Categories
Family Story Sumatera

Bertualang bersama Bocil ke Payakumbuh

Bulan Ramadhan selalu menjadi momen tersendiri bersama Rayya, si bocil. Tahun lalu, Ramadhan kami terasa berbeda, karena si Abi sering pergi habis subuh ke lab dan pulang pas mau magrib. Meski begitu momen berbuka kami yang hanya bertiga di tengah suasana awal-awal pandemi tetap terasa spesial. Tahun ini, di Ramadhan 1442 H, alhamdulillah kami bertiga bisa pulang ke Payakumbuh, kampung si Abi.

Si kecil memang cukup jarang pulang ke rumah Awo dan Inyiknya di Payakumbuh. Karena jarak Padang-Payakumbuh lumayan, akses transportasi juga gak kondusif, dan si Abi juga belum punya kendaraan roda empat, jadinya kami lebih sering nebeng mobil Ayek pulang ke Lubuk Basung, kampung si Ummi. Tahun ini, awal-awal puasa, pas nyampe di Payakumbuh usai dijemput Pak Etek, si Abi sudah merencanakan beberapa itinerary sederhana berkeliling kota naik sepeda motor. Si kecil menyebutnya “bum tetet Abi”. Lugu banget, soalnya di Padang si Abi sering ngajak bocil ini keliling kota pake motor. Mungkin suara motor dan klaksonnya menginspirasi si kecil. 😛

Hari pertama di Payakumbuh, pagi-pagi sekali, bertiga saja, Abi Ummi dan si bocil mengunjungi Lembah Harau. Melihat pemandangan lembah dan air terjun mungil di Harau memang selalu menyenangkan, tapi Abi penasaran sama wahana baru yang ada di situ: Kampung Asia-Eropa. Pas awal-awal viral di sosmed, tempat rekreasi ini cukup kontroversial. “Masa tempat wisata di Harau bukannya mempromosikan budaya Minangkabau tapi malahan buat ala-ala Eropa, Jepang dan Korea?” Saya setuju sih, jadinya lembah Harau yang harusnya bisa jadi wisata internasional jadi kayak turun kelas jadi wisata lokal ala-ala. Hm,, tapi yah, si Abi mungkin ambil positifnya aja. Si bocil jadi punya spot baru untuk main. Lagipula kalau baca-baca berita memang target wisatawannya domestik.

Wisata replika ala-ala overseas bagi orang kampung seperti kami mungkin bisa menjadi obat untuk menyicipi suasana jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya murah. Setidaknya mimpi dulu sebelum bisa keluar negeri bareng seperti orang-orang yang sudah pernah. Wkwk. Di wahana theme park ini kami sebenarnya tidak melulu spot luar negeri, tapi ada juga spot lokal. Ada empat wahana yang bisa dimasuki: Kampung Sarasah, Secret Garden, Kampung Eropa dan Kampung Korea Jepang. Biaya tiket masuk lengkap ke semua wahananya yakni Rp 40.000,- per orang. Si bocil tidak dihitung rupanya.

Kampung Sarasah menjadi tempat masuk utama. Di kawasan yang sudah lebih dulu dibangun ini, sudah tersedia area tanah lapang, penginapan cantik dengan struktur bangunan rumah gadang, masjid yang nyaman, dan wahana permainan sepeda air. Pemandangan lembah menjadi bonus, karena di mana-mana Lembah Harau terlihat sebagai latar. Kami memarkirkan kendaraan di kampung sarasah ini.

Si bocil dan latar rumah gadang

Wahana yang pertama kami coba lihat adalah kampung Eropa. Gerbang masuknya ditandai dengan jembatan golden gate ala-ala (ini bukannya di Amrik ya?) sambil menyeberangi kolam sungai. Setelah masuk area taman Eropa itu, si bocil hepi banget pasti. Banyak replika unyu-unyu dan instagrammable buat foto-foto. Diantaranya suasana kompeni dan kincir angin Belanda, Menara Eiffel dan Museo de Louvre ala-ala Paris, Big Ben dan Telephone box ala-ala London, Stonehenge ala-ala Inggris, Menara Pisa ala Italia, serta plaza dan taman hijau luas untuk berlari-lari.

Puas hampir satu jam bermain, kami jalan kaki ke Kampung Korea Jepang. Saya sendiri cukup terkesan dengan suasana theme park yang satu ini karena replikanya dibuat lebih realistis, setidaknya cukup mengobati keinginan menginjakkan kaki di negeri sakura. Si bocil langsung teriak dong, berlari sesuka hati terutama naik ke jembatan lengkung di atas kolam ikan dan pohon sakura ala-ala. Si Abi jadi ngos-ngosan ngikutin bocil ini kemana dia pergi sambil mengabadikan momen. Hingga tidak terasa matahari semakin tinggi dan cuaca mulai cerah.

