Sepuluh Tempat Penuh Kenangan di Kota Jogja

“Jogja istimewa”, slogan yang sama sekali tak salah. Setahun hidup di Jogja memang menyisakan banyak kenangan, terutama sudut-sudut kotanya. Setiap tempat yang saya kunjungi selalu saja menyisakan cerita tersendiri. Mulai dari gang-gang sempit, pusat kota yang ramai, hingga kesunyian alam yang membius hati. Berikut ini adalah tempat-tempat penuh kenangan yang pernah saya kunjungi di Kota Jogja.

1. Tugu Jogja

Tempat ini adalah spot yang tak asing lagi, nun barangkali ia adalah jantungnya Jogja, ikon-nya Jogja, bahkan pusat kenangan di Jogja. Segala romantika kehidupan warga kota sepertinya mampu tergambar di sini, mulai dari kehidupan emperan hingga percikan gedung metropolis. Tugu Jogja ini sebenarnya tidak besar, bahkan tugu bambu Labuah Basilang Payakumbuh di kampung saya agaknya lebih jawara dari segi ukuran. Sudahlah di atas tugu ini kabel listrik tampak semrawut, di sudut jalannya juga ada gedung tua lusuh, lalu lintas padat merayap, tapi entah mengapa tugu itu seperti bisa bicara dan menarik ribuan manusia untuk singgah. Di siang hari, mereka biasa duduk-duduk di taman seberang tugu sekedar untuk ngobrol atau foto selfi. Malam hari, wah, manusia lebih membludak lagi, tak peduli kendaraan berlalu lalang, mereka tetap asyik berkeliaran di tengah persimpangan itu, termasuk saya dan Yaya. Haha. Apa sih yang kami cari? Entahlah. Namun sebenarnya, spot yang sering kami kunjungi justru ada di dekat tugu, sebuah pujasera kulineran yang dinamai Kampung Tugu. Saya dan Yaya sering berburu makanan murah di sini, terutama saat adanya Gofood Festival. Lumayan banget, menghemat pengeluaran. Cashback-nya kadang gila-gilaan. Walhasil, tempat ini sering jadi lokasi pacaran kami berdua. 🙂

2. Malioboro

Spot ini sudah jelas legendaris, terkenal seantero negeri. Jalan raya yang membentang dari Tugu Jogja hingga Kilometer Nol Yogyakarta ini mungkin adalah urat nadi utamanya Jogja. Mengherankan memang, karena sepertinya orang-orang tak pernah bosan ke sini, walaupun yang dilihat itu-itu saja. Jalan raya dengan sebuah palang merek, pedestrian lebar, lampu dan bangku hias, toko-toko, gedung-gedung hotel dan pusat perbelanjaan, hingga lesehan, pasar tradisional, emperan, becak, mbok-mbok penjual bakpia, sampai gedung-gedung lama. Menjelang malam hingga dini hari, manusia tumpah ruah, berbelanja barang-barang antik, baju batik, oleh-oleh unik, atau sekedar duduk-duduk nongkrong ditemani lagu jogja klasik, sambil menyeruput kopi pahit dan gorengan ciamik. Bukan hanya dari kampung sebelah, kota tetangga, pulau seberang, orang-orang yang berkumpul di sini bahkan juga rela terbang dari benua lain.  Sampai sekarang saya bingung, kenapa kami suka sekali ke sini?

DSC_1408

3. Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya masjid ini adalah pusat kenangan. Jikalau lelah, jikalau resah, saya selalu menyempatkan pergi ke sini untuk shalat, mendengar pengajian, atau sekedar selonjoran di padepokannya yang amat tradisional. Masjid Gedhe ini terletak di sisi barat alun-alun selatan Jogja, dan selalu ramai dikunjungi para muslim dan warga Jogja pada umumnya. Tak terhitung rasanya berapa kali saya kesini. Pertama kali adalah ketika solo-backpacking keliling Jawa-Bali-Lombok, ditemani hujan lebat yang membasahi kalbu di tengah kesunyian. Kali berikutnya siapa sangka saya membawa Yaya, istri saya ke sini, sembari jalan-jalan menghabiskan waktu berdua.

Entah setelah berapa kali saya shalat di sini, momen kunjungan yang paling saya ingat berikutnya adalah ketika Ama datang menengok saya ke Jogja. Naik sepeda motor, saya mengajak sang ibunda keliling kota dan beristirahat di Masjid Gedhe Kauman, dan kami kebetulan menyaksikan prosesi pengucapan kalimat syahadat oleh seorang non-muslim yang baru saja masuk Islam. Ama tampak senang sekali saya ajak ke sini. Selain itu, jika bicara tentang keunikan masjid ini, tak heran lagilah kiranya. Rumah adat Jogja kental sekali di setiap sudutnya, belum lagi terbayang-bayang oleh saya kisah KH Ahmad Dahlan yang berjuang mengembangkan ajaran Islam dan memperbaiki arah kiblat masjid ini. Tahu kisahnya? 😀

