Ngebolang di Aceh: Rumah Cut Nyak Dhien dan Pantai Lho-nga

Cerita ini adalah lanjutan catatan perjalan saya di awal tahun 2018 yang lalu ke Aceh. Waktu itu saya dan Adik baru saja habis melihat museum kapal Banda Aceh sambil merenungi dahsyatnya kejadian tsunami di sana (baca juga Mengagumi Saksi Tsunami di Banda Aceh). Setelah puas berkeliling, perjalanan kami berlanjut ke sisi barat. Dibonceng Adik dengan sepeda motor, kami berdua menelusuri jalan Cut Nyak Dhien hingga tiba di jalan raya Trans Sumatera.

Destinasi pertama yang kami singgahi adalah sebuah rumah adat tradisional peninggalan Cut Nyak Dhien, tokoh pahlawan perempuan legendaris asal Aceh. Posisi rumah adat itu tepat di sisi kiri jalan raya. Kami tiba di sana sudah menjelang waktu Ashar. Tampaknya, rumah itu sedang sepi, tapi kami berdua yakin museum itu masih buka sehingga kami iseng menengok-nengok.

Mungkin karena melihat kami berdua yang masuk ke pekarangan rumah itu, seorang bapak menghampiri kami berdua. Rupanya beliau ini penjaga museum.

“Masih buka, Pak?” tanya saya pada sang Bapak, “kami jauh-jauh dari Padang, Pak, boleh kami lihat-lihat ke dalam?” bujuk saya pula.

“Oh, iya silahkan,” jawab sang Bapak. Beliau kemudian sibuk membuka pintu rumah, mempersilahkan kami membuka sepatu sebelum naik ke tangga utama yang terletak di sebelah kiri bangunan, lalu meminta kami mengisi buku tamu kunjungan yang sebagian besar telah diisi oleh wisatawan luar daerah dan manca negara.

Betapa senang hati kami diperbolehkan masuk ke dalam rumah panggung khas Aceh itu. Sebenarnya rumah ini belum lama umurnya, dibangun tahun 1981-1982. Tapi, lokasinya berada tepat di atas tanah rumah Cut Nyak Dhien yang dibakar Belanda tahun 1896.

Saya dan Adik senyum-senyum bahagia saat kaki kami menginjak lantai kayu yang berdetak-detak di dalam rumah, teringat rumah gadang di kampung mama. Namun bangunan ini berbeda, pertama karena arsitekturnya yang mirip prisma segi tiga dengan sebuah ruangan besar di tengah dan dua bagian ruangan memanjang di sisi kiri dan kanannya yang seolah mirip lorong. Di tiap-tiap dinding kita bisa membaca sekaligus menyaksikan foto-foto lama yang menggambarkan suasana Aceh kala dijajah Belanda dulu beserta tokoh-tokoh legendaris baik antagonis dan protagonisnya.

Di bahagian tengah-tengah rumah, terdapat beberapa kamar dengan dipan kayu berukiran dan dihiasi berbagai kain alas dan penutup yang merupakan kamar Cut Nyak Dien dan dayang-dayangnya. Di ruangan lainnya terdapat bekas dokumen-dokumen lama, perkakas peninggalan keluarga Cut Nyak Dhien dan suaminya Teuku Umar, termasuk koleksi senjata-senjata tradisional seperti tombak, pedang, parang dan rencong khas Aceh. Tempat itu juga dilengkapi dengan meja kursi makan, lalu sebuah sumur tua yang terlihat dari depan rumah. Kami tak bisa mengira-ngira berapakah usianya.

Puas melihat-lihat peninggalan Cut Nyak Dhien di rumah itu, kami berdua pamit kepada Sang Bapak hendak melanjutkan perjalanan. Saya tak ingat persis mengenai biaya masuk rumah itu, rasanya kami hanya diminta iyuran seikhlasnya seperti di rumah-rumah dan museum tua pada umumnya.

Destinasi berikutnya kami tempuh menelusuri jalan trans Sumatera yang membelah dua bukit hingga kami sampai di pesisir barat pulau Sumatera. Pemandangan sawah yang menguning di sepanjang jalan serta ditemani perbukitan membuat saya terkesima.

Ketika sudah dekat, kami pun melewati jalanan kecil di sebuah perkampungan. Sapi-sapi yang berkeliaran bebas di jalanan yang semakin menyempit membuat suasana khas tersendiri seperti di Pesisir Selatan Sumatera Barat, sampai akhirnya kami tiba di Pantai Lho-nga, salah satu pantai terindah yang ada di Banda Aceh.

Benar saja, tebing-tebing curam dan semak-semak pepohonan menghiasi pemandangan sebelum kami benar-benar sampai di tepi pantai. Adik memarkirkan motor sewaan kami di tempat parkir yang disediakan, lalu kami masuk membayar karcis yang sama sekali tidak mahal. Ketika pertama kali masuk, saya benar-benar terpana.

Pantai Lho-nga memiliki pasir yang halus dan putih. Lautan birunya memanjakan mata kami berdua. Di depan pantai juga ada semacam laguna yang tak kalah mempesona. Melihat landscape indah begini saja hati saya senang sekali. Kami berdua bebas berfoto dan bersantai-santai sampai matahari beranjak terbenam. Sayang, baterai kamera saya habis tepat di ujung hari, hingga tak banyak yang bisa saya dokumentasikan.

Begitulah sisa perjalanan kami di hari itu. Keesokan paginya kami sudah siap menyusun agenda lain yang tak kalah seru, yakni menyeberang ke Pulau Weh. Malam itu kami kembali ke penginapan, mengisi baterai dan kembali menyantap kuliner di pasar Banda Aceh hingga larut malam. Sepiring mie Aceh yang kami santap di pusat kota pada malam harinya akhirnya menutup kisah hari itu dengan sangat sempurna.

Pernah mengalami hal serupa di Aceh? 😀

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s