Menelusuri Hutan dan Pantai Gunung Kidul, Surga Alam di Selatan Yogyakarta

Dewasa ini kegiatan traveling barangkali tidak lagi seleluasa dulu, apalagi jika hendak keluar pulau. Mengingat penyebaran virus corona yang masih masif, jalan-jalan terpaksa jadi opsi terakhir demi kesehatan keluarga. Sekedar mengobati rasa rindu berkelana, saya ingin sedikit mengenang pengalaman jalan-jalan ke Gunung Kidul, sebuah kabupaten di selatan Jogja awal tahun 2019 silam. Karena tinggal ngekos sendirian, traveling dengan sepeda motor jadi hiburan tersendiri di sana.

Sekitar pukul 13.30 siang habis shalat Jum’at, saya keluar dari kontrakan saya di daerah Mranggen Kidul. Saya menempuh perjalanan lebih kurang satu jam mengendarai motor ke suatu tempat bernama Geoforest Watu Payung Turunan. Tempat ini merupakan area hutan perbukitan di kabupaten Gunung Kidul yang ditumbuhi oleh pepohonan jati. Jalanannya cukup mendaki dan berkelok-kelok, namun suasanya sejuk. Kala itu sepi sekali, hanya ada saya dan penjaga lokasi. Harga tiket masuknya cukup murah, cuma lima ribu rupiah.

Usai memarkirkan motor, saya berjalan menelusuri area ini dan melihat-lihat wahana yang tersedia. Terdapat papan penunjuk arah dan juga keterangan singkat mengenai lokasi ini. Nama “Watu Payung” pun ternyata punya legenda tersendiri, namun menurut cerita, penamaan Watu Payung itu sendiri karena adanya batu yang meruncing di bagian bawahnya sehingga tampak seperti payung. Saya justru baru “ngeh” setelah browsing-browsing, karena rupanya batu itu tampaknya tidak terlalu mencolok dan terletak di samping rumah joglo dekat pintu masuk. ๐Ÿ˜›

Penamaan Watu Payung diambil dari batu yang menyempit pada bagian bawahnya sehingga tampak seperti payung.
Batu di seperti payung yang menjadi asal usul penamaan Watu Payung. Sumber: https://travel.kompas.com/

Yang paling berkesan dari Geoforest ini adalah pemandangannya yang alami, suasana alamnya yang sunyi, dan udaranya yang sejuk dan teduh. Suara kicau burung dan semilir angin yang sepoi-sepoi sangat cocok untuk menyegarkan pikiran yang gundah dan gelisah. Di sini kita bisa melihat pemandangan hutan hijau dan lembah Sungai Oya dari ketinggian. Selain itu terdapat berbagai macam ornamen cantik yang seolah menarik pengunjung untuk berfoto.

Setelah cukup puas bersantai sejenak menikmati panorama yang menyegarkan itu, saya kemudian beranjak ke destinasi berikutnya, yakni pantai selatan. Ada banyak spot pantai beraneka nama di wilayah pesisir selatan Yogyakarta yang jika saya tempuh satu persatu barangkali tidak akan sempat. Mengingat sudah masuk waktu ashar, saya berhenti sejenak di mushalla yang tak jauh dari geoforest dan melanjutkan perjalanan melewati perbukitan yang berkelok-kelok hingga sampai di Pantai Baron lebih kurang satu jam kemudian.

Pantai Baron merupakan salah satu destinasi pantai di pesisir selatan Jogja. Lokasinya terletak diantara dua tanjung dengan menara mercusuar di salah satu sisinya. Masuk ke kawasan pantai selatan Jogja ini membuat saya sangat terpukau. Di sana ada taman terbuka, berbagai macam toko, dan deretan kapal-kapal nelayan yang bersandar di tepian pantai yang landai dan berpasir. Hamparan lembah tinggi di sisi kiri dan kanan area pantai membuat pantai ini cukup unik buat saya. Suasananya yang bersahabat ditemani suara ombak dan kehidupan nelayan di sini membuat kesan tersendiri. Saya menghabiskan waktu di sini untuk sekedar duduk santai sambil beristirahat setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan sambil melihat pemandangan alam yang menentramkan.

Setelah badan segar lagi, dan karena penasaran dengan pantai-pantai lainnya di sebelah timur, saya akhirnya kembali menyusuri jalan berkelok di sepanjang pesisir yang berbukit-bukit menuju pantai yang cukup terkenal di Gunung Kidul, yakni Pantai Indrayanti, atau sekarang dikenal dengan Pantai Pulang Sawal.

Usai memarkirkan kendaraan, saya tidak bisa memungkiri pemandangan menakjubkan yang ada di pantai Indrayanti. Deburan ombak di pantainya yang luas serta pemandangan lembah bukit khas selatan Jawa seolah membius penglihatan. Barangkali, suasana semakin syahdu karena saya tiba menjelang magrib, sehingga pemandangan senja juga menemani. Saya juga sempat menemukan seorang petani rumput laut sedang menyabit, serta aktifitas toko dan wisatawan di pinggiran pantai yang membuat suasana adem tersendiri. Selain itu kita juga bisa mendaki ke puncak salah satu bukit dan menikmati panorama lautan lepas yang lebih menakjubkan lagi dari ketinggian. Dari sana, saya bisa melihat betapa luasnya pantai ini dan mentadabburi indahnya ciptaan Allah.

Bagaimana menurutmu, indah bukan? Saya juga termasuk beruntung karena sempat menyaksikan matahari tenggelam dan mengabadikan beberapa foto di sini sebelum beranjak pulang. Akan tetapi, sejenak saya baru sadar bahwa pantai ini jauh sekali dari rumah saya. Jaraknya lebih kurang 80 km, sehingga membuat saya sedikit cemas apalagi harus kembali melewati bukit dan jalan berkelok-kelok yang sunyi sebelumnya.

Usai shalat magrib sejenak di sebuah musala kecil dekat kawasan pantai ini, saya akhirnya memberanikan diri pulang. Jalanan di hutan tadi kini berubah menjadi sunyi senyap dan gelap. Jika ban motor saya bocor di tengah hutan begini, entah bagaimanalah nasib. Bensin saya malam itu hampir habis pula, untung saja ada warung bensin di pinggir jalan yang muncul di balik semak-semak hutan. Syukurlah, setelah lebih kurang setengah jam melewati hutan belantara itu, tanda-tanda kehidupan muncul kembali. Saya akhirnya mengambil rute yang berbeda dengan sebelumnya, yakni melewati Kota Wonosari.

Usai berkeliling sebentar di kota kecil Wonosari yang bersahaja itu, meski tak sempat mengabadikan momen, saya pulang melewati Bukit Bintang. Di sini saya duduk sebentar untuk mengisi perut yang lapar. Ada warung bakso di sini, dan plusnya, pemandangan kelap-kelip lampu Kota Yogyakarta di malam hari terlihat jelas dari atas sini. Indah sekali.

Alhamdulillah, sekitar pukul 10 malam, saya kembali sampai di rumah kontrakan dengan selamat. Pengalaman itu pun saya ceritakan esok harinya kepada orang di rumah, yang bikin mereka geleng-geleng. Setidaknya, perjalanan saya keliling Yogyakarta terasa lengkap dengan kunjungan ini, meskipun sangat banyak sekali tempat-tempat menarik lainnya yang belum sempat saya lihat. Ah, jadi rindu Jogja. ๐Ÿ™‚

Pernah punya pengalaman yang sama? ๐Ÿ˜€

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s