COVID-19 Hunter

Di depan televisi aula sederhana lab mikrobiologi, terdengarlah berita menghawatirkan dari Wuhan akan wabah misterius yang melanda kota metropolis di China daratan itu. Waktu itu merupakan awal Januari, saat saya tengah sibuk berkecimpung dari pagi sampai sore melakukan penelitian thesis ditemani oleh teman-teman di lab. Mereka senantiasa tak bosan mengisi hari dengan obrolan ilmiah seputar topik riset molekuler,  sesekali diselingi dengan acara reality show Korea yang mengundang tawa. Coronavirus otomatis menjadi topik terhangat perbincangan kami semenjak kasus pneumonia yang menyerang manusia itu meledak hingga menyebar ke negara lain. Kenapa tidak, sebagai anak mikro, -sebutan saya buat anak-anak yang rela (atau terpakasa? :P) nongkrong di lab itu setiap hari, baik analis maupun mahasiswa S2, sudah barang tentu akan terpikat dengan topik makhluk imut-imut seperti virus ataupun bakteri. Aktifitas kami di lab tidak jauh-jauh dari urusan mikroorganisme itu, entah itu PCR, ELISA, sekuensing DNA, kultur, dan berbagai jenis pemeriksaan laboratorium keramat lainnya.

Berita-berita tentang coronavirus memang selalu menarik perhatian, apalagi bagi para peneliti dan analis mikrobiologi. Virus yang belakangan menyebabkan penyakit yang dikenal dengan istilah Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 itu menjadi bahan pergunjingan kami di lab, terutama ketika penyakit itu sudah menyebar gila-gilaan ke berbagai benua. Melihat bagaimana pemerintah Indonesia merespon penyakit itu di awal-awalnya tak pelak membuat kami gregetan, sampai akhirnya COVID-19 benar-benar kejadian di negara sendiri. Pandemi itu kini tak lagi terelakkan, dan kami terhenyak bahwa kini virus itu sudah benar-benar berada di tengah-tengah kita. Apa yang bisa kami lakukan? Saya rasa pertanyaan itu muncul di setiap hati anak mikro kala itu.

Menjawab pertanyaan itu, dr. Andani sekaligus ‘bos besar’ penelitian kami di lab tiba-tiba mengabarkan di grup dan mengadakan rapat mendadak di hari Minggu. “Kita akan periksa sampel COVID-19”. Mendengar itu rasanya bulu kuduk saya merinding, barangkali begitu pula dengan yang lain. Seriously?! Bagaimana caranya? Labnya bagaimana? Keamanannya? Risiko tertular? Ya Allah, saya punya anak istri di rumah. How about our family? Our daily live? Our future?!

Sifat dr. Andani yang keras kepala dan bersigigih meyakinkan kami memeriksa sampel COVID-19 bagaikan memaksa kami pada awalnya untuk menelan ludah pahit. Saya akui saya memang tak suka mengambil risiko, tapi entah mengapa kata-kata beliau akhirnya membuat hati saya kuat untuk bergeming. “Ingatlah ini adalah bagian dari perjuangan kita menolong bangsa, niatkan sebagai jihad, jika bukan kita, siapa lagi?!” Kata beliau lantang, membuat seisi ruangan hening dan wajah kami menekur lama. Perlahan, saya melihat semangat itu terpancar dari wajah anak-anak muda mikrobiologi. Kami larut dalam semangat 45. Ini panggilan tugas.

Pasca pertemuan itu, niat lama bapak untuk merintis laboratorium pusat diagnostik dan riset penyakit infeksi mendadak diliputi angin segar. Laboratorium yang sudah sejak akhir oktober 2019 dirintis di kampus Jati dan tidak jelas ujung pangkalnya itu tiba-tiba menjadi terkenal sejak rencana itu mengudara. Tawaran bantuan dari peneliti dan dosen mulai bermunculan. Tak lama kemudian tiba-tiba kami mendapat bantuan alat qPCR (quantitative Polymerase Chain Reaction) sebanyak 3 set lengkap dengan reagennya, biosafety cabinet (BSC) level 2 yang tenar di laboratorium infeksi level 2 (Biosafety Level 2/ BSL2), dan alat-alat canggih lainnya yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Semakin hari, donasi dan uluran tangan pemerintah pusat maupun daerah provinsi mulai mengalir deras, demikian juga dari pimpinan universitas. Desain ruangan segera kami siapkan. Semua teknis dan logistik kami rampungkan. Barang-barang dari lab mikrobiologi kami pindahkan perlahan bergotong royong. Entah semangat apa yang membuat kami mau hadir sejak pagi hingga malam. Hingga kiranya labor yang telah lama diimpi-impikan dr. Andani sejak dulu kini akhirnya berdiri, honestly, ironically, berkat COVID-19. Meskipun saat itu wujud laboratorium itu belum 100%, pemberitaan di media massa yang lebay cukup membuat kami gugup. Namun barangkali inilah risiko yang harus kami pikul ketika harapan besar begitu tertumpah di saat yang sama. Meski banyak yang meragukan, alhamdulillah, laboratorium itu kini berdiri di tengah-tengah Kota Padang.

Semenjak hari itu, tanggal 23 Maret, para analis dan peneliti bersepakat mengulurkan tangan untuk melakukan pemeriksaan sampel COVID-19. Berita mengharukan lainnya terus mengalir, ketika banyak sekali relawan yang berdatangan mendaftarkan diri ikut membantu dan menyumbangkan ilmu dan tenaganya. Sumbangsih para peneliti, dosen, mahasiswa S1, S2 maupun S3, dan analis terbaik labor biomedik dan berbagai fakultas di Unand dan UNP tak bisa dipisahkan dari keberadaan laboratorium. Tak pelak pula uluran tangan dari donatur yang rela menyumbangkan sekian rupiah untuk memenuhi keperluan hidup kami, mulai dari makanan, minuman, hingga tempat tinggal.

Bersama dr. Andani, alhamdulillah, sejak tanggal 25 Maret 2020, relawan-relawan terbaik itu kini tengah berjuang siang malam memeriksa ribuan sampel yang setiap hari terus berdatangan. Bersama, kami menyebutnya COVID-19 Hunter. Kami ada karena masyarakat berkehendak. Kami ada karena masyarakat membutuhkan. Kami ada karena panggilan hati. Begitulah jikalau Allah berkehendak, ketika Ia berkata “Jadilah”, maka terjadilah. Mohon doakan kami dalam bekerja melayani masyarakat. Semoga Pandemi COVID-19 segera berakhir, dan kita bisa hidup normal kembali. Aamiin.

 

One thought on “COVID-19 Hunter

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s