Spot berikutnya yang tak kalah menarik adalah Secret Garden. Di sini banyak bunga-bungaan tropis khas Indonesia yang tumbuh. Bunga yang menarik perhatian kami diantaranya anggrek. Di tempat ini juga ada cottage cozy untuk makan dan minum, Selain itu ada juga kolam ikan yang luas dengan latar anjungan beratap gonjong khas Minangkabau. Cantik nian.

Hari kedua, Awo mengajak kami pulang ke Ampang Gadang Kab.50 Kota, kampung kelahiran Awo. Bertepatan dengan sehari sebelum Ramadhan, kami ziarah ke makam Ibu dan Apak, orang tua Awo. Kami bersih-bersih makam sambil silaturahmi ke beberapa rumah kerabat. Si Abi senang akhirnya bisa pulang ke kampung yang penuh kenangan masa kecil ini, melihat rumah gadang Pitopang, Masjid Ihsan, pajak Apak dan parak kopi belakang pajak. Kami keliling ditemani Nek Mud adik Awo yang kemana-mana bawa ontel. Si bocil hepi juga, karena bisa lelarian puas di jalan kampung meski puas digigit nyamuk hingga jatuh bangun empat kali dengan berbagai ekspresi: ketawa-manyun-nangis-ketawa lagi. Sayang sekali si Abi yang ngidam Sate Dangung-Dangung harus ikhlas karena Pak Etek buru-buru mau pulang. 😛

Suasana kampung Ampang Gadang

Hari ketiga, Ramadhan tiba. Yeey. Malamnya kami tarawih dulu dan sahur bareng Awo Inyik. Pagi harinya Abi kerja dulu, WFH kok, tutorial bareng mahasiswa FK. Setelah itu Abi mengajak si bocil dan umminya kabur ke lereng Gunung Sago. Niatnya mau keliling-keliling sebentar saja sambil menikmati pemandangan kota dari kaki gunung, sampai akhirnya kami menemukan spot menarik di kanagarian Situjuh Gadang. Namanya Sago Park.

Awal mendekat ke lokasi Sago Park ini kami agak ragu, karena jalannya jelek tidak beraspal. Tapi setelah sampai, kami makin penasaran, gerbang pintu masuknya mulai berubah jadi suasana cottage ala-ala vila pegunungan. Ada dua orang bapak-bapak di depan area masuk taman yang kami tanyai.

“Bisa parkir honda pak?” tanya si Abi.

“Bisa diak,” jawab si Bapak.

“Apo se isi di dalam pak?”

“Ado taman jo tampek santai-santai, kadang-kadang dipakai orang untuk meeting, rapat, dan lain-lain.”

Makin penasaran, si Abi memarkirkan kendaraannya. Kami diminta membayar uang masuk Rp 5.000 per orang, tidak termasuk bocil. Ketika masuk, kami terkesima, ada taman rumput dan bunga yang cukup luas di pekarangan dengan pemandangan perbukitan dan kota yang mengintip di balik pepohonan. Ada juga pondok untuk berteduh, fountain kecil, tempat ayunan, seluncuran, dan area outbond. Si Rayya hepi banget dong, meski kala itu cuaca cukup panas dan sinar UV bertebaran dimana-mana.

Hal menarik lainnya di tempat ini adalah bangunan cottage nya yang klasik banget. Berasa masuk ke zaman retro. Bangunan dan interiornya didominasi kayu. Beberapa sudut dihias dengan benda-benda antik seperti motor jadul, alat musik jadul, lukisan-lukisan jadul, ah, pokoknya serba jadul. Karena lagi puasa, awalnya kami agak ragu juga karena si Ummi gak bawa makanan apa-apa buat si bocil. Syukurlah di sini kami dapat pelayanan khusus dari pengelolanya. Mbak-mbak nya ramah, lalu menawarkan cemilan siang buat si kecil. Kami memesan kentang-sosis goreng murah hanya 15 ribuan, lalu si bocil seenanknya nunjuk minuman jeruk dingin di kulkas. “Bi! Mau jeyuk asem!”

Overall, si Ummi bilang dia suka banget tempat ini. Katanya, tempat ini mengingatkannya ketika hidup di Bandung dulu saat kuliah. Sambil menemani si bocil makan di sudut balkon rumah yang sejuk banget itu, si Ummi hampir lupa lagi bawa anak. 😛 Angin sepoi-sepoi dan pemandangan yang indah membuatnya mager dan ngatuk. Si Abi curiga puasanya melawan.

Yup, itulah sedikit cerita di awal Ramadhan ini bareng si bocil. Ada banyak hal dan momen menarik yang bisa dinikmati bareng keluarga meskipun sederhana. Kalau kamu gimana? 🙂

Btw selamat berpuasa ya!

Give a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s