Studi S2 di Tropmed UGM: Sebuah Kilas Balik

“Apresiasi yang tinggi kami sampaikan kepada Mas Aan yang sudah menyelesaikan penelitian tesis ini dengan sangat baik.” Kalimat Bu Elsa, ketua sidang di sesi akhir ujian tesis S2 saya di Prodi Ilmu Kedokteran Tropis/ Tropical Medicine (Tropmed) UGM ini sungguh melegakan batin. Alhamdulillah atas segala ilmu dan pengalaman yang Allah titipkan kepada saya, akhirnya studi ini pun selesai tepat waktu. Innalillah, gelar baru pun tersemat di belakang nama saya: Master of Science (M.Sc).

Untuk mencapai gelar akademik ini, memang tidak mudah perjuangan yang harus saya lalui. Mulai mendaftar di UGM sekitaran bulan Juni, resign dari semua pekerjaan di Padang, hijrah ke Jogja bersama istri, kuliah sambil mencari nafkah serabutan, hingga harus LDR, lanjut penelitian di laboratorium, dan menyelesaikan tulisan akhir sambil bekerja.

Namun daripada itu, tak sedikit pula rezeki Allah yang tidak disangka-sangka berdatangan di kala-kala sulit. Hal yang paling saya syukuri adalah ilmu, pengalaman, wawasan dan afiliasi yang tak ternilai harganya sebagai bekal di masa depan. Selain itu Allah juga menitipkan amanah dengan kehadiran seorang putri, serta meraih cita-cita terpendam saya sebagai dosen tetap berstatus pegawai negeri sipil di Unand. “Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?”

Sekilas Tentang S2 Tropmed UGM

S2 Tropmed adalah salah satu program studi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM. Lokasi kampusnya di Komplek Gedung PAU (Pusat Antar Universitas) sayap timur lantai satu. Kalau sekarang, tropmed sudah pindah ke gedung baru di FKKMK, yakni gedung Tahir sayap selatan lantai 5.

Gedung Tahir FKKMK UGM. Gambar dari: https://s2ikk.fk.ugm.ac.id/

Saya mendaftar di S2 Tropmed tahun 2018 lewat situs UM UGM. Syarat-syarat yang diminta lengkap tertera di sana, bisa juga dilihat dari situs S2 Tropmed. UGM juga meminta syarat nilai TPA, TOEFL, dan sedikit penjabaran tentang proyeksi keinginan serta dilanjutkan dengan proses wawancara tatap muka atau via daring. Setelah dinyatakan lulus dan menerima surat penerimaan via e-mail, staf S2 Tropmed, Mbak Weni, langsung membuat grup WA angkatan 2018. Di situlah saya mengenal maba lainnya yang berasal dari berbagai wilayah di nusantara.

Angkatan 2018 hanya terdiri dari 9 orang. Sebagian ada yang sudah bekerja dalam ikatan dinas, yakni Mas Dimas dari Balivet Salatiga, Mbak Budi dari Balivet Manado, Bang Risman dari dan Poltekkes Kemenkes Tanjung Pinang. Sementara itu ada lagi yang kuliah dengan status mandiri, yakni saya sendiri yang waktu itu baru resign dari FK Unand, Mbak Erna yang nyambi bekerja di RS Condong Catur Jogja, Kevin dari Manado dan Fitri dari Brebes yang fresh gradute, serta satu lagi Mas Satria yang batal ikut di pertengahan kuliah karena terkendala dinas di Kalimantan. Di semester 2, Mbak Vina dari Bogor, freshgraduate Biologi UI, bergabung di kelas yang sama setelah mendaftar di UGM bulan Januari.

