2019 in Flashback

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”

(QS. As-Saaffat: 106)

68844587_379729139385130_8242911886206444494_n

Ini tahun ketiga saya menuliskan catatan sorot balik. Tahun 2019 adalah tahun yang tak hanya menyisakan cerita tapi juga menggoreskan tantangan dan kenangan. Hal-hal baru seolah datang menggantikan yang lama, ujian pun naik ke level yang lebih tinggi, memaksa saya melampaui batas sebelumnya. Semoga sedikit kisah ini bisa menjadi pengingat dan motivasi untuk melewati hari-hari berikutnya di tahun 2020.

Akhir Seleksi CPNS

Kisah seantero tahun tak terlepas dari kabar yang saya terima di awal tahun 2019. Di akhir libur semester 2 perkuliahan di UGM, dan setelah melewati serangkaian seleksi abdi negara di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang dibuka di akhir tahun 2018, pada akhir bulan Januari 2019 keluarlah hasilnya. Dari dua puluh lima pelamar yang mendaftar sebagai dosen asisten ahli di Fakultas Kedokteran Unand, hadanallah, saya menjadi satu dari lima orang yang berhasil diterima dan memperoleh skor peringkat satu. Kabar itupun bagaikan jawaban dari segala pertanyaan saya selama ini. Ini rupanya skenario Allah.

Jika ditanya bagaimana perjuangan saya melewati tes CPNS di akhir tahun 2018 dan awal 2019 itu, barangkali yang hanya bisa saya sampaikan adalah satu: tawakal. Suatu masa, saya pernah merajuk dan terus merajuk kepada Allah untuk meminta perhatian-Nya. Saya berdo’a, sepenuh hati, setiap kali usai shalat. Saya tahu bait-bait do’a yang saya ucapkan adalah refleksi dari kegelisahan saya di tahun 2018, saat merantau ke Jogja, gagal sekolah di UK, membawa seorang perempuan di bawah pundak, mencari nafkah seadanya sembari kuliah yang padat, hingga bersiap menanti amanah besar yang sedang tertidur nyaman di perut Umminya. Apa yang bisa saya berikan sebagai seorang suami dan calon bapak? Tak terhitung entah berapa kali saya termenung menatap langit.

Ya Rabbi, hamba miskin, tak ada harta yang bisa hamba wakafkan untuk bekal di akhirat. Ya Rabbi, hamba lemah, tenaga hamba tak mampu membangun masjid ataupun bangunan yang membawa manfaat. Ya Rabbi, hamba bukan orang berkedudukan, kemuliaan hamba tak mampu membeli pahala di akhirat. Ya Rabbi, sayangilah hamba, karena yang hamba harapkan hanyalah satu bekal, ilmu. Itulah alasan mengapa hamba mau jauh merantau ke sini. Karena itu Ya Rabbi, berikanlah hamba ilmu, tempatkanlah hamba dimanapun Engkau mau menempatkan hamba asalkan hamba bisa mengumpulkan bekal akhirat itu dengan ilmu. Jika Engkau tak memberikan hamba ilmu, sungguh hamba termasuk orang-orang yang rugi.

Jika diingat kembali, memang do’a-do’a itu sama sekali tak ada hubungannya dengan tes CPNS, karena telah sering saya ucapkan sebelum tes CPNS dibuka. Ketika salah seorang senior saya yang baik, kak Liska, memberi tahu saya bahwa ada lowongan CPNS untuk dokter umum sebagai dosen asisten ahli di FK Unand yang waktu itu juga keliru penempatannya yakni di kebidanan, saya melalui tes CPNS itu dengan setengah hati, juga karena jadwal dan tugas-tugas kuliah memaksa untuk menyita perhatian saya seperti yang sudah saya singgung di 2018 in Flashback. Qadarullah, meski begitu saya tetap menyisakan waktu untuk mempersiapkan persyaratan dengan sebaik mungkin, seteliti mungkin, dan setelah tahu saya diterima di seleksi administrasi, saya menyempatkan diri membahas soal-soal CPNS di sela-sela kuliah yang padat. Namun hal yang sangat saya syukuri adalah ketika teman-teman seangkatan saya di UGM semuanya mendukung saya sepenuh hati: Mbak Budi, Mas Dimas, Mbak Erna, Kevin, Bang Risman, Mas Satria dan Fitri. Mereka ikut berkorban waktu dan pikiran untuk memastikan saya lulus meski melalui hal-hal sederhana seperti mencarikan amplop dan sibuk membantu saya menyusun kelengkapan berkas untuk segera dikirim ke Jakarta via Pos karena sudah dedline. Mereka juga rajin bertanya bagaimana hasil tes saya. Kebaikan mereka tak kan pernah saya lupakan.

