Menjelajahi 9 Destinasi Menarik di Pulau Weh

“Dari Sabang sampai Merauke.” Lagu itu mungkin sudah terdengar sejak saya SD. Alhamdulillah, di umur 25 tahun saya akhirnya diberi kesempatan mengunjungi satu di antaranya, yakni ujung paling barat Indonesia bersama adik semata wayang. Ya, kami akan ke Sabang, menyeberang ke Pulau Weh!

Ba’da subuh di Hari Selasa (16/1/18) setelah check out dari penginapan, saya dan Adik telah tiba di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh. Kami mengantri memesan tiket kapal bersama ratusan calon penumpang lainnya. Harga tiketnya lumayan terjangkau, dan bisa bawa kendaraan masuk ke kapal. Pukul 07.30, kami sudah duduk manis di bangku penumpang lantai paling atas.

DSC_1457

Ini merupakan pengalaman kedua saya naik kapal ferry antar pulau (baca juga Pengalaman Pertama Naik Ferry: Mabuk Laut di Selat Lombok). Untungnya, kali ini saya tidak mabuk sama sekali sehingga saya benar-benar bisa menikmati perjalanan itu. Lautan biru dan pemandangan perbukitan pulau Sumatera yang terlihat semakin menjauh benar-benar membuat saya terkesima. Saya juga tahu Adik sangat menyukainya.

DSC_1471DSC_1481

Kapal kami akhirnya tiba di Pelabuhan Balohan Pulau Weh sekitar pukul 10.00 WIB. Saya langsung duduk manis dibonceng Adik yang sudah siap memacu gas sepeda motor.  Jalan raya yang mulus, berkelok-kelok, mendaki dan menurun dengan suguhan pemandangan laut dan hutan yang spektakuler senantiasa menyertai perjalanan kami di pulau ini. Ya, Pulau Weh adalah surganya para traveler. Ada banyak destinasi di pulau ini yang akan kami jelajahi selama tiga hari ke depan. Penuh rasa penasaran, satu per satu tempat itu kami jamahi dengan semangat.

DSC_1488

Hari Pertama

1. Titik Nol Kilometer Indonesia

Tempat ini merupakan destinasi wajib yang menurut saya harus dikunjungi jika bertandang ke Pulau Weh. Ibarat check point, monumen ini jadi awal mula kami bertualang di pulau ini sebelum pergi ke penginapan. Terletak di ujung barat Pulau Weh dan merupakan destinasi terjauh yang ada, Monumen Titik Nol Kilometer Indonesia sangat worth it untuk didatangi. Di sana tersedia spot foto ikonik untuk menandai kunjungan kita di ujung barat Indonesia.

2. Kota Sabang

Kota Sabang adalah destinasi kedua yang kami singgahi, sekaligus menjadi tempat menginap selama dua malam ke depan. Ketika pertama kali sampai, saya tergugah melihat keelokan kota yang dikelilingi oleh pantai dengan taman-taman cantik. Pedestrian kotanya ramah pejalan kaki, tersedia pula tempat duduk-duduk santai dan spot-spot foto yang instagramable. Pusat Kota Sabang juga ternyata ramai sekali, diluar ekspektasi saya pada mulanya. Kami berdua sempat singgah makan siang di salah satu restoran khas Aceh sambil menikmati nasi dan gulai ikan segar dengan bumbu yang ciamik.

3. Masjid Agung Babussalam Sabang

Masjid ini menjadi tempat shalat perdana kami di Pulau Weh. Kami shalat Zuhur dan jama’ Ashar di sana, sekaligus menikmati desain arsitektur salah satu masjid di Aceh yang memang terbilang indah. Rasanya puas jika beristirahat dan berlama-lama di dalam masjid ini. Terletak di pusat kota, Masjid Agung Babussalam Kota Sabang bisa menjadi check point berikutnya di Pulau Weh untuk beribadah sekalian beristirahat dan merencanakan perjalanan. Setelah dari sini, kami langsung bertolak ke Rade Inn yang berlokasi di sebelah timur Kota Sabang, tempat kami menginap.

4. Benteng Anoe Itam

Bagi penikmat peninggalan sejarah macam saya, Benteng Anoe Itam adalah destinasi yang layak dikunjungi. Tempat ini merupakan kompleks bunker peninggalan Jepang yang masih tersisa pasca masa pendudukan Jepang di Indonesia dan menjadi benteng penyimpanan peluru dan senjata penduduk Jepang pada perang dunia ke II. Terletak di salah satu sisi bukit yang menghadap ke timur, kita bisa melihat meriam asli peninggalan Jepang berukuran 3 meter di salah satu benteng di tempat ini. Tak hanya menyuguhi peninggalan sejarah, pemandangan di sini sungguh memanjakan mata kami berdua.