Tropmed angkatan 2018 (dari kiri ke kanan: Mas Dimas, Mas Satria, saya, Mba Erna, Mba Fitri, Kevin, Bang Risman, Mba Budi)

Secara umum, jumlah semester di S2 Tropmed UGM adalah sebanyak 4 semester, atau 2 tahun. Semester satu perkuliahan lebih banyak diisi dengan pendalaman materi dan praktikum dasar. Bulan Agustus kami dibekali kuliah pengayaan selama 2 minggu, belajar imunologi dengan Prof. Marsetyawan dan biokimia dengan Prof. Lestari. Benar-benar kuliah seperti dibimbing dari dasar. Seterusnya baru masuk ke materi mata kuliah wajib, yaitu Imunologi, Biokimia, Parasitologi, Mikrobiologi, Biostatistik, Metodologi Penelitian, Epidemiologi, dan Ilmu Penyakit Tropis. Kuliah ini lebih banyak diisi dengan pembekalan materi oleh dosen dan diskusi tanya jawab. Pendalaman materi ditambah di laboratorium Gedung Radiopoetro lt.4 terutama praktikum parasitologi yang terdiri dari Protozoologi, Helmintologi, dan Entomologi. Di akhir semester kami diuji dengan Ujian Praktikum dan Ujian Akhir Semester (UAS) yang dilaksanakan on paper di kelas, lab, maupun penugasan dan diawasi oleh staf S2 Tropmed.

Memasuki semester dua, kami sekelas dibekali dengan beberapa mata kuliah wajib dulu sebelum mengambil peminatan, yakni Metodologi Penelitian 2, Epidemiologi Penyakti berbasis Vektor, Biologi Molekuler Penyakit Tropis, One Health, serta Vaksin dan Obat. Pembelajaran tidak hanya didominasi pembekalan materi, tapi juga diselingi dengan field trip seru ke beberapa wilayah bersama dosen pengelola. Kami bersembilan berkesempatan mengunjungi Balivet Wates dan Kab.Kulon Progo untuk belajar manajemen wabah dan survey kasus Antrhax, ke Puskesmas Pemalang Klaten untuk belajar manajemen obat dan vaksin, serta ke PT Biofarma Bandung untuk belajar produksi dan distribusi vaksin.

Setelah mengikuti ujian di setiap mata kuliah, kami selanjutnya bebas memilih 3 peminatan, yaitu Ilmu Penyakit Tropis, Imunologi dan Biologi Molekuler Penyakit Tropis, serta Entomologi Kesehatan. Untuk peminatan, saya memilih kelas Imunologi dan Biologi Molekuler Penyakit Tropis, bersama empat orang rekan lainnya, Mas Dimas, Mbak Budi, Kevin dan Vina. Peminatan ini terdiri dari tiga mata kuliah wajib, yaitu imunologi, teknik-teknik imunologi, dan bioteknologi penyakit tropis yang sebagian besar berisi pembekalan materi dan praktikum di laboratorium. Lewat peminatan ini pulalah, saya mulai kenal dengan istilah-istilah di dalam biologi molekuler kedokteran yang menjadi passion saya sejak kuliah S1 dokter umum. Di kuliah peminatan ini juga terdapat field trip, terutama ke RSPI Sulianti Saroso untuk belajar tentang infection control, dan pendalaman diagnosis penyakit infeksi tropis.

Selain mata kuliah wajib dan peminatan, di semester dua kami juga dibekali dengan mata kuliah umum yang dapat dipilih. Kami seangkatan sepakat untuk memilih kuliah tentang travel medicine dan sistem penginderaan jauh/ sistem informasi geografis untuk kesehatan. Ada pula kuliah tambahan tentang infection prevention control yang merupakan kuliah internasional sehingga di kelas kami ikut serta dua mahasiswa asal luar negeri, yaitu Callum dari Australian National University dan Tiana Chan dari University College London. Kelas ini menarik sekali sehingga sangat menambah wawasan global kami dan membiasakan belajar berkomunikasi in English. Selain itu terdapat pula field trip ke RS Sardjito dan ke RS Respira untuk belajar manajemen Penyakit Infeksi Tropis.

Selain mengikuti proses pembelajaran standar di S2 Tropmed, kami seangkatan juga sangat senang dan berkesempatan untuk ikut kegiatan lainnya di kampus, seperti kuliah internasional rutin mengenai penyakit infeksi dari dosen tetamu luar negeri, sharing session penelitian dengan pakar-pakar global, kegiatan seru-seruan yang diselenggarakan saat event-event besar UGM seperti dies natalis, gowes bareng, dan juga tentu jalan-jalan dan hunting kulineran jogja bersama teman sekelas. Jogja yang merupakan tempat wisata populer di Indonesia menyimpan banyak sekali destinasi yang sayang untuk dilewatkan begitu saja ya kan?