Ketika hari ujian tiba, saya tak henti beristighfar selesai pulang shalat subuh hingga memakai seragam hitam putih dan berangkat ke lokasi ujian di Jogja yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Saya bilang ke Yaya, istri saya yang tengah hamil muda, apapun yang akan keluar hasilnya hari ini, kita ikhlaskan untuk Allah. Semoga ada rezeki untuk anak kita. Pada saat ujian berbasis komputer itu dimulai, entahlah apa yang merasuki hati saya. Ramai sekali, memang, sementara saya sendirian, tapi semuanya tak jadi soalan. Mulai dari parkir motor, mengantri masuk, diperiksa security, duduk di tengah-tengah deretan manusia asing yang khusyu’ menatap laptop, membaca soal-soal tes dan mengklik jawaban, semuanya seolah terjadi begitu saja. Bahkan saya tidak membaca soal di tes yang paling sulit, tes SKP, seleksi karakter pribadi -yang banyak menggagalkan peserta, melainkan hanya memilih jawabannya saja karena tak sanggup membaca soal yang memiliki skenario yang panjang. Ketika saya melihat skor yang langsung dimunculkan di layar, saya awalnya mengira saya tidak lulus karena skor saya kurang. Namun, rupanya tidak, saya lulus sedikit di atas batas persyaratan. Mengetahui hal itu, saya tak berhenti tercengang dan bersyukur, sepanjang jalan pulang mata saya sudah basah oleh tangis. Rezeki Rayya, insyaAllah.

Awal Januari, keluarlah pengumuman itu. Hanya ada lima orang yang lulus tes di tempat yang saya ambil dan kebetulan juga lima tempat yang tersedia. Kami semua dijadwalkan untuk ikut tes seleksi wawancara dan kemampuan bidang yang akan diselenggarakan di Padang, tepatnya di Universitas Andalas. Karena jadwalnya berdempet dengan ujian akhir semester, saya melapor ke kepala prodi Tropmed UGM yang juga Penasihat Akademik saya, Buk Elsa. Alhamdulillah, beliau memberi saya kebijakan untuk diperbolehkan pulang dan mengikuti ujian semester menjelang awal semester dua. Akhirnya, saya dan Yaya pun pulang. Karena Yaya sudah hamil besar dan berencana lahiran di Lubuk Basung, otomatis ini adalah kali terakhir baginya di Jogja. Oleh karena itu, sehari sebelum penerbangan dari Jogja, kami mengisi waktu bersama dari pagi hingga tengah malam menelusuri Jogja, makan eskrim di Tempo Gelato dan berfoto di depan tugu Jogja. Sungguh kenangan yang manis.

Awal Januari, ketika sampai di Padang, saat itulah saya bertemu kembali dengan sejawat-sejawat saya yang sama-sama lulus CPNS, yaitu bang Syawqi senior saya angkatan 2017 dan menjadi salah satu dokter pendamping saat internship di Payakumbuh; Iqbal, junior saya angkatan 2010 yang menjadi ketua dokter internship di Payakumbuh; Ligan teman saya yang sama-sama dosen non pns di FK Unand sejak 2017; lalu kenalan baru, kak Ira, senior dari Unpad yang sudah spesialis. Kami berlima alhamdulillah berhasil melewati setiap tahap seleksi hingga Allah menakdirkan kami lulus sebagai CPNS di Unand pada akhir Januari. Ya, semenjak itu, jalan perjuangan sungguh baru saja akan dimulai.

Hidup Seorang Diri

Setelah ujian CPNS, dan dinyatakan lulus, saya tentunya masih punya hutang untuk dilunasi, yaitu ujian akhir semester di UGM. Tentu saja, karena saya izin pulang lebih awal, saya harus kembali lebih dahulu pula sebelum kuliah semester 2 dimulai. Ketika itu usia kandungan Yaya sudah masuk 5 bulan, lumayan besar. Sempat berencana kembali dengannya ke Jogja, namun setelah berbagai pertimbangan yang matang, kami memutuskan untuk lahiran di Lubuk Basung, dekat dengan Ummi dan keluarga. Sebelum kami berpisah, saya mengajaknya pulang ke Payakumbuh. Saya tahu, ini akan menjadi hari-hari yang panjang dan terus kami hitung sampai saya kembali pulang. Akhirnya, setelah melewati ujian yang satu, datang lagi ujian yang lain. Ya, saya dan Yaya akhirnya harus hidup LDM, long distance marriage.

Ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Jogja, saat itulah saya sadar bahwa hari-hari di Jogja akan terasa sangat sepi. Namun alhamdulillah dengan majunya teknologi, saya masih bisa melihat Yaya dari jauh meski dari balik layar ponsel saat video call. Setiap hari Yaya rajin mengirimi saya foto-foto kehamilannya, yang cukup membuat saya senang meskipun tentu saja ditemani perasaan sedih karena tak bisa membersamainya ketika hamilnya semakin besar. Yaya jadi semakin susah bergerak, susah tidur, dan mengadukan berbagai hal karena perubahan hormonnya yang tidak biasa. Tapi saya salut dan bersyukur, Yaya berhasil melewatinya dengan tegar dan semangat, hanya saja saya yang sering lebay merasa kehilangan dan tidak berguna. Saya rasa, begitu juga dengannya. Saya kembali berdo’a, semoga ini menjadi yang terakhir kalinya bagi saya untuk meninggalkan Yaya begitu jauh.

Fokus Kuliah, Sesekali Traveling

Hal yang sangat saya syukuri saat sendirian saat itu adalah kesempatan yang Allah berikan untuk saya kuliah di UGM. Meskipun awalnya galau apakah lanjut kuliah atau cuti karena lulus CPNS seperti yang sudah saya ceritakan di sini, saya akhirnya memilih mantap lanjut kuliah sambil menunggu SK menteri keluar. Alhamdulillah, ketika perkuliahan dimulai dan saya disibukkan dengan tugas-tugas baru, ilmu-ilmu baru, dan pengalaman-pengalaman baru di kampus yang sungguh menarik, saya jadi lebih terhibur. Semester dua di UGM barangkali adalah masa-masa kuliah terbaik yang pernah saya rasakan seumur hidup jika dilihat dari segi kualitas belajar. Kuliah di semester ini sungguh penuh motivasi, pertama karena ilmu-ilmu dan keterampilan yang saya pelajari sungguh menggairahkan, kedua karena belajar bersama teman-teman baru dari UK dan Australia, ketiga mungkin karena kini saya sudah punya arah tujuan hidup untuk dibawa pulang ke akhirat: ilmu dan wadahnya. Saya akan kembali ke Padang untuk menjadi seorang dosen kedokteran. Ditambah lagi saya akan menjadi calon bapak, tulang punggung keluarga, maka bagaimana lagi saya akan bermalas-malasan? Sungguh itu adalah pendorong yang mujarab. Allah telah memberikan saya nikmat yang banyak, maka sudah sepantasnya saya bersyukur dan membuktikannya! Itulah penyemangat terbaik kala itu, barangkali hingga hari ini.

Mengenai ilmu yang saya pelajari, agaknya asing bagi anak kedokteran -yang menurut pemikiran saya lebih cenderung ingin menjadi praktisi spesialis. Di prodi Ilmu Kedokteran Tropis UGM, saya diperkenalkan dengan dunia riset dan penelitian kedokteran molekuler. Sebagaimana sebelumnya, saya mengambil peminatan imunologi dan biologi molekuler kedokteran tropis. Bersama lima orang rekan yang mengambil peminatan yang sama: Mbak Budi, Mas Dimas, Kevin, dan satu mahasiswa baru: Vina, kami belajar dan mendalami riset tentang genetika, teknik-teknik laboratorium, imunologi terapan, vaksin, virologi dan mikrobiologi, serta bioteknologi yang murni adalah pengetahuan-pengetahuan saintifik yang maha elit di benak saya. Inilah untuk pertama kalinya saya menemukan the true passion, dan perasaan bahwa disinilah saya seharusnya. Entahlah, wallahualam, namu itulah yang barangkali tidak saya rasakan ketika dinas jaga di IGD ataupun praktik di klinik. Saya yakin, inilah takdir saya, dan jawaban dari do’a itu, InsyaAllah.

Satu lagi hiburan yang Allah berikan untuk saya selama kuliah adalah kesempatan untuk traveling lagi. Di akhir pekan, jika tak ada tugas yang mesti dikerjakan, saya sering menyempatkan diri berkendara dengan sepeda motor untuk mengelilingi Yoyakarta. Melewati jalanan lurus dan berkelok, di kota maupun di desa, di keramaian hingga kesunyian hutan belantara saya jejali demi menengok keelokan alam di tempat saya menuntut ilmu. Saya menelusuri hampir setiap sudut kota Jogja hingga sampai ke tempat-tempat terbaik mulai dari Gunung Merapi di utara hingga pantai di selatan. Kegiatan perkuliahan di Tropmed itu sendiri juga ada semacam field trip ke berbagai tempat, sebut saja Kulon Progo, Klaten, Bandung, hingga Jakarta baik dengan bus, kereta, hingga pesawat. Di suatu kesempatan saya juga sempat pergi jalan-jalan berdua dengan Bang Risman ke Surakarta menaiki kereta, dan setiba di sana kami melalang buana sesuka hati. Jika lagi bosan di rumah, saya juga sesekali pergi nonton ke mall sendirian ataupun dengan teman. Barangkali ini butuh slot kisah tersendiri.