Hari kedua

5. Pantai Iboih dan Pulau Rubiah

Pantai Iboih dan Pulau Rubiah merupakan dua destinasi paket komplit dan mungkin merupakan pusat keindahan dan eksotisme wisata air di kawasan Pulau Weh. Ya, pulau Rubiah memang tidak berada di atas daratan Pulau Weh, melainkan di secuil daratan kecil yang bersanding dengannya di sisi barat. Pulau Rubiah adalah surganya para penyelam dan penikmat snorkeling seperti adik saya. Kami menyeberang ke Pulau itu dari Pantai Iboih di sisi Pulau Weh menggunakan sampan sewaan lengkap dengan peralatan snorkeling dan pelampung. Kami tiba di Pulau Rubiah hanya dalam hitungan menit, karena jaraknya sangat dekat dari Pantai Iboih. Di sanalah tempat pertama kali saya belajar snorkeling sampai mual dan merasakan keindahan biota bawah laut. Rasanya tak ingin pulang saking senangnya. Selain itu, di Pulau Rubiah juga ada rute jalan kaki mendaki bukit untuk melihat peninggalan asrama haji zaman dulu. Pokoknya, kalau ke Pulau Weh pastikan singgah ke sini.

6. Gua Sarang

Tempat eksotis di pulau Weh berikutnya adalah Gua Sarang. Gua ini terletak di sisi barat Pulau Weh dan menghadap ke Samudera Hindia. Untuk mencapai tempat ini, kami harus melewati jalan berkelok-kelok di perbukitan dan hutan belantara. Kami singgah sebentar di warung makan untuk mengisi perut yang lelah sehabis berenang. Pertama kali sampai di sini, kami memarkirkan kendaraan, membayar karcis, dan menuruni ratusan tangga dari puncak bukit ke tepian bibir pantai yang berwarna biru toska. Pemandangan indah di sepanjang jalan setapak itu sungguh memukau. Beberapa taman hias dapat ditemui dan menjadi titik-titik untuk melihat panorama lautan lepas. Ketika sampai di bawah dekat pantai, kita mesti berjalan sedikit lebih hati-hati untuk mencapai lubang gua. Kami harus melewati pinggiran tebing dengan bebatuan yang besar dan bertumpuk-tumpuk sebelum tiba di tempat tujuan. Ketika sampai, pemandangan bebatuan di tepi laut mampu membuat rasa penat di jalan menjadi berkurang. Indah memang.

7. Pantai Pasir Putih

Pantai ini terletak di barat laut Pulau Weh dan berhadapan langsung dengan Pulau Sumatra. Kami tiba di sini sore hari, usai berhenti di gazebo tinggi di puncak bukit yang tak sengaja kami lewati di perjalanan dari Goa Sarang. Pantai Pasir Putih sesuai namanya, memiliki pasir yang putih dan bersih. Tempat ini dilengkapi taman-taman dan sarana bermain anak-anak. Ada mesjid kecil tak jauh di seberang jalan sehingga kami bisa shalat di sana. Selain itu juga tersedia MCK untuk yang berniat mandi sehabis bermain di pantai. Saya dan Adik melepas penat seharian di pantai ini, sambil menunggu waktu matahari terbenam. Pemandangan sunset di sini tak bisa diremehkan.

Hari ketiga

8. Danau Aneuk Laot

Danau anak laut atau dalam logat aceh Aneuk Laot adalah sebuah danau kecil yang terletak tak jauh dari Kota Sabang. Saya awalnya juga terkesan, ternyata di pulau sekecil ini juga ada danau. Tapi setelah tahu ternyata Pulau Weh itu cukup besar, saya tak heran lagi. Kami berkunjung ke danau ini setelah sarapan pagi nikmat di dekat Masjid Babussalam dan tiba di sini saat sedang lengang. Meski tak ada yang terlalu istimewa dari danau ini, namun ketenangan yang disuguhkan sulit untuk dicari. Di sini saya bisa melihat kupu-kupu yang terbang bebas di bibir danau dan menikmati sisa hari-hari di Pulau Weh dengan tenang.

9. Kawah Gunung Jaboi

Siapa sangka jika Pulau Weh menyimpan kawah gunung berapi tepat di puncak tertingginya. Ya, di tengah-tengah daratan pulau Weh, setelah menelusuri jalanan berkelok mendaki dan menembus hutan belantara, kami berdua tiba di Kawah Gunung Jaboi. Kami memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki melewati jalan pedestrian khusus yang mengantarkan kami ke pusat titik kawah. Kawah Jaboi ini berselimut bebatuan putih dan berbau busuk khas belerang karena kaya akan gas H2S dan gas-gas lainnya seperti sulfat, asam klorida, asam bikarbonat dan karbon dioksida. Tapi eksotisme kawah ini tak kalah mengesankan, karena pemandangan yang disajikan benar-benar berbeda.

Yap, itulah tempat-tempat eksotis di Pulau Weh yang kami kunjungi dalam tiga hari dua malam. Namun sesungguhnya banyak spot-spot menarik yang bisa kami temui di setiap perjalanan saat menaiki sepeda motor. Pemandangan hutan, laut, bukit, kesibukan kota, pasar malam, pasar obral dan makan di restoran-restoran pinggir jalan adalah kenikmatan lain di luar apa yang saya ceritakan. Akhirnya, kesempatan traveling ke Pulau Weh kesampaian juga, dan semoga saya masih bisa mengunjungi tempat-tempat lainnya di pelosok negeri Indonesia.

DSC_2097

Pernah ke Pulau Weh? 😀

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s