Dakwah, Doctor's Journey, Stories, Tweets

Syukuri Peranan Hidupmu: Sebuah Nasihat di IGD

Pukul dua dini hari, seorang pemuda datang ke IGD diantar oleh majikan tempatnya bekerja. Tumit kaki kanannya robek habis tersayat besi runcing, sehingga darah mengalir cukup banyak dari lukanya. Bersama uni perawat yang jaga malam itu, saya mengobati si pemuda. Pas saya lihat lukanya, eh rupanya sudah penuh dengan serbuk-serbuk kopi yang dioles-oles sedemikian rupa. Pas saya tanya kenapa, si pemuda cuma senyum-senyum sambil menahan perih. Majikannya berkomentar, “Barangkali hasil searching mbah google, Dok.” Saya cuma ketawa kecil sambil mengerutkan kening, ini perlu dicuci sampai betul-betul bersih.

Usai lima belas menit mencuci dan menjahit luka, meminta perawat membalut luka dengan kassa dan perban serta menyuntik obat anti tetanus, sang majikan datang menghampiri saya yang sedang menulis status rekam medis dan meresepkan obat pulang untuk si pemuda. Bapak berusia paruh baya itu menemani saya menulis sambil mengobrol, mengusir kantuk yang mulai mendera, dan sesekali bercanda. “Sudah ditolong begini kadang pasien masih aja ada yang suka marah-marah ya, Dok.” Kata si bapak pula sambil ketawa. Saya jadi ikutan, lalu senyum sedikit. Saya bilang, sudah biasa lah Pak, yang penting kita niatnya menolong.

Tapi, yang ingin saya ingat adalah sebuah nasihat yang sudah lama sekali tak saya dengar dari seseorang. Setelah tahu kalau saya bekerja di rumah sakit malam hari dan mengajar di kampus siang hari, sang bapak tak lupa mengajak saya bersyukur.

“Dokter sudah sempat tertidur tadi?” Tanya beliau. Kebetulan pasien terakhir saya datang satu jam yang lalu dan saya sempat istirahat sejenak. Saya mengangguk sedikit heran. “Wah, kalau begitu enak sekali, Dok. Sudah bisa sholat sunnah tahajjud dua rakaat, lebih sempurna lagi kalau jadi empat rakaat,” ucap bapak itu sambil tersenyum. Saya bisa tahu maksud beliau. “Semoga kita tidak lalai mengerjakan sholat yang lima waktu, lebih bagus lagi ditambah sholat sunnah. Agar kita senantiasa bersyukur, Dok. Kalau lalai, nanti malah jadi kufur.” Lanjut beliau, “Maaf, Dok. Bukan menggurui, tapi sekedar mengingatkan sesama sodara.”

Ah, seandainya si bapak tahu perasaan saya. “Ah, tidak kok, Pak. Saya malah senang ada yang menasihati,” ucap saya sambil menampakkan senyum terbaik.

Ya. Bagaimanapun majikan pemuda itu baru saja sudah mengetuk pintu hati saya. Ada hal baru yang menggetarkan batin saat itu. Ibadah, tanda syukur. Ah, bukan. Tapi bukti syukur. Saya dibuat merenung. Kadang, kita sering mengeluhkan beratnya pekerjaan, padahal di luar sana begitu banyak orang yang masih hanya mampu meminta-minta. Bahkan tak jarang mungkin hati ini menggerutu kalau kekurangan, padahal ada begitu banyak kemudahan lain yang senantiasa mengelilingi. Manusia diciptakan dengan peran yang berbeda-beda, maka mengapa harus bercermin dengan kehidupan orang lain? Allah pun tak henti-hentinya memberikan rahmat dan nikmat-Nya lewat pekerjaan ini, maka apakah pantas diri ini lalai mengingat-Nya?

Alhamdulillah, obrolan singkat di IGD malam itu secara ‘frontal’ telah mengoyak pikiran buruk itu dan menggantinya dengan yang baru. Ya Rabbi, sudahkah saya bersyukur kepada-Mu?

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim, Ayat 7)

Setiap orang punya peranan masing-masing, dan ini adalah perananku

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s