Kelahiran si Buah Hati, SK CPNS, dan Seminar Proposal

Sebuah kejutan terbaik, terindah dan paling luar biasa yang Allah berikan kepada saya di tahun 2019 adalah kelahiran Rayya. Cerita lengkapnya sudah saya kisahkan di sini. Jangan tanya perasaan saya, sungguh campur aduk. Hari yang sangat bersejarah itu jatuh pada tanggal 2 Ramadhan 1440 H, 7 Mei 2019, pukul 03.50 WIB. Saat itulah Rayya hadir ke dunia, melengkapi keluarga kecil kami seutuhnya. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.

Kabar bahagia kembali datang beberapa hari setelahnya -usai saya kembali ke Jogja guna menyelesaikan kewajiban praktikum yang masih tersisa, yaitu pengumuman Surat Keputusan (SK) Mentri mengenai pengangkatan saya sebagai CPNS di FK Unand. Beberapa hari berselang setelah semua kewajiban saya selesai, menjelang libur Hari Raya Idul Fitri, saya kembali pulang, dan menerima SK tersebut pada tanggal 31 Mei 2019 di Ruang Meeting Auditorium Universitas Andalas. Sungguh menjadi CPNS bukanlah hal yang ringan, melainkan amanah yang amat besar bagi negara. Ini juga yang menjadi jalan yang dipilihkan Allah untuk saya mengenai do’a yang telah saya pinta, dan tentu saja kewajiban saya adalah menunaikan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, lillahi ta’ala.

Namun di sisi lain, ada sebuah kekhawatiran yang sempat melanda saya ketika akan menghadapi akhir semester dua perkuliahan di Jogja. Tentu saja, keluarnya SK CPNS telah membuat saya resmi bekerja di Unand sebagai dosen baru. Menurut peraturannya, semua CPNS wajib mengabdi dan tidak boleh sekolah terlebih dulu. Bagaimana dengan kuliah di UGM? Alhamdulillah, saya akhirnya mendapat kebijakan dari dekan FK Unand agar diperbolehkan terlebih dulu menyelesaikan semester dua sebelum masuk kerja. Tanggal masuk kerja (TMT) saya diundur. Namun, itu artinya hanya tersisa satu bulan bagi saya untuk menyelesaikan semua mata kuliah di UGM sebelum masuk kerja nantinya, termasuk ujian proposal penelitian thesis.

Syukur alhamdulillah. Karena saya sudah memprediksi hal ini akan terjadi sebelumnya, sejak bulan Maret saya sudah berkontak dengan dr. Andani, mentor saya di FK Unand dan sangat saya kagumi. Saya ditawari penelitian di bawah payung beliau, yang akan saya kerjakan di Laboratorium Mikrobiologi FK Unand, Padang. Maka dari itu, satu bulan terakhir menjelang akhir semester dua, saya benar-benar serius menyelesaikan proposal thesis. Di UGM ada dua kali ujian, satu ujian pra-proposal, dan kedua ujian proposal. Alhamdulillah, saya tidak tahu energi apa yang membuat saya bisa menyelesaikan semua itu dalam waktu singkat, dan berhasil memperoleh hasil yang memuaskan pembimbing dan penguji. Proposal saya diterima tanpa revisi berarti. Itu menandakan bahwa misi saya di UGM untuk dua semester ini akhirnya usai, dan misi saya selanjutnya adalah bekerja di FK Unand, dan melakukan penelitian di Padang. Sungguh Allah Maha Penolong. Adapun judul penelitian saya adalah, Analisis Variasi Sekuens Gen L2 Human Papillomavirus Tipe 16 pada Spesimen Kanker Serviks. Kini, saya pulang dengan semangat baru. Dan yang terpenting adalah, kini saya tak lagi sendiri. Yaya dan Rayya adalah rumah saya.

