Optimisme Sumbar

Berita mengenai perkembangan COVID-19 sepertinya sudah menjadi menu wajib di semua media hari ini. Semenjak ditemukannya kasus penyakit mematikan tersebut di Indonesia pada awal Maret 2020 lalu, sontak masyarakat mulai gelisah, namun tak sedikit jua yang tak acuh. Menurut data yang diumumkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 hari ini (12/7), jumlah kasus sudah lebih dari 75 ribu, dan yang sepatutnya diperhatikan, 3.600 lebih meninggal. Menurut saya, ini hal yang serius.

1 (2)
Data Sebaran COVID-19 di situs pemerintah

Di sisi lain, ada sebuah semangat optimisme terasa di tempat saya, Sumatera Barat. Sejak beroperasinya laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi FK Unand tanggal 25 Maret 2020 silam, sudah lebih dari sedikitnya 58.000 spesimen yang diperiksa, baik dari Sumatera Barat, maupun propinsi-propinsi lainnya yang membutuhkan bantuan. Ini merupakan pencapaian yang menurut saya patut disyukuri karena tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Kepala lab sekaligus guru saya, dr. Andani Eka Putra seringkali menyampaikan ini, bahwa setidaknya 0,9% penduduk di Sumbar sudah di tes secara PCR, gold standard pemeriksaan. Ini jauh di atas rata-rata pemeriksaan nasional, yang sekiranya baru di angka 0,2%. Dari data yang ada, baik di lab dan secara resmi dirilis di situs pemprov Sumbar hari ini, sedikitnya 800 kasus positif sudah berhasil dilacak, dan diisolasi baik secara mandiri, dirawat di rumah sakit, maupun dikarantina di lembaga pemerintah. Saat ini alhamdulillah persentase kesembuhannya sudah mencapai 83%, meskipun kita tetap berduka dengan meninggalnya sebanyak 4% penderita.

https://corona.sumbarprov.go.id/
Data di Situs Corona Sumbar

Kabar baiknya, rata-rata temuan positif di Sumbar saat ini sudah jauh berkurang. Saya masih ingat pertama kali pemeriksaan dilakukan di lab terhadap 22 sampel yang ada, 2 diantaranya ditemukan positif, artinya positifity rate-nya mencapai 9%. Alhamdulillah, saat ini ketika kapasitas lab yang sudah mencapai 2.000 pemeriksaan sehari, bahkan sempat tertinggi di Indonesia, angka temuan positif dalam dua minggu terakhir rata-rata kurang dari 10 per 1.500 sampel, artinya positifity rate-nya sudah mencapai 0,6%. Jika dihitung per keseluruhan, positifity rate-nya di angka 1,5%, dan jika dihitung perhari, angkanya bisa jauh lebih rendah dari itu dan kebanyakan adalah kasus impor dari luar Sumbar. Angka ini tentunya telah berhasil melampaui target WHO sebanyak di bawah 5%.

Dalam fikiran saya, Allah sungguh telah menyelamatkan orang Sumbar dari ledakan kasus Corona sampai detik ini. Apa yang kita usahakan untuk memutus rantai penularan tampaknya mulai kelihatan hasilnya. Keseriusan gubernur dan jajarannya, semangat stakeholder dan tenaga kesehatan di seluruh pelosok Sumbar, baik dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas merupakan spirit yang patut diberi penghargaan. Tak ada yang lebih mengembirakan dari itu. Keringat dan do’a-do’a kita didengar oleh Allah.

DSC_0597
Perasaan optimis yang sama ketika melihat mentari menyapa di sela-sela pohon pinus pantai Pasia Jambak, Padang

Menurut saya, jika kondisi ini dapat dipertahankan, New Normal barangkali sudah cocok diterapkan di Sumbar. Semua orang sudah mulai dapat berangsur-angsur berkumpul kembali meskipun harus menerapkan protokol yang ketat. Rutin cuci tangan dengan sabun, pakai masker, jaga jarak, dan hindari keramaian. Sayang, tak semua orang peduli. Orang sini bilang, “nio normal”, maunya normal. Ya, saya rasa semua orang juga mau begitu, tapi kita tak ingin takabur. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau di Sumbar terjadi ledakan kasus seperti di DKI, Jawa, dan Sulawesi Selatan. Mungkin kita tak sanggup. Apalagi jika membayangkan apa yang terjadi di AS, Brazil, dan negara-negara Eropa dulu. Mendengar berita sejawat dan orang-orang yang berguguran, tergeletak dan tak dapat diselamatkan, hati ini rasanya tersayat. Naudzubillah.

Setidaknya, tulisan ini hanya ingin mengajak saya sendiri maupun kita semua terus bersyukur atas kondisi yang ada saat ini dan bersabar dengan apa yang telah terjadi. Pandemi COVID-19 ini bukanlah hal sepele, virus SARS-COV-2 yang ganas dan masih misterius ini bisa saja mengenai siapa saja. Tugas kita tentunya adalah terus berusaha, dan berdo’a, karena wabah ini Allah jua yang kirimkan akibat ulah manusia. Para ilmuwan bersigigih mencari penawar, para analis tekun memeriksa sampel, para politisi memberikan kebijakan yang tepat, para pemuka agama mengingatkan umat, para dokter dan tenaga medis berjuang menyelamatkan penderita, dan yang paling penting adalah masyarakat dan kita sendiri harus peduli dengan sesama, karena kecerobohan kita bisa menjadi petaka bagi orang lain dan akan diminta pertanggungjawabannya.

Wallahu’alam.

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s