Rayya

Waktu itu, adalah beberapa hari menjelang Bulan Ramadhan. Saya baru saja pulang dari Jogja, meninggalkan perkuliahan untuk sementara, guna menunaikan kewajiban lain yang lebih penting dari yang lainnya. Ya, ini bukan kewajiban biasa, karena taruhannya adalah nyawa. Itulah saat-saat penantian, tatkala calon buah hati segera lahir ke dunia dari rahim umminya.

Menurut perhitungan kalender hari pertama haid terakhir (HPHT) yang biasa dipakai oleh dokter, tanggal taksiran persalinan Yaya, istri saya, jatuh pada tanggal 3 Mei 2019. Seminggu sebelumnyalah saya pulang ke rumah mertua di Lubuk Basung, Agam, dimana Yaya telah berada di sana semenjak saya terpaksa meninggalkannya merantau ke Jogja lantaran hamil yang semakin besar. Bagaimanapun hamil pertama adalah hal yang sulit, dan saya tahu Yaya pasti akan sangat membutuhkan bantuan Umminya selama hamil. Jika saya paksakan membawa ke Jogja, barangkali kami harus bertaruh keselamatan janin saat di pesawat, keselamatan Yaya selama saya tinggal pergi kuliah dan field trip kampus ke luar kota, dan biaya hidup, ongkos perjalanan, serta persalinan yang tak mudah. Akhirnya, pilihan itu kami jalani. Itulah masa-masa kami melalui long distance marriage, jikalau meminjam istilah jaman sekarang, yang saya akui sama sekali tidak mudah. Namun, di tengah jadwal perkuliahan yang semakin padat, alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk pulang menemani sang istri di masa-masa penantian itu, masa-masa yang paling mendebarkan.

Ketika saya pulang, jangan bertanya pada saya seberapa besar senangnya hati. Semua itu mungkin tak dapat dideskripsikan. Melihat perut Yaya yang telah besar dari dekat, merabanya sambil merasakan sentakan-sentakan manja dari janin yang terus bergerak, menemaninya sepanjang hari, mengajak Yaya jalan-jalan santai keliling kampung, makan es krim di taman kota, raun ke tepi pantai melihat nelayan menjala ikan, makan siang di tepian danau Maninjau, dan sekalian kegiatan yang membuat hati kami senang dan Yaya nyaman untuk segera melahirkan. Namun, semua itu nyatanya tak semanis yang kami kira. Ujian baru saja dimulai.

Entah apa gerangan yang terjadi, ditengah rasa bahagia yang menyelimuti hati, nyatanya seminggu sebelum kelahiran si buah hati adalah masa-masa ujian terberat bagi saya sebagai seorang suami. Semenjak awal kepulangan, kulit saya mulai perlahan tiba-tiba memerah, bengkak, gatal bukan main seperti terkena alergi berat. Sekalian obat alergi dan anti radang pun tak mempan, hingga saya coba mengobatinya dengan anti parasit karena curiga skabies. Saya juga takut Yaya jadi ketularan. Siang malam menggaruk-garuk tak karuan hingga kulit saya lecet dan berdarah, nyatanya obat itu tak menunjukkan reaksi. Entah mengapa keahlian saya sebagai dokter terasa sirna begitu saja, lantaran tak ada satupun obat yang mampu mengobati penyakit itu. Untuk menenangkan diri, sementara belum ada tanda-tanda Yaya akan melahirkan padahal tanggal taksiran telah lewat, saya sempat pulang dulu ke Payakumbuh di malam tarawih pertama sekalian menjenguk Mama dan Papa yang belum saya lihat semenjak pulang dari Jogja. Sampai di rumah, tak kuasa saya langsung memeluk Mama untuk melepas kerinduan.

Rupanya, hampir larut malam, kabar itu menyesakkan dada. Yaya mengabarkan, perutnya mulai keram bukan main. Tapi jarak keramnya masih lama, dan dia masih yakin kalau ini masih kontraksi palsu. Namun keesokan hari ketika sahur Ramadhan pertama, kudapati kabar berita bahwa keramnya makin lama makin hebat dan sering. Keringat dingin saya mulai mengucur, rasa gatal di seantero kulit mulai berkecamuk. Tak ada pilihan lain, saya langsung bergegas bersiap-siap kembali ke Lubuk Basung pagi itu juga.