DSC_8775

4. Keraton Jogja

Pusat pemerintahan kesultanan Yogyakarta berada di komplek keraton yogyakarta, yang biasa disebut Keraton Jogja. Meskipun saya tak sering ke sini, barangkali cuma tiga kali (cuma? wkwk, pertama sendiri, kedua dengan Yaya, ketiga dengan Ama), tempat ini cukup membekas di benak saya. Keraton Jogjga ini konon menjadi istananya Sultan Hamengkubuwono dan lokasi pusat acara ritual-ritual adat keraton. Yang saya senangi di tempat ini adalah suasananya yang tradisional, sekaligus ada museum serta jajanan es dawet di dekat pintu masuk. Rasanya belum lengkap ke Jogja kalau belum singgah ke sini.

072617_0503_HariTerakhi5.jpg

5. Kampus Tropmed

Rasanya tak mungkin jikalau melupakan tempat ini, sebab di sinilah saya menuntut ilmu selama di Jogja dan bertemu sahabat-sahabat terbaik di sana. Kampus S2 Ilmu Kedokteran Tropis atau yang biasa kami singkat dengan istilah TropMed (a.k.a. tropical medicine) ini sebenarnya terletak di batas kota Jogja, dan masuk ke wilayah kabupaten Sleman DIY. Literally, UGM memang berada di Sleman, meskipun  barangkali cuma sepuluh menit dari Tugu Jogja. Sebenarnya gedung Tropmed berlokasi terpisah dengan kampus utama fakultas kedokteran UGM (yang disingkat FKKMK, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan). Tropmed sendiri berada di gedung PAU (Pusat Antar Universitas) – Pascasarjana UGM, persis di seberang selokan Mataram ke arah utara. Ruang kelas kami berada di dekat parkiran sisi timur belakang, agak tersuruk memang, namun amatlah rindang, hijau, dan menenangkan. Di komplek PAU itu juga ada masjid terapung, yang menjadi tempat rutin kami shalat berjama’ah termasuk jum’atan. Kantinnya juga lumayan, makanannya enak dan murah, meskipun kami harus berjalan agak jauh ke sisi barat melewati gedung pascasarjana yang tinggi menjulang hingga lima lantai. Hah, jika diingat-ingat, sungguh banyak kisah di sini, mudah-mudahan nanti sempat saya tuliskan semuanya. 🙂

IMG-20190412-WA0033
Ruang kelas kami di Tropmed, foto ini diambil dari dokumentasi kampus 🙂

6. Gedung Radiopoetro dan Komplek FKKMK UGM

Gedung Radiopoetro adalah salah satu gedung tertinggi di kampus FKKMK UGM, tempat berkumpulnya berbagai macam departemen internal kedokteran dan laboratorium mutakhir kebanggaan kampus. Saya tak tahu persis detail apa saja departemen yang ada di sini, tapi yang jelas, kami mahasiswa Tropmed sering ke sini, terutama ke departemen Parasiotologi di lantai 4 dan departemen Farmakologi di lantai 2. Di gedung ini dengan mudah kita temukan mahasiswa kedokteran, residen, laboran, analis, saintis, dan peneliti hingga tamu dan mahasiswa internasional yang tak diragukan lagi telah menyumbangkan kemajuan dalam dunia kedokteran di Indonesia bahkan dunia. Saya kira gedung inilah marwah kampus kedokteran UGM, tempat dimana para profesional kesehatan dicetak dan berbagai penelitian dan penemuan lahir dan berkembang.

Di dekat gedung Radiopoetro juga ada taman kecil dengan bangku-bangku di bawah pohon-pohon rindang yang sungguh cocok untuk bersantai di tengah panasnya Jogja. Selain itu juga ada kantin kecil ber-AC meskipun saya nilai lebih mahal dibanding kantin di Pascasarjana. Untunglah di depannya juga ada kantin kejujuran dengan harga miring yang menjajalkan berbagai macam makanan cemilan. Masjid kampus juga berada persis di depan pintu masuk arah selatan Radiopoetro, nan selalu ramai dikunjungi, dimana setiap selesai shalat dzuhur berjama’ah, mahasiswa akan bergiliran membacakan sebuah hadits Nabi SAW sebagai pengisi kultum. Tak jauh dari masjid, kini juga sudah dibangun gedung Tahir Pascasarjana yang jauh lebih modern. Mungkin tak lama lagi kelas kami akan pindah ke gedung ini. Tempat lainnya di FKKMK yang paling berkesan adalah gedung perpustakaan FK yang cozy, dan departemen anatomi dan histologi di depan gedung Tahir, tempat kami sesekali praktikum.