Tidak seperti semester satu dan dua, pembelajaran di semester tiga dan empat bisa dibilang fully research. Tak ada lagi kuliah, kecuali jika ingin mengulang pada mata kuliah tertentu untuk meningkatkan nilai. Saya sendiri, karena kebetulan lulus CPNS dan wajib mengabdi dulu di FK Unand selama satu tahun, akhirnya memilih untuk cuti sementara dan kembali ke Padang. Namun, karena itulah, sejak semester dua, saya sudah membuat rancangan proposal dan alhamdulillah selesai diseminarkan di depan pembimbing dan penguji tepat di akhir semester dua. Qadarullah, saya merupakan mahasiswa yang tampil pertama ujian proposal penelitian.

Jalan Panjang Penelitian Tesis

Tesis merupakan salah satu syarat kelulusan di Prodi S2 Tropmed UGM, disamping menyelesaikan semua mata kuliah wajib peminatan, serta mata kuliah umum. Sejak awal semester dua, sesuai anjuran dosen-dosen S2 tropmed, saya sudah mulai mencari judul penelitian untuk tesis. Dalam benak saya waktu itu tidak ada kecuali meminta saran dari dr. Andani yang telah memberikan rekomendasi untuk kuliah S2 di sini. Saya coba menghubungi beliau dan alhamdulillah langsung ditawari 2 penelitian, TB (Tuberculosis) atau HPV (Human Papillomavirus). Mengingat dan menimbang HPV masih jarang dan sampel sudah tersedia, saya memilih HPV. Pak Andani juga langsung memberi fokus judul yakni tentang variasi genetik gen L2 pada HPV.

Awal-awal mendengar judul tersebut, saya masing blank. “Apa ini?!” benak saya meronta. Saya belum paham sama sekali tentang apapun berbau genetik dan virus. Tapi itu justru jadi pelecut untuk membaca lebih banyak. Saya jadi suka browsing-browsing, tanya-tanya teman sejawat, dan dosen saat kuliah. Alhamdulillah, meski awalnya sama sekali tidak kenal, saya bisa mengikuti instruksi dr.Andani dan mulai menyusun proposal penelitian di semester 2 saat yang lain belum kepikiran. Semangat saya jadi menggebu saat saya tahu lulus seleksi CPNS dan mau tidak mau harus pulang ke Padang, sehingga ujian proposal di semester dua harus bisa saya wujudkan.

Qadarullah, seperti sudah saya sebutkan, saya menyelesaikan seminar pra proposal berjudul “Analisis Variasi Gen L2 Human Papillomavirus Tipe-16 pada Spesimen Kanker Serviks” dan dilanjutkan dengan seminar proposal di bulan Juni 2019. Pembimbing saya, Bu Indwiani dan Prof.Widya ternyata adalah juga mantan dosen pembimbing dr. Andani sewaktu kuliah di S2 Tropmed dulu, dan itu menjadi poin plus karena beliau kenal sekali dengan karakter mentor saya di Padang tersebut yang ingin cepat, perfect, dan extraordinary. Meski saya masih terseok-seok, namun kedua pembimbing saya ini sangat open minded, ramah, dan baik. Penguji saya Prof. Sofia Mubarika juga sangat antusias dengan proposal penelitian ini mengingat kanker serviks -yang disebabkan oleh infeksi HPV- ini masih menjadi momok di Indonesia dan penelitian HPV masih sangat jarang.

Alhamdulillah, proposal penelitian saya diterima tanpa revisi, dan saya pulang ke Padang untuk fokus mengikuti prajabatan CPNS di FK Unand. Pada saat itulah, saya memulai penelitian di laboratorium Mikrobiologi FK Unand selama lebih kurang tiga bulan. Penelitian ini saya kerjakan di bawah supervisi dr. Andani dan bantuan asisten lab beliau, Siska dan Sekar. Setiap minggu pagi jam tujuh biasanya ada pertemuan rutin mahasiswa yang ikut penelitian dengan beliau. Setiap ada waktu luang -jika tidak tutor, atau skill’lab, atau rapat dosen dan lain-lain, saya nongkrong di lab mikro untuk mengerjakan penelitian.