Karena tidak ada angkutan umum yang langsung mengatar ke tujuan, saya harus berangkat dari Payakumbuh menaiki bus angkutan umum menuju Bukittinggi terlebih dulu, lalu turun di Simpang Padang Luar menanti mobil travel ke Lubuk Basung. Sempat bermenung satu jam lebih karena tak mendapat tumpangan, akhirnya saya tiba di rumah mertua lebih kurang pukul dua siang. Jangan ditanya betapa besar kecemasan saya di atas kendaraan itu, sekalian berdo’a minta ampun dan pertolongan pada Allah, sembari berdamai dengan rasa gatal yang makin menjadi. Akhirnya, ketika saya sampai di rumah, saya dapati istri saya sedang bersiap-siap. Dituntun Ummi, Yaya berlatih berjalan pelan-pelan agar kuat saat melahirkan nanti.

Karena saya sudah di rumah, Yaya meminta untuk diperiksa. Saya pasang handscoen dan saya lakukan pemeriksaan pembukaan. Di ujung jari tangan saya, terabalah bagian keras tempurung kepala dan rambut-rambut halus dari sang buah hati yang telah menanti di pintu panggul. Spontan saya kaget, sembari tak mampu meyakinkan diri apakah ini sudah saatnya atau belum. Karena sudah lama tak menolong persalinan, saya berinisiatif membawa Yaya mengecek sekali lagi ke IGD Rumah Sakit yang untungnya berada tak jauh di sebelah rumah. Kami berdua pergi ke sana hanya dengan berjalan kaki. Setiba di sana, dokter jaga yang melakukan pemeriksaan mengatakan bahwa pembukaannya masih satu sentimeter. Jikalau dihitung, kira-kira waktu persalinan normal akan berlangsung pukul tiga malam nanti, sehingga kami diminta menunggu di rumah terlebih dahulu.

Sontak, ketika magrib telah menjelang, kami berdua tak bisa tidur. Yaya terus mengerang kesakitan setiap lima menit, makin lama makin sering. Tapi setelah itu dia kembali tertawa dan tersenyum seolah-olah tidak ada yang terjadi. Melihat keringatnya yang basah bercucuran meski kamar kami sudah berpendingin, saya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kontraksi rahim yang dinamai His itu. Setiap kali kontraksi, perutnya menegang keras seperti batu, lalu kemudian kendor lagi setelahnya. Begitu terus, hingga yang bisa saya lakukan hanyalah mendampinginya melalui jam-jam penuh penantian itu.

Belum tengah malam, saya yang tak tega melihatnya kesakitan mulai membujuknya untuk kembali periksa ke IGD. Tapi, Yaya terlihat santai dan yakin, lalu memilih untuk terus latihan sambil duduk di atas gym ball sambil tersenyum. Karena melihatnya begitu, mata saya tak kuasa menahan rasa kantuk hingga terpejam. Hingga entah berapa waktu kemudian, tepat pukul 12 malam lewat seperempat, Yaya menggenggam erat tangan saya. “Bang, sepertinya ada cairan merembes.” Saya lihat, rupanya cairan ketuban. Tak pikir panjang lagi, kami segera bersiap-siap pergi ke IGD. Ummi dan Ayah kami bangunkan, lalu kami diantar dengan kendaraan dan tiba di IGD satu jam kemudian. Sang dokter yang memeriksa mengatakan sudah pembukaan delapan. Akhirnya, Yaya dibawa masuk ke ruang bersalin, lalu sementara itu saya dan Ayah mempersiapkan segala urusan administrasi, barang-barang kebutuhan, kain panjang bayi, dan semua hal lain yang penting.

