Dakwah, Doctor's Journey, Stories

Jalan untuk Berkarya

DSC_9810
Menatap lautan lepas di Pantai Selatan Yogyakarta

“Belajar sepanjang hayat”. Itulah moto awal yang sering saya dengar ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus sebagai mahasiswa S1. Beruntung, sepertinya saya setuju. Lebih tepatnya, mungkin saja saya menikmati. Zona nyaman, barangkali. Saya tidak tahu apakah moto itu pula yang menyebabkan saya bermimpi untuk terus belajar tak peduli batas geografi. Lulus dari S1 profesi, selesai internsip, langsung ambil kesempatan jadi staf pengajar di FK Unand sekaligus praktek di rumah sakit. Setahun kemudian saya lanjut lagi S2, dan setahun setelahnya saya akhirnya kembali menginjakkan kaki sebagai dosen di FK Unand. Ya, kali ini dengan prospek yang lebih serius. Saya lulus CPNS Dosen.

Kepulangan saya ke Padang punya cerita tersendiri yang patut saya syukuri. Pengumuman kelulusan CPNS sebagai dosen di FK Unand itu saya peroleh di awal-awal semester dua kuliah S2 di UGM. Ada perasaan sedikit bimbang kala itu, karena menurut peraturannya, siapapun yang lulus CPNS wajib mengabdi dulu tak peduli sedang sekolah. Saya kemudian dihadapkan pada dua pilihan. Lanjut S2, atau ikut CPNS. Karena bimbang, saya kemudian berkonsultasi dengan Bu Elsa, ketua program studi Tropmed UGM yang sekaligus adalah penasehat akademik saya selama S2. Saran beliau, “Aan lanjut saja kuliah semester dua ini, nanti kalau sudah keluar pengumuman tanggal masuk tugas (TMT) barulah kembali ke Padang. Tuntaskan saja semua mata kuliah yang bisa dituntaskan, jika kurang, bisa Aan ambil di semester empat nanti ketika masa wajib tugas sudah selesai.”

Alhamdulillah, saran Bu Elsa ternyata benar. Pengumuman TMT CPNS molor hingga bulan Juni. Bagi sebagian orang mungkin hal tersebut disayangkan, tapi sebaliknya, bagi saya hal itu merupakan berkah tersendiri. Semua mata kuliah di semester dua berhasil saya lalui dengan baik. Saya pun telah selesai menyusun proposal penelitian dan diseminarkan di depan para penguji dengan hasil yang memuaskan. Penelitian saya juga disponsori sepenuhnya oleh Dr. Andani, mentor sekaligus dosen saya yang memberikan rekomendasi S2 di Tropmed UGM. Penelitian itu akan dilaksanakan di Padang, sehingga saya punya kesempatan untuk melakukan penelitian sekaligus menjalankan tugas sebagai CPNS secara bersamaan. Meski saya izin terlambat masuk selama satu bulan, alhamdulillah dekan memberikan kebijakan khusus yang sangat memudahkan saya. Beliau yang akrab disapa Pak Ucok berpesan, “Bekerjalah sesuai pedoman yang ada, tak perlu tergesa-gesa, syukuri apa yang didapat dan jangan banyak mengeluh.”

Akhirnya, status mahasiswa S2 saya kini merangkap menjadi dua, ditambah sebagai dosen CPNS. Saya diikutkan pelatihan mengajar, dan dipaparkan tentang tugas dan tanggung jawab dosen yang rupanya tidak sesimpel dan semudah di dalam benak saya. Seorang dosen harus memenuhi kontrak kinerja yang ditetapkan oleh pemerintah, sekian SKS dalam satu tahun yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sesuatu yang sangat menantang dan baru bagi saya, terutama penelitian. Belum ada pengalaman apapun di dalamnya selain penelitian skripsi yang saya rasa masih jauh panggang dari api. Saya berharap penelitian S2 saya bisa menjadi guru yang baik untuk mengasah kemampuan penelitian ini ke depan. Tentu saja, belajar dari pengalaman senior dan dosen-dosen yang telah terlebih dulu berkiprah dan berkarya menjadi hal mutlak yang harus dilakukan.

Meskipun telah berstatus sebagai dosen CPNS, rupanya masih ada hal lain yang menjadi kendala tersendiri dalam melaksanakan tugas. Karena masih bergelar S1-profesi, saya dan rekan-rekan lainnya belum bisa disebut “dosen beneran”. Kami belum bisa mengurus nomor induk dosen nasional (NIDN) dan terlibat dalam perkuliahan, sehingga tak bisa pula terlibat dalam penelitian. Peraturan yang membingungkan memang, mungkin karena masih baru. Dekan akhirnya memberi kebijakan untuk meletakkan kami yang berjumlah lima orang di unit-unit kerja fakultas, dan digilir setiap dua bulan. Bagi saya, hal tersebut tidak masalah selagi saya masih bisa belajar hal baru di kampus. Selain itu saya masih bisa mengerjakan tugas yang dulu pernah menjadi keseharian sewaktu masih berstatus sebagai dosen non PNS, yakni tutorial, skill’s lab, dan ikut berbagai kepanitiaan. Pada akhirnya, saya kembali mengingat-ingat pesan pak dekan, “Bekerjalah sesuai pedoman yang ada, tak perlu tergesa-gesa, syukuri apa yang didapat dan jangan banyak mengeluh.”

Yup. Alhamdulillah. Menjadi dosen di fakultas kedokteran akhirnya menjadi jalan saya untuk berkarya sebagai seorang dokter. Tentu saja, hal itu patut untuk disyukuri. Lagipula, rasanya tak ada pula yang mesti saya kejar-kejar lagi, selama saya bisa mempersiapkan bekal untuk esok hari dengan bahagia dan segenap passion. Biarlah Allah menentukan dimana esok saya berdiri, jalan seperti apa yang akan saya temui, kisah seperti apa yang akan saya lalui. Yang pasti, kini kiat-kiat sukses itu bertambah jadi enam setelah niat, usaha, do’a, tawakal, dan sabar, yaitu syukur. Untuk sabar dan syukur, mungkin itulah dua sifat yang bisa disimpulkan menjadi satu kata saja. Itulah qana’ah.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al Qhashas [27] : 77)

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s