Secara garis besar, penelitian saya tentang HPV menggunakan sampel-sampel DNA yang sudah diisolasi dari berbagai spesimen lendir serviks pasien-pasien kanker serviks yang dirawat di salah satu RS di Riau. Sampel itu kemudian saya gunakan untuk mendeteksi keberadaan gen L2 HPV tipe 16 secara molekuler melalui PCR (Polymerase Chain Reaction) konvensional, menggunakan elektroforesis gel. Hasil perbanyakan (amplifikasi) gen L2 tersebut saya kirim ke Lab Singapura untuk dilanjutkan dengan sekuensing DNA. Hasil sekuensing tersebut lalu saya olah dengan komputerisasi untuk memetakan urutan DNA dan pohon filogenetiknya. Barangkali teknik-teknik ini akan saya jelaskan di kesempatan yang lain insyaAllah.

Alhamdulillah, setelah tiga bulan preparasi sampel dan hasil sekuensing saya analisis, saya mulai mengetik tesis meskipun sedang cuti. Qadarullah, COVID-19 sampai di Indonesia dan semua aktifitas lab di mikrobiologi ditutup tepat beberapa minggu setelah penelitian saya rampung. Saya bersama tim dr. Andani waktu itu mulai sibuk mengurus pendirian laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) untuk pemeriksaan COVID-19 di Padang. Inna lillah, fokus saya bergeser total ke sana, ditambah lagi waktu itu seluruh kegiatan perkuliahan di FK Unand terpaksa dihentikan dan memasuki masa-masa tak menentu selama kurang lebih dua bulan. Walhasil, pengerjaan tesis saya mandeg, namun alhamdulillah masih bisa berkabar dengan pembimbing.

Pertengah tahun 2020, sebagian besar teman-teman seangkatan telah selesai ujian tesis dan wisuda. Sementara saya, baru saja menghabiskan masa cuti saya selama satu tahun, sedangkan jadwal CPNS molor pula karena pandemi. Mau tidak mau saya harus mendaftar ulang lagi di UGM di semester ganjil tahun 2020/2021 agar tidak bermasalah di kemudian hari. Saat itu bertepatan dengan pelatihan dasar CPNS yang akhirnya digelar oleh Kemendikbud secara virtual selama kurang lebih dua bulan. Tesis saya masih belum tersentuh sama sekali, terutama di bab pembahasan dan kesimpulan.

Memasuki akhir semester 3 kuliah di UGM, saya mulai sedikit bergalau. Secara umum, seorang PNS tidak boleh lanjut studi di manapun kecuali sudah mengurus Surat Keputusan Menteri mengenai Tugas Belajar (SK Tubel). Syarat untuk mengurus Tubel adalah lulus CPNS. Syarat lulus CPNS adalah menyelesaikan tugas-tugas di kampus dengan minimal nilai baik dan ikut latihan dasar. Semua persayaratan itu baru bisa saya penuhi setelah memasuki akhir bulan Januari, saat SK PNS saya resmi ditandatangani oleh Rektor. Sementara itu, semester 4 segera masuk dan saya harus membayar UKT kuliah lagi.

Karena sudah terlambat untuk mengurus SK Tubel, saya akhirnya membayar uang kuliah untuk semester terakhir. Seluruh teman seangkatan saya sudah tamat dan yudisium M.Sc, dan kini tinggal saya seorang yang belum. Di awal semester 4 ini, saya bertekad untuk menyelesaikan tesis ini segera, atau segala upaya saya di Jogja selama ini akan sia-sia. Oleh sebab itu saya mulai sibuk mengurus SK Tubel. Tantangan terbesar saya mengurus ini semua adalah tugas-tugas dari kampus yang semakin banyak diamanahkan kepada saya. Selain tutor, dan jadi instruktur skill’s lab, saya juga harus mengkoordinir sebuah blok (mata kuliah FK), keterampilan klinik, tim IT kampus, tim Student Assessment, dan juga aktifitas sekretariat di Lab PDPRI. Saya berusaha menjalaninya sabar satu per satu meski kadang harus mengorbankan waktu dari aktifitas lab PDRPI yang setahun terakhir menjadi fokus saya.