Hal yang paling saya syukuri adalah saat-saat dimana saya bisa menemai Yaya melahirkan. Ketika Yaya telah sampai di ruang bersalin, sang bidan yang tak lain juga adalah kenalan dan koleganya saat berpraktik di rumah sakit ini juga dulunya, dengan sabar menuntun Yaya berlatih untuk mengejan saat pembukaan telah lengkap. Saya adalah saksi yang melihat betapa besar perjuangannya melahirkan anak yang telah kami nanti-nantikan itu. Semua rasa sakit ia tumpahkan di jemarinya sembari menggenggam tanganku. Keningnya basah oleh keringat sementara mulutnya tak kuasa menahan teriakan kesakitan yang teramat sangat. Tak bisa kubayangkan betapa sakitnya ketika anak kami tak begitu mulus keluar dari jalan lahir, sempat terhenti di tengah jalan, sehingga Yaya harus dipasang infus dan diinduksi dengan obat perangsang kontraksi rahim, lalu perineumnya digunting tanpa bius alias episiotomi. Shalawat dan do’a-do’a senantiasa kami panjatkan demi keselamatan Yaya dan buah hati kami. Hingga akhirnya, setelah Yaya mengejan untuk ketiga kalinya, dengan kuasa Allah, tepat pada malam kedua Ramadhan 1440 H, 7 Mei 2019 pukul 03.50, lahirlah anak kami, seorang perempuan mungil dengan wajah yang bersih dan kemerahan.

Pertama kali saya melihatnya, tak bisa saya gambarkan betapa besarnya hati melihat si buah hati yang lahir di depan mata. Wajahnya mirip sekali dengan wajah Mama, bening bercahaya, membuatku terharu bukan main. Pekik tangisnya tak begitu kentara, melainkan hanya segomoh suara lembut yang merasakan bebas menghirup udara. Masya Allah, aku terpana. Setelah itu, sang bidan dengan sigap meletakkannya di atas perut sang Ummi, guna menyempurnakan proses inisiasi menyusui dini (IMD). Umminya juga harus mendapat beberapa jahitan di perineumnya usai melahirkan, lalu mengganti energi dengan beberapa suap makanan dan minuman. Setelah bersih dan dibedong, saya pun segera melantuntan azan di telinganya, diikuti oleh Ayah dan ditemani oleh Ummi yang sedari tadi telah sibuk menyiapkan perbekalan persalinan. Alhamdulillah, malam yang panjang itu berlalu, keluarga berbondong-bondong datang menjenguk, dan suka cita memenuhi seantero kerabat dan hadai taulan yang hadir merasakan kebahagiaan.Setelah semua kisah ini terjadi, kami berdua pun bersepakat memberinya nama. Putri kami yang pertama ini, kami beri nama Rayya Fathima Hasyifa. Di dalamnya terkandung do’a, semoga cahaya iman selalu terpancar dari wajahnya (Rayya), berakhlak indah seperti wanita pemimpin surga (Fathima), dan menjadi pengobat segala sakit dan lara (Hasyifa).

***

Singkat cerita, Rayya pun telah lahir ke dunia, membawa sejuta harapan dan do’a-do’a. Abi dan Umminya sungguh bersyukur, sekaligus terpana, inilah amanah berat yang harus kami pikul berdua. Jadi apa dia kelak, kamilah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh sang Pencipta. Semoga ia tumbuh sehat dan menjadi putri yang shaliha, penyejuk mata Abi dan Umminya. Ya Rabbi, izinkanlah kami mendidiknya sesuai kehendak-Mu, perintah-Mu, tuntunan-Mu, dan jauhkanlah ia dari hal-hal yang tak Kau senangi, agar Ia bersedia membela kami di mahkamah-Mu yang agung.

… Dan itulah waktu dimana saya tersadar telah menjadi seorang ayah. … Dan entah mengapa gatal-gatal di tubuh saya tiba-tiba menghilang setelah itu. … Dan betapa sedih ketika Abi harus meninggalkan anaknya yang masih berumur empat hari guna merantau ke Jogja kembali. … Dan betapa berat amanah terasa di pundak Abi ketika menatap dunia ini tak sama seperti dulu lagi…

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS.Al Anfaal: 28)

DSC_0771

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s