Kembali Menjadi Dosen

Tugas mulia seorang dosen seumur hidupnya adalah, membaktikan diri dalam tiga hal: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Itulah pula niat tulus yang saya ucapkan dalam hati, ketika pertama kali menginjakkan kaki di FK Unand sebagai seorang dosen baru yang masih minim pengalaman pada bulan Agustus 2019. Bersama dengan janji yang sudah saya katakan kepada Allah ketika meminta kepada-Nya, niat itu saya pegang teguh dalam hati. Ini adalah rezeki dari Allah untuk keluarga saya. Untuk membuktikan rasa syukur saya, maka saya tak boleh bermain-main lagi.

Tugas pertama saya adalah pendidikan. Qadarullah, saya kembali bertemu mahasiswa kedokteran, menjadi tutor mereka, instruktur skill’s lab mereka, pengelola ujian blok, osce keterampilan klinik, osce UKMPPD, fasilitator retaker UKMPPD, hingga berkesempatan menjadi wakil di regional Sumatera untuk try out AIPKI, sebuah lembaga penyeimbang seleksi calon dokter. Begitu pula di bidang penelitian, saya diikutkan mengelola tim skripsi, tim jurnal kedokteran, hingga diundang bergabung di tim Produk Unggulan Inovasi Diagnostik dan Stem Sel yang baru saja dirintis oleh dr. Andani. Di bidang pengabdian, saya juga mengikuti pengabdian masyarakat di berbagai wilayah pelosok Sumatera Barat, terakhir kali di Lumpo, Pesisir Selatan. Tak hanya itu, di bagian stuktural dan manajerial saya juga ikut dilibatkan di dalam tim akselerasi renstra fakultas kedokteran, sesekali membantu tugas wakil dekan I bila diperlukan, dan berkecimpung di berbagai unit fakultas, seperti i-learn, prodi s1 kedokteran, medical education unit (MEU), dan lain sebagainya. Tak lupa beberapa kali saya juga diikutkan pelatihan dan workhsop yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi dosen, dan kesemuanya itu saya lakukan dengan sepenuh hati dan sebaik-baiknya.

Penelitian Thesis

Ini adalah satu dari sekian alasan mengapa saya cinta sekali dengan ilmu pengetahuan. Meneliti. Ya, entah mengapa saya baru merasakan nikmatnya penelitian di laboratorium, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk drama dunia. Hehe, barangkali demikian. Alhamdulillah, meskipun dengan sekian banyak tugas yang diberikan pada saya sebagai dosen muda, penelitian ini harus tetap jalan. Saya juga sudah membuat komitmen dengan dr. Andani untuk menyelesaikan thesis ini dengan sebaik-baiknya, dan karena beliau juga sudah sangat membantu saya dalam menyediakan lahan penelitian tanpa biaya. Oleh sebab itu kapan pun jadwal ada, saya selalu pergi ke laboratorium Mikrobiologi untuk menguji sampel DNA, melakukan amplifikasi polymerase chain reaction (PCR), elektroforesis, memproses hasil sequencing DNA, dan menulis hasil penelitian. Di sanalah saya merasa sungguh bahagia.

Rencana di 2020

Tahun 2020 tentu saja akan menjadi tahun yang lebih menantang dan tak bisa saya prediksi. Namun visi saya tahun ini adalah selalu membersamai diri dengan keluarga kecil saya bersama Yaya dan Rayya apapun yang terjadi. Mengenai kisah yang akan saya tempuh, biarlah Allah yang menentukan. Misi saya tahun ini diantaranya adalah, menyelesaikan thesis, ikut pelatihan pra jabatan CPNS guna menyempurnakan status 100% PNS, kembali kuliah di UGM dengan modal surat tugas belajar, ujian tesis dan seminar hasil, dan wisuda Master of Science di akhir tahun. Bismillah, bismillah, bismillah. Namun apapun itu, melihat dari pengalaman tiga tahun terakhir, maka tak ada lagi alasan bagi saya untuk tidak bersyukur, tidak bertawakal, tidak berusaha. Satu lagi, pelajaran berharga yang dapat saya petik di tahun 2019 lalu adalah, jangan pernah berhenti berjuang karena perjuangan akan semakin sulit, namun semakin sulit perjuangan semakin tinggi pula keberkahannya. Satu-satunya waktu untuk berhenti adalah ketika mati, dan karena itulah pembeda antara yang hidup dengan yang mati. Berniat yang benar, berusaha maksimal, berdo’a sungguh-sungguh, bertawakal, dan qanaah adalah lima resep jitu yang tak bisa saya pungkiri agar hidup tetap berkah. Dan ingatlah, kita semua akan kembali kepada-Nya saat waktunya telah tiba.

Wallahumusta’an. ๐Ÿ™‚

2 thoughts on “2019 in Flashback

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s