 

 

7. Rumah Sakit JIH

Sebenarnya saya cuma sekali ke sini, bersama Yaya. Meskipun hanya sekali, kunjungan itu sungguh berkesan. RS JIH adalah tempat pertama kali saya mengajak Yaya kontrol kehamilan. RS yang berada di jalan Ring Road Utara Jogja inilah tempat dimana saya untuk pertama kalinya melihat jantung Rayya berdetak di dalam kandungan Umminya melalui pemeriksaan USG. Jangan tanya perasaan kami berdua ketika itu, tak terdefinisikan 🙂

cats

8. Hartono Mall dan Jogja City Mall

Ada dua Mall yang sering menjadi tempat escaping saya di Jogja, baik bersama Yaya, dengan teman-teman Tropmed, dengan Bang Taufik -teman sekaligus senior saya yang sama-sama kuliah di UGM, ataupun sendirian: yaitu Hartono Mall dan Jogja City Mall (JCM). Hartono Mall terletak di ringroad utara, sementara Jogja City Mall di Jalan Magelang. Keduanya adalah mall terdekat dari tempat tinggal kami di Mranggen Kidul, Sleman. Biasanya saya dan Yaya ke sini selalu dadakan, misalnya ketika kami berdua sama-sama ngidam makanan, berburu promo cashback, belanja murah plus diskonan, cuci mata, hingga nonton film (yang terakhir ini mungkin yang paling sering :D, di Hartono ada CGV, sementara di JCM ada XXI). Tanpa saya pungkiri, dua mall inilah yang membuat saya masih waras di tengah padatnya jadwal kuliah di UGM. Haha.

 

9. Desa Mranggen Kidul

Desa Mranggen Kidul adalah kenangan manis di Jogja. Di sinilah saya dan Yaya tinggal berdua dan menjalani masa-masa sulit di awal-awal pernikahan hingga saya menyelesaikan kuliah saya dua semester. Terletak di dalam gang-gang sempit yang bermuara di Jalan Monjali di sisi timur, Jalan Magelang di sisi barat,  Jalan Ring Road di Utara dan Jalan Selokan Mataram di Selatan, rumah mungil kami berada agak di pinggir, dekat kali, dekat makam, dekat kebun ilalang, dan belakang Rusunawa Gemawang. Sekilas terdengar mengerikan bukan? Tapi percayalah di sini suasananya sungguh menentramkan dan hanya sepuluh menitan naik sepeda motor ke kampus. Di samping rumah kami tinggal dua tetangga dekat, Mbak Ana dan keluarganya di kanan serta Mbak Watik dan keluarganya di kiri yang baik dan rajin menyapa. Selain itu, kampung ini dijaga ketat oleh Pak RT yang sangar namun berhati mulia. Di kampung ini, setiap malam selalu ada petugas ronda yang berkeliling, dan kami menyumbang Rp 500,- setiap hari dengan cara meletakkan uang koin seharga 500 itu di potongan gelas air mineral yang digantung di dinding setiap rumah. Saya sering mampir ke toko pak RT dan selalu disapa oleh istri beliau kalau kedapatan lewat di depan rumah sambil teriak, “Pak Dokter!”.

Jpeg
Rumah kontrakan sederhana kami di Mranggen Kidul

Di antara sekian banyak kenangan di desa itu, tampaknya yang paling membekas barangkali adalah masjidnya yang makmur dan selalu ramai dikala shalat berjama’ah. Masjid ini adalah tempat dimana saya hampir setiap hari mampir mulai bangun tidur hingga mau tidur. Saya tak akan lupa dengan Pak Pono, sang Muazzin sepuh yang rajin menyapa saya ketika ketemu. Panggilan “Aan!!” dari jauh dengan suaranya yang serak benar-benar berkesan.

10. Rumah Joglo Kaliurang

Rumah yang satu ini adalah kenangan pertama saya dan Yaya di Jogja. Rumah sederhana dan amat tradisional inilah tempat mula kami tinggal sebelum akhirnya pindah ke Mranggen Kidul. Rumah ini dihuni oleh tiga KK, dimana mereka seringkali mengadakan acara makan dan bakar-bakaran di halaman setiap malam akhir pekan. Kadangkala, agak risih memang, karena seringkali meribut, berdangdut, dan mengobrol dari malam sampai pagi hingga mengganggu tidur kami. Tapi sebenarnya, mereka adalah orang-orang baik dan friendly. Di antara sekian banyak momen di tempat ini, yang paling kami ingat adalah bahwa tempat ini menjadi saksi ketika pertama kali Yaya memberi saya kabar gembira akan kehamilannya. Such a beautiful memory. 

Jpeg

Yap, saya rasa itulah sepuluh tempat paling berkesan yang saya rasakan selama setahun tinggal di Jogja. Sebenarnya masih banyak tempat lainnya yang terkenang, seperti stasiun Tugu, Bandara Adisucipto, hingga beberapa klinik dan rumah sakit tempat saya  pernah berpraktik dan bahkan setiap sudut jalanan kota Jogja yang ada. Entah mengapa setelah mencoba tinggal sebentar di kota itu, pepatah klasik yang populer itu barangkali benar, kalau bahwasanya, Jogja itu memang ngangenin. 

Punya kenangan juga di Jogja? 😀

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s