambil berfoto. Taman ini cantik. Pemerintah setempat membangun kompleks bangunan indah bergaya timur tengah di salah satu sudut taman bernama Bustanussalatin, artinya taman raja-raja. Memang taman ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh, dan dulunya menjadi tempat bermain keluarga kerajaan di abad ke-17. Kabarnya, bangunan itu akan dijadikan museum sejarah Aceh. Jika sudah selesai, pasti bagus sekali.

Tapi keindahan sesungguhnya Aceh selalu tertuju pada masjid indah di balik taman: Masjid Raya Baiturrahman. Meski kemarin malam kami telah singgah, rasanya tak ada kebosanan. Birunya langit semakin memperjelas keelokan rupa bangunan tua yang berdiri sejak zaman Sultan Iskandar Muda di tahun 1612 itu. Konon bahkan masjid ini sudah ada sejak masa Sultan Alaidin Mahmudsyah tahun 1292. Jika generasi telah silih berganti, masjid ini masih kokoh berdiri. Ia telah menjadi saksi hidup manusia Aceh dari zaman ke zaman. Bahkan tsunami dahsyat tahun 2004 pun telah ia taklukkan. Seandainya masjid ini bisa bicara, apa yang akan ia sampaikan kepada kita?

Tragedi gelombang tsunami Aceh silam memang tak bisa dilupakan begitu saja. Mungkin saja hal pertama yang terbayang ketika menyebut Aceh adalah tsunami. Maka dari itu tak jauh dari masjid raya, telah didirikan sebuah museum tsunami yang meningatkan kita akan kejadian naas itu. Bentuknya seperti kapal bundar penyelamat dengan cerobong asap, ikonik sekali. Sepertinya, museum ini tak hanya didesain untuk keindahan, tetapi juga berfungsi sebagai shelter tsunami.

Masuk ke museum Tsunami membuat kami kembali merenungi bencana dahsyat yang terjadi tahun 2004 silam. Sensasi menegangkan sempat saya rasakan ketika melewati pintu utama. Kami harus melintasi “Lorong Tsunami”, yaitu jembatan berlorong tinggi gelap dengan sensasi suara gelombang tsunami dahsyat diiringi pekikan manusia yang berteriak, bertakbir, mengucap asma Allah. Tetesan-tetesan air yang jatuh dari ketinggian 40 meter ikut menambah suasana menjadi dramatis, seakan-akan kejadian ngeri itu bisa saya bayangkan.

Selanjutnya kami pun tiba di sebuah ruangan gelap di bawah cerobong yang dinamai “Ruang Sumur Do’a” atau Chamber of Blessing. Di atas puncak cerobong tertulis asma Allah yang bersinar di bawah cahaya, dan di sekeliling dindingnya tertulis ribuan nama korban tsunami. Saya dibuat merinding. Di balik ruangan itu kemudian terdapat ruangan berdinding cermin yang menyajikan suasana pasca tsunami. Foto-foto bekas bencana dahsyat itu ditampilkan di dalam layar-layar monitor yang tersedia di setiap sudut, sungguh memilukan.

Kami terus berjalan mengitari putaran tangga hingga sampai di jembatan panjang mendaki yang disebut “Jembatan Harapan”. Bendera-bendera negara yang memberi pertolongan dikibarkan di atas langit-langit yang terang, menyiratkan solidaritas kemanusiaan harapan di masa depan, seakan-akan menyiratkan kalimat: “Kalian tidak sendiri”. Menyeberangi jembatan, kami pun lalu disuguhkan dengan koleksi peninggalan tsunami. Banyak juga kisah-kisah berharga yang diceritakan di sini, seperti kisah perjuangan Martunis, seorang anak yang selamat dari tsunami dan menjadi anak angkat Cristiano Ronaldo. Ah, mata saya jadi berkaca-kaca.

Tsunami oh tsunami. Berkunjung ke Aceh membuat saya jadi termenung. Saya harus banyak-banyak beristighfar dan terus bersyukur. Punya pengalaman yang serupa di Banda Aceh?

[To be continued in Travel Stories, Insyaallah]

5 thoughts on “Berkelana di Negeri Bekas Tsunami”

  1. Tonggak besi warna warni ditengah taman Kota tersebut adalah bekas tiang pancang beton yang sedianya akan dibangun hotel aceh oleh Novotel sebagai pengganti bangunan kayu hotel aceh yang telah terbakar di era konflik. Hotel Aceh lama juga menyimpan sejarah terkait lokasi penyerahan sumbangan Rakyat aceh kepada presiden Soekarno untuk pembelian pesawat terbang pertama RI

    Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s