Alhamdulillah, tak terpikir di benak saya bagaimana saya akhirnya bisa menjalani itu semua meski ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Saya kadang mencari support ke teman-teman capcus yang selalu memberikan masukan saat saya butuhkan, terutama Kak Onie dan Lani yang sabar mendengar curhatan saya. Alhamdulillah dukungan penuh juga diberikan oleh istri dan kedua orang tua saya tercinta. Tanpa mereka saya entahlah rasanya, mungkin akan sangat down terutama menjalani pekerjaan di FK Unand yang bisa dibilang semakin banyak dan bertumpuk-tumpuk. Saya harus rela dealing dengan orang-orang yang kontraproduktif dan di sana saya belajar betul arti kesetiakawanan, profesionalitas, dan kerjasama. Pengalaman itu sungguh membuka mata saya akan “hutan belantara” yang sedang saya hadapi.

Qadarullah, Allah telah menolong saya melewati itu semua. Syarat SK Tubel sudah saya lengkapi seluruhnya. Tesis saya juga selesai tepat waktu, dan diseminarkan di depan pembimbing, penguji dan mahassiwa S2 Tropmed tanggal 9 Maret 2021 via daring. Semua pekerjaan di kampus tetap saya kerjakan seluruhnya tanpa kecuali. Alhamdulillah, ujian tesis tanggal 17 Maret 2021 menutup rangkaian perjuangan panjang itu dengan indah, saat saya dinyatakan layak untuk diyudisium pada tanggal 19 Maret 2021 dan meraih gelar M.Sc. Mohon do’a semoga semuanya lancar dan saya bisa mengikuti wisuda M.Sc di UGM secara virtual pada bulan April 2021 mendatang.

Dokumentasi Ujian tesis. Photo by: Tropmed UGM

Tips dan Trik Kuliah S2

Di akhir tulisan ini, saya mungkin akan sedikit ingin berbagi tentang studi S2. Pertama, untuk lanjut studi S2, please jangan asal pilih dan sebaiknya sudah diperhitungkan matang-matang mengingat besarnya pengaruh studi terhadap waktu yang kita gunakan, biaya yang kita keluarkan, serta jenjang karir yang akan kita tempuh. Bagi saya, niat yang jelas itu adalah syarat mutlak untuk mengambil studi S2. Jika passion kita sama, Studi S2 Tropmed UGM layak untuk dijadikan pilihan.

Kedua, harus kuat secara fisik dan emosional. Studi S2 tidak sama dengan S1, dimana kita masih mikir-mikir dimana akan berlabuh setelah studi. Untuk S2, kita akan diasah lebih dalam terhadap satu bidang ilmu yang mungkin saja jadi awal dari karir kita yang sebenarnya. Hal itu sangat menguras energi baik secara fisik dan juga mental. Saya tidak jarang melihat mahasiswa S2 yang menangis karena bermasalah saat penelitian mereka. Saya juga sendiri mengalami bagaimana beratnya kuliah S2 dan penelitian jika berbenturan dengan iklim dan atmosfer tempat kerja. Semua orang pasti punya cerita masing-masing, setidaknya inilah versi saya.

Tapi bagaimanapun, jika ada niat dan usaha, serta tawakal dan menerima pemberian Allah, kita pasti bisa melewati semua rintangan dan meng-upgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tawadhu’ dari sebelumnya. Kita bisa melihat contoh dari sekitar dan mengambil pelajaran yang berharga hal-hal positif dan hal-hal negatif dari mereka. Karena Allah menciptakan segala ujian untuk menguji iman serta taqwa kita kepada-Nya. Dan satu hal yang ingin saya ungkapkan, saya sangat bersyukur bisa kuliah dan sekolah di S2 Tropmed UGM. Alhamdulillah.

“Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Mujadilah 11)

2 thoughts on “Studi S2 di Tropmed UGM: Sebuah Kilas Balik

  1. Luar biasa sekali perjuangannya An, alhamdulillah semuanya berakhir manis. Selamat An sudah menyelesaikan studinya, semoga ilmu yang diperoleh berkah dan bermanfaat. Mudah-mudahan kelak dapat rezeki lanjut sekolah lagi, aamiin

    Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s