Sejarah Singkat Imunologi

Imunologi adalah ilmu yang mempelajari mekanisme pertahanan tubuh terhadap adanya suatu infeksi, baik di tingkat seluler maupun molekuler. 

Cikal bakal imunologi sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, dimana waktu itu orang-orang meyakini bahwa jika sesorang berhasil sembuh dari suatu penyakit, maka ia kemungkinan akan lebih kebal terhadap penyakit yang sama dikemudian hari.

Percobaan Edward Jenner

1

Imunologi secara populer pertama kali dikenal menjadi salah satu bagian dari ilmu sains semenjak percobaan Edward Jenner pada abad ke-18.

Waktu itu, ia penasaran dengan kebiasaan orang Cina dan Timur Tengah sejak tahun 1400-an yang biasa melakukan praktik variolasi, yakni memaparkan sedikit material dari pustul cacar air (smallpox) pada tubuh dengan cara dihirup atau diletakkan di suatu luka di permukaan kulit sebagai proteksi terhadap penyakit tersebut.

Jenner juga mengamati bahwa jika seseorang pernah menderita cacar sapi (cowpox atau vaksinia) dengan gejala yang ringan, hal tersebut sepertinya dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi cacar air yang fatal di kemudian hari.

Berangkat dari hipotesis di atas, akhirnya pada tahun 1796, Jenner berhasil mendemonstrasikan bahwa pemaparan (inokulasi) cowpox dapat melindungi tubuh seseorang terhadap smallpox.

Bukti penemuannya ini didasarkan pada pengamatannya pada individu yang diinokulasi dengan cowpox lalu dipaparkan dengan material smallpox dua bulan kemudian.

Prosedur ini ia namai dengan vaksinasi, sehingga istilah ini lama kelaman digunakan sampai hari ini untuk mendeskripsikan proses inokulasi individu yang sehat dengan agen penyebab penyakit yang telah dilemahkan untuk memberikan perlindungan dari penyakit tersebut.

Meskipun penelitian Jenner berhasil, butuh dua abad lamanya agar vaksinasi menjadi dikenal di seluruh dunia. Melalui kemajuan ini, pada tahun 1979, badan kesehatan dunia WHO akhirnya mengumumkan bahwa smallpox berhasil dieradikasi secara global.

Penemuan-Penemuan Berikutnya

Pada abad ke-19, strategi Jenner semakin berkembang seiring penemuan-penemuan terbaru dari para ahli mikrobiologi.

Robert Koch membuktikan bahwa penyakit infeksi rupanya disebabkan oleh mikroorganisme yang spesifik.

Tahun 1880 Louis Pasteur menemukan vaksin kolera pada ayam dan vaksin rabies pada manusia.

Imunologis Rusia Elie Metchnikoff menemukan bahwa ternyata berbagai mikroorganisme yang menginfeksi manusia dapat dimakan dan dicerna oleh suatu sel fagosit yang ia namai makrofag sebagai perlindungan tubuh terhadap infeksi yang tidak spesifik.

Awal tahun 1890, Emil von Behring dan Shibasaburo Kitasato lalu menemukan bahwa pada serum binatang yang kebal terhadap difteri dan tetanus ternyata mengandung “aktivitas antitoksik” yang khas dan dapat melindungi manusia dari infeksi bakteri tersebut meski dalam waktu yang singkat. Aktivitas antitoksik ini kemudian dikenal dengan istilah antibodi, yang berikatan secara spesifik dengan zat-zat toksin dan menetralisir efek buruknya.

Pentingnya peranan antibodi dalam imunitas tubuh semakin diyakini setelah penemuan komplemen oleh Jules Bordet pada tahun 1899, yakni suatu komponen serum yang bekerja bersama-sama dengan antibodi untuk membunuh bakteri patogen.

Tak lama setelah itu jelas bahwa pembentukan antibodi yang spesifik dapat dicetuskan berbagai macam substansi yang disebut antigen (antibody generation). Antigen ini dapat berupa molekul protein, glikoprotein, dan polisakarida dari mikropatogen, atau struktur kimia lainnya seperti logam, obat-obatan, dan zat kimia organik.

Paul Ehrlich semakin memperluas ilmu ini melalui penemuan antiserum sebagai terapi untuk difteri dan menemukan metode untuk menstandarisasi serum terapeutik.

Respon Imun

Berdasarkan perkembangannya tersebut, respon tubuh dalam melawan infeksi patogen pada akhirnya dibagi menjadi dua kelompok, yakni imunitas alamiah dan imunitas adaptif.

Imunitas alamiah adalah respon pertahanan tubuh melawan infeksi yang tidak spesifik, seperti respon makrofag yang ditemukan oleh Metchnikoff, sementara imunitas adaptif adalah respon pertahanan tubuh melawan infeksi yang spesifik (antigen), seperti respon antibodi yang dijelaskan oleh von Behring.

Imunitas alamiah akan selalu tersedia dan langsung siap sedia ketika tubuh terpapar oleh infeksi, sementara imunitas adaptif membutuhkan waktu untuk berkembang namun spesifisitasnya sangatlah tinggi.

Referensi: Murphy K & Casey W. 2017. Janeway’s Immunobiology 9th edition. New York, NY : Garland Science/Taylor & Francis Group. Cover image: https://rsm-media-cdn-live.azureedge.net/

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s